Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 124 ( Memilih pergi )


__ADS_3

Arumi dan Mama Bela masih diam tanpa mau menjawab pertanyaan Papa Wisnu, sampai akhirnya Papa Wisnu mengambil handphone miliknya untuk mengecek CCTV.


"Baiklah kalau memang kalian tidak mau mengatakan apa yang sudah kalian lakukan kepada Alea, karena Papa bisa melihat semuanya dari CCTV."


Mama Bela dan Arumi gemetar ketakutan, karena akhirnya perbuatan mereka selama ini akan segera terbongkar, dan mereka tidak akan bisa mengelak lagi.


Setelah melihat rekaman CCTV, wajah Papa Wisnu memerah karena merasa geram dengan perbuatan yang telah Anak dan Istrinya lakukan terhadap Alea.


"Jadi seperti ini perbuatan kalian di belakang ku?" teriak Papa Wisnu yang ingin sekali menampar wajah Arumi dan Mama Bela seandainya di sana tidak ada Rasya.


"Kami baru kali ini melakukan semua itu Pa," ujar Mama Bela dengan tergagap.


"Apa kalian pikir aku akan percaya lagi dengan perkataan kalian? Selama ini aku mengira jika kalian sudah bersikap baik kepada Alea, tapi ternyata perbuatan kalian lebih rendah dari pada Binatang. Alea, maafin Papa Nak, kenapa Alea tidak pernah mengatakan kelakuan Arumi dan Mama Bela?" tanya Papa Wisnu dengan memeluk tubuh Alea.


Selama ini Alea selalu mengatakan jika dirinya terjatuh, ketika Papa Wisnu bertanya tentang luka yang Alea dapatkan, karena Alea yakin Papa Wisnu tidak akan percaya begitu saja jika Alea mengatakan kebenaran tentang kelakuan Arumi dan Mama bela yang selama ini terus berusaha menindas dirinya, tapi sekarang sudah ada bukti sehingga membuat Alea tidak perlu takut lagi dengan ancaman Mama Bela dan Arumi.


"Apa Papa akan percaya jika Alea mengatakan yang sebenarnya? Bukannya selama ini Papa selalu membangga-banggakan Anak dan Istri Papa? Karena bagi Papa, Alea hanyalah orang asing, bahkan sekali pun Papa tidak pernah ada untuk Alea," ucap Alea dengan menahan sesak dalam dadanya.


"Nak, Papa benar-benar menyesal, Papa tidak bermaksud menganaktirikan Alea. Selama ini Papa sudah berusaha bersikap adil dengan mengirimkan uang untuk biaya hidup Alea."


Alea tertawa sekaligus menitikkan airmata mendengar perkataan Papa Wisnu.


"Terimakasih atas biaya hidup yang Papa berikan, tapi sayangnya sepeser pun Alea dan Nenek tidak pernah menerimanya."


"A_apa? Bagaimana mungkin seperti itu."


"Papa tanyakan sendiri kepada Istri kesayangan Papa kemana perginya uang tersebut, karena selama dua puluh tahun, Alea dibesarkan dengan keringat dan kerja keras mendiang Nenek, bahkan sejak Alea masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Alea sudah berdagang demi membantu Nenek supaya bisa menghasilkan uang, bahkan tak jarang kami berdua sering menahan lapar karena tidak memiliki uang untuk membeli beras. Papa juga harus tau, jika selama ini Alea bisa melanjutkan Sekolah karena Alea selalu mendapatkan bea siswa," ujar Alea dengan menangis karena sudah tidak kuat lagi memendam semuanya.


Papa Wisnu menghampiri Mama Bela, karena perbuatan Mama Bela sudah benar-benar keterlaluan.


Plak plak


Dua tamparan keras mendarat pada pipi Mama Bela.


"Kenapa kamu melakukan semua itu Bela? Aku pikir selama ini kamu sudah memberikan hak Anakku, apalagi kamu masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Alea. Apa kamu lupa kalau dulu kamu sudah merebut aku dari Sepupu kamu sendiri, bahkan kamu sampai menjebakku supaya aku menikahi kamu?" teriak Papa Wisnu.

__ADS_1


"Ma_maaf Pa, Mama khilaf," ucap Mama Bela dengan lirih.


"Enteng sekali Anda mengucapkan khilaf setelah kebusukan kalian berdua terbongkar. Seandainya hari ini kalian berdua tidak tertangkap basah tengah menyiksaku, mungkin selamanya kalian tidak akan pernah mau mengakui kesalahan yang telah kalian lakukan. Pa, dari awal Alea terpaksa tinggal di sini, karena Alea sudah hidup sebatang kara, tapi sekarang, Alea sebaiknya ke luar dari rumah ini supaya tidak mengganggu keharmonisan rumah tangga kalian," ujar Alea yang memutuskan untuk pergi dari rumah Papa Wisnu.


"Nak, maafin Papa, Papa janji akan berbuat adil kepada Anak-anak Papa."


"Papa tidak perlu mengkhawatirkan Alea, insyaallah Alea bisa menjaga dan menghidupi diri sendiri. Alhamdulillah hari ini Alea sudah di angkat menjadi Sekretaris Tuan Rasya, dan besok Tuan Rasya bilang akan mengangkat Alea menjadi Karyawan tetap."


Papa Wisnu yang baru menyadari keberadaan Rasya, meminta maaf karena Rasya harus melihat pertengkaran yang terjadi di dalam keluarganya.


"Tuan Rasya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya, padahal Tuan baru pertama kali datang ke rumah kami, tapi Tuan harus melihat pertengkaran yang terjadi di dalam keluarga saya."


"Semoga semua ini menjadi pelajaran untuk Tuan Wisnu, karena saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti calon Istri saya," ujar Rasya, sontak saja semuanya terkejut, termasuk Alea.


