
Angga merasa tertampar dengan semua perkataan Mentari yang memang ada benarnya, karena dari awal dia menolak kedua bayinya yang terlahir spesial dan dia tidak mau memiliki Anak yang ca*cat.
"Abang menyesal Mentari, Abang benar-benar menyesali semuanya," ujar Angga dengan menangis.
"Sudahlah Bang, penyesalan memang selalu datang belakangan, dan mungkin ini yang terbaik untuk kita. Mentari berharap, Abang tidak akan melakukan hal yang sama di masa mendatang, jadikan ini semua sebagai pelajaran untuk kita."
"Apa Mentari benar-benar tidak bisa memberikan kesempatan kepada Abang?" tanya Angga lagi.
"Mentari sudah berkali-kali memberikan kesempatan kepada Abang selama kita berdua berumah tangga, tapi Abang sendiri yang sudah merusak kepercayaan dan kesempatan yang Mentari berikan. Sekarang Mentari sudah menyerah Bang, Mentari ingin membuka lembaran baru tanpa bayang-bayang masalalu Mentari yang menyakitkan."
"Mentari, maaf jika selama kita berumah tangga sudah banyak kejadian yang menyakitkan yang harus Mentari terima, Abang benar-benar tidak mengetahui semuanya, Abang tidak pernah mengira jika di belakang Abang, keluarga Abang sudah menyakiti Mentari."
"Mentari sudah ikhlas dengan semuanya Bang, Mentari tidak mau membuat Abang menjadi Anak durhaka karena melawan orangtua. Tadinya Mentari berharap dengan Mentari tidak mengadu kepada Abang dan tidak melawan keluarga Abang, secara perlahan mereka bisa menerima kehadiran Mentari dan berusaha menyayangi Mentari. Akan tetapi, ternyata Mentari salah, karena bagi mereka Mentari hanyalah Menantu Benalu," ucap Mentari yang lagi-lagi meneteskan airmata kepedihan yang masih terasa di dalam hatinya.
Angga sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi, karena dari awal, pernikahan mereka tidak direstui oleh keluarga Angga, tapi Angga sudah berbohong kepada Mentari dan memaksakan kehendaknya.
"Apa boleh Abang bertemu dengan kedua bayi kita sebelum Abang pulang?" tanya Angga.
"Tentu saja Bang, bagaimanapun juga Abang adalah Ayah kandung Rasya dan Raisya, jadi Mentari tidak akan melarang Abang kapan pun Abang ingin menemui mereka."
Mentari akhirnya memanggil Bu Rima dan Pak Hasan untuk membawa Rasya dan Raisya bertemu dengan Angga, tapi Bu Rima dan Pak Hasan tidak ada yang mau menemui Angga, sehingga Mentari dan Fajar masuk ke dalam kamar untuk mengambil Rasya dan Raisya.
"Bu, Pak, kenapa Ibu dan Bapak tidak mau keluar menemui Bang Angga?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Maaf Nak, kami masih kecewa terhadap Angga, karena dia adalah lelaki paling egois yang pernah Bapak kenal."
"Iya Nak, Ibu takut tidak bisa mengendalikan amarah jika bertemu dengan dia, dulu dia melamar kamu seperti Ratu, tapi setelah dia bosan, dia membuang Mentari dan kedua bayi Mentari seperti sampah. Enak saja sekarang dia meminta rujuk setelah apa yang dia perbuat kepada Mentari. Ibu tidak ikhlas Nak."
"Bu, Pak, setiap orang pernah melakukan kesalahan, Allah SWT saja maha pemaaf, jadi Mentari harap Ibu dan Bapak juga akan memaafkan semua kesalahan Bang Angga.
"Kamu terlalu baik Nak, tapi untuk saat ini maaf, Ibu belum bisa memaafkan kesalahan yang sudah dia perbuat."
"Mentari hanyalah manusia biasa, Mentari juga merasa kecewa dan sakit hati terhadap semua perlakuan Bang Angga dan keluarganya. Bohong jika Mentari sudah benar-benar bisa melupakan serta mengikhlaskan semuanya, tapi saat ini Mentari hanya berusaha karena Mentari tidak ingin terus mengingat luka yang nantinya akan menyebabkan kebencian dan penyakit hati."
