
Miranda begitu terkejut ketika mengetahui Viona hamil Anak Lukman, karena sebelumnya Lukman tidak pernah dekat dengan seorang perempuan.
"Lukman, apa benar yang dikatakan Viona?" tanya Miranda.
"I_iya Ma. Sudah dua tahun ini Lukman dan Viona menjalin hubungan," jawab Lukman dengan tergagap.
Miranda menghela nafas panjang. Di satu sisi Miranda kecewa karena Lukman telah menghamili Viona, padahal mereka sudah menyusun rencana supaya Lukman bisa mendapatkan saham Angkasa Grup dengan menikahi Raisya. Akan tetapi, di sisi lain Miranda bahagia, karena selama ini Miranda mengira jika Lukman menyukai sesama jenis.
"Lukman, apa kamu benar-benar mencintai Viona?" tanya Miranda.
"Iya Ma. Lukman sangat mencintai Viona."
"Syukurlah, karena ternyata kamu normal, padahal sebelumnya Mama kira kamu menyukai sesama jenis, karena selama ini kamu tidak pernah dekat dengan seorang gadis."
Lukman dan Viona terkejut ketika mendengar perkataan Miranda, dan bibir Viona melengkungkan senyuman karena tidak menyangka jika Miranda mengira Lukman seperti itu.
"Mama tega sekali memiliki pemikiran seperti itu," ujar Lukman dengan cemberut.
"Maaf, Mama sudah salah menilai kamu. Sekarang apa rencana kalian berdua?"
"Kalau Viona bagaimana Tante saja."
"Bagaimana kalau Tante menyuruh kamu untuk menggugurkan kandungan kamu? Apa kamu bersedia?"
"Jika memang semua itu kemauan Tante, Viona akan melakukannya, asalkan Viona masih bisa berhubungan dengan Mas Lukman, karena Viona sudah tidak memiliki siapa pun di Dunia ini," jawab Viona yang memang sudah Yatim Piatu.
Miranda terkejut mendengar jawaban Viona, karena Viona benar-benar patuh terhadapnya.
Sepertinya Viona Anak yang penurut. Aku juga tidak mungkin menyuruh Viona menggugurkan kandungannya, karena bagaimanapun juga bayi dalam kandungan Viona adalah darah daging Lukman. Sebaiknya aku menyuruh Viona dan Lukman menikah siri saja, aku juga harus menyuruh mereka merahasiakan pernikahannya, supaya Lukman masih bisa menjalankan rencana sebelumnya untuk mendekati Raisya, ucap Miranda dalam hati.
"Lukman, Viona, Mama tidak akan mungkin tega menyuruh kalian menggugurkan Cucu Mama sendiri, bagaimanapun juga itu adalah darah daging kalian, tapi kita tidak mungkin membatalkan rencana sebelumnya untuk mendapatkan Angkasa Grup. Viona, kalau memang kamu bersedia menikah siri dengan Lukman serta merahasiakan pernikahan kalian, hari ini juga kalian berdua bisa menikah, karena Lukman harus tetap menjalankan rencana untuk mendekati Raisya. Apa kamu tidak keberatan?"
"Viona sama sekali tidak keberatan, asalkan Viona bisa terus bersama dengan Mas Lukman, karena Viona sangat mencintainya," ucap Viona yang langsung menyetujui usul Miranda tanpa banyak berpikir.
Lukman sebenarnya merasa kasihan kepada Viona, karena nanti Lukman harus membagi cintanya untuk perempuan lain.
__ADS_1
"Viona, apa kamu tidak keberatan jika nanti aku menikahi perempuan lain?"
"Viona sama sekali tidak keberatan, karena Mas Lukman melakukan semua itu demi masa depan kita juga," jawab Viona dengan tersenyum.
"Terimakasih ya sayang, kamu sudah mengerti aku," ucap Lukman dengan memeluk Viona.
Syukurlah Lukman sudah menemukan pendamping hidup yang tepat. Aku juga harus mencari calon Suami untuk Aira dan menyingkirkan Ratu dari kehidupan Hilman, ucap Miranda dalam hati.
"Kalau begitu, sekarang kalian cari Ustadz yang bisa menikahkan kalian, tapi kalian harus ingat, tidak boleh ada orang yang tau tentang pernikahan kalian sampai nanti kita berhasil merebut Angkasa Grup."
"Iya Ma, Lukman akan mengikuti semua perkataan Mama."
"Lukman, setelah kalian berdua menikah, nanti kamu bawa Viona untuk tinggal bersama kita, supaya Mama bisa menjaga Cucu Mama," ujar Miranda.
"Terimakasih banyak Ma," ucap Viona dan Lukman secara bersamaan, kemudian keduanya memeluk tubuh Miranda.
......................
Semakin hari kondisi psikologis Raisya semakin membaik, tapi sampai saat ini Raisya masih belum bisa menerima kenyataan jika Dimas dan Baby Al sudah meninggal dunia.
"Ayah, Bunda, apa boleh Raisya bekerja?" tanya Raisya yang merasa bosan apabila diam di rumah terus.
