
Saat ini di kediaman Mentari, Raisya sedang duduk termenung di taman belakang rumahnya. Dimas yang melihat Raisya sendirian pun memutuskan untuk menghampirinya.
Dimas hendak duduk di samping Raisya, tapi Raisya yang melihat Dimas duduk di sampingnya, memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, tapi sebelum Raisya berdiri Dimas sudah terlebih dahulu mencekal pergelangan tangan Raisya.
"Lepasin Kak, Raisya mau tidur," ujar Raisya dengan mencoba untuk melepaskan pegangan tangan Dimas.
"Kenapa Raisya terus menghindari Kakak?" tanya Dimas yang saat ini menarik tangan Raisya untuk kembali duduk.
"Mungkin itu hanya pikiran Kakak saja," ujar Raisya yang saat ini mencoba untuk mencari alasan.
"Sya, Kakak udah kenal Raisya sejak Raisya masih bayi, jadi Raisya tidak bisa membohongi Kakak."
"Sepertinya Kak Dimas tidak sepenuhnya memahami Raisya, asal Kak Dimas tau kalau Raisya memang seperti ini," ujar Raisya dengan terus memalingkan wajahnya dari Dimas.
"Kalau memang Raisya tidak menghindari Kak Dimas, Raisya kenapa tidak mau menatap wajah Kak Dimas? lihat mata Kakak Sya, apa kesalahan yang telah Kak Dimas lakukan sama Raisya, supaya Kak Dimas bisa memperbaikinya."
"Maaf Kak, sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Kak Dimas mencari Raisya karena ingin meminta nomor handphone Kak Rayna kan? kebetulan Raisya sudah mencatatnya," ujar Raisya dengan memberikan nomor handphone Rayna kepada Dimas.
Meskipun tujuan awal Dimas menemui Raisya adalah untuk meminta nomor Rayna, tapi entah kenapa Dimas merasa sakit hati melihat kesedihan pada wajah Raisya, sampai akhirnya ketika Raisya hendak pergi, Dimas langsung saja mendekap tubuh Raisya dengan erat.
"Kak Dimas mohon jangan jauhi Kak Dimas Sya, Kak Dimas tidak bisa jauh dari Raisya. Raisya jangan berangkat ke Singapura ya, Kak Dimas tidak bisa hidup tanpa Raisya," ujar Dimas yang secara sadar atau tidak bahwa dirinya juga memiliki perasaan yang lebih terhadap Raisya.
"Maaf jangan seperti ini Kak, tidak enak kalau dilihat oranglain, kita berdua bukanlah muhrim. Raisya juga tidak bisa membatalkan kepergian Raisya, semuanya sudah terlambat Kak, dan Raisya tau kalau Kak Dimas hanya menganggap Raisya sebagai seorang Adik saja," ujar Raisya yang saat ini berusaha untuk melepaskan pelukan Dimas.
__ADS_1
Entah kenapa hati Dimas merasa sakit mendengar perkataan Raisya.
Kenapa hatiku terasa sakit mendengar perkataan Raisya, padahal perkataan Raisya benar kan kalau aku hanya menganggap Raisya sebagai seorang Adik saja, ucap Dimas dalam hati yang masih saja merasa plin plan dengan perasaannya.
"Biarkan begini sebentar saja Sya, besok kamu sudah berangkat ke Singapura kan? anggap saja ini sebagai salam perpisahan," ujar Dimas, sehingga membuat dada Raisya terasa sesak.
Meskipun Kak Dimas sudah membuatku kecewa, tapi aku tidak bisa marah kepadanya, lagian bukan salah dia juga, selama ini Kak Dimas kan tidak tau apa-apa tentang perasaanku kepadanya, tapi aku saja yang sudah terlalu banyak berharap kalau Kak Dimas mempunyai perasaan yang sama terhadapku. Sepertinya ini memang yang terbaik untuk kita, aku harus rela melepaskan Kak Dimas demi kebahagiaannya, ucap Raisya dalam hati.
"Kak, udah ya, Raisya mau masuk dulu," ujar Raisya dengan mencoba melepaskan pelukannya dari Dimas, tapi Dimas tidak rela melepaskan pelukannya terhadap Raisya, dan secara tiba-tiba Dimas langsung mencium bibir Raisya.
Plak
Raisya kini menampar pipi Dimas yang sudah berani mengambil ciuman pertamanya.
