
Jingga terus menjerit kesakitan pada saat Dokter menjahit luka pada bagian inti tubuhnya yang robek setelah melahirkan.
"Dokter pelan-pelan donk jahitnya, apa kalian mau bunuh saya?" teriak Jingga.
"Ibu yang sabar ya, sebentar lagi juga selesai," ujar Dokter.
Baru kali ini aku dapet Pasien yang galak, ucap Dokter dalam hati.
"Kenapa kalian tidak membius saya saja supaya tadi saya tidak merasa kesakitan," ujar Jingga yang terus marah-marah.
David yang mendengar Jingga menjerit pun sampai ngilu membayangkannya.
"Sepertinya aku bakalan lama nih harus puasa kalau Jingga belum benar-benar pulih dari luka jahitnya. Punya istri juga hanya jadi pajangan saja, karena setelah melakukan kuret, Stella gak pernah mau aku dekati, ada juga yang pengen nempel terus Mertua sendiri udah gitu Nenek-nenek lagi," gumam David dengan bergidik ngeri jika membayangkan Mommy Sandra yang selalu ingin menempel kepadanya.
Dokter kembali memanggil David setelah Jingga selesai dijahit.
"Honey, kamu tidak kenapa-napa kan?" Tanya David yang melihat Jingga menangis.
"Tidak kenapa-napa apanya? Sayang, kamu lihat sendiri gara-gara ulah Anak kamu punyaku jadi robek besar kan, pokoknya aku gak mau ngurus dia, dia adalah Anak pembawa sial," ujar Jingga.
"Honey, kamu jangan berbicara seperti itu, bagaimanapun juga dia adalah buah cinta kita," ujar David.
"Pokoknya aku tetap gak mau ngurus bayi sialan itu, kalau perlu berikan saja bayi itu kepada Stella supaya dia tidak seperti orang gila yang terus mengurung diri di dalam kamar," ujar Jingga.
David tidak bisa berbicara apa-apa lagi kalau Jingga sudah mengambil keputusan, tapi dia akan berusaha untuk memberikan kasih sayang kepada bayi tersebut meskipun Jingga tidak menginginkannya.
Tenang saja ya Nak, Ayah pasti akan selalu menyayangimu meskipun Ibu kamu tidak menginginkan kamu, ucap David dalam hati, kemudian David mengadzani bayi tersebut.
David akhirnya menelpon Angga dan keluarganya untuk memberitahukan bahwa Jingga sudah melahirkan.
__ADS_1
Setelah mendapatkan kabar Jingga melahirkan, Mommy Sandra begitu antusias dan langsung mengajak Angga untuk bergegas berangkat ke Klinik supaya dapat melihat Cucunya yang baru lahir, karena Mommy Sandra masih mengira jika bayi tersebut adalah Anak Angga dan Jingga, sedangkan Stella sama sekali tidak mau melihat bayi Jingga, karena dia merasa iri jika ada yang melahirkan karena Stella selalu berpikir jika bayinya telah meninggal dunia.
Beberapa saat kemudian, Angga dan Mommy Sandra sampai di Klinik bersalin, dan mereka langsung menghampiri David yang terlihat duduk termenung di depan Klinik.
"Sayang, kenapa kamu baru ngasih tau kami?" Tanya Mommy Sandra dengan memeluk tubuh David, sehingga David merasa risih.
"Tadi handphone David ketinggalan di mobil Mom, tadinya David mau segera ngabarin, tapi kasihan Jingga terus saja menangis karena tidak ada yang menemani," jawab David mencari alasan supaya Mommy Sandra dan Angga tidak curiga kepadanya.
"Mommy udah gak sabar deh pengen ketemu sama bayi Angga dan Jingga, bayinya laki-laki atau perempuan?" Tanya Mommy Sandra.
"Bayinya perempuan Mom, Kalau begitu sekarang sebaiknya kita langsung masuk ke dalam ruang rawat Jingga saja," ajak David.
Setibanya di ruang perawatan Jingga, Mommy Sandra langsung memeluk Jingga yang masih terlihat lemas.
