
Rumah tangga Ratu dan Hilman selalu berjalan dengan harmonis, meski pun sampai saat ini mereka belum dikaruniai seorang Anak.
Keduanya sudah sepakat akan mengadopsi bayi, apabila dalam setahun pernikahan Ratu belum hamil juga.
Sejak kejadian yang menimpa Ratu, Hilman tidak berani meninggalkan Ratu sendirian lagi, bahkan Hilman selalu membawa Ratu kemana pun dirinya pergi.
Setiap hari, Ratu selalu merasa senang karena bisa membantu pekerjaan Hilman di toko, meksi pun di sana sudah ada beberapa Karyawan yang Hilman pekerjakan.
Pada saat Ratu dan Hilman tengah mengemas pesanan, handphone milik Hilman terdengar berbunyi, dan ternyata itu adalah panggilan dari Lukman.
Pada awalnya Hilman enggan untuk mengangkat telpon dari Kakaknya tersebut, tapi Ratu meminta Hilman untuk menjawab panggilan telpon dari Lukman, karena siapa tau, Lukman ingin memberikan kabar penting.
"Mas, memangnya siapa yang telpon? Kenapa Mas Hilman tidak mau mengangkatnya?" tanya Ratu.
"Yang telpon Kak Lukman," jawab Hilman.
"Sebaiknya Mas angkat dulu telponnya, takutnya ada berita penting yang ingin Kak Lukman sampaikan," ujar Ratu.
Dengan berat hati akhirnya Hilman mengangkat telpon dari Lukman, dan Hilman terkejut ketika Lukman memberi kabar jika Miranda kembali jatuh sakit dan ingin bertemu dengan Hilman.
"Mas, apa yang dikatakan Kak Lukman? Kenapa wajah Mas sampai pucat seperti itu?" tanya Ratu.
"Barusan Kak Lukman bilang kalau Mama sakit lagi dan ingin bertemu dengan Mas," jawab Hilman dengan tertunduk sedih, karena bagaimanapun juga Miranda adalah perempuan yang telah melahirkannya ke Dunia ini.
"Sebaiknya sekarang kita pergi ke rumah Mama, kasihan Mama, Mama pasti kangen sekali sama Mas Hilman, apalagi Mas sudah lama tidak bertemu dengan beliau," ujar Ratu dengan mengelus lembut punggung Hilman.
Di satu sisi Hilman memang merindukan keluarganya, tapi di sisi lain Hilman masih merasa marah dengan perbuatan keluarganya yang sudah berusaha menyakiti Ratu.
"Sayang, sebaiknya Mas berangkat ke rumah Mamanya sendiri saja saja. Ratu tunggu saja di Toko supaya ada Teman. Mas juga gak bakalan lama perginya," ujar Hilman yang takut jika Ratu kembali disakiti oleh keluarganya.
"Mas, bagaimanapun juga Mama sudah menjadi orangtua Ratu, tidak baik jika Ratu tidak ikut menjenguk beliau."
"Tapi_" perkataan Hilman terhenti karena Hilman merasa berat untuk mengatakannya kepada Ratu.
__ADS_1
"Ratu tau tentang ketakutan yang Mas Hilman rasakan, tapi Ratu pikir mereka tidak akan berani melakukan apa pun apabila di depan Mas Hilman," ujar Ratu dengan menggenggam erat tangan Hilman.
"Baiklah kalau begitu, tapi Ratu harus ingat, nanti saat berada di rumah Mama, Ratu tidak boleh jauh-jauh dari Mas," ujar Hilman, dan Ratu tersenyum serta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, akhirnya Ratu dan Hilman sampai di halaman rumah Miranda.
Keduanya merasa terkejut ketika melihat banyak orang yang lalu lalang ke luar masuk ke dalam rumah Miranda.
"Tidak, tidak mungkin Mama meninggalkan aku," gumam Hilman dengan menangis, kemudian Hilman berlari masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Miranda, karena Hilman mengira jika Miranda telah meninggal dunia.
Meski pun Hilman dalam keadaan panik, tapi sedetik pun Hilman tidak melepaskan pegangan tangannya terhadap Ratu.
Hilman berlari ke sana ke mari untuk mencari keberadaan Miranda, dan Hilman terkejut ketika melihat Miranda tengah berbincang bahkan tertawa dengan beberapa tamu yang datang.
"Ma_ma," ucap Hilman dengan lirih, dan sesaat kemudian Hilman langsung menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas di atas lantai.
"Hilman sayang, syukurlah kamu sudah datang Nak, Mama sangat merindukan Hilman," ucap Miranda dengan memeluk tubuh Hilman.
"Kenapa kalian tega sekali membohongi Hilman? Kak Lukman bilang kalau Mama sedang sakit, dan Mama ingin bertemu dengan Hilman. Apa kalian tau kalau Hilman begitu syok ketika melihat banyak orang di rumah ini? Karena Hilman sudah berpikir jika sesuatu yang buruk telah terjadi kepada Mama," ujar Hilman dengan menitikkan airmata.
