
Kontrak kerjasama antara Angkasa Grup dan Jaya Grup sudah selesai ditandatangani. Akan tetapi, entah kenapa Rasya merasa gelisah ketika melihat Fajar menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan Lukman.
Meski pun aku tidak bisa membaca pikiran Tuan Lukman, tapi entah kenapa aku merasakan firasat yang buruk, apalagi Raisya terlihat tidak suka kepada Tuan Lukman, ucap Rasya dalam hati.
"Terimakasih banyak atas kerjasamanya Tuan Fajar, semoga semuanya berjalan dengan lancar," ucap Lukman yang di Amini oleh semuanya.
Lukman mengajak Fajar dan yang lainnya untuk merayakan kerjasama antara Jaya Grup dan Angkasa Grup dengan makan-makan, tapi Fajar tidak bisa ikut karena harus bertemu kembali dengan klien lainnya.
"Rasya, Raisya, sebaiknya kalian berdua ikut Tuan Lukman untuk merayakan kerjasama perusahaan kita, karena Ayah harus bertemu dengan klien dari PT Sinar sentosa," ujar Fajar yang merasa tidak enak jika menolak ajakan Lukman.
Raisya sebenarnya ingin menolak, tapi Raisya tidak enak terhadap Fajar.
"Kalau begitu kami permisi dulu Om, nanti saya akan sering-sering datang ke sini untuk membahas proyek kita," ujar Lukman dengan menjabat tangan Fajar sebelum pergi.
Rasya, Raisya, Lukman dan Viona berjalan beriringan ke luar dari ruang meeting, dan Arumi yang juga akan ke luar untuk istirahat makan siang, langsung menghampiri Rasya.
"Tuan Rasya mau makan siang ke mana? Arumi boleh ikut tidak?" tanya Arumi, tapi Rasya mengacuhkannya, dan mengalihkan pembicaraan dengan berbicara kepada Lukman.
"Tuan Lukman, bagaimana kalau kita makan siangnya di Restoran depan kantor saja? Kebetulan makanan di sana juga enak, selain itu kami juga bisa segera kembali ke kantor, karena kami masih memiliki banyak pekerjaan," ujar Rasya yang tidak ingin memberikan Lukman kesempatan untuk mendekati Raisya, apalagi Raisya terlihat tidak nyaman.
"Tidak masalah, yang penting kita bisa merayakannya. Hari ini biar saya yang traktir, Tuan Rasya dan Nona Raisya bisa pesan semua makanan yang kalian mau. Apa Nona Arumi mau ikut dengan kami juga?" ujar Lukman yang sengaja mengajak Arumi supaya bisa mengalihkan perhatian Rasya dari Raisya.
"Tentu saja saya tidak akan menolak," jawab Arumi yang terlihat bahagia.
Rasya sebenarnya merasa kesal karena Arumi ikut bersama mereka, tapi Rasya tidak mungkin memperlihatkan kekesalannya di depan Lukman.
"Tuan Rasya dan Nona Raisya mau makan apa?" tanya Lukman dengan memberikan buku menu kepada Rasya.
"Tuan Lukman tidak perlu sungkan terhadap kami, jika di luar kantor panggil nama kami saja," ujar Rasya.
"Kalau begitu kalian juga bisa memanggil ku dengan sebutan Mas atau Kakak, karena aku lebih tua dari kalian," ujar Lukman dengan terkekeh, dan Raisya memutar malas bola matanya.
__ADS_1
Sepanjang acara makan siang, Lukman selalu mencari celah untuk mendekati Raisya, dan Viona terbakar api cemburu melihat Lukman yang bersikap perhatian kepada Raisya.
"Nona Raisya, apa Anda sudah memiliki Kekasih?" tanya Lukman.
Raisya yang mendengar pertanyaan Lukman langsung tersedak makanan, dan Lukman bergegas memberikan air minum kepada Raisya.
"Terimakasih," ucap Raisya singkat.
"Sayang, Raisya tidak kenapa-napa kan?" tanya Rasya.
Belum juga Raisya menjawab pertanyaan Rasya, Arumi langsung angkat suara untuk mempermalukan Raisya, karena Arumi merasa kesal ketika mendengar Rasya memanggil Raisya dengan sebutan sayang.
"Mas Lukman, Raisya sepertinya sudah punya gebetan deh, tapi Mas Lukman tenang saja, Mas Lukman lebih muda dari gebetannya Raisya yang sudah Om Om," sindir Arumi dengan cekikikan.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu Arumi?" tanya Rasya dengan nada tinggi.