"Selamat ya sayang, akhirnya bayi kamu dan Angga lahir juga," ucap Mommy Sandra dengan antusias, berbeda dengan Angga yang semenjak datang terlihat diam saja tanpa mau berbicara sepatah kata pun.
"Kenapa bayinya mirip sama David ya?" Celetuk Mommy Sandra.
"Masa sih Mom," ujar David yang sudah mulai deg-degan karena takut ketahuan jika itu memang Anaknya.
Jingga yang melihat wajah David ketakutan pun langsung angkat suara.
"Yang namanya wajah bayi kan bisa berubah-rubah Mom, mungkin waktu hamil Jingga benci sama David," maksudnya benar-benar cinta, lanjut Jingga dalam hati.
"Iya juga sih, tapi untung saja bayinya normal tidak seperti kedua bayi si Menantu Benalu yang cacat," ujar Mommy Sandra sehingga membuat Angga geram.
"Meskipun kedua bayi Mentari cacat, tapi mereka berdua tetap Anak Angga juga Mom."
"Apa aku gak salah denger Angga? Bukannya dulu pada saat kamu mengetahui kedua bayi Mentari terlahir cacat kamu langsung menolak kehadiran mereka karena kamu sendiri tidak menginginkan punya Anak yang cacat," sindir Jingga.
__ADS_1
"Itu dulu waktu aku masih bisa kalian bodohi, tapi sekarang aku tidak akan termakan oleh hasutan kalian lagi," ujar Angga dengan tersenyum mengejek.
"Percuma Angga, sekarang semuanya sudah terlambat, karena sampai kapan pun Mentari tidak akan pernah mau kembali menjadi Istrimu lagi," sindir Jingga, sehingga membuat Angga diam mematung.
Setelah beberapa jam dirawat di Klinik bersalin, Jingga dan bayinya sudah diperbolehkan pulang, tapi Jingga terlihat enggan untuk sekedar menggendong bayi tersebut, apalagi menyusuinya.
"Jingga, memangnya kamu gak ada niat untuk memberikan Asi kepada bayi kamu?" Tanya Mommy Sandra pada saat menggendong bayi Jingga, sedangkan David membantu Jingga untuk berjalan, karena Angga sama sekali tidak memperdulikan Jingga.
"Enggak Mom, aku gak mau kalau sampai aku memberikan Asi, nanti payu*dara ku jadi kendor, gak kencang lagi seperti sekarang, padahal ini kan aset berhargaku," jawab Jingga, dan tidak ada yang berani menasehatinya, karena mereka tau jika Jingga pasti tidak akan terima kalau dinasehati.
Sesampainya di rumah, Jingga dibantu oleh David untuk berbaring di kamar yang selama ini selalu dia tempati, tapi pada saat Mommy Sandra menaruh bayi nya di samping Jingga, Jingga langsung menyuruh David untuk membawanya.
"David, tolong bayi nya kamu bawa aja ya ke kamar Stella, aku gak mau kalau sampai tidurku nanti terganggu karena harus mendengar tangisan bayi," ujar Jingga.
Mommy Sandra sebenarnya merasa geram mendengar perkataan Jingga, tapi dia tidak dapat melawannya, karena dia takut kalau Jingga tidak memberikan lagi uang bulanan untuknya.
David akhirnya membawa bayi tersebut ke kamar Stella supaya Stella bisa merawatnya.
"Sayang, coba kamu lihat, aku bawa apa buat kamu," ujar David.
Mata Stella langsung saja berbinar pada saat melihat bayi mungil yang saat ini berada dalam gendongan David.
"Mas, bayinya cantik sekali, ini bayi siapa?" Tanya Stella.
"Mulai sekarang ini akan menjadi bayi kita, karena Jingga tidak mau merawat bayi malang ini," ujar David.
"Jadi ini bayi Kak Angga dan Kak Jingga? Tapi kenapa ya wajahnya mirip sekali sama kamu?" Ujar Stella dengan tersenyum bahagia.
Maafkan aku Stella karena sudah berbohong sama kamu, bayi ini mirip denganku karena sebenarnya dia adalah Anak kandungku dari Jingga, ucap David dalam hati.
__ADS_1