
Jingga terus saja merenungi semua kata-kata Bu Rima, saat ini dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jadi Jingga hanya diam tanpa mau membalas perkataan Bu Rima.
Apakah seperti ini rasanya saat dulu Raisya tidak bisa berjalan dan Rasya tidak bisa melihat, yang terlihat hanyalah kegelapan tanpa ada setitik pun cahaya yang menerangi. Semua perkataan Ibu benar, kalau semua ini adalah hukuman untukku, dulu aku selalu menghina kedua Anak Mentari cacat, dan sekarang semuanya berbalik kepadaku persis seperti perkataan David. David, aku sangat merindukanmu sayang, aku ingin segera bertemu denganmu. Tunggu aku, sebentar lagi aku akan segera menyusulmu supaya kita bisa kembali bersama, ucap Jingga dalam hati.
Jingga akhirnya pura-pura tidur, dan dia sudah berencana untuk bunuh diri jika Bu Rima dan Rani lengah.
Bagaimana aku bisa mengetahui jika Ibu dan Rani sudah tidur? aku harus mencari kesempatan untuk bunuh diri, percuma aku hidup jika sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena nanti aku pasti akan menjadi bahan hinaan dan cemoohan semua orang, batin Jingga.
......................
Di kamar perawatan Rasya, saat ini Mentari terbangun karena mendengar suara Adzan Ashar, Mentari langsung tersenyum pada saat melihat wajah Fajar yang masih tertidur dengan memeluknya.
"Makasih karena Ayah selalu ada untuk kami," ucap Mentari, kemudian mencium bibir Fajar yang tertidur, tapi pada saat Mentari hendak melepaskan ciumannya, Fajar yang sudah terbangun pun malah enggan untuk melepaskan ciuman Mentari.
"Ternyata diam-diam Bunda mencuri ciuman Ayah lagi ya?" ujar Fajar dengan tersenyum, sehingga Mentari merasa malu.
"Kayak pengantin baru aja pake malu-malu segala, padahal sebentar lagi usia pernikahan kita dua tahun, saat ulang tahun si kembar yang ke tiga minggu depan," ujar Fajar.
"Yah, lepasin dulu pelukannya, Bunda mau mandi sama Shalat Ashar dulu," ujar Mentari.
"Mandi bareng yuk," ajak Fajar dengan cengengesan.
"Inget ini Rumah Sakit, jangan macem-macem, gimana nanti kalau Anak-anak bangun," omel Mentari.
"Ayah gak bakalan macem-macem kok, cuma satu macem aja," ujar Fajar dengan terkekeh.
"Puasa dulu ya satu malam lagi, besok juga Rasya udah diizinin pulang," ujar Mentari, kemudian bangun dan bergegas ke kamar mandi, dan Fajar hanya tersenyum mendengar perkataan Mentari.
Mentari dan Fajar bergantian membersihkan diri dan juga Shalat Ashar, setelah semuanya selesai dan Raisya sudah terbangun, Mentari menelpon Bu Rima untuk meminta tolong menjaga Rasya, karena Mentari dan Fajar akan memeriksakan kaki Raisya kepada Dokter yang biasa memberikan Raisya terapi.
Tidak memerlukan waktu yang lama, Bu Rima akhirnya sampai di kamar perawatan Rasya, karena jarak dari kamar perawatan Jingga ke kamar perawatan Rasya tidak terlalu jauh.
__ADS_1
"Bu bagaimana keadaan Kak Jingga sekarang?" tanya Mentari.
"Jingga merasa terpukul karena kakinya harus diamputasi, ditambah lagi sekarang Jingga juga tidak bisa melihat," jawab Bu Rima.
"Innalillahi, kasihan sekali Kak Jingga, dia pasti belum bisa menerima kondisinya saat ini," ujar Mentari.
"Mungkin itu semua hukuman untuk Jingga, karena semasa hidupnya, Jingga selalu berperilaku buruk terhadap oranglain, terlebih lagi kepada keluarga kalian. Jingga sudah menghina Rasya dan Raisya, dan sekarang semua itu berbalik kepadanya," ujar Bu Rima.
"Bu, Mentari memang kecewa dengan sikap Kak Jingga selama ini, tapi Mentari tidak sedikit pun berharap Kak Jingga akan mengalami semua ini."
"Kamu memang baik Nak, semoga saja dengan semua kejadian yang menimpanya, Jingga bisa bertaubat dan tidak melakukan lagi kesalahan yang dapat merugikan oranglain," ujar Bu Rima.