"Ibu dan Bapak bangga punya Anak seperti Mentari."
"Dan Mentari lebih bangga dan bersyukur mempunyai orangtua seperti Ibu dan Bapak," ujar Mentari dengan memeluk tubuh kedua orangtuanya sehingga membuat Fajar merasa terharu, dan tanpa terasa meneteskan airmata.
"Ibu dan Bapak juga sangat bangga kepada Nak Fajar, karena Mentari bisa bertahan hidup sampai saat ini semuanya atas perjuangan Nak Fajar yang sudah menjadi perantara kesembuhan Mentari.
"Tentu saja Nak, kami bahagia karena Nak Fajar sudah bersedia menjadi bagian dari keluarga ini," ucap Pak Hasan. Dan kini mereka berempat berpelukan sampai lupa kalau Angga masih ada di ruang tamu menunggu untuk bertemu dengan kedua bayinya.
"Astagfirullah Bu, Mentari lupa kalau Bang Angga masih di ruang tamu menunggu Rasya dan Raisya."
"Ya sudah kalau begitu Mentari dan Nak Fajar bawa Rasya dan Raisya untuk menemui Angga dulu," ujar Bu Rima.
Mentari kini menggendong Rasya dan Fajar menggendong Raisya.
__ADS_1
"Maaf Bang, sudah lama menunggu," ucap Mentari.
Angga mencoba untuk menggendong Raisya terlebih dahulu, tapi pada saat Angga menggendong bayi tersebut, Raisya langsung menangis dengan kencang.
"Jangan menangis sayang, ini Ayah. Kamu cantik sekali seperti Bunda Nak," ujar Angga dengan mencium pipi Raisya, tapi tangisan Raisya malah semakin kencang.
Akhirnya Angga memberikan Raisya kembali kepada Fajar, dan anehnya Raisya langsung berhenti menangis.
Sekarang giliran Rasya yang dia gendong, Angga meneteskan airmata pada saat melihat wajah Rasya yang begitu mirip dengan dirinya. Rasya biasanya jarang menangis, tapi saat Angga gendong Rasya pun menangis dengan kencang.
"Maafin Ayah Nak, karena sudah meragukan kalian berdua sebagai Anak Ayah tanpa mau melihat wajah kalian," ujar Angga dengan menangis, kemudian kembali memberikan Rasya kepada Mentari, dan Rasya langsung berhenti menangis pada saat digendong kembali oleh Mentari.
Ampuni hamba Ya Allah, karena telah menelantarkan kedua Anak hamba. Padahal mereka berdua masih bayi, tapi mereka tidak mau dekat dengan Ayah kandungnya sendiri, ucap Angga dalam hati.
"Mentari, sekali lagi Abang minta maaf kepada Mentari dan keluarga, Abang benar-benar menyesali semuanya. Abang pasti akan bertanggungjawab memberikan nafkah untuk Rasya dan Raisya."
"Iya Bang, mulai sekarang kita saling memaafkan saja, maafin Mentari dan keluarga juga jika selama Mentari menikah dengan Abang, Mentari pernah melakukan kesalahan. Mentari do'akan semoga Abang mendapatkan perempuan yang lebih segala-galanya dibandingkan dengan Mentari," ucap Mentari dengan tulus.
"Fajar, aku titip Mentari dan Anak-anak ya, terimakasih karena kamu sudah menerima serta menyayangi mereka berdua. Aku harap kamu tidak pernah melakukan kesalahan seperti yang pernah aku lakukan kepada Mentari, semoga Pernikahan kalian berdua langgeng sampai maut yang memisahkan," ucap Angga yang diamini oleh Fajar, sedangkan Mentari menjadi salah tingkah mendengar perkataan Angga.
"Mentari, apa boleh Abang memeluk Mentari untuk yang terakhir kalinya?" pinta Angga.
Mentari nampak berpikir sebelum akhirnya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Terimakasih ya sayang, karena kamu telah memberikan kebahagiaan kepada Abang selama kita berdua berumah tangga," ucap Angga pada saat memeluk erat tubuh Mentari dan enggan untuk melepaskannya.
Setelah beberapa saat Angga mencium kening Mentari, kemudian dengan berat hati melepaskan pelukannya kepada Mentari yang sekarang sudah menjadi mantan Istrinya.