
Raisya terkejut ketika mendengar pertanyaan Arumi yang sudah menilai rendah dirinya.
"Bisa-bisanya Anda berbicara seperti itu. Tidak semua orang berpikiran picik seperti Anda, jadi Anda jangan asal bicara," tegas Raisya.
Semua staf Administrasi yang berada di sana terdengar berbisik-bisik membicarakan Raisya yang sudah berani berdebat dengan Arumi, padahal sebelumnya tidak ada satu orang pun yang berani berhadapan dengan Arumi, karena Arumi merupakan Karyawan senior juga Anak dari salah satu pemegang saham Angkasa grup, sehingga Arumi selalu bersikap seenaknya terhadap Karyawan lain, apalagi kepada Karyawan baru.
"Berani sekali kamu melawanku. Apa kamu tidak tau siapa aku? Aku tidak menyangka, wajah polos seperti kamu menyukai Om om. Seandainya Tuan Dimas masih hidup, pasti kamu juga akan mengejar-ngejar dia. Sekarang kamu bisa sombong karena dekat dengan Big Bos, tapi asal kamu tau, aku adalah Calon Menantunya. Jika nanti aku sudah menikah dengan Rasya, akan aku pastikan, orang pertama yang akan aku pecat adalah kamu," ujar Arumi dengan menunjuk wajah Raisya.
"Siapa pun kamu, aku tidak takut, karena kamu bukan atasanku. Kamu juga jangan terlalu banyak bermimpi, kita lihat saja nanti, siapa yang akan dipecat dari Angkasa Grup," ujar Raisya dengan tersenyum penuh arti, sontak saja semua itu membuat Arumi merasa geram.
Beberapa saat kemudian, Fajar kembali menghampiri Raisya untuk mengajaknya ke ruang meeting.
"Sayang, sebaiknya kita ke ruang meeting sekarang," ucap Fajar dengan menarik lembut tangan Raisya.
Semua yang berada di sana terkejut ketika mendengar Fajar memanggil Raisya dengan sebutan sayang, tapi Raisya tidak memperdulikan perkataan serta tatapan jijik orang-orang yang berada di sana karena menganggap Raisya sebagai sugar baby nya Fajar.
"Bisa-bisanya Ayah sampai keceplosan memanggil Raisya dengan sebutan sayang saat di depan Karyawan lain," bisik Raisya pada Fajar.
"Maaf sayang, Ayah lupa. Ayah juga sudah kebiasaan memanggil Raisya dengan penggilan sayang. Lagian Raisya ada-ada aja pake nyuruh Ayah merahasiakan hubungan kita. Bagaimana kalau nanti banyak orang yang salah paham dan mengira Raisya sebagai sugar baby nya Ayah?" ujar Fajar dengan terkekeh.
"Ya sudah lah bodo amat, mereka juga sudah terlanjur salah paham sama Raisya, apalagi si ganjen Arumi," gerutu Raisya, dan Fajar hanya tersenyum melihat sikap Raisya yang secara perlahan sudah mulai ceria seperti dulu lagi.
Setelah kepergian Fajar dan Raisya, Arumi langsung memprovokasi semua Karyawan supaya memihaknya dan memusuhi Raisya.
"Kalian dengar sendiri kan kalau Tuan Fajar memanggil Anak baru itu dengan sebutan sayang? Pasti si Raisya adalah sugar baby nya Tuan Fajar. Kita harus waspada, jangan sampai semua cowok yang berada di sini tergoda oleh perempuan ja*lang seperti Raisya," ujar Arumi.
Baru juga Arumi berhenti bicara, Rasya datang menghampirinya untuk menanyakan keberadaan Raisya.
"Arumi, dimana Raisya?"
"Raisya Karyawan baru itu ya Tuan?"
"Iya. Apa dia ikut Papa ke ruang meeting?"
__ADS_1
"Benar Tuan Rasya, barusan Tuan Fajar mengajak Anak baru itu ke ruang meeting, padahal biasanya saya yang selalu di ajak. Apa Tuan Rasya mau mengajak saya juga?" tanya Arumi dengan tatapan genit, tapi Rasya tidak menggubrisnya dan langsung pergi menuju ruang meeting.
Arumi menghentak hentakan kakinya di atas lantai, padahal tujuan dia bekerja di Angkasa Grup supaya bisa mendapatkan salah satu pewaris Angkasa Grup, bahkan selama ini Arumi sudah berusaha mendekati Dimas dan Rasya, tapi usahanya tidak pernah berhasil.
