
Mommy Sandra merasa syok pada saat mengetahui jika Mentari sudah menikah dengan Fajar, apalagi ternyata Fajar adalah orang kaya, bahkan sekarang Anaknya sendiri bekerja di perusahaan milik Fajar.
Aku tidak rela jika sekarang hidup si Menantu Benalu bahagia sedangkan Anakku menderita, apalagi semenjak Angga menikah dengan si Menantu Durhaka, Angga menjadi bangkrut. Sebaiknya sekarang aku memikirkan cara untuk mendekati si Menantu Benalu dan mendapatkan uang darinya, apalagi sekarang Jingga juga sudah jatuh miskin. Sebaiknya sekarang aku ke kamar Stella untuk memberitahukan kabar buruk ini, ucap Mommy Sandra dalam hati.
Mommy Sandra langsung saja ke kamar Stella untuk memberitahukan kabar tersebut.
"Stella, Mommy ada kabar buruk nih," ujar Mommy Sandra kemudian duduk di samping Stella.
"Memangnya ada kabar apa Mom, Mommy kok sampai gelisah seperti itu?" Tanya Stella yang sudah merasa penasaran.
"Kamu masih ingat sama selingkuhannya si Menantu Benalu yang bernama Fajar kan?" Tanya Mommy Sandra.
"Si Supir itu kan? Memangnya ada apa dengan dia?" Tanya Stella.
"Ternyata dia orang kaya, dan dia adalah pemilik Angkasa Grup yang sebenarnya. Dan lebih parahnya lagi, si Menantu Benalu sudah menikah dengan Fajar. Mommy gak rela kalau si Menantu Benalu jadi orang kaya dan hidup bahagia, sedangkan hidup kita saat ini berbanding terbalik dengannya, untuk tempat tinggal saja kita harus numpang di rumah si Menantu Durhaka."
"Beruntung banget ya Si Menantu Benalu, padahal saat menikah dengan Kak Angga, Mommy yang selalu mengatur hidupnya. Mommy sih waktu Stella dulu naksir sama Fajar pake ngelarang segala, coba aja Mommy waktu itu dukung, pasti sekarang Stella udah jadi orang kaya."
"Mommy kan gak tau kalau ternyata Fajar adalah orang kaya, tapi Mertua kamu juga orang kaya kaya kan, cuma Mommy aneh deh, kenapa kok David gak pernah bawa kita ke rumahnya lagi ya, gimana kalau besok kita ke rumah Mertua kamu saja, siapa tau Mertua kamu sudah pulang dari luar negeri," ujar Mommy Sandra dengan antusias.
"Tapi Stella takut Mas David marah kalau kita ke sana tanpa minta ijin terlebih dahulu," ujar Stella.
"David kan sekarang lagi sibuk di Restoran, jadi kamu gak usah bilang sama dia kalau kita mau ke sana, kita bikin kejutan buat Mertua kamu, gimana? mereka juga pasti ingin bertemu dengan Menantunya kan," Ujar Mommy Sandra.
__ADS_1
"Iya juga sih Mom, Stella juga pengen ketemu sama Mertua Stella, selama Stella menikah dengan Mas David, Stella kan belum pernah bertemu. Terus nanti Rayna sama Ratu gimana Mom, Kasihan kan mereka gak ada yang jaga kalau kita pergi," ujar Stella.
"Kita bawa saja Ratu yang jelas-jelas Anak Angga, kalau Rayna biarin aja di rumah, dia juga bukan Cucu Mommy, sekarang kan Jingga sudah menjadi pengangguran, jadi biarin aja dia yang ngurusin Rayna, selama ini juga kita kan yang mengurus kedua Anaknya, biar dia tau rasa gimana capeknya ngurus Anak," ujar Mommy Sandra.
"Ya sudah kalau begitu besok kita ke rumah Mertua aku, tapi kita bawa apa ya Mom oleh-oleh buat Mertua aku?" tanya Stella.
"Kita gak usah bawa apa-apa, mereka kan orang kaya, jadi gak perlu dibawain buah tangan," jawab Mommy Sandra.
