
David yang merasa khawatir melihat keadaan Jingga yang selalu saja mengamuk dan berambisi untuk menyakiti keluarga Mentari memutuskan untuk membawanya ke psikiater.
Sebaiknya aku harus membawa Jingga berobat ke Psikiater, siapa tau kejiwaannya bisa pulih, aku takut jika dia sampai melukai oranglain, ucap David dalam hati.
"Honey, kita jalan-jalan yuk," ajak David yang melihat Jingga sedang tertawa di depan cermin.
"Kamu mau bawa aku kemana sayang?" tanya Jingga, kemudian berjingkrak jingkrak seperti Anak kecil saking bahagianya mendengar David yang akan mengajaknya jalan-jalan, karena beberapa hari ini David mengurung Jingga di rumah, sehingga Jingga tidak dapat pergi kemana-mana.
"Kita akan pergi ke tempat yang banyak mainannya, aku lihat sekarang kamu mainnya boneka terus, jadi aku akan membawa kamu ke Istana boneka," jawab David.
Jingga yang terlihat senang pun langsung mendandani dirinya seperti badut, dan David hanya bisa menghela nafas panjang melihatnya.
"Sepertinya Jingga memang harus aku bawa ke Rumah Sakit Jiwa, kalau dibiarkan terus, aku takut penyakitnya akan semakin parah," gumam David, kemudian menggandeng Jingga untuk masuk ke dalam mobil.
"Kenapa Mentari tidak kita ajak?" tanya Jingga, kemudian membawa sebuah boneka yang dia beri nama Mentari, karena saat ini Jingga sedang mengingat kebersamaannya dengan Mentari pada saat mereka berdua masih kecil.
"Mentari, kamu sangat baik, sebenarnya Kakak sayang sama kamu, tapi kamu selalu mencuri perhatian semua orang yang Kakak sayang," gumam Jingga yang tiba-tiba saja menangis seperti Anak kecil.
Beberapa saat kemudian Jingga kembali berbicara dengan bonekanya.
"Aku akan membunuh kamu Mentari, aku tidak rela jika kamu sampai hidup bahagia, sedangkan aku menderita," ujar Jingga kemudian mencekik boneka tersebut, lalu tertawa terbahak-bahak.
David yang melihatnya sampai meneteskan airmata, karena David sebenarnya sangat mencintai Jingga, dan dia tidak tega melihat Jingga yang sekarang menjadi depresi.
"Honey, kita sudah sampai," ujar David dengan membukakan pintu mobil untuk Jingga pada saat sampai di Rumah Sakit Jiwa.
"Woah ternyata tempatnya bagus sekali sayang, banyak yang membawa boneka juga," ujar Jingga kemudian membawa bonekanya keluar dari mobil.
"Sekarang kita bertemu pemilik toko bonekanya dulu ya, nanti kamu akan diberikan boneka yang lebih banyak lagi," ujar David, dan Jingga hanya menganggukan kepalanya dengan mata yang berbinar karena melihat di sekeliling banyak orang gila sepertinya yang dia lihat sebagai teman bermain.
Dokter kini memeriksa kondisi kejiwaan Jingga yang tiba-tiba menangis, lalu tertawa.
"Dok bagaimana keadaan Jingga saat ini?" tanya David.
__ADS_1
"Kondisi kejiwaan Pasien saat ini sudah parah, dan sebaiknya Nyonya Jingga dirawat di sini dulu supaya kondisi kejiwaannya bisa dipantau terus," ujar Dokter.
"Baiklah kalau begitu, saya akan mengurus administrasinya," ujar David kemudian menuju bagian administrasi.
Jingga kini di antar oleh David menuju kamarnya.
"Honey, kamu tinggal di sini dulu ya supaya kamu cepat sembuh," ujar David dengan memeluk tubuh Jingga.
"Kenapa aku harus tinggal di sini?" ujar Jingga dengan melihat sekeliling.
"David, kenapa kamu membawaku ke Rumah Sakit Jiwa? aku ini tidak gila," ujar Jingga dengan berteriak, sehingga Jingga kini dipegangi oleh beberapa Perawat di sana untuk diberikan suntikan obat penenang oleh Dokter.
