
Semenjak bercerai dengan Mentari, Angga menjadi tidak fokus dalam bekerja, sehingga membuat perusahaannya kini berada di ujung kebangkrutan.
"Kenapa semenjak aku bercerai dengan Mentari, semua usahaku menjadi kacau? Aku menyesal karena telah menceraikan Mentari dan menghancurkan semuanya, padahal Mentari adalah keberuntungan untukku, tapi aku sendiri yang telah menyia-nyiakannya," ujar Angga dengan mengacak-acak rambutnya secara kasar.
Angga tidak tau harus melakukan apalagi untuk menyelamatkan perusahaannya. Sebelumnya dia sudah menjatuhkan harga dirinya dengan meminta bantuan kepada Jingga untuk menyuntikan modal di perusahaannya, tapi Jingga tidak dapat lagi menarik uang dari Angkasa Grup, dengan alasan jika pengeluaran Jingga tahun ini sudah melebihi batas, padahal pada kenyataannya uang hasil penjualan saham Jingga sudah habis Jingga tarik, dan Fajar sengaja mengulur waktu untuk menjatuhkan Jingga, karena dia masih belum mendapatkan Mentari dalam hidupnya.
......................
Di tempat lain, saat ini Jingga sudah mengalami kontraksi hebat pada perutnya, sehingga Jingga terus saja meringis kesakitan, tapi Jingga enggan untuk memberitahukan semuanya kepada Angga yang saat ini masih berada di kantor, sehingga dia memutuskan untuk memberitahukannya kepada David saja, karena Jingga menginginkan David yang mendampinginya saat melahirkan.
David yang saat ini sedang bekerja dengan merintis usaha dari uang pemberian dari Jingga, akhirnya mengangkat telpon dari kekasih hatinya tersebut, atau lebih tepatnya selingkuhannya.
📞"Iya Honey, ada apa?" Tanya David yang merasa heran karena sebelumnya dia baru bertemu dengan Jingga tadi pagi, bahkan mereka selalu menghabiskan malam bersama.
📞"Sayang, sepertinya sekarang aku mau melahirkan bayi kita, aku udah gak kuat, perutku sakit sekali," ujar Jingga sehingga membuat David merasa cemas.
📞"Terus aku harus bagaimana honey, aku tidak mungkin pulang ke rumah, karena Stella dan Mommy Sandra bisa curiga jika aku menjemputmu. Apa kamu sudah menelpon Angga?" Tanya David.
📞"Tidak sayang, aku menginginkan kamu yang mendampingiku melahirkan, karena ini bayi kita, jadi aku berharap kamu yang akan mendampingiku saat melahirkan nanti," ujar Jingga.
📞"Apa sekarang kamu kuat kalau berangkat sendiri ke Klinik bersalin yang tidak jauh dari rumah? Dan aku akan langsung berangkat dari sini sekarang juga.
📞"Baiklah, kalau begitu aku akan berangkat sekarang juga," jawab Jingga.
📞"Hati-hati honey, aku mencintaimu," ucap David kemudian menutup telponnya.
Jingga bergegas ke depan rumah untuk pergi ke Klinik bersalin, dan sebelumnya dia sudah memesan taksi online.
"Untung saja Nenek lampir sedang sibuk di belakang, dan Istri kekasihku sekaligus adik iparku si Stella kelakuannya sudah seperti orang gila saja karena selalu mengurung diri di dalam kamar," gumam Jingga dengan berjalan secara perlahan karena dia harus berusaha menahan sakit.
Mang Diman yang melihat Jingga membawa tas pun memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Nyonya mau pergi kemana, kenapa membawa tas, apa nyonya mau melahirkan?"
"Bukan urusanmu, jadi gak usah kepo," jawab Jingga dengan ketus.
Setelah kepergian Jingga, Mang Diman langsung menggerutu.
"Dasar manusia sombong, meskipun dia Kakak beradik dengan Nyonya Mentari, tapi sifat mereka sangat jauh berbeda. Pak Angga pasti menyesal karena telah membuang berlian hanya demi batu kerikil."
Tidak sampai sepuluh menit Jingga telah sampai di tempat bersalin, dan pada saat Perawat melihat Jingga yang sudah kesusahan untuk berjalan, Perawat tersebut hendak membawa Jingga ke ruang bersalin, tapi Jingga meminta waktu sebentar untuk menunggu David terlebih dahulu.
