Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 139 ( Memanfaatkan Satria )


__ADS_3

Beberapa Karyawan Hotel merasa kebingungan ketika melihat Arumi pingsan.


"Kita harus bagaimana?" tanya salah satu Karyawan Hotel kepada Karyawan yang lainnya.


"Tadi perempuan ini bilang kalau dia adalah Asisten pribadi Tuan Rasya, kalau begitu aku akan telpon Tuan Rasya saja supaya datang ke sini," ujar Resepsionis Hotel.


Ketika Resepsionis Hotel hendak menghubungi Rasya dan Alea, Satria keburu datang dan mengaku sebagai Teman Arumi.


"Nov, kenapa Arumi bisa pingsan seperti ini?" tanya Satria kepada Resepsionis yang bernama Novi.


"Aku juga tidak tau, tiba-tiba saja dia pingsan. Oh iya, kenapa kamu bisa kenal sama perempuan ini?" tanya Novi kepada Satria.


"Dia Teman ku. Sebaiknya kamu pesankan saja salah satu kamar di sini untuk dia, biar aku bawa dia ke dalam kamar. Nanti setelah Arumi sadar, aku akan meminta dia untuk membayarnya," ujar Satria.


Novi sebenarnya merasa ragu untuk memberikan salah satu kunci kamar Hotel kepada Satria, tapi Novi juga tidak mungkin membiarkan Arumi terbaring di atas sofa yang berada di lobi.


"Tapi kamu gak bakalan macem-macem sama dia kan?"


"Memangnya wajahku ini terlihat seperti lelaki mesum? Kamu juga pasti tidak mau ditegur sama Manager karena sudah membiarkan tamu yang pingsan terbaring di atas sofa?"


"Iya juga sih, nanti aku juga yang kena omel," gumam Novi.


"Kamu tenang saja, kalau Arumi tidak bersedia membayar kamar nya, nanti aku bayar pake uang gajiku," ujar Satria, dan akhirnya Novi memberikan salah satu kunci kamar Hotel kepada Satria.


Satria membawa Arumi ke dalam kamar yang sudah dipesankan oleh Novi, dan Satria terus menggerutu karena tubuh Arumi terasa berat.


"Sepertinya si Arumi kebanyakan dosa. Padahal badannya kecil, tapi kok berat banget ya?" gumam Satria, kemudian membaringkan tubuh Arumi di atas ranjang.


Tadinya Satria ingin ke luar dari kamar Arumi, tapi Satria tidak tega membiarkan Arumi sendirian dalam keadaan pingsan, sampai akhirnya Satria memutuskan untuk menunggu Arumi sadar dari pingsannya.


"Sebaiknya aku tunggu di sini saja sampai Arumi sadar, mumpung gak lagi banyak kerjaan juga," gumam Satria kemudian mengeluarkan handphone nya.


Satria menatap lekat foto Alea di dalam handphone nya, karena dulu Satria sering memotret Alea secara diam-diam.


"Alea, apa kamu masih ingat kepadaku?" gumam Satria dengan menatap lekat wajah cantik Alea yang selalu terbayang dalam ingatannya.

__ADS_1


......................


Di dalam kamar Alea dan Rasya, Alea dan Rasya tengah sibuk memasukan pakaian ke dalam lemari. Meski pun Alea sudah melarang Rasya supaya tidak membantunya, tapi Rasya bersikeras ingin membantu.


"Mas, pakaiannya tinggal sedikit lagi, sebaiknya Mas duduk aja gak usah bantuin lagi," ujar Alea.


"Kalau dibantuin kan biar cepet selesai, jadi Mas bisa cepet-cepet minta upah," ujar Rasya dengan terkekeh, dan Alea memutar malas bola matanya.


Setelah keduanya selesai memasukan pakaian, tiba-tiba Rasya mengangkat tubuh Alea.


"Mas turunin, ini masih siang," ucap Alea dengan malu-malu.


"Memangnya Alea pikir Mas mau ngapain?" ujar Rasya, kemudian membuka pintu balkon, lalu menurunkan Alea.


Mata Alea berbinar ketika melihat pemandangan laut yang berada di depan matanya.


"Pantai nya indah sekali," ucap Alea.


"Tapi pemandangan di depan Mas jauh lebih cantik dan indah," ucap Rasya yang saat ini tengah memeluk tubuh Alea dari belakang.


Rasya membalikan tubuh Alea, kemudian Rasya menatap lekat wajah cantik Istrinya tersebut.


