
Rasya ke luar dari dalam kamar untuk mengambil sarapan, kemudian Rasya menghampiri semua keluarganya yang sudah terlihat berkumpul di meja makan.
"Nak, mana Alea? Kenapa tidak turun untuk sarapan bersama?" tanya Mentari.
"Alea lagi gak enak badan Bunda," jawab Rasya dengan terlihat malu-malu.
Mentari yang merasa cemas berniat untuk melihat Alea, tapi Rasya melarangnya karena Alea pasti merasa malu.
"Kalau begitu Bunda lihat Alea dulu sekalian membawakan sarapan sama obat," ujar Mentari.
"Tidak perlu Bunda, biar Rasya saja."
Fajar yang mengerti penyebab Alea sakit akhirnya angkat suara.
"Sayang, Alea kesakitan karena ulah Rasya, kalau Bunda ke kamar mereka, Alea pasti malu," ujar Fajar dengan terkekeh.
"Sepertinya Cucu kita sudah berhasil membobol gawang," celetuk Pak Hasan.
"Itu semua berkat jamu kuat pemberian Ibu, Pak," ujar Bu Rima yang tidak mau kalah.
Mentari menggelengkan kepala mendengar sikap Suami dan kedua orangtuanya yang senang sekali menggoda Cucu cucunya, dan Rasya terlihat malu ketika mendengar para orangtua yang terus menggodanya.
Setelah Rasya mengambil sepiring nasi dan sepiring lauk, Mentari memberikan salep dan obat pengurang rasa sakit untuk Alea.
"Nak, nanti setelah makan, Rasya kasih obat sama salep ini ya sama Alea, pasti Alea tidak akan merasa kesakitan lagi," ujar Mentari.
"Terimakasih Bunda," ucap Rasya dengan tersenyum malu.
Fajar juga memberikan sesuatu untuk Rasya dan Alea sebagai kado pernikahan, yaitu paket bulan madu ke Bali selama satu minggu.
"Nak, ini paket bulan madu ke Bali selama satu minggu untuk Rasya dan Alea, anggap saja sebagai kado pernikahan dari kami," ucap Fajar dengan memberikan tiket dan tanda bukti booking hotel kepada Rasya.
"Tapi Yah, Rasya dan Alea tidak mungkin pergi ke Bali selama satu minggu, pasti semua orang akan merasa curiga apabila kami tidak masuk kerja."
"Kalian berdua tenang saja, Ayah sudah memberikan laporan kepada pihak HRD jika kalian berdua akan melakukan perjalanan bisnis juga melakukan pengecekan ke Perusahaan cabang yang berada di sana. Jadi, kalian berdua bisa bekerja sekaligus pergi berbulan madu."
Rasya tersenyum bahagia karena ternyata Fajar sudah memikirkan semuanya.
"Terimakasih banyak semuanya, kalau begitu Rasya ke kamar dulu," ucap Rasya, kemudian melangkahkan kaki nya menuju kamar dengan terus mengembangkan senyuman.
Lain hal nya dengan Rasya yang tengah menjalani hari-hari bahagianya sebagai pasangan pengantin baru, Raisya terlihat murung karena terus memikirkan Dimas dan Baby Al.
__ADS_1
"Nak, Raisya makan yang banyak supaya bayi dalam kandungan Raisya sehat," ujar Mentari yang merasa prihatin dengan nasib malang yang menimpa Raisya.
"Bunda, kenapa Kak Dimas dan Baby Al masih belum pulang juga? Raisya kangen sekali sama mereka," ucap Raisya dengan lirih.
Hati mentari dan semua yang berada di sana berdenyut sakit ketika melihat buliran bening yang mengalir dari sudut mata Raisya.
"Nak, ikhlas adalah obat dari segala penyakit. Bunda harap Raisya ikhlas untuk melepas Dimas dan Baby Al, supaya mereka bisa beristirahat dengan tenang di alam sana," ucap Mentari dengan memegang tangan Raisya.
"Tidak, sampai kapan pun Raisya tidak akan menerima jika Kak Dimas dan Baby Al sudah pergi meninggalkan Raisya. Mereka masih hidup, dan suatu saat nanti mereka pasti akan kembali. Jadi, Bunda jangan meminta Raisya untuk melupakan Anak dan Suami Raisya."
Raisya yang merasa putus asa berlari ke luar dari rumah sehingga membuat semuanya merasa khawatir.
"Raisya sayang, tunggu Nak, Bunda tidak bermaksud seperti itu," teriak Mentari dengan menangis.
"Bunda tenang dulu, Ayah akan mengejar Raisya, Raisya pasti baik-baik saja," ucap Fajar mencoba menenangkan Mentari, kemudian Fajar berlari untuk mengejar Raisya.
Raisya tidak sadar jika saat ini dirinya sudah berada di tengah jalan raya, dan Asisten Zain yang baru datang ke kediaman Angkasa untuk menyerahkan laporan kepada Fajar, bergegas berlari ke tengah jalan untuk menyelamatkan Raisya, karena saat ini ada sebuah mobil yang melaju kencang dan hampir menabrak Raisya.
"Nona Raisya, awas," teriak Asisten Zain dengan memeluk tubuh Raisya.
