
Dimas dan Raisya saat ini sudah bisa bernafas lega karena telah berhasil mendapatkan restu dari Fajar dan semuanya.
Sepanjang perjalanan menuju kota Bandung, Raisya dan Dimas terus mengembangkan senyuman, dan saat ini keduanya hanya berdua di dalam mobil yang dikendarai oleh Dimas.
"Kenapa Kak Dimas senyum-senyum sendiri?" tanya Raisya.
"Hari ini adalah hari yang paling bahagia untuk Kak Dimas, karena Kak Dimas akhirnya bisa mendapatkan perempuan paling cantik di Dunia ini," jawab Dimas dengan mencium tangan Raisya yang terus dia genggam.
"Gak usah gombal, ini masih pagi," ledek Raisya.
"Sepertinya Kak Dimas tidak akan pernah berhenti menggombal dalam seumur hidup Kakak jika berada di samping kamu," ujar Dimas dengan terkekeh, dan Raisya memutar malas bola matanya.
Dimas dan Raisya sudah hampir sampai di Panti Asuhan tempat Rayna tinggal, tapi saat ini terlihat kemacetan di depan kendaraan yang Dimas dan Raisya tumpangi, dan ternyata di depan mobil mereka telah terjadi tabrakan beruntun.
Saat ini ada salah seorang warga yang mencoba menghentikan mobil yang dikendarai oleh Dimas. Warga tersebut ingin meminta tolong kepada Dimas dan Raisya untuk membawa salah satu korban ke Rumah Sakit, karena mobil Ambulance masih belum datang juga.
"Pak, apa Bapak bersedia untuk menolong kami membantu membawa salah satu korban kecelakaan ke Rumah Sakit? Kasihan korban, sepertinya korban akan segera melahirkan, sedangkan mobil Ambulance masih belum datang juga," ujar salah satu warga, dan tentu saja atas dasar kemanusiaan Dimas dan Raisya langsung bersedia untuk menolong.
"Pak, silahkan bawa masuk korbannya ke dalam mobil kami," jawab Dimas.
"Kak, Raisya pindah ke belakang ya supaya bisa membantu memegangi korban."
"Iya sayang, Raisya hati-hati ya," jawab Dimas.
Setelah Raisya duduk di jok belakang, warga menggotong salah satu korban kecelakaan yang sedang hamil dan memasukannya ke dalam mobil Dimas.
Raisya dan Dimas begitu terkejut, karena ternyata korban kecelakaan tersebut adalah Rayna.
"Kak Rayna," ucap Raisya dengan langsung memeluk tubuh Rayna.
"Raisya, Alhamdulillah akhirnya kita bisa bertemu kembali," ucap Rayna dengan meringis kesakitan memegangi perutnya.
Sebelumnya perut Rayna terbentur saat berada di dalam angkot yang terlibat kecelakaan beruntun tersebut, dan saat ini Rayna juga mengalami pendarahan.
"Kakak bertahan ya, sekarang kami akan membawa Kakak ke Rumah Sakit," ujar Raisya, dan Dimas bergegas melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Dimas dan Raisya terlihat khawatir karena Rayna terus saja meringis kesakitan.
__ADS_1
"Raisya, sebaiknya kamu beritahu yang lain kalau Rayna sudah bersama dengan kita," ujar Dimas.
Raisya menghubungi semua keluarganya supaya langsung menuju Rumah Sakit tempat Rayna akan di bawa.
Dimas semakin merasa bersalah ketika melihat kondisi Rayna saat ini.
"Rayna, maafin Kak Dimas ya, karena Kakak sudah banyak melakukan kesalahan."
"Kak Dimas tidak pernah melakukan kesalahan apa pun kepada Rayna, justru Rayna yang harusnya meminta maaf, karena kesalahan yang telah Ibu kandung Rayna perbuat, Kak Dimas dan Kak Dita sampai kehilangan Mama kandung kalian."
"Sudahlah Rayna, mulai sekarang kita lupakan semuanya, karena Rayna adalah Adik Kak Dimas. Meski pun kita berdua sudah terjebak dalam sebuah kesalahan yang fatal, tapi Kak Dimas akan bertanggungjawab dengan menafkahi bayi yang saat ini berada dalam kandungan Rayna."
"Terimakasih banyak Kak Dimas, Rayna percaya kalau Kak Dimas akan menjadi Ayah yang baik," ucap Rayna dengan lirih.
Fajar dan yang lainnya telah tiba di Rumah Sakit sebelum Raisya, Rayna dan Dimas sampai, dan Rayna langsung dibawa masuk ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan medis.
Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari ruang IGD karena ingin menyampaikan kondisi Rayna yang harus segera melakukan operasi karena mengalami pendarahan hebat.
"Dok, bagaimana keadaan Rayna?" tanya Mentari.
"Pasien harus segera melakukan operasi karena mengalami pendarahan hebat."
"Kalau begitu, Dimas akan segera mengurus Administrasi nya," ujar Dimas, kemudian bergegas menuju tempat Administrasi.
Setelah Dimas selesai mengurus administrasi, Rayna yang saat ini hendak dibawa ke ruang operasi, meminta waktu untuk berbicara terlebih dahulu dengan keluarganya.
"Nek, Kek, terimakasih banyak ya karena selama ini Nenek dan Kakek telah memberikan cinta dan kasih sayang kepada Rayna. Maaf jika Rayna belum bisa membalasnya."
"Nak, Rayna tidak boleh berkata seperti itu, sudah seharusnya kami melakukan semua itu. Selama ini Rayna sudah membuat kami bangga, dan Rayna harus yakin kalau semuanya pasti akan baik-baik saja," ujar Bu Rima dengan mengelus lembut kepala Rayna.
"Terimakasih juga untuk semuanya. Maaf jika selama ini Rayna pernah melakukan kesalahan. Raisya, semoga Raisya dan Kak Dimas bisa bersatu dalam ikatan Suci pernikahan, dan kalian selalu hidup bahagia."
"Semuanya pasti akan hidup bahagia, dan Kak Rayna pasti akan baik-baik saja."
"Raisya mau kan mengabulkan permintaan Kak Rayna?"
"Permintaan apa Kak?"
__ADS_1
"Seandainya Kak Rayna tidak selamat, Raisya tolong jaga bayi Kak Rayna ya, sayangi dia seperti Anak kandung Raisya sendiri," ucap Rayna dengan menyatukan tangan Raisya dan Dimas, sehingga membuat semuanya menangis terharu.
"Kak Rayna tidak boleh berbicara seperti itu, Kak Rayna harus kuat, karena kita akan membesarkannya bersama-sama," ujar Raisya, dan Rayna hanya tersenyum mendengar perkataan Raisya sebelum akhirnya Rayna dibawa masuk ke dalam ruang operasi.
Semuanya menunggu di depan ruang operasi dengan harap-harap cemas, apalagi sudah empat jam lebih, Dokter masih belum ke luar juga dari dalam ruang operasi.
"Kenapa operasinya lama sekali?" gumam Raisya.
"Sayang, Raisya harus tenang, Rayna pasti baik-baik saja," ujar Dimas yang terus mencoba menenangkan Raisya.
Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari ruang operasi untuk mengabarkan berita buruk, karena setelah mengalami pendarahan hebat, nyawa Rayna tidak dapat diselamatkan. Akan tetapi, bayinya yang berjenis kelamin laki-laki lahir dengan selamat meski pun lahir secara prematur.
"Dok, bagaimana keadaan Pasien? Pasien baik-baik saja kan?" tanya Mentari.
"Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain."
"A_apa yang terjadi dengan Cucu saya?" tanya Bu Rima dengan menangis, karena Bu Rima sudah mempunyai firasat buruk.
"Pasien telah meninggal dunia, dan kami hanya berhasil menyelamatkan bayi yang berada dalam kandungannya," jawab Dokter.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap semuanya secara bersamaan.
Semuanya menangisi kepergian Rayna, mereka tidak pernah menyangka jika Rayna akan pergi secepat itu.
"Kenapa Kak Rayna pergi secepat ini," ucap Raisya dengan menangis dalam pelukan Dimas.
"Umur tidak ada yang tau, dan kita harus ikhlas melepas kepergian Rayna, supaya Rayna bisa beristirahat dengan tenang," ucap Dimas dengan menitikkan airmata, tapi Dimas berusaha untuk tetap tegar.
Beberapa saat kemudian, jenazah Rayna dibawa ke luar dari ruang operasi, dan semuanya semakin menangis histeris melihat Rayna yang sudah terbujur kaku.
Raisya mendekati jenazah Rayna, kemudian Raisya memegang tangan Rayna.
"Kak Rayna, Raisya tidak pernah mengira jika ini adalah pertemuan terakhir kita. Semoga Kak Rayna bisa beristirahat dengan tenang. Raisya berjanji akan menjaga Amanah yang Kak Rayna berikan untuk membesarkan bayi Kak Rayna seperti Anak kandung Raisya sendiri," ucap Raisya dengan menahan sesak dalam dadanya.
*
*
__ADS_1
Bersambung