
Raisya terus berteriak memanggil nama Dimas, tapi semakin lama, mobil yang Dimas tumpangi semakin menjauh dan hilang dari pandangannya.
"Kak Dimas, jangan pergi Kak, jangan tinggalin Raisya," teriak Raisya yang masih terduduk di atas jalan.
Lukman yang kebetulan ke luar dari kamar perawatan Miranda untuk membeli sarapan, begitu terkejut ketika melihat sosok perempuan yang menjadi targetnya untuk mendapatkan saham Angkasa Grup.
Sepertinya perempuan itu Raisya. Aku harus menghampirinya, karena ini adalah kesempatan yang bagus untuk aku mendekatinya, ucap Lukman dalam hati dengan tersenyum penuh licik.
"Apa kamu Raisya? Kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Lukman dengan mencoba membantu Raisya untuk berdiri, tapi tiba-tiba Raisya mendorong tubuhnya.
"Jangan sentuh aku," tegas Raisya dengan tatapan tajam.
"Kamu jangan takut, aku bukan orang jahat, aku hanya berniat menolong kamu," ujar Lukman.
Beberapa saat kemudian, Mentari dan Fajar yang tengah mencari keberadaan Raisya, datang menghampiri Lukman dan Raisya.
"Alhamdulillah, akhirnya kami menemukan kamu Nak, dari tadi Ayah dan Bunda mencari Raisya," ucap Mentari dengan memeluk tubuh Raisya, tapi Raisya hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Fajar ketika melihat Lukman.
"Perkenalkan nama saya Lukman. Tadi saya melihat Putri Anda terjatuh dengan berteriak memanggil nama Dimas, dan saya berniat menolongnya," ujar Lukman dengan mengulurkan tangannya pada Fajar.
"Terimakasih banyak Nak Lukman, kalau begitu kami permisi dulu," ucap Fajar, kemudian membantu Mentari memapah Raisya ke dalam Rumah Sakit.
Fajar sebenarnya merasa heran ketika melihat wajah Lukman, karena Lukman memiliki wajah yang mirip dengan Dimas.
Kenapa wajah Lukman mirip dengan Dimas ya? Wajah Dimas dan Lukman mengingatkan aku pada wajah mendiang Bram saat masih muda dulu. Apa mungkin kalau Lukman adalah Anak Bram juga? Semoga saja bukan, dan itu hanya suatu kebetulan saja, ucap Fajar dalam hati.
Lukman menghela nafas panjang melihat kepergian Raisya dan kedua orangtuanya, karena rencana Lukman untuk mendekati Raisya telah gagal.
Sepertinya kematian Dimas sudah menyebabkan Raisya stres, tapi aku harus tetap mendekatinya supaya bisa mendapatkan Angkasa grup, karena semua saham Dimas sekarang sudah menjadi milik Raisya, ucap Lukman dalam hati.
Lukman yang tengah melamun, terkejut ketika merasakan sebuah tangan melingkar pada pinggangnya.
"Sayang, kenapa kamu melamun di sini?" tanya Viona, yaitu Sekretaris sekaligus Kekasih Lukman.
Lukman membalikan tubuhnya menghadap Viona, kemudian Lukman menangkup kedua pipi Viona.
"Sayang, sedang apa kamu di sini? Aku kan sudah bilang, kamu tidak boleh menjenguk Mama."
"Aku ke sini bukan untuk melihat Mama kamu, tapi aku habis memeriksakan diri dari Dokter."
__ADS_1
"Memangnya kamu sakit apa?" tanya Lukman yang terlihat khawatir, karena Lukman sangat mencintai Viona.
"Sayang, aku hamil Anak kamu," jawab Viona dengan tersenyum, dan Lukman begitu terkejut mendengarnya, karena saat ini Lukman tidak mungkin menikahi Viona.
"Kenapa kamu bisa hamil? Bukannya selama ini kita selalu memakai pengaman saat melakukannya?" tanya Lukman dengan mengacak rambutnya secara kasar.
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu tidak senang mendengar berita kehamilanku?" tanya Viona.
Lukman mengajak Vio menuju Restoran yang berada di sebrang Rumah Sakit, karena mereka harus membicarakan semuanya.
"Sayang, aku bahagia karena saat ini kamu hamil Anak kita, tapi kamu tau sendiri kalau aku tidak mungkin menikahi kamu, karena aku belum mendapatkan Angkasa Grup. Supaya aku bisa mendapatkan saham Angkasa Grup, mau tidak mau aku harus menikahi Raisya," ucap Lukman dengan menggenggam erat tangan Viona.
Viona menangis dan langsung melepaskan pegangan tangan Lukman, Viona tidak mengira jika ambisi Lukman untuk mendapatkan Angkasa Grup begitu besar.