"Bunda, mungkin dengan memiliki kegiatan, Raisya tidak akan terus-terusan terpuruk dalam kesedihan, tapi Raisya selalu yakin, suatu saat nanti Kak Dimas dan Baby Al akan pulang, dan kami bisa berkumpul kembali."
Mentari sebenarnya merasa khawatir, karena Raisya memiliki harapan besar yang tidak akan mungkin tercapai, tapi Mentari dan Fajar tidak ingin mematahkan harapan Raisya.
"Nak, apa pun yang Raisya ingin lakukan, kami pasti akan mendukungnya. Mulai besok Raisya bisa bekerja di Angkasa Grup, kebetulan kami memiliki Klien baru yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan kita."
"Terimakasih banyak ya Ayah, Bunda. Raisya yakin kalau nanti Kak Dimas pulang, Kak Dimas akan bangga sama Raisya, karena Raisya bisa membantu menjalankan perusahaan," ujar Raisya dengan tersenyum.
Mentari dan Fajar tidak bisa berkomentar apa pun, apalagi sebelumnya Dokter pernah mengatakan alasan Raisya bisa bertahan hidup, yaitu karena Raisya memiliki harapan serta keyakinan yang besar jika Dimas dan Baby Al masih hidup.
......................
Di tempat lain, Dimas masih merasa bingung, karena Aira selalu terlihat gugup apabila Dimas bertanya tentang masalalu mereka.
__ADS_1
Setelah Aira berhasil membuat identitas baru untuk Dimas dengan bantuan Temannya, Aira berencana untuk mengajak Dimas pindah ke Singapura dengan alasan jika Aira mendapatkan tawaran pekerjaan di sana.
Aira sebenarnya tidak ingin pergi ke Singapura, tapi hanya koneksi di sana yang Aira miliki.
Semoga saja setelah kami pindah ke Singapura, kami tidak bertemu dengan Dita atau orang yang mengenali Dimas, ucap Aira dalam hati yang sebenarnya merasa cemas karena Dita Adiknya Dimas tinggal di Singapura.
Malam ini Aira berencana untuk menggoda Dimas supaya jatuh ke dalam pelukannya. Aira sudah memakai lingerie yang seksi saat menghampiri Dimas yang sedang duduk di atas ranjang.
"Mas, besok kita akan pindah ke Singapura, karena aku mendapatkan tawaran pekerjaan yang bagus dari salah satu Rumah Sakit ternama di sana," ujar Aira dengan menundukkan bokongnya di samping Dimas.
"Aira, kenapa kamu tidak berhenti bekerja saja? Kasihan Arka karena kurang kasih sayang dari Ibunya, apalagi kamu juga tidak memberikan Arka Asi. Nanti biar aku yang mencari pekerjaan apabila aku sudah benar-benar sembuh. Bukannya sebelum kecelakaan aku pernah bekerja di Angkasa Grup? Mereka pasti akan menerima aku untuk kembali bekerja."
Bagaimana ini, kalau Dimas kembali ke Angkasa Grup, semua orang akan tau kalau Dimas masih hidup. Aku harus mencari alasan yang masuk akal supaya Dimas mau ikut pindah ke Singapura, batin Aira.
"Mas, sebenarnya kemarin Mas Aksa mendapatkan surat pemberhentian kerja, karena sebelumnya Aira lupa memberikan surat keterangan dari Dokter kalau Mas mengalami kecelakaan. Jadi, mereka menganggap kalau Mas sudah bolos kerja selama satu bulan ini."
"Kalau memang Angkasa Grup sudah tidak membutuhkanku, Aku masih bisa melamar di Perusahaan lain. Aku masih memiliki ijazah kan?" tanya Dimas sehingga membuat Aira semakin bingung.
"Sebenarnya semua ijazah serta identitas Mas, ikut terbakar di dalam mobil ketika Mas Aksa mengalami kecelakaan, dan Aira baru sempat membuat KTP sama paspor saja."
"Kalau seperti itu, aku tidak akan mungkin bisa bekerja di perusahaan besar, tapi kamu tenang saja, aku akan melakukan pekerjaan apa pun untuk menafkahi kamu dan Arka, yang penting aku mendapatkannya dengan cara halal, karena aku tidak akan lepas tanggung jawab kepada Anak dan Istriku."
"Mas Aksa jangan terlalu banyak pikiran, nanti setelah kita sampai di Singapura, Mas bisa bekerja di salah satu perusahaan besar, karena di sana Aira memiliki banyak koneksi."
"Makasih banyak ya Aira, maaf kalau aku sudah banyak merepotkan mu," ucap Dimas yang merasa tidak enak terhadap Aira.
"Mas bisa membayarnya dengan ini," ujar Aira dengan mendekatkan bibirnya pada bibir Dimas, tapi Dimas langsung menghindar.
"Maaf Aira, aku tidak bisa melakukan itu."
"Mas, sekarang Mas Aksa sudah sembuh, kenapa Mas tidak mau menyentuhku?" tanya Aira dengan pura-pura menangis supaya Dimas merasa bersalah.
"Baiklah, aku akan mencoba melakukannya," ucap Dimas sehingga membuat Aira tersenyum bahagia, karena sebentar lagi Dimas akan menjadi milik Aira seutuhnya.
*
__ADS_1
*
Bersambung