
Mentari dan Fajar kini telah sah menjadi sepasang Suami istri secara hukum maupun Agama.
Semua yang berada di sana merasa terharu dengan Pernikahan Fajar dan Mentari, karena setelah lama menunggu, dan Mentari terlebih dahulu menikah dengan lelaki lain, Fajar akhirnya bisa mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya.
Mentari kini mencium punggung tangan Fajar dengan khidmat, kemudian Fajar mencium kening Mentari yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Terimakasih ya sayang, semoga cinta kita akan selalu abadi sampai Surga nanti," ucap Fajar, lalu memasukan cincin pernikahan ke dalam jari manis Mentari.
"Harusnya Bunda yang berterimakasih kepada Ayah, karena Ayah selalu setia menunggu Bunda, bahkan sudah banyak pengorbanan yang Ayah berikan untuk Bunda dan keluarga," jawab Mentari dengan memasukan cincin Pernikahan juga ke dalam jari manis Fajar.
Semua yang berada di sana bergantian mengucapkan Selamat dan juga do'a kepada pasangan pengantin baru tersebut.
Setelah acara ijab kabul selesai, Mentari dan Fajar mengabadikan pernikahan mereka dengan melakukan fhoto bersama keluarga.
Alhamdulillah Ya Allah, karena Engkau telah mengirimkan Mas Fajar dalam kehidupan hamba, semoga ini menjadi Pernikahan yang terakhir untuk hamba dan Mas Fajar, ucap Mentari dalam hati dengan tiada hentinya mengucap syukur.
"Rasanya ini semua seperti mimpi, karena akhirnya Ayah bisa mendapatkan cinta pertama dan terakhir untuk Ayah," ucap Fajar, yang terlihat enggan melepaskan pelukannya dari Mentari, sehingga mereka jadi bahan godaan semua orang.
"Aduh Tuan, kayaknya udah gak sabar pengen cepet-cepet malem, udah nempel-nempel terus," goda Bi Sumi.
"Ibu kayak gak pernah ngerasain jadi pengantin baru saja," ujar Pak Tarno.
"Untung ada Dimas ya, jadi Raisya gak rewel sama pengen nempel terus sama Ayahnya, karena biasanya Raisya gak pernah mau lepas dari Nak Fajar," ujar Bu Rima.
"Kalau begitu Om titip Raisya ya selama satu minggu," ujar Fajar kepada Dimas.
"Siap Bos, asal jangan lupa hadiahnya saja," jawab Dimas.
"Kamu tenang aja, nanti Om kasih motor buat kamu Dimas, tapi ngendarainnya di komplek aja ya, usia kamu kan baru 15 tahun jadi belum punya SIM," ujar Fajar.
__ADS_1
"Oke siap, tapi nanti Dimas yang pilih sendiri ya motornya."
"Iya, terserah kamu saja," ucap Fajar.
Dita yang mendengar Dimas mau diberikan hadiah motor oleh Fajar pun terlihat cemberut. Mentari yang melihat Dita cemberut sangat mengerti yang Dita inginkan sehingga Mentari langsung bertanya kepada Dita.
"Dita sayang kenapa cemberut? Apa Dita mau hadiah juga?" Tanya Mentari, sehingga membuat mata Dita berbinar.
"Iya Tante, masa cuma Kak Dimas yang diberikan hadiah, Dita juga kan mau," jawab Dita.
"Kamu sirik aja sih De, Kakak juga dapat hadiah karena sudah jagain Raisya, kalau kamu mau hadiah jagain juga Rasya," ujar Dimas.
"Iya deh, aku nanti bantu jagain Rasya juga, tapi Tante beliin Dita sepeda ya," ujar Dita.
"Iya sayang, nanti Tante pasti beliin sepeda buat Dita," ujar Mentari dengan memeluk tubuh Dita, karena Mentari tau kalau Dita menginginkan pelukan dan kasih sayang dari sosok seorang Ibu.