"Sayang, bawa aku pulang," ucap Jingga dengan lirih kemudian akhirnya tertidur karena pengaruh obat penenang yang sudah bereaksi dalam tubuhnya.
David tidak tega melihat Jingga yang seperti itu, sehingga David berkali-kali mengelap airmatanya yang terus saja menetes.
"Pak David tenang saja, kami pasti akan berusaha untuk menyembuhkan Nyonya Jingga. Kalau Nyonya Jingga terus dibiarkan di rumah, takutnya dia akan menyakiti oranglain bahkan dirinya sendiri," jelas Dokter.
......................
Stella dan Mommy Sandra yang sudah beberapa bulan tinggal di rumah orangtua David, selalu diperlakukan seperti Pembantu, apalagi Bu Salamah sangat cerewet, jadi mau tidak mau Stella dan Mommy Sandra selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah.
"Stella kenapa nasib kita bisa lebih parah dari si Mentari ya," ujar Mommy Sandra yang terlihat ngos-ngosan karena di suruh menangkap Ayam milik Bu Salamah yang tidak mau masuk kandang juga.
"Mungkin ini karma buat kita Mom, karena dulu kita selalu jahat sama Kak Mentari," ujar Stella.
"Kamu jangan berkata seperti itu, Pak Karma yang tetangga kita dulu udah meninggal dunia," celetuk Mommy Sandra.
"Sudahlah terserah Mommy, sebaiknya Mommy segera buang kotoran Ayam di teras, sebelum Mertua cerewet ngamuk lagi," ujar Stella.
"Siapa yang bilang Mertua cerewet?" tanya Bu Salamah yang tiba-tiba berada si belakang Stella.
"Eh enggak Bu, Stella bicara sama Mommy yang selalu cerewet," ujar Stella dengan cengengesan.
__ADS_1
"Saya kira kalian berdua membicarakan saya, karena tadi kuping saya terasa panas," ujar Bu Salamah.
Kenapa sih tuh orang selalu datang gak di undang pulang gak di antar, ucap Stella dalam hati.
"Mana berani Stella membicarakan Ibu, Ibu kan Mertua paling baik di dunia ini," saking baiknya Ibu selalu memperlakukan kami seperti pembantu, lanjut Stella dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu kamu sekarang belajar masak kangkung, awas jangan sampai keasinan lagi," ujar Bu Salamah dengan memberikan satu ikat kangkung kepada Stella.
Bu Salamah yang keluar menuju teras depan langsung berteriak karena menginjak kotoran Ayam.
"Kenapa kalian tidak membersihkan kotoran Ayam di teras," teriak Bu Salamah.
"Tuh kan apa kata Stella, Mommy sih gak mau bersihin kotoran Ayam nya."
"Jelas gak mau lah, kan jijik Stella, enak aja Mommy disuruh bersihin kotoran Ayam," ujar Mommy Sandra dengan memotong-motong kangkung, dan tanpa Mommy Sandra sadari kalau Mommy Sandra malah memotong tangannya sendiri hingga mengeluarkan darah.
"Stella, tangan Mommy berdarah," teriak Mommy Sandra dengan histeris.
"Makanya kalau ngerjain sesuatu tuh jangan sambil ngedumel, saya nyuruh buat motongin kangkung buat dimasak bukan malah potongin jari," ujar Bu Salamah.
"Ibu kok tega banget sih, untung aja tangan saya gak sampai putus, coba kalau putus, saya gak tau nasib saya akan seperti apa," ujar Mommy Sandra dengan menangis.
"Bu Sandra itu sudah tua, kenapa sih masih cengeng, gak malu ya sama Ratu," sindir Bu Salamah.
Ratu yang saat ini sedang di ajak main oleh Sarah tiba-tiba menangis.
"Lho, Ratu kenapa, kok tumben sekali menangis," ujar Bu Salamah.
Stella dan Bu Salamah kini menghampiri Ratu yang terdengar menangis.
"Cucu Nenek kenapa menangis?" tanya Bu Salamah.
"Tadi Ratu pipis Bu, tapi air pipisnya ada darahnya," jawab Sarah, sehingga membuat Bu Salamah dan Stella terkejut mendengarnya.
__ADS_1