"Istri Mas lebih cantik dan lebih indah dari pemandangan pantai," jawab Rasya dengan tersenyum penuh arti, dan Alea tersipu malu ketika mendengar pujian yang ke luar dari bibir Suaminya tersebut.


Secara perlahan Rasya mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir Alea, dan Alea hanya bisa pasrah ketika Rasya mencium lembut bibirnya, kemudian menjelajahi tubuhnya dengan ciuman.


"Apa sekarang sudah tidak sakit lagi?" tanya Rasya dengan tatapan mata yang sudah berkabut, dan Alea menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Tanpa aba-aba Rasya kembali mengangkat tubuh Alea, lalu membawanya masuk ke dalam kamar, sampai akhirnya keduanya menghabiskan siang tersebut dengan bertukar keringat.


......................


"Rasya," teriak Arumi ketika sadar dari pingsannya.


"Syukurlah akhirnya kamu sadar juga," ucap Satria.

__ADS_1


Arumi mengedarkan pandangan pada seluruh ruangan, dan Arumi terkejut karena saat ini dirinya berada di dalam sebuah kamar Hotel bersama dengan Satria.


"Satria, apa yang sudah kamu lakukan kepadaku?" teriak Arumi yang sudah berpikiran buruk terhadap Satria.


Satria menutup mulut Arumi menggunakan tangannya, karena Satria tidak mau jika ada orang lain yang mendengar teriakan Arumi, kemudian salah paham terhadap Satria.


"Kamu tidak usah berteriak, seharusnya kamu berterimakasih karena aku sudah membantu kamu. Kalau tadi aku tidak memesankan kamar untuk kamu, sekarang kamu sudah menjadi gelandangan. Nanti kamu bayar kamarnya, aku mau kembali kerja dulu," ujar Satria.


Arumi melepaskan tangan Satria yang membekap mulutnya, kemudian Arumi kembali angkat suara.


"Kamu tidak berbuat macam-macam kan?" tanya Arumi dengan melihat tubuhnya yang masih mengenakan pakaian lengkap.


"Memangnya kamu pikir aku berselera melihat dada kamu yang datar itu? Meski pun kamu telanjang, aku juga tidak akan tertarik untuk menyentuh kamu, karena yang aku cintai hanyalah Alea," ujar Satria dengan penuh penekanan.


"Alea lagi, Alea lagi. Kenapa dia selalu menjadi penghalang untukku? Lihat saja Alea, aku tidak akan pernah membiarkan kamu mendapatkan Rasya, karena Rasya hanya milikku," teriak Arumi dengan menangis.


"Arumi, kamu jangan teriak teriak, apalagi sampai menangis, aku tidak mau orang lain salah paham, jangan sampai mereka menuduh aku sudah menindas kamu," ujar Satria dengan mengacak rambutnya secara kasar.


"Satria, aku mohon, kamu mau membantu aku ya. Aku tidak rela kekasihku direbut oleh Alea," ujar Arumi dengan tatapan memohon.


"Arumi, aku sudah cukup lama mengenal Alea, dan Alea tidak mungkin merebut kekasih orang lain," ujar Satria yang masih belum percaya dengan perkataan Arumi.


"Satria, kamu pasti tidak tau, kalau aku dan Alea adalah saudara satu Ayah, dan Alea berusaha membalas dendam kepada Mama ku karena dulu Mama sudah merebut Papa dari Ibu nya Alea. Jadi, Alea sengaja merebut kekasihku untuk membalaskan dendam mendiang Ibu nya. Satria, kalau aku berhasil merebut Rasya kembali, kamu juga bisa mendapatkan Alea, dan dalam hal ini, kita berdua sama-sama di untungkan."


Satria terlihat berpikir, dan saat ini hati Satria mulai goyah, karena dari dulu Satria sudah berambisi untuk mendapatkan Alea.


"Baiklah, aku akan membantumu, tapi kamu harus berjanji tidak akan pernah menyakiti Alea," ujar Satria.


"Terimakasih banyak Satria, aku janji tidak akan pernah menyakiti Alea," tapi bohong, lanjut Arumi dalam hati.


Dasar lelaki bodoh, kamu tidak tau kalau aku hanya memanfaatkan kamu supaya bisa membantu merebut Rasya dari Alea. Kamu belum tau saja kalau Alea dan Rasya sudah menikah. Sebaiknya aku menutupi kebenarannya dari Satria. Jangan sampai Satria mengurungkan niatnya untuk membantuku, ucap Arumi dalam hati dengan tersenyum licik.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2