"Amin Pak, insyaallah Fajar akan selalu menjaga Mentari dan Anak-anak, dan Fajar akan selalu menyayangi mereka dengan segenap jiwa dan raga Fajar," ucap Fajar.
Fajar mengajak semuanya untuk pergi ke suatu tempat, karena Fajar sudah menyiapkan kejutan di sebuah hotel baru miliknya yang ia berinama Hotel Mentari. Di sana dia sudah mempersiapkan pesta Ulang tahun si kembar serta syukuran pernikahannya dengan Mentari.
Pada saat tiba di hotel, Mentari merasa heran karena nama hotel tersebut sama seperti namanya.
"Yah, kenapa nama hotelnya sama dengan nama Bunda?" Tanya Mentari.
"Karena hotel ini Ayah persembahkan untuk Bunda sebagai kado pernikahan kita," ucap Fajar dengan menggandeng tangan Mentari untuk masuk.
"Sayang, sekarang gunting pita nya ya, sekalian saja kita resmikan pembukaan hotel nya hari ini," ujar Fajar dengan memberikan gunting kepada Mentari.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Mentari kemudian menggunting pita di depan pintu hotel tersebut.
__ADS_1
Semua orang yang berada di sana bertepuk tangan, kemudian mengucapkan selamat untuk pembukaan Hotel Mentari.
Fajar mempersilahkan semuanya untuk masuk ke dalam hotel, kemudian Fajar langsung saja membuka acara yang di adakan di Hotel Mentari.
"Assalamu'alaikum.....Saya ucapkan terimakasih kepada semua yang hadir di acara pembukaan Hotel Mentari, serta ulang tahun Anak kami Rasya Putra Angkasa dan Raisya Putri Angkasa yang ke-1."
"Saya mohon do'a restunya untuk kesembuhan Anak kami. Meskipun mereka terlahir spesial, tapi saya sangat yakin jika dibalik sebuah kekurangan pasti ada kelebihan."
"Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada keluarga besar saya, juga ucapan terimakasih yang paling spesial saya ucapkan kepada Istri tercinta saya. Semoga kita berdua selalu bahagia sayang, terimakasih banyak karena Bunda telah memberikan kebahagiaan dalam hidup Ayah," ucap Fajar dengan mengecup kening Mentari, sehingga Mentari merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia ini.
Terimakasih Ya Allah, semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir, ucap Mentari dalam hati.
Acara kini dilanjutkan dengan tiup lilin dan potong kue, setelah itu Fajar mempersilahkan semuanya untuk mencicipi semua hidangan yang telah disediakan, dan acara pun berjalan dengan lancar.
Mentari tidak pernah menyangka jika dia akan jatuh cinta kepada sosok Fajar, padahal sebelumnya mereka berdua sudah berkomitmen untuk menjadi Kakak dan Adik.
Fajar terus saja menempel pada Mentari, dan dia terlihat enggan untuk jauh-jauh dari sisi Mentari.
"Untung saja si kembar udah gak di kasih Asi, jadi mereka gak rewel kalau Ayah ajak Bunda bulan madu," bisik Fajar dengan memeluk tubuh Mentari dari belakang.
Mentari hanya memberikan Asi sampai Rasya dan Raisya berusia sepuluh bulan, karena Asi Mentari tiba-tiba kering.
"Yah, jangan seperti ini, malu semua orang ngelihatin kita terus," bisik Mentari.
"Kenapa harus malu, kita kan sudah sah menjadi Suami istri," ucap Fajar dengan mencium pipi Mentari sehingga pipi Mentari semakin merah.
"Ayah masih ingat gak perkataan Bu Panti? ternyata semua perkataannya benar ya, sekarang kita sudah ditakdirkan untuk hidup bersama. Kapan-kapan kita berkunjung ke Panti Asuhan ya," ucap Mentari.
"Iya sayang, kemana pun Bunda pergi, Ayah bakalan selalu ikut, meskipun ke ujung dunia sekalipun," jawab Fajar dengan tersenyum.
__ADS_1