"Apa yang sudah Kak Dimas lakukan, kenapa Kak Dimas tega mengambil ciuman pertama Raisya? sebaiknya Kak Dimas jangan pernah memberikan harapan palsu kepada orang yang tidak Kakak cintai, karena semua itu hanya akan membuat orang itu sakit hati," sindir Raisya sehingga membuat Dimas terdiam dan melepaskan pelukannya terhadap Raisya, dan langsung saja Raisya berlari untuk masuk ke dalam rumah.
Raisya saat ini sudah berada di dalam kamarnya, dan ia langsung saja menangis dengan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Raisya sangat kecewa dengan perlakuan Dimas yang sudah mempermainkan hatinya.
Kak Dimas jahat, kenapa dia melakukan semua itu, padahal jelas-jelas dia hanya menganggap diriku sebagai Adiknya saja, tapi bisa-bisanya Kak Dimas mencuri ciuman pertamaku, batin Raisya.
Dimas yang baru sadar dengan perbuatan yang telah dia lakukan kepada Raisya mencoba untuk mengejar Raisya ke dalam kamarnya, tapi kamar Raisya saat ini dikunci dari dalam, sehingga Dimas mengetuk pintu kamar Raisya.
"Sya buka pintunya, ada yang ingin Kak Dimas bicarakan," ujar Dimas, tapi Raisya tidak menghiraukannya.
__ADS_1
Saat ini di rumah Mentari sedang tidak ada siapa pun selain Raisya dan Dimas, karena Fajar dan Mentari sedang berbelanja kebutuhan Raisya dan Mommy Sandra yang akan mereka bawa ke Singapura, sedangkan Rasya dan Mommy Sandra sedang mengambil berkas-berkas Mommy Sandra yang baru selesai.
Raisya tidak ikut karena merasa tidak enak badan, tapi ternyata Dimas malah melakukan sesuatu yang membuat Raisya kecewa.
Dimas akhirnya berteriak dengan terus mengetuk pintu kamar Raisya, karena Dimas tau kalau saat ini tidak ada oranglain selain mereka berdua.
"Sya, buka pintunya, kalau tidak, Kak Dimas akan mendobraknya."
Raisya yang merasa kesal terhadap teriakan Dimas, akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Mau apalagi Kak? apa Kak Dimas belum puas menyakiti hati Raisya?"
"Maafin Kak Dimas Sya, Kak Dimas tidak bermaksud seperti itu."
"Sudahlah, sebaiknya kita lupakan saja semuanya, lagian semua itu tidak penting kan untuk Kak Dimas?"
"Tapi Kak Dimas sadar kalau Kakak sudah kurang ajar sama kamu. Kamu mau kan maafin Kakak?"
"Apa semua itu masih penting untuk Kak Dimas? Raisya pikir kalau Raisya tidak begitu penting untuk Kak Dimas, jadi Kak Dimas tidak perlu memikirkan perasaan Raisya."
"Jadi selama ini Raisya mengira jika Raisya tidak penting untuk Kak Dimas? Raisya salah, karena Raisya sangat penting untuk Kak Dimas_," ucapan Dimas kini dipotong oleh Raisya.
"Iya Kak Dimas benar, Raisya sangat penting untuk Kak Dimas, karena Raisya bagi Kak Dimas adalah seorang Adik. Baiklah, kalau begitu, Adik Kak Dimas ini mau tidur dulu, jadi sebaiknya Kak Dimas jangan ganggu Raisya lagi," ujar Raisya, kemudian kembali menutup pintu kamarnya, lalu menguncinya.
__ADS_1
Dimas masih diam mematung, karena sebenarnya bukan itu yang ingin Dimas katakan, tapi Dimas ingin menyatakan tentang perasaannya kepada Raisya, karena saat ini Dimas sudah mulai jatuh hati kepada sosok Raisya yang dulu selalu mengisi hari-harinya walaupun hanya sebatas pesan singkat, karena setiap hari Raisya selalu mengirim chat kepada Dimas saat mereka berjauhan.
"Sya, Kak Dimas kangen dengan perhatian yang selalu Raisya berikan untuk Kak Dimas meskipun hanya lewat sebuah pesan singkat, dan sekarang Kakak baru menyadarinya setelah Kakak kehilangan semua itu," gumam Dimas.