
Hari ini Fajar sudah diperbolehkan untuk pulang, Dimas dan Rasya sudah terlihat untuk menjemput Fajar dan Mentari di Rumah Sakit, karena Dimas dan Rasya kebetulan sedang libur bekerja.
Sudah satu minggu ini Rasya membantu pekerjaan Dimas di kantor, karena Asisten Rendra sudah Fajar kirim untuk membantu pekerjaan Dita di Singapura.
"Om, kenapa sih Asisten Rendra Om kirim untuk membantu Dita di Perusahaan kita yang berada di Singapura? kenapa bukan Dimas saja yang Om kirim?" tanya Dimas.
"Kalau kamu yang berangkat ke Singapura, yang ada kamu di sana bukan bekerja, tapi mengejar cinta Raisya. Jadi, lebih baik Rendra saja yang Om kirim ke sana."
"Jangan bilang kalau Om berniat menjodohkan Asisten Rendra dengan Raisya," ujar Dimas yang sudah terlihat khawatir, sehingga Fajar mencoba untuk mengerjai Dimas.
"Kamu ternyata pintar menebak juga ya, tentu saja Om lebih setuju kalau Asisten Rendra yang menjadi pendamping hidup Raisya, karena Asisten Rendra lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan kamu," jawab Fajar.
Dimas langsung saja protes mendengar perkataan Fajar.
"Om, mana bisa seperti itu, Raisya dan Asisten Rendra terpaut usia yang sangat jauh, dan Asisten Rendra lebih cocok menjadi Ayahnya bukan Suaminya."
"Memangnya apa hak kamu melayangkan protes, kamu pikir kamu pantas untuk Raisya? jangan mimpi kamu Dimas, usia kamu dan Raisya juga terpaut 14 tahun, sedangkan usia Asisten Rendra dan Raisya hanya terpaut 25 tahun, dan yang pasti Asisten Rendra masih perjaka juga bukan lelaki brengsek seperti kamu," ujar Fajar.
"Om, Dimas mohon jangan jodohkan Raisya dengan lelaki lain, Dimas sangat mencintainya dan Dimas tidak mau sampai kehilangan Raisya."
"Memangnya kalau kamu mencintai Raisya dia mau sama kamu? Om dengar kalau Raisya juga di sana udah banyak di deketin laki-laki, jadi sekarang kamu bakalan lebih banyak saingannya."
Dimas terus saja merengek kepada Fajar supaya dipindahkan ke Singapura, karena Fajar mencoba untuk terus mengerjainya, sehingga membuat Mentari dan Rasya geleng-geleng kepala melihat tingkah Fajar dan Dimas.
"Rasya, sebaiknya sekarang kamu yang bawa mobil, Ayah takut Dimas membuat kita kecelakaan karena saat ini pikiran dia sedang tidak fokus," ujar Fajar.
__ADS_1
"Baik Yah. Oh iya, kita langsung pulang apa ke rumah Nenek dulu?" tanya Rasya.
"Sebaiknya kita ke rumah Kakek dan Nenek kamu dulu, karena lebih cepat kita menceritakan semuanya, maka akan lebih baik. Dimas, persiapkan mental dan fisik kamu, siapa tau nanti Bapak sama Ibu mau mukulin kamu sekalian mewakili Om," ujar Fajar, dan Dimas langsung menelan ludah saat mendengarnya.
Setelah sampai di rumah Bu Rima dan Pak Hasan, semuanya kini langsung turun dari mobil, kecuali Dimas yang terlihat enggan untuk turun.
"Dimas kamu jangan jadi pengecut, bagaimana Om bisa merestui hubungan kamu dan Raisya kalau kamu menjadi seorang pengecut," ujar Fajar, sehingga mau tidak mau Dimas turun mengikuti semuanya.
Saat ini Mentari dan yang lain mengucap Salam pada saat sampai di depan pintu rumah orangtuanya, Bu Rima dan Pak Hasan yang mendengarnya langsung saja membuka pintu.
"Mentari sayang, kapan kamu pulang Nak, kenapa tidak mengabari Ibu?" tanya Bu Rima dengan memeluk tubuh Mentari.
"Bu, ada Anak kok bukannya disuruh masuk dulu. Ayo semuanya masuk, Bapak bahagia karena setelah du bulan lebih akhirnya bisa melihat kalian lagi."