"Sepertinya Angkasa Grup lebih penting dari Aku dan Anak kita. Apa kamu tidak memikirkan perasaan aku? Bagaimana dengan buah cinta kita? Apa aku harus menggugurkannya?" tanya Viona dengan airmata yang terus membasahi pipinya.
"Sayang, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku sangat mencintai kamu, aku juga tidak ingin kehilangan Anak kita, tapi untuk saat ini aku tidak mungkin menikahi kamu," ucap Lukman yang berada dalam dilema.
Viona terlihat berpikir, karena saat ini Viona tidak mau hamil tanpa seorang Suami.
"Ajak aku bertemu dengan Mama kamu Mas, aku ingin mengatakan tentang kehamilanku kepadanya."
"Sayang, sekarang Mama sedang sakit, dan aku takut jika kondisi Mama akan semakin parah jika mengetahui kehamilan kamu."
Lukman terpaksa membawa Viona untuk bertemu dengan Miranda, meski pun Lukman sebenarnya merasa takut jika Miranda akan menyuruh Vio untuk menggugurkan kandungannya.
......................
Dimas dan Aira telah sampai di Apartemen Aira yang tidak jauh dari Rumah Sakit, tapi Dimas masih terlihat melamun karena terus kepikiran dengan perempuan yang mengejar mobilnya.
"Sayang, kenapa dari tadi Mas Aksa melamun terus?" tanya Aira dengan membantu Dimas duduk.
"Aku tidak apa-apa," jawab Dimas singkat.
Aira mengambil Arka ke dalam kamar, kemudian Aira membawa Arka untuk bertemu dengan Dimas.
"Mas, lihat deh Anak kita, wajahnya mirip sekali dengan Mas Aksa kan?" tanya Aira dengan memperlihatkan Arka.
Hati Dimas terasa hangat ketika melihat sosok bayi tampan yang saat ini berada di hadapannya, dan Aira tersenyum ketika melihat Dimas yang tersenyum bahagia melihat Anaknya.
Untung saja aku membawa bayi sialan ini, kalau tidak, Dimas pasti akan terus bersikap dingin terhadapku. Mau tidak mau aku harus tetap membesarkannya, karena saat ini hanya Arka yang bisa menyatukan aku dengan Dimas, selama Dimas masih mengira jika Arka adalah Anak kami, ucap Aira dalam hati.
__ADS_1
......................
Mentari dan Fajar merasa bahagia, karena setelah mendapatkan penanganan dari Psikiater, kondisi Raisya sudah mulai tenang.
"Alhamdulillah ya, sekarang Raisya sudah mulai tenang," ucap Mentari.
"Iya Bunda, Alhamdulillah. Semoga kondisi Raisya semakin membaik," ucap Fajar.
Ketika Fajar, Mentari dan Raisya hendak ke luar dari Rumah Sakit, mereka berpapasan dengan Lukman dan Viona.
"Om, sudah mau pulang ya?" tanya Lukman dengan melirik ke arah Raisya yang terlihat acuh, bahkan enggan melihat ke arahnya.
"Iya Nak, kalau begitu kami permisi dulu," ucap Fajar dengan tersenyum.
"Yah, kalau dilihat-lihat wajah Lukman mirip sekali sama Dimas ya?" bisik Mentari, tapi Raisya masih bisa mendengarnya.
"Dia sama sekali tidak mirip dengan Kak Dimas. Dia adalah orang jahat," ucap Raisya.
"Sebaiknya kalau di depan Raisya, kita jangan membicarakan Dimas," bisik Fajar pada Mentari.
......................
"Mas, apa perempuan tadi adalah Raisya?" tanya Viona yang pernah melihat fhoto serta informasi mengenai Raisya di ruang kerja Lukman.
"Iya sayang, tapi Vio tenang saja, hanya Vio yang Mas cintai," ujar Lukman dengan tersenyum supaya Viona tidak merasa sedih.
Lukman dan Viona telah sampai di dalam kamar perawatan Miranda, dan Miranda merasa heran ketika melihat kedatangan Lukman yang membawa Sekretarisnya tersebut, karena selama ini Lukman tidak pernah mengatakan hubungannya dengan Viona, bahkan Lukman tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun.
"Tante, bagaimana kabarnya?" tanya Viona dengan memeluk Miranda.
"Sekarang kondisi Tante sudah lebih baik. Oh iya, kenapa Viona bisa datang sama Lukman?"
"Sebenarnya Viona sengaja datang ke sini untuk bertemu dengan Tante."
Wajah Lukman sudah terlihat tegang, karena Lukman takut jika Miranda akan murka apabila mengetahui hubungannya dengan Viona.
"Apa yang ingin Viona katakan?" tanya Miranda yang merasa penasaran.
"Tante, sebenarnya saat ini Viona tengah hamil Anak Mas Lukman."
*
__ADS_1
*
Bersambung