
Tubuh Alea gemetar ketakutan saat naik ke dalam pesawat, karena sebelumnya Alea belum pernah naik pesawat.
"Sayang, Alea baik-baik saja kan?" tanya Rasya yang merasa khawatir karena wajah Alea terlihat pucat.
"Sebenarnya Alea takut Mas, karena Alea belum pernah naik pesawat."
"Sekarang kita baca do'a dulu, insyaallah semuanya akan baik-baik saja. Kalau Alea takut, Alea lebih baik tidur sambil peluk Mas saja," ujar Rasya kemudian membawa Alea ke dalam pelukannya.
Alea merasa nyaman setelah berada dalam pelukan Rasya, dan secara perlahan Alea mulai memejamkan matanya.
"Syukurlah sekarang Alea sudah tertidur, jadi Alea tidak akan merasa ketakutan lagi," gumam Rasya dengan mencium kening Alea.
Alea terbangun setelah pesawat mendarat, dan Alea tersenyum malu karena sudah tertidur pulas dalam pelukan Rasya.
"Maaf ya Mas, Alea malah tertidur, tangan Mas pasti pegal ya?"
"Tidak apa-apa sayang, kalau Alea bangun, nanti Alea malah semakin takut saat kita berada di ketinggian."
"Apa sekarang kita sudah sampai?" tanya Alea yang melihat semua orang mulai turun dari dalam pesawat.
"Kita baru saja sampai. Sebaiknya sekarang kita turun juga, kebetulan Supir suruhan Ayah sudah menunggu kita di depan pintu Bandara," ujar Rasya dengan membantu Alea berdiri, kemudian keduanya ke luar dari dalam pesawat dengan bergandengan tangan.
Arumi yang sebelumnya sudah mengetahui tentang perjalanan bisnis Rasya dan Alea, sengaja mengambil cuti supaya bisa mengikuti Alea dan Rasya.
"Sepertinya mereka benar-benar pacaran. Aku harus membuat Rasya dan Alea putus," gumam Arumi dengan mengepalkan kedua tangannya ketika melihat Rasya yang terus memeluk tubuh Alea, karena sampai saat ini Arumi masih belum tau jika Alea dan Rasya sudah menikah.
Arumi merasa bingung ketika melihat Rasya dan Alea naik ke dalam sebuah mobil, karena Arumi takut kehilangan jejak Rasya dan Alea.
"Aku harus bagaimana? Jangan sampai aku kehilangan jejak mereka," gumam Arumi.
Arumi tidak menemukan taksi yang berada di sekitarnya, sampai akhirnya Arumi nekad menghentikan sebuah motor yang tengah melaju cukup kencang.
Ckiiiit
Pengendara motor menginjak rem nya secara mendadak, karena Arumi menghalangi jalannya.
__ADS_1
"Woy, sepertinya loe sudah bosan hidup ya?" teriak pengendara motor yang merasa kesal dengan sikap Arumi.
"Sekarang loe harus anterin gue ngikutin mobil itu," tunjuk Arumi.
Arumi langsung naik ke atas motor, tapi pengendara motor langsung menyuruh Arumi untuk turun.
"Turun gak? Gue harus kerja, lagian kita tidak saling mengenal," ujar pengendara motor.
"Nama gue Arumi, dan loe tenang aja, gue bakalan kasih loe uang yang banyak, yang penting loe bisa ngejar mobil itu," ujar Arumi.
"Gue Satria tanpa baja hitam. Kalau ada uang, semuanya beres," ujar Satria dengan tersenyum, kemudian melajukan motornya mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Alea dan Rasya.
"Dasar mata duitan," gerutu Arumi.
"Hei Nona, di dunia ini tidak ada yang gratis, buang air kecil di toilet umum saja harus bayar," ujar Satria.
"Tidak usah banyak ngomong, yang penting kamu harus berhasil mengejar pujaan hatiku yang sudah direbut oleh ja*lang, karena aku tidak terima kekasihku meninggalkan aku begitu saja," ujar Arumi yang selalu mengaku-ngaku jika Rasya adalah kekasihnya.
"Kenapa kamu masih mempertahankan lelaki tidak setia? Di Dunia ini masih banyak lelaki lain yang pasti jauh lebih baik dari dia," ujar Satria.