"Nak, maafin Mama, kami tidak bermaksud membohongi Hilman. Mama memang sangat merindukan Hilman, dan kami terpaksa berbohong, karena Hilman pasti tidak akan bersedia untuk datang ke rumah ini apabila Lukman tidak mengatakan jika Mama sedang sakit."
"Kalian sudah benar-benar keterlaluan. Kalian selalu tega mempermainkan ku. Apa Mama pikir Hilman tidak punya hati?" ujar Hilman kemudian menarik tangan Ratu untuk ke luar dari rumah Miranda.
Miranda mencoba menghentikan Hilman, karena Miranda sudah memiliki rencana untuk menyakiti Ratu.
Aku tidak boleh membiarkan Hilman dan Ratu pulang, karena aku sudah memiliki rencana untuk menyakiti Ratu, batin Miranda.
"Nak, Mama mohon, Hilman jangan pulang dulu. Sebentar lagi acara empat bulanan Kakak ipar kamu akan dimulai, kasihan Lukman dan Viona jika kalian tidak ikut mendo'akan bayi dalam kandungan Viona, apalagi Aira tidak bisa hadir karena sudah pindah kerja ke Singapura, dan hanya Hilman satu-satunya saudara Lukman yang ada di sini," ujar Miranda dengan terus memegangi tangan Hilman.
Hilman bersikeras ingin segera pergi dari rumah Miranda, tapi Ratu meminta Hilman supaya tinggal sampai acara syukuran empat bulanan Viona selesai.
"Mas, perkataan Mama benar, kasihan kalau kita tidak ikut mendo'akan bayi dalam kandungan Kak Viona. Sebaiknya kita pulang setelah acara syukuran empat bulanannya selesai ya," ujar Ratu dengan tutur kata yang lemah lembut.
__ADS_1
Hilman terpaksa mengurungkan niatnya untuk pulang, padahal Hilman merasa berat jika meninggalkan Ratu dengan Mamanya, karena mau tidak mau Hilman harus bergabung ke tempat duduk para lelaki.
"Sayang, kalau ada apa-apa Ratu jangan sungkan untuk memanggil Mas ya," ujar Hilman, dan Ratu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Hilman, kenapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu pikir Mama akan menyakiti Istri kamu?" ujar Miranda yang merasa kesal karena Hilman selalu mencurigainya.
"Hilman hanya berusaha untuk waspada, karena selama ini kalian selalu berusaha untuk menyakiti Istri Hilman."
Beberapa saat kemudian, Lukman datang dengan menggandeng Viona, kemudian Lukman membantu Viona duduk di sebelah Miranda.
"Viona sayang, hari ini Cucu Mama tidak membuat Viona repot kan?" tanya Miranda dengan memeluk tubuh Viona.
"Alhamdulillah sekarang udah gak terlalu mual sama muntah Ma," jawab Miranda dengan tersenyum bahagia.
Hati Ratu berdenyut sakit ketika melihat perlakuan lembut Miranda kepada Viona, karena perlakuan Miranda sangat berbeda terhadap dirinya.
Kenapa perlakuan Mama berbeda sekali terhadap Kak Viona? Apa karena Kak Viona sedang hamil? Atau karena Mama masih membenciku atas perbuatan mendiang Mama Jingga di masalalu? Ucap Ratu dalam hati dengan mengelap airmata yang terus menetes membasahi pipinya.
"Ratu, apa sekarang kamu sudah ada tanda-tanda hamil?" tanya Viona yang sengaja memanas-manasi Ratu.
"Masih belum Kak. Mungkin kami belum dipercaya untuk memiliki keturunan," jawab Ratu dengan tersenyum.
"Perempuan mandul seperti kamu selamanya tidak akan pernah bisa hamil. Jadi, kamu jangan terlalu banyak bermimpi bisa memiliki keturunan dari Anakku, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah sudi untuk mengakuinya sebagai Cucuku," sindir Miranda sehingga membuat hati Ratu semakin berdenyut sakit.
Ratu hanya diam dan mencoba sabar mendengar sindiran yang terus dilontarkan oleh Miranda, karena bagaimanapun juga Miranda adalah sosok orangtua yang harus Ratu hormati.
"Oh iya, perempuan mandul. Sebaiknya sekarang kamu pergi ke dapur untuk mengambilkan kami jus mangga. Kebetulan, tadi aku sengaja membuatnya untuk Menantu dan Cucuku tersayang," ujar Miranda dengan tersenyum bahagia karena bisa leluasa menghina Ratu tanpa gangguan dari Hilman.
Berikan Hamba kesabaran Ya Allah, ucap Ratu dalam hati dengan melangkahkan kakinya menuju dapur.
*
*
__ADS_1
Bersambung