"Bu, sepertinya Anda sebentar lagi mau melahirkan, sebaiknya kita segera masuk ke ruang bersalin," ujar Perawat.
"Tunggu sebentar Sus, saya mau menunggu Ayah bayi yang saya kandung dulu," ujar Jingga.
"Maksud Ibu Suami Ibu sudah dalam perjalanan menuju sini?" tanya Perawat.
"Udah gak usah kepo, pokoknya Ayah bayi ini sebentar lagi ke sini," bentak Jingga.
Apa bedanya sih Ayah bayi sama Suami? mungkin Ibu ini sudah tidak kuat menahan sakit makanya dia jadi linglung, batin Perawat tersebut yang kini bertanya-tanya.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga, aku gak mau melahirkan kalau tidak ada kamu," ujar Jingga dengan memeluk tubuh David.
"Honey, kamu harus kuat ya, aku pasti akan selalu berada di sampingmu," ujar David.
Jingga merasa terharu hingga meneteskan airmata, karena dulu saat melahirkan Rayna, Bramantyo tidak datang untuk menemaninya. Namun sekarang meskipun David berstatus Suami Stella, tapi dia selalu ada untuk Jingga.
"Jangan menangis honey, kamu dan anak kita adalah segalanya untukku, dan kalian pasti akan baik-baik saja," ucap David dengan mengelap airmata yang menetes di pipi Jingga, kemudian mengecup kening Jingga.
Perawat mengajak Jingga untuk segera masuk ke dalam ruang bersalin, tapi Jingga meminta supaya David mendampinginya.
Jingga sudah terlihat berkeringat menahan sakit yang dia rasa, sehingga membuat David merasa kasihan dan terus memegangi tangannya.
__ADS_1
"Kamu pasti kuat honey," ujar David yang ikut berkeringat juga.
Rasanya David tidak sanggup melihat Jingga yang terus berteriak kesakitan, tapi dia tidak mungkin meninggalkan Jingga sendirian.
"Sayang, sakit banget, aku udah gak kuat" teriak Jingga.
"Kamu harus kuat demi bayi kita honey," padahal bikinnya enak kenapa saat melahirkannya, aku juga ikutan sakit, lanjut David dalam hati.
"Aku udah gak kuat, ini lebih sakit dari melahirkan Rayna dulu, kamu gantian donk rasain sakitnya, kita kan bikinnya berdua," ujar Jingga yang sudah tidak kuat menahan sakit.
"Kalau bisa udah aku gantiin sayang, masalahnya gimana caranya aku bisa gantiin kamu melahirkan," ujar David.
Dokter yang membantu Jingga melahirkan hanya geleng-geleng kepala mendengar Jingga yang terus saja meminta David menggantikannya melahirkan.
"Ayo Bu, tarik nafas dalam-dalam, kepalanya sudah kelihatan," ujar Dokter.
Setelah berkali-kali mengejan akhirnya Jingga berhasil melahirkan bayinya, tapi jalan lahir Jingga mengalami luka robek yang besar sehingga harus dijahit.
"Selamat ya Bu, Pak, bayinya berjenis kelamin perempuan," ucap Dokter.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah," ucap David.
David merasa bahagia dengan lahirnya bayi mereka, lain halnya dengan Jingga yang merasa kecewa karena dia menginginkan bayi laki-laki.
"Kenapa sih harus Anak perempuan lagi? Aku tidak mau bayi perempuan, aku mau punya Anak laki-laki," ujar Jingga.
"Honey, kamu tidak boleh seperti itu, Anak adalah titipan Allah, dan aku bahagia karena akhirnya bisa memiliki bayi darimu," ujar David dengan mengecup kening Jingga.
"Maaf Pak, sebaiknya Anda tunggu di luar dulu ya, karena kami harus menjahit jalan lahir Bu Jingga yang robek," ujar Dokter.
David ngeri mendengar Dokter mau menjahit jalan lahir Jingga, dan akhirnya dia keluar.
__ADS_1
David merasa bahagia dengan kelahiran Anak pertamanya, lain hal nya dengan Jingga yang tidak mau mempunyai Anak perempuan lagi sehingga dia terus saja cemberut.
Bayi sialan, sudah susah-susah aku melahirkannya hingga mahkotaku robek, ternyata dia hanya Anak perempuan, ucap Jingga dalam hati.