Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 127 ( Memfitnah Ratu )


__ADS_3

Setelah sampai dapur, Ratu menghampiri Asisten rumah tangga untuk menanyakan dimana Miranda menyimpan jus mangga buatannya.


"Bi, dimana ya jus mangga buatan Mama?" tanya Ratu.


"Tadi Nyonya menyimpannya di dalam kulkas. Mbak ambil saja sendiri, soalnya saya sedang sibuk," jawab Asisten rumah tangga yang tengah sibuk menata makanan.


Ratu mengambil jus mangga buatan Miranda dari dalam kulkas, kemudian Ratu menuangkan jus mangga tersebut ke dalam dua gelas, setelah itu Ratu kembali menghampiri Miranda dan Viona.


"Ma, Kak Viona, ini jus mangganya," ujar Ratu dengan memberikan jus mangga yang ia bawa kepada Miranda dan Viona.


"Makasih ya Ratu," ucap Viona, sedangkan Miranda terlihat acuh, bahkan enggan untuk mengucapkan terimakasih kepada Menantunya tersebut.


Setelah meminum jus mangga yang dibawakan oleh Ratu, tiba-tiba perut Viona terasa sakit.


"Ma, perut Viona sakit," ucap Viona dengan meringis kesakitan.


"Sayang, kenapa perut Viona bisa sampai sakit?" tanya Miranda dengan pura-pura panik.


"Viona juga tidak tau Ma, perut Viona sakit setelah meminum jus mangga yang dibawa oleh Ratu."


Plak


Tiba-tiba Miranda menampar pipi Ratu di hadapan semua orang sehingga membuat semuanya merasa terkejut dengan perlakuan Miranda terhadap Ratu, apalagi saat ini semuanya sedang khusyuk membaca do'a.


"Ratu, kamu pasti sengaja kan ingin mencelakai Viona?" teriak Miranda.


"Tidak Ma, Ratu tidak mungkin melakukan semua itu," ucap Ratu dengan menangis.


Hilman langsung berlari menghampiri Ratu, begitu juga dengan Lukman yang langsung berlari untuk menghampiri Viona.


"Ma, apa salah Ratu, kenapa Mama sampai tega menamparnya di hadapan semua orang?" tanya Hilman yang tidak terima ketika melihat Ratu ditampar oleh Miranda.


Belum juga Miranda menjawab pertanyaan Hilman, Lukman juga bertanya kepada Miranda penyebab Viona kesakitan.

__ADS_1


"Ma, apa yang sudah terjadi? Kenapa perut Viona bisa sampai sakit?" tanya Lukman yang terlihat panik.


"Perut Viona langsung sakit setelah meminum jus mangga yang diberikan oleh Ratu. Sepertinya Ratu sengaja ingin membuat Viona keguguran, karena dia merasa iri dengan kehamilan Viona," jawab Miranda.


"Ma, Ratu tidak mungkin seperti itu, Mama jangan memfitnah Ratu, karena Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan," ujar Hilman yang mati-matian membela Ratu di hadapan semua orang.


"Hilman, Ratu iri karena dia tidak bisa memberikan kamu keturunan. Dia itu perempuan mandul, dia hanya benalu dalam kehidupan kamu. Kenapa kamu tidak menceraikannya saja? Kamu lihat sendiri perbuatan Istri kamu, gara-gara dia, Menantu kesayangan Mama jadi kesakitan. Bagaimana kalau sampai Menantu dan Cucu kesayangan Mama kenapa-napa?" teriak Miranda.


Semua orang yang berada di sana terdengar membicarakan Ratu, dan Ratu hanya bisa menangis ketika mendengar hinaan dan cemoohan yang dilontarkan oleh semua orang, tapi Hilman terus berusaha membela Ratu, karena Hilman percaya jika Istrinya tidak mungkin melakukan perbuatan serendah itu.


Lukman yang merasa khawatir, berniat untuk membawa Viona ke Rumah Sakit, tapi Viona terus menjerit kesakitan dan meminta Lukman membawanya masuk ke dalam kamar.


Lukman akhirnya memutuskan untuk memanggil Dokter keluarga supaya segera datang ke rumahnya, dan beberapa saat kemudian, Dokter keluarga Miranda pun datang.


Setelah Dokter menyuntikkan obat penguat kandungan kepada Viona, Lukman mengantar Dokter ke luar supaya Viona bisa beristirahat.


"Dok, bagaimana kondisi Istri saya?" tanya Lukman yang sengaja bertanya kepada Dokter di hadapan semua orang, supaya semua orang bisa mengetahui apa yang telah Ratu lakukan terhadap Istrinya.


"Istri Anda sepertinya sudah meminum sesuatu yang telah dicampur dengan obat pencahar, untung saja dosisnya tidak terlalu banyak, karena itu bisa membahayakan janin yang berada dalam kandungannya. Tuan tenang saja, saya sudah menyuntikan obat penguat kandungan kepada Nyonya Viona," jawab Dokter.