Terimakasih Tuan Rasya, lagi-lagi Anda sudah menyelamatkan saya dengan berpura-pura menjadi Calon Suami saya, batin Alea.


"Se_sejak kapan Tuan Rasya dan Anak saya menjalin hubungan?" tanya Papa Wisnu yang begitu terkejut, bahkan Arumi nyaris pingsan mendengar pernyataan Rasya.


"Yang pasti, secepatnya saya akan menikahi Alea, dan untuk memastikan keselamatannya, saya ingin meminta ijin untuk membawa Alea ke luar dari rumah ini," ujar Rasya.


"Bi, tolong bereskan semua barang-barang Non Alea," ucap Papa Wisnu kepada Asisten rumah tangganya.


Arumi yang tidak terima karena Alea mendapatkan semua yang dia mau, berusaha untuk kembali menyerang Alea, tapi Rasya dan Papa Wisnu bergegas menghalanginya.


"Dasar perempuan ja*lang, kamu sudah merebut semua yang aku inginkan. Sebaiknya kamu susul Ibu kamu ke Neraka," teriak Arumi yang hendak memukul Alea.


Alea tiba-tiba melayangkan tamparan pada Arumi, karena Alea tidak terima jika Arumi membawa nama Ibunya.


Plak plak


Dua tamparan keras mendarat pada pipi Arumi.


"Aku kembalikan tamparan yang pernah kamu berikan kepadaku, bahkan itu tidak sebanding dengan perbuatan yang telah kalian lakukan selama ini. Sekali lagi aku ingatkan, jangan pernah kalian membawa nama Ibuku, karena aku tidak akan segan-segan untuk membuat perhitungan," tegas Alea dengan penuh penekanan.


"Cukup Arumi, mulai sekarang semua fasilitas yang Papa berikan kepada kamu dan Mama kamu akan Papa ambil kembali, Papa juga akan menghentikan uang bulanan kalian," teriak Papa Wisnu.

__ADS_1


Arumi dan Mama bela begitu syok mendengar perkataan Papa Wisnu, karena selama ini mereka sudah terbiasa dimanjakan dengan uang bulanan yang cukup banyak yang diberikan oleh Papa Wisnu.


"Papa tidak bisa melakukan semua itu, apa jadinya jika Papa tidak memberikan uang bulanan untuk Mama shoping? Nanti Mama tidak akan bisa membeli barang branded lagi," rengek Mama Bela.


"Arumi sekarang sudah menjadi staf administrasi biasa, nanti Arumi tidak bisa mentraktir Teman-teman Arumi lagi kalau Papa menghentikan uang jajan Arumi."


"Seharusnya kalian malu dengan Alea, karena selama ini Papa belum bisa memberikan apa pun untuk Alea, tapi Alea sama sekali tidak pernah mengeluh. Sekarang keuangan Papa sudah tidak seperti dulu, Papa juga sudah tidak memiliki saham Angkasa grup lagi, dan hanya menjabat sebagai Direktur pemasaran."


Rasya dan Alea hanya diam tanpa mau berkomentar apa pun tentang perdebatan yang terjadi di antara Papa Wisnu dan keluarganya, dan keduanya masih menunggu Asisten rumah tangga membawakan barang milik Alea.


Beberapa saat kemudian, Asisten rumah tangga Papa Wisnu memberikan koper milik Ale, kemudian Alea dan Rasya pamit kepada Papa Wisnu.


"Tuan, kalau begitu kami permisi dulu," ucap Rasya, kemudian mencium punggung tangan Papa Wisnu.


"Tuan Rasya, saya titip Alea ya," ucap Papa Wisnu yang merasa berat melepaskan Alea, tapi semua itu adalah yang terbaik untuk Alea, supaya Arumi dan Mama Bela tidak menyakitinya lagi.


"Saya pasti akan menjaga serta melindungi Alea dengan segenap jiwa dan raga saya," ujar Rasya.


"Nak, sekali lagi Papa minta maaf atas semuanya. Papa pasti akan menebus semua kesalahan yang telah Papa lakukan kepada Alea. Kalau ada apa-apa, Alea jangan sungkan untuk mengatakan semuanya kepada Papa, dan pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk Alea," ujar Papa Wisnu dengan memeluk tubuh Alea.


"Papa jaga kesehatan ya, nanti kita masih bisa bertemu di Angkasa grup," ucap Alea, kemudian mencium tangan Papa Wisnu serta mengucapkan salam sebelum melangkahkan kakinya ke luar dari rumah yang sudah membuatnya seperti hidup di dalam Neraka.


......................


Hampir setiap malam Aira selalu mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman Dimas, tapi anehnya tubuh Dimas sama sekali tidak bereaksi apa pun sehingga membuat Aira merasa bingung.


"Sepertinya aku harus segera membawa Dimas berobat. Aku akan melakukan apa pun supaya bisa memiliki Dimas seutuhnya," gumam Aira dengan memijit kepalanya yang terasa pusing, apalagi Aira selalu kurang tidur karena mendengar tangisan Arka yang hampir setiap malam terbangun pada tengah malam.


Seperti malam-malam sebelumnya, saat Arka terbangun dan menangis pada tengah malam, Aira enggan untuk bangun, bahkan Aira sampai menutup kupingnya menggunakan bantal, dan akhirnya selalu Dimas yang bangun untuk menenangkan Arka dengan menggendong serta membuatkannya susu.


"Kenapa aku selalu merasa jika Aira tidak menyayangi Arka ya? Padahal biasanya seorang Ibu akan buru-buru bangun ketika mendengar Anaknya menangis, tapi Aira terlihat acuh bahkan tidak pernah memperdulikan bayi kami," gumam Dimas yang merasa kasihan kepada Arka.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2