
Setelah pulang dari rumah Mentari, Angga memutuskan untuk langsung pergi ke Rumah Sakit menjenguk Stella, meskipun sebenarnya dia masih malas jika nanti harus bertemu Mommy Sandra, tapi bagaimanapun juga Stella adalah Adik kandungnya.
Sepanjang perjalanan, Angga masih saja terbayang-bayang dengan wajah Mentari dan kedua bayinya, ada rasa bersalah serta penyesalan yang besar yang Angga rasakan saat ini, sehingga Angga terus saja meneteskan airmata.
"Abang benar-benar menyesal karena sekarang Abang sudah kehilangan kamu dan kedua bayi kita, dan mungkin akan sulit untuk Abang melupakan cinta Abang terhadap kamu Mentari." gumam Angga.
Angga memikirkan semua perkataan Mentari, jika Angga jangan sampai melakukan kesalahan yang sama.
"Mungkin sekarang aku harus bertanggungjawab terhadap bayi yang saat ini berada dalam kandungan Jingga, karena aku tidak boleh melakukan kesalahan yang sama seperti yang telah aku lakukan terhadap Mentari dan kedua bayiku, meskipun aku akan sulit untuk mencintai Jingga," gumam Angga lagi.
Setelah sampai di Rumah Sakit, Angga terlebih dahulu menanyakan ruang rawat Stella kepada resepsionis, dan setelah mendapatkan informasi, Angga langsung menuju kamar perawatan Stella.
Angga terlebih dahulu mengetuk pintu sebelum masuk, dan ternyata di sana sedang terjadi perdebatan antara Stella dan Mommy Sandra.
"Ada apa ini?" tanya Angga yang sudah mendengar teriakan Stella dan Mommy Sandra.
Mommy Sandra yang melihat kedatangan Angga pun langsung saja berlari menghampiri Angga berniat untuk meminta bantuan supaya Angga membelanya.
"Angga, Stella sudah tega sekali menyalahkan Mommy atas semua yang telah terjadi kepadanya," adu Mommy Sandra.
"Tapi memang benar kan kalau selama ini Mommy selalu menjadi penyebab keributan bahkan kehancuran rumah tangga Anak-anak Mommy," ujar Angga.
"Apa maksud kamu Angga? kenapa kalian tega menyalahkan semuanya terhadap Mommy, padahal seharusnya kalian berterimakasih karena Mommy sudah melahirkan kalian ke Dunia ini," teriak Mommy Sandra.
"Apa Angga juga harus berterimakasih sama Mommy karena Mommy sudah menghancurkan rumah tangga Angga? sekarang jawab jujur, apa benar kalau Mommy sudah mengambil ATM untuk biaya persalinan Mentari dan kebutuhannya sehari-hari?" tanya Angga.
"Jadi kamu lebih percaya sama Si Menantu Benalu daripada Mommy?"
"Kalau iya memangnya kenapa? selama ini Mommy sudah tega memanggil Mentari dengan sebutan Menantu Benalu, padahal Benalu yang sebenarnya adalah kita Mom, karena kita tinggal serta mendapatkan uang dari perusahaan Mentari juga," tegas Angga.
Stella yang mendengar Angga membentak Mommy Sandra merasa senang dan dia malah membongkar semua kebusukan Ibunya sendiri.
__ADS_1
"Sudahlah Mom, sekarang Mommy ngaku aja kalau sebenarnya Mommy sudah mengambil ATM Mentari, karena aku sendiri yang menjadi saksinya," ujar Stella.
"Astagfirullah, ampuni hamba Ya Allah, jadi selama ini Angga sudah salah paham terhadap Mentari sampai akhirnya rumah tangga kami hancur," ujar Angga dengan menjatuhkan dirinya di atas lantai, karena dia semakin menyesali perbuatannya.
Mommy Sandra yang saat ini merasa disalahkan oleh Angga dan Stella kembali angkat bicara.
"Stella, kamu benar-benar Anak gak tau di untung, kalian berdua sama saja, Mommy menyesal karena sudah melahirkan Anak durhaka seperti kalian berdua."
"Angga juga menyesal sudah terlahir menjadi Anak Mommy," ujar Angga tidak mau kalah.