"Hilman, kamu dengar sendiri perkataan Dokter, Istri kamu pasti sudah mencampur obat pencahar ke dalam minuman Istriku. Sekarang juga biarkan aku menghukum cambuk Istri kamu, supaya dia jera dan tidak berani lagi berbuat macam-macam terhadap keluargaku," teriak Lukman dengan mendekati Ratu, tapi Hilman bergegas menghalangi tubuh Ratu dari Lukman.


"Selama aku masih hidup, tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuh Istriku. Jika Kakak ingin menghukum Ratu, langkahi dulu mayat Hilman," tegas Hilman dengan mata nyalang.


"Hilman, kenapa kamu masih saja membela Istri kamu, padahal dia sudah jelas-jelas bersalah," teriak Miranda.


"Sebelumnya Hilman sudah mengatakan kepada Mama, jika seorang Istri terbuat dari tulang rusuk Suaminya, apabila Mama menyakiti Ratu, berarti Mama sudah menyakiti Hilman juga. Kalian juga tidak bisa menghukum Ratu tanpa bukti. Ratu, sekarang katakan sama Mas, siapa yang sudah membuatkan jus untuk Kak Viona?"


Ratu terlihat takut, karena Miranda pasti akan semakin membencinya apabila Ratu mengatakan yang sebenarnya.


"Ratu jangan takut, apa pun yang terjadi, Mas akan selalu ada untuk Ratu, karena Mas percaya jika Ratu tidak mungkin menyakiti oranglain," ujar Hilman dengan menangkup kedua pipi Ratu.


"Se_sebenarnya tadi Mama yang menyuruh Ratu untuk mengambilkan jus buatan Mama, karena Mama dan Kak Viona ingin meminumnya. Kalau tidak percaya Mas bisa bertanya pada Bibi yang berada di dapur," jawab Ratu dengan lirih.

__ADS_1


"Heh Menantu Benalu, berani-beraninya kamu memfitnahku. Aku tidak mungkin berniat meracuni Menantu dan Cucu kesayanganku," ujar Miranda.


Hilman melihat gelas jus milik Miranda yang masih utuh, sedangkan jus milik Viona sudah hampir habis.


Hilman juga memanggil Asisten rumah tangga untuk menanyakan siapa yang membuat jus mangga untuk Viona dan Miranda.


"Bi, siapa yang tadi sudah membuat jus mangga?" tanya Hilman.


"Nyonya Miranda Tuan," jawab Asisten rumah tangga yang masih belum mengetahui masalah yang terjadi, apalagi sebelumnya Miranda lupa memberitahu Asisten rumah tangga nya supaya mengatakan jika Ratu yang membuatnya.


Sial, kenapa tadi aku sampai lupa memberitahu Marni supaya mengatakan jika Ratu yang sudah membuatnya. Sebaiknya sekarang aku memikirkan cara supaya Hilman tidak terus menuduhku, ucap Miranda dalam hati.


"Apa Mama sengaja ingin menjebak Ratu?" tanya Hilman yang merasa kecewa, karena lagi-lagi Kakak dan Ibu kandungnya sendiri berusaha untuk menyakiti Istrinya.


"Hilman, kamu tega sekali memfitnah Mama. Memang Mama yang membuat jus nya, tapi Ratu yang mengambil jus mangganya. Bisa saja kan saat mengambilnya Ratu mencampurkan obat pencahar ke dalam minuman Viona? Karena Mama tidak mungkin menyakiti Menantu dan Cucu Mama sendiri," ujar Miranda yang mencoba menyangkal semuanya.


Hilman terlihat berpikir, karena Miranda pasti akan terus mengelak tuduhan Hilman, sampai akhirnya Hilman terbesit sebuah ide untuk membuktikan jika Ratu tidak bersalah.


"Kalau Mama memang tidak bersalah, apa Mama berani membuktikannya dengan meminum jus mangga milik Mama?"


Miranda terlihat ketakutan ketika Hilman memintanya untuk meminum jus mangga yang saat ini berada di tangan Hilman, karena Miranda tidak mungkin meminum jus mangga yang sebelumnya sudah ia campur dengan obat pencahar.


"Ma_ma tidak haus, jadi Mama tidak mau meminumnya," ujar Miranda dengan tergagap.


"Jika memang bukan Mama yang memasukan obat pencahar ke dalam jus mangga nya, seharusnya Mama tidak perlu takut, bukannya Mama sendiri yang bilang jika Ratu sengaja ingin mencelakai Kak Viona karena merasa iri? Tidak mungkin kan kalau Ratu berusaha mencelakai Mama juga?" tanya Hilman.


Miranda terlihat kebingungan, karena jika Miranda tidak meminumnya, Hilman pasti akan terus merasa curiga.


Aku harus bagaimana? Jika aku tidak meminumnya, Hilman pasti akan terus merasa curiga terhadapku, tapi jika aku meminumnya, sama saja dengan bunuh diri. Lukman juga pasti murka, karena aku sudah membahayakan janin dalam kandungan Viona, batin Miranda yang saat ini berada dalam dilema.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2