"Udah Kak, Raisya tidak kenapa-napa kok. Maaf ya, Raisya ke kamar mandi dulu," ujar Raisya kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Arumi memutuskan untuk menyusul Raisya, karena Arumi ingin memberikan peringatan.
"Heh Anak baru, kamu gak usah belagu ya, mentang-mentang kamu dekat dengan Big Bos, kamu bisa berbuat seenaknya. Jangan pikir karena tadi Rasya memanggil kamu sayang, kamu menjadi besar kepala, dan lancang memanggil Kakak kepada Rasya. Kamu harus ingat, Rasya itu hanya milik aku."
"Kamu sepertinya sudah mengkhayal terlalu tinggi, karena yang aku lihat, cinta kamu hanya bertepuk sebelah tangan," ujar Raisya dengan tersenyum mengejek.
"Beraninya kamu berbicara seperti itu. Lihat saja nanti, aku akan mengadukan kelakuan kamu kepada Nyonya Mentari, dan aku akan mengatakan kalau kamu sudah menggoda Anak dan Suaminya," ujar Arumi dengan tersenyum licik.
"Terserah apa yang mau kamu lakukan, aku juga tidak peduli. Memangnya kamu pikir aku akan takut kalau kamu mengadu sama Istrinya Big Bos?" ujar Raisya dengan tersenyum penuh arti, kemudian ke luar dari kamar mandi meninggalkan Arumi yang terlihat kesal.
"Sekarang kamu masih bisa tertawa Raisya, tapi lihat saja nanti, kamu pasti akan nangis darah," gumam Arumi dengan mengepalkan kedua tangannya.
......................
__ADS_1
Dimas terpaksa ikut Aira pindah ke Singapura, karena saat ini Dimas tidak memiliki pilihan lain, apalagi Dimas masih belum mengingat apa pun tentang masalalunya.
Hati Dimas terasa berat ketika melangkahkan kaki nya masuk ke dalam pesawat, ada sebuah rasa yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, dan saat ini hanya sosok Arka yang mampu membuat Dimas bertahan.
Entah kenapa aku merasa berat untuk meninggalkan Indonesia, padahal Aira bilang aku sudah tidak memiliki sanak saudara di sini. Saat ini Anak dan Istriku ada bersamaku, tapi aku merasa akan berpisah jauh dengan seseorang yang paling berarti di dalam hidupku, ucap Dimas dalam hati.
Aira merasa bahagia karena bisa selalu bersama Dimas, meski pun pada kenyataannya Dimas tidak pernah bisa menyentuhnya, bahkan Dimas selalu menjaga jarak dengan Aira, karena Dimas merasa tidak nyaman.
"Mas Aksa baik-baik saja kan? Kenapa dari tadi Mas Aksa terlihat gelisah?"
"Aku juga tidak tau kenapa aku merasa berat untuk meninggalkan Indonesia," jawab Dimas.
Pasti Dimas merasa seperti itu karena dalam hati kecilnya masih teringat dengan Raisya. Aku harus berusaha membuat Dimas melupakan Raisya dan bertekuk lutut kepadaku, ucap Aira dalam hati yang masih memikirkan cara supaya Dimas benar-benar melupakan Raisya.
Dimas, Aira dan Arka telah sampai di sebuah Apartemen yang sebelumnya sudah Aira sewa, tapi Dimas selalu merasa heran karena Arka tidak mau digendong oleh Aira, bahkan Arka akan langsung menangis apabila Aira berusaha menggendongnya.
"Sepertinya kita harus segera mencari baby suster untuk merawat Arka, apalagi besok aku sudah harus masuk kerja," ujar Aira dengan menimang Arka yang tidak mau berhenti menangis.
"Aira, kenapa sepertinya Arka tidak merasa nyaman saat kamu menggendongnya, padahal kamu itu kan Ibu kandungnya Arka?" tanya Dimas dengan mengambil Arka dari gendongan Aira, dan anehnya Arka langsung berhenti menangis.
"Mungkin Arka masih belum terbiasa dengan aku, karena selama ini Arka juga dirawat oleh baby suster," ujar Aira yang mencoba mencari alasan supaya Dimas tidak merasa curiga.
"Aira, nanti setelah aku mendapatkan pekerjaan, kamu mau kan berhenti bekerja? Karena aku ingin kamu memiliki banyak waktu untuk Anak kita, kasihan Arka apabila kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya," ujar Dimas.
"Mas, sudah berapa kali kita membahas masalah ini. Sampai kapan pun aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku," ujar Aira.
Dimas tidak habis pikir dengan jalan pikiran Aira yang lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan dengan mengurus Anak.
"Apa pekerjaan lebih penting dibandingkan keluarga?"
*
__ADS_1
*
Bersambung