"Emang ada ya nama buah-buahan yang bernama buah tangan Mom? maksud Stella kita bawa oleh-oleh apa bukan buah tangan," ujar Stella yang masih bingung dengan perkataan Mommy Sandra.
"Stella, kamu kapan pintarnya sih, dari dulu kamu selalu gak ngerti peribahasa. Udah pokoknya kita gak perlu bawa apa-apa ke rumah Mertua kamu, titik," ujar Mommy Sandra yang kesal kepada Stella karena selalu tidak mengerti perkataannya.
"Ya udah deh, Stella nurut aja sama Mommy," ujar Stella dengan senyum yang mengembang, karena dia sudah membayangkan akan menjadi Ratu di rumah mewah tersebut.
Keesokan paginya, Mommy Sandra dan Stella sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Fajar yang sempat disewa oleh Jingga dan diakui oleh David sebagai rumahnya.
Jingga yang sudah terbiasa dilayani oleh Mommy Sandra masih saja berteriak memanggil Mommy Sandra untuk membuatkan teh untuknya.
"Benar-benar Menantu Durhaka si Jingga, memangnya dia pikir aku masih mau melayaninya lagi setelah dia jatuh miskin. Enak aja, aku gak bakalan mau dia jadikan pembantu lagi," gumam Mommy Sandra.
Jingga yang merasa kesal pun kini menghampiri Mommy Sandra.
"Mommy, kenapa Mommy belum bikinin aku teh? aku kan udah kehausan," Tanya Jingga dengan bertolak pinggang.
__ADS_1
"Heh Menantu Durhaka, enak aja kamu nyuruh-nyuruh aku terus, sekarang kamu udah gak punya uang lagi kan, jadi gak usah belagu, kalau mau teh buat aja sendiri, sekarang aku ada urusan penting, jadi gak ada waktu untuk meladeni kamu," ujar Mommy Sandra sehingga membuat Jingga merasa geram.
"Sekarang kalian sudah berani ya sama aku? Kalian gak inget kalau saat ini masih tinggal di rumahku?" Ujar Jingga.
"Kamu tenang saja, sebentar lagi kami pasti akan pergi dari rumah ini. Yuk Stella kita berangkat sekarang," ajak Mommy Sandra.
"Kalian mau pergi kemana pagi-pagi begini? Kenapa Rayna tidak kalian bawa?" Tanya Jingga yang melihat Ratu sudah rapi, sedangkan Rayna masih belum mandi.
"Gak usah kepo, terserah kami mau pergi kemana juga, itu bukan urusan kamu," jawab Mommy Sandra dengan menarik Stella untuk segera pergi.
"Awas saja kalian kalau pulang lagi ke rumah ini," teriak Jingga.
Jingga semakin kesal karena Mommy Sandra dan Stella hanya membawa Ratu, dan meninggalkan Rayna yang saat ini sedang Pup.
"Kenapa sih mereka harus ninggalin Rayna. Kamu belajar sendiri sana ke kamar mandi, jangan nyusahin aku," teriak Jingga sehingga membuat Rayna menangis karena ketakutan.
Angga yang akan berangkat kerja sampai menegur perbuatan Jingga.
"Jingga, kenapa kamu tega membiarkan Anakmu menangis? Kamu itu seorang Ibu, seharusnya kamu mengurus Anak kamu sendiri bukan membuatnya menangis," ujar Angga yang tidak habis pikir dengan pikiran Jingga yang sejak bayi tega membiarkan Anak-anaknya di rawat oleh orang lain. Seandainya Jingga masih bekerja, mungkin Angga masih bisa memakluminya, tapi sekarang Jingga hanya duduk santai di rumah tanpa melakukan apa pun.
Angga yang tidak mau berdebat dengan Jingga, akhirnya berangkat kerja tanpa memperdulikan Jingga yang terus saja marah-marah.
"Semua ini gara-gara Mentari, aku tidak rela melihat Mentari hidup bahagia sedangkan aku menderita, lihat saja Mentari, aku akan kembali merusak kebahagiaanmu, kalau perlu aku akan merebut Fajar dari hidupmu," ujar Jingga yang masih saja belum menyadari semua kesalahan yang telah dia perbuat selama hidupnya.
__ADS_1