Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 8 ( Mentari koma )


__ADS_3

Keesokan paginya Angga terbangun dengan kepalanya yang masih terasa pusing.


"Dimana ini? kenapa kepalaku sakit sekali?" gumam Angga.


Angga merasa terkejut karena saat ini dia tidak mengenakan sehelai benang pun, kemudian dia semakin terkejut lagi ketika melihat Jingga yang saat ini berada di sampingnya dengan tubuh yang polos juga.


"Astagfirullah, apa yang telah aku lakukan? kenapa aku kembali melakukan kesalahan yang sama?" gumam Angga dengan mengacak rambutnya secara kasar.


Angga kemudian melihat handphone nya, dia merasa heran karena mendapat panggilan telpon puluhan kali dari nomor tidak dikenal.


"Siapa semalam yang telah meneleponku sebanyak puluhan kali? semoga saja tidak terjadi sesuatu hal yang buruk yang telah menimpa keluargaku" gumam Angga.


Angga kembali teringat dengan kejadian kemarin pada saat dia memukuli Fajar. Ada rasa bersalah kepada Mentari karena dia tidak mau mendengarkan penjelasan Mentari terlebih dahulu, padahal sebelumnya Angga pernah berjanji bahwa dia akan lebih mempercayai perkataan Istrinya dibanding siapa pun juga, karena kelak yang akan menemani dirinya hingga tua nanti adalah seorang Istri.


Kenapa lagi-lagi aku menyakiti Mentari, padahal semenjak kita berdua menikah, Mentari merupakan sosok Istri yang baik. Bagaimana keadaan Mentari sekarang? kemarin sepertinya Mentari terlihat kesakitan, ucap Angga dalam hati.


Angga memutuskan untuk menelpon Mentari, dan setelah tersambung ternyata Fajar yang mengangkatnya, sehingga Angga merasa geram.


📞"Dimana Istriku? apa yang sedang kalian lakukan? kenapa kamu yang mengangkat telponnya?" tanya Angga.


📞"Apa kamu masih peduli terhadap nasib Istrimu setelah kemarin kamu menghinanya, dan menuduhnya selingkuh? bahkan kamu tega meninggalkan Mentari pada saat dia membutuhkanmu. Suami macam apa kamu Angga, bahkan pada saat Istrimu mempertaruhkan nyawanya, kamu tidak pernah ada untuknya," ujar Fajar.


📞"Dimana kalian sekarang? apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Angga yang mulai panik.


📞"Saat ini Mentari koma, dan itu semua karena kamu Angga. Tunggu saja pembalasanku, karena kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Mentari, aku tidak akan segan-segan menghancurkan kalian semua," ancam Fajar.


📞"Beritahu aku sekarang juga dimana Istriku Fajar?" teriak Angga sehingga membangunkan Jingga.


📞"Apa kamu masih ingat kalau kamu masih mempunyai Istri, tapi aku rasa kamu tidak pantas disebut Suami oleh Mentari, karena seorang Suami pasti akan mempercayai perkataan Istrinya dibandingkan dengan perkataan oranglain, dan pastinya seorang Suami akan menyayangi serta melindungi Istrinya, tidak seperti kamu yang terus saja menyakiti Mentari," ucap Fajar, kemudian menutup telponnya secara sepihak.


Angga kemudian bergegas memakai pakaiannya, dan dia berniat untuk mencari keberadaan Mentari.


"Kamu mau kemana Angga?" tanya Jingga.

__ADS_1


"Aku mau mencari Istriku," jawab Angga.


"Untuk apa kamu masih memperdulikan Mentari? kamu harus ingat, dia itu pengkhianat," ujar Jingga.


"Bagaimanapun juga Mentari masih Istriku Jingga, jadi aku masih mempunyai kewajiban sebagai seorang Suami."


"Lalu bagaimana denganku? apa kamu tega meninggalkanku sendirian di sini setelah semua yang kita lewati?" tanya Jingga.


"Terserah kamu, semua ini juga terjadi karena kamu terus saja berusaha untuk mempengaruhiku," jawab Angga.


"Tunggu Angga, aku akan ikut bersamamu," ujar Jingga dengan bergegas memakai pakaiannya juga karena dia tidak mau ditinggalkan oleh Angga.


Setelah di dalam mobil, Jingga dan Angga masih berdebat karena Jingga ingin mereka pulang terlebih dahulu untuk berganti pakaian sebelum mereka mencari Mentari, apalagi saat ini baju yang dikenakan oleh Jingga robek, tapi Angga menolaknya karena dia merasa bersalah terhadap Mentari, sehingga ingin secepatnya menemui Mentari.