"Lho, kemana Rayna? kenapa dia tidak ikut?" tanya Bu Rima yang merasa heran.
"Bu, sebelumnya Fajar minta maaf karena telah merahasiakan sesuatu yang besar dari semuanya," ucap Fajar dengan menghela nafas panjang.
Bu Rima dan Pak Hasan terlihat menyimak dengan seksama.
"Memangnya rahasia apa yang sudah Nak Fajar sembunyikan dari kami selama ini? Ibu juga melihat wajah Nak Fajar terlihat pucat, apa Nak Fajar sedang sakit?"
"Sebenarnya kami sudah pulang dari Singapura tiga hari yang lalu Bu, tapi Mas Fajar langsung masuk Rumah Sakit karena terkena serangan jantung, dan baru hari ini Mas Fajar diperbolehkan untuk pulang," jawab Mentari.
"Innalillahi, kenapa Ibu dan Bapak tidak kalian beri tau?"
__ADS_1
"Ibu tenang dulu, Anak-anak pasti tidak mau kalau kita merasa khawatir," ujar Pak Hasan.
"Iya Bu, maaf kalau kami tidak memberitahukan semuanya kepada Ibu dan Bapak, karena kami tidak mau kalau kalian berdua merasa khawatir, apalagi kalau mendengar Rayna pergi dari rumah," ujar Mentari.
"Astagfirullah, kenapa Rayna juga sampai pergi dari rumah? kalau memang ada masalah, dia kan bisa pulang ke sini," ujar Bu Rima.
"Maaf Bu, semua ini berawal dari Fajar yang telah merahasiakan tentang identitas Dimas dan Rayna yang sebenarnya adalah saudara sayu Ayah, seandainya dari awal Fajar mengatakan semuanya kepada mereka, mungkin Dimas dan Rayna tidak akan melangsungkan pernikahan."
Degg
Bu Rima dan Pak Hasan merasa syok mendengar perkataan Fajar, mereka tidak pernah menyangka sedikit pun jika Rayna dan Dimas adalah saudara satu Ayah.
"Berarti pernikahan Rayna dan Dimas tidak Sah? bagaimana ini? padahal baru saja beberapa hari yang lalu Rayna menelpon dan memberitahukan kabar bahagia mengenai kehamilannya," ujar Bu Rima dengan meneteskan airmata.
"Iya Bu, Pernikahan sedarah tidak akan Sah baik secara hukum mau pun Agama. Maaf kalau dari pertama kita bertemu, Fajar tidak pernah jujur tentang identitas Fajar yang sebenarnya adalah Adik dari perempuan yang telah mendiang Jingga rebut. Saat itu Fajar belum bisa memaafkan kesalahan Jingga yang telah merebut Suami Kak Dewi, sehingga menyebabkan Kak Dewi yaitu Ibu dari Dimas dan Dita bunuh diri," ujar Fajar dengan tertunduk sedih.
Bu Rima dan Pak Hasan langsung memeluk Dimas dan Fajar, karena mereka begitu malu dan bersalah terhadap kesalahan yang telah dilakukan oleh Jingga.
"Atas nama mendiang Jingga kami meminta maaf Nak, kami tidak tau kalau kesalahan yang telah Jingga perbuat sudah membuat seseorang kehilangan nyawanya bahkan Dimas dan Dita harus kehilangan Ibunya," ujar Bu Rima dan Pak Hasan yang saat ini terlihat menangis.
"Bu, semuanya telah berlalu, dan itu bukan kesalahan Ibu dan Bapak, justru saat ini Fajar dan Dimas merasa bersalah karena setelah mengetahui semua kebenarannya Rayna malah pergi dan kami belum bisa menemukan keberadaannya."
"Kami sebagai orangtua telah gagal dalam mendidik Jingga, makanya dia menjadi pribadi yang tidak baik. Mungkin Rayna sedang mencoba untuk menenangkan dirinya, semoga saja dimana pun Rayna berada dia akan baik-baik saja," ujar Bu Rima.
"Ibu dan Bapak tidak pernah gagal dalam mendidik Anak, karena Ibu dan Bapak telah berhasil mendidik Mentari yang saat ini sudah menjadi istri dan Ibu yang baik untuk Fajar."
__ADS_1