
Setelah kepergian Angga dari rumahnya, Mentari menjadi salah tingkah terhadap Fajar, karena Mentari merasa malu dengan perkataan Angga yang mendo'akan hubungan dia dan Fajar supaya langgeng.
"Bunda baik-baik saja kan? Ayah lihat daritadi Bunda diem aja," ujar Fajar.
Mentari yang mendapat panggilan Bunda dari Fajar pun langsung bengong.
"Mas Fajar, kenapa manggil Mentari dengan sebutan Bunda?" tanya Mentari dengan malu-malu.
"Mulai sekarang kita harus terbiasa dengan panggilan itu, supaya nanti Rasya dan Raisya ngikutin manggil gitu juga sama kita, nanti gimana kalau Rasya dan Raisya manggil kita nama juga, gak baik kan," jelas Fajar.
"Iya juga sih, tapi_," ucapan Mentari terpotong oleh Fajar.
"Tapi apa? bukannya kamu sendiri yang tadi bilang sama Angga kalau bagi Rasya dan Raisya aku adalah Ayah mereka yang sebenarnya," ujar Fajar.
"Memangnya nanti calon Istri Mas Fajar gak bakalan salah paham kepada kita?" tanya Mentari.
"Dia perempuan yang sangat baik dan juga pengertian, jadi dia gak bakalan salah paham," karena perempuan itu kamu Mentari, lanjut Fajar dalam hati.
Kenapa hatiku merasa sakit saat mendengar Mas Fajar memuji perempuan lain, perasaan apa ini Ya Allah, batin Mentari.
"Ya sudah sebaiknya sekarang kita Shalat sama makan dulu, mungpung Anak-anak lagi tidur," ajak Fajar.
Bu Rima dan Pak Hasan tersenyum bahagia melihat perhatian Fajar kepada Mentari, karena bagi mereka Fajar adalah Dewa penolong yang dikirimkan Tuhan dan selalu ada untuk Mentari.
Alhamdulillah Ya Allah, karena Engkau telah mengirimkan Nak Fajar dalam kehidupan Mentari, dan dia adalah penyelamat bagi Mentari pada saat Mentari berada dalam kesusahan, ucap Bu Rima dalam hati.
"Bu masak apa hari ini, Fajar lapar banget nih?" tanya Fajar yang sudah tidak canggung lagi terhadap kedua orang Mentari.
"Ibu masak Ayam kecap kesukaan Nak Fajar, ada sambal sama lalapan juga," jawab Bu Rima.
"Wah Fajar makan enak nih, Ibu tau aja kesukaan Fajar, bisa-bisa Fajar tambah gemuk karena makan enak terus," ucap Fajar dengan tersenyum.
__ADS_1
Pada saat Fajar hendak mengambil nasi, Mentari juga melakukan hal yang sama, sehingga kini tangan mereka berpegangan dengan memegang centong nasi.
Mentari dan Fajar sama-sama bengong dan saling memandang, ada debaran aneh dalam hati Mentari, dan sama seperti sebelumnya jantung Fajar selalu berdetak kencang pada saat berdekatan dengan pujaan hatinya.
Bu Rima dan Pak Hasan hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua, sampai akhirnya Pak Hasan angkat suara.
"Ayo cepetan makannya, jangan saling pandang-pandangan terus, emangnya kalau saling memandang bisa bikin perut kenyang," ujar Pak Hasan.
Mentari dan Fajar langsung melepaskan pegangan tangan mereka, dan saat ini mereka berdua menjadi salah tingkah.
"Biar Mentari aja yang ambilin nasi nya mas."
Setelah Mentari mengambilkan nasi dan lauk untuk Fajar, dengan tangan gemetar dia memberikannya terhadap Fajar.
"Bunda baik-baik saja kan?" tanya Fajar yang melihat tangan Mentari gemetaran.
"Mentari baik-baik saja kok," ujar Mentari dengan tertunduk malu.
Fajar yang melihat Mentari diam saja, kini mengambilkan nasi juga untuk Mentari.
"Sekarang Bunda makan, biar Asi nya banyak, jadi Rasya dan Raisya bisa cepat tumbuh besar," ucap Fajar dengan memberikan piring yang sudah berisi nasi dan lauk kepada Mentari.