"Aku tidak mau kalau pergi ke Rumah Sakit dengan pakaian yang kusut dan robek seperti ini Angga," rengek Jingga.


"Kalau kamu tidak mau ikut, ya sudah sekarang juga kamu turun dari mobilku," jawab Angga yang merasa geram dengan tingkah laku Jingga.


Aku sekarang harus mencari Mentari ke Rumah Sakit terdekat, aku yakin dengan kondisi Mentari yang sedang hamil, Fajar pasti membawanya ke Rumah Sakit Ibu dan Anak, batin Angga.


"Bu, maaf mau tanya, Apa semalam ada pasien yang bernama Mentari yang dibawa ke sini?" tanya Angga.


"Sebentar ya Pak saya cek dulu," jawab petugas Rumah Sakit.


Setelah menunggu beberapa saat, Angga akhirnya mendapatkan informasi.


"Pasien atas nama Ibu Mentari saat ini berada di ruang ICU Pak, kondisinya saat ini masih koma, dan semalam beliau telah melakukan operasi caesar karena mengalami pendarahan hebat," jelas petugas Rumah Sakit.


Degg


Jantung Angga rasanya berhenti berdetak. Dia merasa gagal menjadi seorang Suami, karena setiap Mentari membutuhkan Angga, dia selalu tidak ada untuk Istrinya sendiri.


Semua mata kini tertuju pada Angga dan Jingga yang terlihat memakai baju yang kusut dan robek, serta rambut mereka berdua yang acak-acakan.

__ADS_1


"Bagaimana Angga, apa Mentari di rawat di sini?" tanya Jingga yang melihat Angga diam mematung.


"Mentari sudah melahirkan Jingga, sekarang aku sudah menjadi seorang Ayah, tapi Suami dan Ayah macam apa aku, karena setiap Mentari membutuhkanku, aku selalu tidak ada di sampingnya, bahkan aku telah membiarkan Istriku berjuang sendirian," ujar Angga dengan menangis.


"Sudahlah Angga, kamu tidak perlu menyesali semuanya, belum tentu bayi yang Mentari lahirkan itu Anak kamu, mungkin saja bayi itu adalah anak Fajar," ujar Jingga yang lagi-lagi mempengaruhi Angga.


"Cukup Jingga, berhenti menghasutku, karena aku tidak akan terpengaruh lagi olehmu !!" bentak Angga, dengan berlalu meninggalkan Jingga untuk mencari Mentari di ruang ICU.


"Lihat saja nanti Angga, karena mau tidak mau, aku akan membuat kamu bertanggungjawab atas bayi yang saat ini aku kandung," gumam Jingga dengan tersenyum licik.


Angga kini telah sampai di depan ruang ICU, saat ini dia melihat Fajar dan kedua orangtua Mentari berada di sana.


"Assalamu'alaikum," ucap Angga, lalu mencium punggung tangan kedua orangtua Mentari.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka bertiga.


"Kemana saja kamu Nak Angga? semalam Istri kamu sudah berjuang antara hidup dan mati, tapi kamu malah tidak ada di sampingnya." tanya Pak Hasan.


"Maafin Angga Pak, semalam Angga ada urusan penting."


"Urusan sepenting apa sehingga kamu sampai mengabaikan Mentari? Apa kamu tau kalau semalam Nak Fajar sampai bingung karena telpon kamu tidak di angkat, padahal Mentari membutuhkan persetujuan untuk operasi?" sambung Pak Hasan, sehingga Angga tertunduk karena merasa malu.


Jingga langsung saja menjawab pertanyaan Pak Hasan.


"Semalam kami habis bersenang-senang Pak, jadi gak usah sewot, karena Angga juga sebentar lagi bakalan menjadi Suami Jingga," ujar Jingga tanpa tahu malu.


"Apa maksud kamu Jingga? apa kamu masih belum puas menyakiti Mentari dan sekarang kamu mau merebut Suaminya juga?" tanya Bu Rima.


"Aku tidak peduli dengan perasaan oranglain, karena saat ini aku juga sedang hamil Anak Angga, jadi mau tidak mau Angga harus bertanggungjawab," ujar Jingga dengan entengnya.


Plak


Plak

__ADS_1


Bu Rima menampar Jingga dan Angga.


"Tega-teganya kalian berdua menyakiti Mentari, sekarang juga pergi kalian dari sini !!" teriak Bu Rima yang merasa murka terhadap Angga dan Jingga.


__ADS_2