Rasanya jantung Fajar hampir copot ketika melihat Asisten Zain dan Raisya yang hampir tertabrak mobil, beruntung Asisten Zain berhasil membawa Raisya ke pinggir jalan.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja Tuan. Nona Raisya, Nona tidak kenapa-napa kan? Apa ada yang sakit?" tanya Asisten Zain dengan menatap lekat wajah Raisya.
Raisya yang baru menyadari jika saat ini dirinya masih berada dalam pelukan Asisten Zain, bergegas melepaskan pelukannya pada lelaki tampan tersebut.
"Terimakasih banyak karena Asisten Zain sudah menyelamatkan saya," ucap Raisya.
"Sayang, sebaiknya sekarang kita pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kondisi Raisya," ujar Fajar, dan Raisya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, karena Raisya takut jika buah cintanya bersama Dimas sampai kenapa-napa.
"Zain, sebelum kita pergi ke kantor, kamu antar kami ke klinik Dokter kandungan dulu," ujar Fajar.
Ketika berada di dalam perjalanan menuju Klinik Dokter kandungan, Fajar menelpon Mentari untuk mengabarkan jika Fajar dan Raisya sudah berangkat ke kantor.
Fajar, Asisten Zain dan Raisya sepakat untuk merahasiakan kejadian barusan dari Mentari dan Keluarga, karena Mentari pasti akan merasa khawatir jika mengetahui kejadian tersebut.
Setelah sampai di depan klinik, Fajar menerima panggilan telpon dari salah satu klien bisnisnya yang mengajak bertemu, dan kebetulan lokasi klien bisnisnya tersebut berada di dekat klinik Dokter kandungan.
"Zain, saya titip Raisya ya, barusan klien dari luar negeri mengajak bertemu, dan kebetulan lokasi meeting nya tidak jauh dari sini," ujar Fajar.
"Baik Tuan, saya pasti akan menjaga dan melindungi Nona Raisya dengan segenap jiwa dan raga saya," ucap Asisten Zain sehingga membuat Fajar merasa tenang.
__ADS_1
Fajar menggunakan taksi online menuju tempat meeting. Setelah Fajar pergi, Asisten Zain memapah Raisya masuk ke dalam klinik.
"Asisten Zain, saya bisa sendiri," ucap Raisya yang merasa tidak nyaman jika dibantu berjalan oleh lelaki lain selain Suaminya.
"Nona, saya sudah berjanji kepada Tuan Fajar untuk melindungi Nona. Sekarang kondisi Nona sedang tidak baik, dan saya tidak mau Nona sampai kenapa-napa," ucap Asisten Zain.
Raisya hanya bisa pasrah ketika Asisten Zain Berusaha memapahnya, karena saat ini tubuh Raisya masih terasa lemas karena syok.
Asisten Zain mendaftarkan Raisya, dan beberapa saat kemudian keduanya dipersilahkan masuk ke dalam ruang periksa.
"Silahkan berbaring Nyonya," ujar perawat dengan membantu Raisya berbaring.
Ketika Asisten Zain hendak kembali ke luar, Dokter melarang nya karena mengira jika Asisten Zain adalah Suami Raisya.
"Tuan mau kemana? Sebaiknya Tuan dampingi Istri Anda periksa kandungan. Tuan pasti ingin melihat perkembangan buah hati di dalam perut istri Anda juga kan?" ujar Dokter.
"Tapi saya bu_" ucap Asisten Zain terhenti ketika melihat wajah sedih Raisya, karena Asisten Zain sangat yakin jika saat ini Raisya membutuhkan seseorang untuk berada di sampingnya.
Asisten Zain memutuskan untuk duduk di samping meja Dokter ketika Dokter memeriksa kandungan Raisya dengan menggerakkan alat USG.
"Sepertinya Nyonya terlalu banyak pikiran. Sebagai Suaminya, saya sarankan Tuan lebih memperhatikan Istri dan calon bayi kalian," jelas Dokter, dan Zain hanya diam dan mendengarkan secara seksama ketika Dokter menjelaskan seputar menjaga kehamilan.
"Dok, bagaimana bayi saya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Raisya yang merasa cemas, karena tadi perutnya terasa keram.
"Bayi Nyonya dan Tuan baik-baik saja, meski pun saat ini kandungan Nyonya sedikit lemah, tapi Nyonya jangan terlalu banyak pikiran, sekarang saya akan menyuntikkan obat penguat kandungan."
"Tapi saya takut di suntik," ucap Raisya yang sudah meringis ketakutan.
"Jangan takut, Mas akan selalu ada untuk Raisya," ucap Asisten Zain dengan memegangi tangan Raisya ketika Dokter menyuntikkan obat penguat.
Raisya melihat wajah Zain seperti wajah Dimas sehingga membuat Raisya merasa lebih tenang.
"Kak Dimas," ucap Raisya dengan tersenyum, dan hati Zain terasa hangat melihat senyuman Raisya, apalagi dari dulu diam-diam Zain menyukai Raisya.
Apa seperti ini rasanya berada di dekat perempuan yang kita cintai? Raisya, meski pun kamu menganggap ku sebagai Tuan Dimas, tapi aku bahagia karena bisa dekat dengan kamu, ucap Asisten Zain dalam hati.
*
*
Bersambung
__ADS_1