"Lagi-lagi Raisya yang menjadi pusat perhatian, bahkan Tuan Fajar dan Tuan Rasya bisa-bisanya memperhatikan perempuan ja*lang itu. Memang apa hebatnya dia? Lihat saja nanti, aku akan mengadukan kelakuan Raisya sama Nyonya Mentari, supaya dia tau rasa," gumam Arumi dengan tersenyum licik.
......................
Saat ini Ratu masih terus berusaha menghindari dua lelaki yang mencoba mendekatinya, sampai akhirnya Ratu berhasil berlari ke luar dari dalam kamar.
"Kamu tidak akan bisa lari dari kami cantik, karena kunci rumah sudah ada di tangan kami," ujar salah satu Anak buah Lukman dengan tertawa ketika melihat wajah Ratu yang ketakutan.
Ratu memutuskan berlari ke dapur, kemudian Ratu mengambil pisau.
"Jangan mendekat, atau aku tidak akan segan-segan melukai kalian," ujar Ratu dengan mengarahkan pisau pada kedua lelaki yang berada di hadapannya.
Kedua lelaki tersebut tidak terlihat takut sama sekali, bahkan mereka Menertawakan Ratu.
"Mungkin aku memang tidak akan bisa melukai kalian, tapi aku bisa melukai diriku sendiri, karena aku lebih memilih mati demi menjaga kehormatanku," ujar Ratu dengan tersenyum sebelum akhirnya menusukan pisau yang ia pegang pada perutnya.
Kedua Anak buah Lukman begitu terkejut dengan tindakan Ratu. Mereka tidak mengira jika Ratu akan nekad melukai dirinya sendiri demi mempertahankan harga dirinya.
"Bagaimana ini, kenapa dia sampai nekad menusuk perutnya sendiri?" tanya salah satu Anak buah Lukman kepada rekan nya.
Saat ini tubuh Ratu sudah bersimbah darah yang terus ke luar dari dalam perutnya, dan kedua Anak buah Lukman sudah terlihat ketakutan.
"Sebaiknya sekarang kita kabur, aku tidak mau di penjara kalau dia sampai mati di hadapan kita," ujar Anak buah Lukman yang lainnya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah Ratu, karena Hilman yang merasa khawatir memutuskan untuk pulang lagi, dan menyuruh kedua Anak buahnya saja untuk berbelanja.
"Assalamu'alaikum, sayang, kenapa pintunya dikunci?" teriak Hilman dengan terus mengetuk pintu.
"Mas Hilman, Mas Hilman, tolong," teriak Ratu dengan sisa tenaga yang dia miliki.
__ADS_1
Kedua Anak buah Lukman yang panik hanya diam mematung, apalagi Hilman terdengar mendobrak pintu.
Brak
Akhirnya pintu rumah berhasil didobrak oleh Hilman, dan Hilman terkejut ketika melihat dua orang yang memakai penutup kepala berada di dalam rumahnya, apalagi Hilman belum melihat keberadaan Ratu.
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Hilman dengan tatapan tajam.
Kedua Anak buah Lukman hendak kabur, tapi Hilman membabi buta memukuli kedua Anak buah Lukman.
Kedua Anak buah Lukman sudah terkapar di atas lantai, karena ilmu bela diri Hilman bukan tandingan mereka.
"Apa yang sudah kalian lakukan kepada Istriku?" tanya Hilman dengan menginjak tangan kedua Anak buah Lukman.
"Ampun Bang, kami hanya orang suruhan. Tadinya kami disuruh menodai Istri Abang, tapi dia nekad melukai dirinya sendiri," jawab salah satu Anak buah Lukman.
"Siapa yang menyuruh kalian?" teriak Hilman, tapi kedua Anak buah Lukman tidak berani menjawab, sampai akhirnya Hilman menarik penutup kepala kedua Anak buah Lukman.
"Ternyata benar dugaanku, kalau Kak Lukman yang menyuruh kalian. Aku tidak akan memaafkan siapa pun, jika sampai Istriku kenapa-napa," gumam Hilman dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Mas Hilman, tolong," ucap Ratu dengan lirih karena tubuhnya sudah terasa lemas.
Hilman tersadar ketika mendengar suara Ratu, dan Hilman begitu terkejut ketika melihat Ratu yang tergeletak di atas lantai dengan bersimbah darah.
"Sayang, maafin Mas karena tidak bisa melindungi Ratu," ucap Hilman dengan menangis memeluk tubuh Ratu, kemudian Hilman bergegas mengangkat tubuh Ratu untuk ia bawa ke Rumah Sakit.
"Mas, Ratu sudah berhasil mempertahankan harga diri Ratu sebagai seorang Istri," ucap Ratu dengan tersenyum, dan sesaat kemudian Ratu pingsan dalam pelukan Hilman.
*
*
Bersambung
__ADS_1