
Lukman yang mendengar perkataan Hilman, langsung saja meludah.
"Cuih, siapa yang sudi untuk menyentuh perempuan ja*lang seperti dia, bahkan dia lebih menjijikan dari pada kotoran," ujar Lukman dengan tatapan jijik ketika melihat wajah Ratu yang begitu mirip dengan mendiang Jingga.
"Cukup Kak, Kakak benar-benar sudah keterlaluan. Bagaimanapun juga sekarang Ratu sudah menjadi Istri Hilman, dan Ratu sudah menjadi bagian dari keluarga kita."
Miranda yang mendengar keributan, secara perlahan mulai membuka matanya, dan Miranda begitu murka ketika melihat perempuan yang begitu mirip dengan mendiang Jingga berada di samping Hilman.
Dia pasti Ratu, Anak perempuan ja*lang itu, rasanya aku ingin sekali menampar wajahnya. Aku harus sabar, sebaiknya aku berpura-pura baik sama Anak itu supaya aku bisa membuat hidupnya hancur, dan memisahkan dia dari Hilman, ucap Miranda dalam hati.
Lukman dan Hilman terus berdebat, sampai akhirnya Miranda angkat suara untuk menghentikan perdebatan kedua Anaknya.
"Lukman, Hilman, cukup. Kalian berdua adalah saudara, tidak seharusnya kalian bertengkar."
Lukman dan Hilman bergegas menghampiri Miranda untuk melihat keadaannya, sedangkan Ratu memutuskan berdiri di dekat pintu saja, karena Ratu tidak ingin membuat suasana semakin memanas.
"Ma, bagaimana keadaan Mama? Apa masih ada yang sakit?" tanya Hilman yang terlihat khawatir.
"Mama sampai masuk Rumah Sakit juga gara-gara kamu Hilman," ujar Lukman dengan tatapan tajam.
"Sudah Lukman, jangan terus menyalahkan Adik kamu, kasihan dia kalau kamu salahkan terus. Hilman, apa dia Istri kamu? Bawa ke sini Nak, Mama ingin melihat Menantu Mama," ujar Miranda, sehingga membuat Lukman merasa heran.
Hilman berjalan ke arah Ratu, tapi Hilman merasa ragu untuk membawa Ratu menghampiri Miranda, karena Hilman takut jika Miranda menyakiti Ratu.
"Ma, kenapa Mama ingin melihat Anak perempuan ja*lang itu? Apa Mama lupa kalau dia adalah Anak dari perempuan ja*lang yang sudah menghancurkan hidup kita?" tanya Lukman yang merasa kesal.
"Lukman, Mama berencana untuk berpura-pura baik sama dia, supaya kita bisa cepat menyingkirkan dia dari kehidupan Hilman, dan kita bisa menghancurkan hidup Anak perempuan ja*lang itu jika dia tinggal di rumah kita," bisik Miranda supaya rencananya tidak terdengar oleh Hilman dan Ratu.
"Baiklah kalau seperti itu, Lukman akan mendukung rencana Mama."
Secara perlahan, Ratu dan Hilman mendekati Miranda, kemudian Ratu mencium punggung tangan Miranda.
"Ma, atas nama mendiang Mama Jingga, Ratu meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang telah beliau lakukan."
Miranda rasanya ingin sekali menampar wajah Ratu ketika menyebut nama Jingga, tapi Miranda mencoba bersabar supaya rencananya berhasil.
"Nak, Ratu tidak perlu merasa bersalah, karena semua itu bukan salah Ratu. Mama sekarang sudah sadar, tidak seharusnya Mama terus-terusan menyimpan dendam."
__ADS_1
Ratu merasa sangat bahagia mendengar perkataan Miranda, tapi tidak dengan Hilman, karena Hilman yang sudah mengetahui sifat asli Miranda, semakin merasa curiga dengan sikap Miranda yang tiba-tiba berubah.
Aku tau kalau Mama hanya berpura-pura baik terhadap Ratu, tapi aku tidak akan pernah membiarkan Mama menyakiti Istriku, ucap Hilman dalam hati.
"Hilman, Ratu, sebaiknya kalian tinggal bersama kami ya. Pasti rumah akan menjadi ramai kalau ada kalian, apalagi setelah kalian memiliki Anak. Mama juga akan mengadakan acara resepsi yang meriah untuk merayakan pernikahan kalian berdua."
"Kalau Ratu bagaimana Mas Hilman saja."
"Bagaimana Nak, Hilman mau kan membawa Ratu tinggal di rumah kita?" tanya Miranda dengan tatapan memohon.
"Maaf Ma, tapi Hilman dan Ratu sudah memiliki rumah untuk kami tinggali, karena kami tidak ingin menjadi beban Mama dan Kak Lukman," ujar Hilman.
"Nak, kita adalah keluarga, Hilman tidak boleh berkata seperti itu, karena milik Mama adalah milik Hilman juga. Sekarang Mama sudah tua, dan Mama ingin selalu berada di dekat kalian."