Jingga hanya tersenyum bahagia melihat perseteruan yang terjadi dalam keluarga Angga, karena dia menganggapnya sebagai tontonan gratis.
Ternyata tontonan gratisnya semakin seru nih, aku gak sia-sia datang kemari, kasihan sekali kamu Nenek lampir, aku tidak perlu bersusah payah membalas sikapmu yang sudah genit kepada David, karena kedua Anakmu sendiri yang membalasnya, ucap Jingga dalam hati.
"Sekarang Angga minta Mommy balikin ATM Mentari, karena itu bukanlah hak Mommy," ujar Angga.
"Gak bisa dong, kalau Mommy balikin nanti Mommy shoping pake apa."
"Angga, kenapa sih kamu tega banget sama Mommy, kamu itu sudah pelit sama Ibu kandung kamu sendiri, kamu harus ingat kalau Mommy yang sudah melahirkan kamu dan membesarkan kamu hingga dewasa," ujar Mommy Sandra dengan menangis histeris.
"Apa Angga minta dilahirkan ke Dunia ini Mom? Angga juga tidak pernah minta dilahirkan ke Dunia ini, dan bukankah sudah menjadi kewajiban orangtua membesarkan Anak-anaknya? Mommy bilang Angga pelit? Mommy yang serakah, padahal Mommy juga mendapatkan uang bulanan yang sama besarnya dengan Mentari," jelas Angga yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ibunya.
"Kalian berdua benar-benar Anak durhaka ya," ujar Mommy Sandra yang masih belum sadar juga.
"Baiklah kalau Mommy menginginkan Angga menjadi Anak durhaka, mulai sekarang Angga gak bakalan kasih uang bulanan lagi sama Mommy, dan Angga hanya akan menyediakan makanan saja di rumah."
"Stella juga Mom, Stella gak bakalan ngasih Mommy uang lagi, Stella kecewa sama Mommy."
Mommy Sandra semakin kesal terhadap Angga dan Stella sehingga dia pura-pura memegangi dadanya dan berteriak kesakitan.
"Angga, Stella, tolong Mommy, sepertinya Mommy kena serangan jantung," ujar Mommy Sandra dengan terus memegangi dadanya, tapi Angga dan Stella tidak memperdulikannya.
__ADS_1
David yang takut terjadi sesuatu dengan Mommy Sandra berniat untuk menghampirinya, tapi Stella melarang David.
"Udah Mas gak usah disamperin."
"Tapi bagaimana kalau Mommy kenapa-napa," ujar David.
"Mommy cuma akting kok, lagu lama itu mah, Mommy dari dulu juga emang suka begitu waktu masih ada Daddy," ujar Stella.
Angga yang melihat Jingga berada di dekat Mommy Sandra langsung saja memanggilnya.
"Jingga, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Apa kamu bisa ikut aku keluar?" tanya Angga.
"Tentu saja sayang," jawab Jingga tapi matanya melihat kepada David.
Mommy Sandra yang merasa di acuhkan akhirnya pura-pura tidur.
"Sayang, apa jangan-jangan Mommy pingsan beneran," ujar David.
"Udah biarin, palingan juga pura-pura tidur," ujar Stella.
......................
Angga dan Jingga saat ini sudah berada di kantin Rumah Sakit, dan setelah beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, Angga akhirnya angkat bicara.
"Jingga, aku bersedia untuk bertanggungjawab dengan bayi yang berada dalam kandungan kamu, dan kapan pun kamu ingin mengadakan acara pernikahan kita, aku sudah siap," ujar Angga dengan suara yang bergetar.
Jingga sebenarnya saat ini sudah tidak berniat untuk menikah dengan Angga, karena sebenarnya Jingga sudah jatuh cinta terhadap David, tapi karena David tidak mau berpoligami akhirnya Jingga bersedia untuk menikah dengan Angga.
"Apa kamu yakin Angga? karena aku tidak mau kamu menyakiti aku dan Anak kita seperti yang telah kamu lakukan terhadap Mentari," ujar Jingga.
"Insyaallah aku tidak akan melakukan hal yang sama," jawab Angga.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu besok juga kita langsung menikah, karena aku tidak mau perutku semakin membesar dan bayiku terlahir tanpa seorang Ayah," tegas Jingga.