"Iya Bu, semoga saja. Kalau begitu kami berangkat dulu ya Bu, maaf jika Mentari selalu merepotkan Ibu."
"Nak, Mentari tidak pernah merepotkan Ibu, justru Ibu yang selalu merepotkan kalian. Kalau begitu hati-hati ya, semoga seterusnya Raisya diberikan kesembuhan," ujar Bu Rima yang di Amini oleh Mentari dan Fajar.
Mentari dan Fajar akhirnya berangkat setelah sebelumnya mengucapkan Salam. Seperti biasa, Fajar selalu siaga untuk keluarganya, sehingga membuat iri semua orang yang melihatnya karena saat ini lelaki tampan yang menjadi idaman kaum Hawa tersebut terlihat menggendong Anak dan menggandeng Istri tercintanya.
Dokter secara teliti memeriksa kaki Raisya, dan Dokter mengetes Raisya yang sudah bisa berjalan bahkan berlari.
"Semua ini adalah sebuah keajaiban, karena saya sudah memprediksi jika Raisya akan sembuh setelah satu tahun mendapatkan terapi, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, dan saat ini Raisya sudah bisa berjalan bahkan berlari dengan normal. Saya ucapkan selamat dan turut bahagia dengan kesembuhan Raisya," ucap Dokter.
"Terimakasih banyak atas bantuannya selama ini Dok, semoga sehat dan sukses selalu," ucap Fajar dan Mentari dengan tersenyum bahagia, karena di Ulang tahun Rasya dan Raisya yang ke tiga, mereka diberikan kado kesembuhan oleh Allah SWT.
......................
Keesokan paginya, Dokter memeriksa keadaan Rasya pasca operasi mata. Dokter sudah mengijinkan Rasya untuk pulang, dan melakukan rawat jalan saja.
"Keadaan Rasya sudah sepenuhnya pulih, tapi minggu depan Rasya harus kontrol ya," ujar Dokter.
"Terimakasih banyak Dok," ucap Fajar dan Mentari.
__ADS_1
"Sama-sama Tuan, Nyonya, semoga Rasya seterusnya diberikan kesehatan ya. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Dokter, kemudian keluar dari kamar perawatan Rasya.
Mentari saat ini membereskan semua pakaian Rasya dengan Fajar yang membantunya, meskipun Mentari sudah berkali-kali melarang Fajar.
"Yah, sebaiknya Ayah duduk saja, biar Bunda yang beresin semuanya."
"Kalau kita ngelakuinnya sama-sama, pekerjaannya bisa cepet selesai kan, jadi Ayah bisa segera nagih janji Bunda," bisik Fajar dengan cengengesan, sehingga Mentari memutar malas bola matanya.
Setelah semuanya beres, Mentari memutuskan untuk melihat kondisi Jingga terlebih dahulu sebelum pulang.
"Yah, titip Anak-anak ya, Bunda mau lihat keadaan Kak Jingga dulu sebelum kita pulang."
"Bunda yakin gak perlu Ayah antar?" tanya Fajar yang sebenarnya mengkhawatirkan Mentari.
"Ayah tenang aja, Bunda pasti akan baik-baik saja, lagian ada Ibu dan Rani juga di sana. Kalau begitu Bunda pergi sekarang ya," ujar Mentari dengan melangkahkan kaki menuju kamar perawatan Jingga.
Mentari mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk, serta mengucapkan Salam.
"Assalamu'alaikum," ucap Mentari.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Rima dan Rani, sedangkan Jingga hanya diam tanpa mau menjawab ucapan Salam Mentari.
"Kak Jingga apa kabar?" tanya Mentari.
"Untuk apa kamu datang ke sini Mentari? kamu pasti ingin menertawakanku kan?" tanya Jingga.
"Jaga ucapanmu Jingga, kamu memang tidak tau berterimakasih, padahal Mentari dan Fajar yang sudah membiayai semua pengobatan kamu," ujar Bu Rima.
"Siapa suruh kalian mengobatiku, padahal aku lebih memilih mati daripada harus menjalani hidup sebagai orang cacat," ujar Jingga, sehingga Bu Rima tidak tau harus berbuat apalagi untuk menyadarkan Jingga.
"Sudahlah Bu, sebaiknya Mentari pergi saja. Semoga Kak Jingga cepat sembuh ya. Mentari juga mau pamit pulang Bu, karena tadi Rasya sudah diperbolehkan pulang," ujar Mentari, kemudian mengucapkan Salam sebelum keluar dari kamar perawatan Jingga.
__ADS_1