"Kalau ada waktu, kami pasti akan sering-sering menjenguk Mama, tapi untuk saat ini kami masih belum bisa tinggal bersama dengan Mama dan Kak Lukman, karena Anak yang sudah berumah tangga, lebih baik tinggal terpisah dari keluarganya, supaya nantinya tidak ada masalah yang timbul. Semoga Mama cepat sembuh, kalau begitu kami pulang dulu," ujar Hilman.
Setelah Ratu dan Hilman mencium punggung tangan Miranda, Hilman bergegas membawa Ratu pulang.
"Aaaaaaa Hilman benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya dia mempermalukan Ibunya sendiri. Semua ini pasti karena hasutan dari Anak perempuan ja*lang itu," teriak Miranda.
"Mama benar, Hilman berubah setelah bertemu dengan Anak perempuan ja*lang itu," ujar Lukman.
"Apa yang harus Lukman lakukan Ma?"
"Nodai Ratu, Mama yakin kalau Hilman tidak akan sudi lagi menerima perempuan kotor," ujar Miranda dengan tersenyum licik, sedangkan Lukman diam mematung, apalagi tadi Lukman sudah menghina Ratu.
Aku tidak mungkin menjilat ludahku sendiri, karena tadi aku sudah menghina Ratu. Sebaiknya aku menyuruh Anak buahku saja untuk mengerjainya, ucap Lukman dalam hati.
......................
Saat dalam perjalanan pulang, Hilman terlihat melamun, dan Ratu tau jika Hilman tengah memikirkan perkataan Miranda.
"Mas, kenapa tadi Mas menolak untuk tinggal di rumah Mama? Padahal Ratu tidak apa-apa kalau Mas ingin kita tinggal di sana, mungkin dengan begitu, Ratu bisa lebih dekat dengan Mama, dan Mama bisa benar-benar menerima Ratu."
"Sayang, dalam satu Istana, hanya boleh ada satu Ratu, supaya nantinya tidak banyak perdebatan yang terjadi, apalagi suatu saat nanti Mas Lukman akan menikah, dan Mas Lukman pasti akan membawa Istrinya untuk tinggal di rumah Mama."
"Terimakasih banyak ya Mas, karena Mas Hilman sudah memikirkan perasaan Ratu," ucap Ratu dengan menyandarkan kepalanya pada bahu Hilman, karena Ratu tau betul jika Hilman melakukan semua itu demi dirinya.
__ADS_1
......................
Hari ini Mentari dan Fajar akan membawa Raisya berobat ke Psikiater, karena semakin hari kondisi psikologis Raisya semakin memburuk, bahkan Raisya jarang makan dan minum.
"Bunda, Psikiater yang akan mengobati Raisya meminta kita supaya datang ke Rumah Sakit Pratama, karena hari ini giliran jadwal praktek di Rumah Sakit. Padahal tadinya Ayah ingin membawa Raisya ke Klinik nya saja, karena kalau di Rumah Sakit, kita pasti harus mengantri."
"Kalau begitu sekarang kita langsung ke Rumah Sakit saja Yah, nanti kalau Raisya disuruh kontrol lagi, baru kita bawa ke Klinik. Kasihan Raisya kalau terus seperti ini," ujar Mentari.
Setelah sampai Rumah Sakit, Fajar langsung mengantri di depan tempat daftar, sedangkan Mentari menemani Raisya duduk.
"Sayang, Bunda ke toilet dulu ya sebentar. Raisya jangan kemana-mana, tunggu Ayah dan Bunda di sini," ujar Mentari karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil.
Raisya terkejut ketika melihat sosok lelaki yang mirip sekali dengan Dimas tengah berjalan dengan dibantu oleh Aira ke luar dari Rumah Sakit.
"Kak Dimas, itu pasti Kak Dimas," gumam Raisya, kemudian mengejar Dimas dan Aira.
Raisya tidak bisa mengejar Dimas dan Aira, karena saat ini tubuh Raisya begitu lemah. Akan tetapi, Raisya terus berusaha mengejar Dimas, sambil berteriak memanggil namanya ketika mobil yang ditumpangi oleh Dimas dan Aira mulai melaju.
"Kak Dimas, Kak Dimas, tunggu. Jangan tinggalin Raisya Kak," teriak Raisya dengan menangis.
"Aira, apa perempuan itu tengah mengejar kita? Kenapa dia terus berteriak memanggil nama Dimas?" tanya Dimas yang melihat Raisya dari kaca spion.
Aira begitu geram ketika melihat Raisya mengejar mobilnya.
"Itu sepertinya orang gila Mas. Sebaiknya kita biarin saja, lagian nama Mas kan Aksa bukan Dimas."
"Tapi perempuan itu jatuh, kasihan kalau kita tidak menolongnya."
"Dia mau jatuh juga bukan urusan kita, untuk apa kita memperdulikan orang gila," ujar Aira dengan nada tinggi.
Dimas tidak mengira jika Aira bisa berbicara seperti itu.
Kenapa aku bisa menikah dengan perempuan yang tidak punya hati seperti Aira? Entah kenapa hatiku terasa sakit ketika melihat perempuan itu menangis bahkan sampai terjatuh, ucap Dimas dalam hati, tapi saat ini dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
*
*
__ADS_1
Bersambung