"Kamu tidak tau apa-apa, jadi kamu gak usah banyak ngomong, karena hanya dia satu-satunya lelaki yang aku cintai, dari dulu, sekarang dan selamanya," ujar Arumi yang tidak akan pernah rela melepaskan Rasya apalagi untuk Alea.
"Nih bayaran kamu," ujar Arumi dengan memberikan uang lima ratus ribu kepada Satria.
"Terimakasih Nona, senang bekerja sama dengan perempuan cantik dan baik seperti kamu," ujar Satria dengan turun dari motornya.
"Kenapa kamu ikut turun juga? Bukannya kamu mau berangkat kerja?" tanya Arumi.
"Kebetulan sekali, Hotel ini adalah tempat kerjaku, dan aku salah satu OB di Hotel ini," jawab Satria.
"Sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak padaku. Satria, pokoknya kamu harus membantu aku memisahkan Kekasih ku dari perempuan ja*lang itu," ujar Arumi dengan menunjuk Rasya dan Alea.
Deg deg deg
Jantung Satria berdetak kencang ketika melihat sosok perempuan yang ditunjuk oleh Arumi.
__ADS_1
"Apa perempuan itu adalah Alea?" tanya Satria.
"Darimana kamu tau nama perempuan ja*lang itu?" tanya Arumi.
"Sekali lagi kamu sebut dia perempuan ja*lang, aku tidak akan segan-segan mematahkan leher kamu," ancam Satria dengan tatapan tajam, sehingga membuat Arumi gemetar ketakutan.
"Satria, apa kamu suka dengan Alea? Kalau memang kamu suka, kita bisa bekerja sama untuk memisahkan Rasya dan Alea," ujar Arumi yang melihat tatapan penuh cinta dari mata Satria terhadap Alea.
Satria kembali terbayang dengan kenangannya bersama Alea beberapa tahun yang lalu.
Alea dan Satria merupakan Teman satu angkatan saat keduanya duduk di bangku SMA, tapi Satria tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan cintanya terhadap Alea, apalagi Alea merupakan Siswi paling pintar, dan Alea selalu menolak penyataan cinta dari setiap lelaki yang mendekatinya dengan alasan ingin fokus belajar.
"Bagaimana caranya supaya aku bisa mendapatkan Alea?" tanya Satria yang masih menyimpan perasaan cintanya untuk Alea.
"Aku berencana untuk menjebak Rasya dengan memasukan obat perangsang ke dalam minumannya, dan nanti kita bisa menjebak Alea supaya dia bisa tidur dengan kamu juga. Bagaimana, rencana aku bagus kan?" tanya Arumi dengan tersenyum bangga.
"Ide kamu gila, kamu sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua yang kamu inginkan. Aku tidak mau melakukan perbuatan serendah itu," ujar Satria, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Arumi yang terlihat kesal.
"Dasar lelaki bodoh. Lihat saja nanti, mau tidak mau, kamu harus membantu aku supaya rencanaku berjalan dengan lancar," ujar Arumi dengan tersenyum licik.
Arumi menghampiri resepsionis untuk memesan kamar, dan sebelum itu, Arumi mencari tau nomor kamar Alea dan Rasya.
"Mbak, maaf, saya janjian datang ke sini bersama dua teman saya, tapi handphone saya ketinggalan, jadi saya tidak bisa menghubungi mereka. Apa saya bisa tau nomor kamar Rasya atau Alea?"
"Tapi kami tidak bisa memberikan informasi pelanggan Hotel tanpa ijin dari orangnya Nona," jawab resepsionis.
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa memberitahu aku, tapi jangan salahkan aku, karena aku akan melaporkan kamu kepada pemilik Hotel. Aku akan bilang kalau kamu tidak melayani tamu dengan baik. Apa kamu tidak tau siapa Rasya? Dia adalah Anak dari pemilik Angkasa Grup, dan aku adalah Asisten pribadinya," ujar Arumi dengan angkuh.
"Maaf Nona, kami benar-benar tidak tau. Tuan Rasya dan Istrinya membooking kamar President suit Hotel ini untuk berbulan madu," ujar petugas Hotel.
Arumi bagai tersambar petir di siang bolong ketika mendengar kenyataan tersebut.
"Tidak, tidak mungkin, tidak mungkin Rasya dan Alea_" gumam Arumi, dan sesaat kemudian Arumi pingsan.
*
__ADS_1
*
Bersambung