"Terimakasih Mas," ucap Mentari.
"Bukan Mas, tapi Ayah, kita kan udah punya Anak, jadi panggilan juga harus diganti, ya kan Bu, Pak," ujar Fajar.
"Iya Mentari, supaya nanti Rasya dan Raisya terbiasa memanggil kalian dengan sebutan Ayah dan Bunda," ujar Bu Rima, dan Mentari kini hanya tersenyum malu menanggapi semuanya.
......................
Angga akhirnya menyetujui usulan Jingga untuk menikah besok, meskipun semua itu berat untuknya.
__ADS_1
"Baiklah besok aku bersedia untuk menikah denganmu, tapi kita hanya melakukan ijab kabul saja di KUA karena acaranya terlalu mendadak," ujar Angga.
"Oke, no problem, perutku juga sudah terlihat besar, jadi aku tidak mungkin meminta yang aneh-aneh, kamu juga tidak perlu menyiapkan mas kawin karena aku sudah mempunyai semuanya, jadi aku tidak memerlukan uangmu, karena uangku lebih banyak dari kamu," ujar Jingga yang merendahkan Angga.
Jingga berbeda sekali dengan Mentari, belum juga menikah, dia sudah bersikap sombong. Seandainya dia tidak hamil Anakku, aku juga tidak akan sudi untuk menikahinya, batin Angga.
"Oke, kalau perlu kita hanya menikah di atas kertas saja, karena sepertinya kamu hanya membutuhkan status untuk bayi yang kamu kandung saja," ujar Angga.
Tentu saja Angga, karena kamu tidak bisa memuaskan hasratku seperti David, karena hanya David yang bisa memberikanku kepuasan, ucap Jingga dalam hati.
"Kamu memang benar Angga, jika aku hanya menginginkan Anak ini terlahir mempunyai seorang Ayah saja, tapi tidak seperti bayi Mentari juga yang mempunyai Ayah, tapi kenyataannya mereka terlahir tanpa seorang Ayah," sindir Jingga.
"Apa kamu lupa kalau malam itu kamu sendiri yang mengajakku pergi keluar Jingga."
"Sudahlah Angga, saat ini aku sedang tidak mau berdebat, hari ini aku sudah puas melihat drama keluargamu."
Sebenarnya Angga ingin sekali membalas perkataan Jingga, tapi dia mencoba menahan semuanya demi bayi yang saat ini berada dalam kandungan Jingga, karena Angga tidak ingin kalau Jingga stres.
Mulai sekarang aku akan berusaha sabar demi bayi yang ada dalam kandungan Jingga, semoga saja bayi Jingga nanti tidak menyebalkan seperti Ibunya, batin Angga.
Angga dan Jingga memutuskan untuk kembali ke kamar perawatan Stella, dan mereka terlihat heran karena saat ini Mommy Sandra tertidur di atas sofa dan mendengkur dengan kerasnya.
"Stella, Mommy emang tidurnya suka mendengkur ya?" tanya Angga.
"Iya Kak, makanya Stella males kalau tidur sama Mommy, soalnya Mommy suka mendengkur, udah gitu baju Stella suka banyak pulaunya."
"Kalian gak tau aja kalau aku lebih parah dikerjain sama Mommy waktu kalian tidak ada," ujar Jingga.
"Emangnya apa yang sudah Mommy lakukan sama Kak Jingga?" tanya Stella yang penasaran.
"Waktu aku nginep karena Angga dan kamu gak ada, tiba-tiba ada pemadaman listrik, dan lebih parahnya lagi Mommy yang phobia gelap sakit perut, masa aku disuruh jagain di depan toilet, udah gitu Mommy habis makan jengkol, aku waktu itu sampai muntah-muntah, dan pada saat aku tidur sama Mommy, aku tidak bisa tidur karena dengkurannya sangat keras," ujar Jingga yang cemberut karena masih merasa kesal jika mengingat itu semua.
__ADS_1
Stella dan Angga menertawakan Jingga, sedangkan David merasa bersalah karena malam itu David malah bersenang-senang dengan Stella.