
Raisya yang mendengar perkataan Dimas langsung berlari tanpa pamit terlebih dahulu, sehingga membuat semuanya merasa heran.
"Kenapa dengan Raisya ya, tidak biasanya Raisya bersikap seperti itu," gumam Mentari.
"Biar Rasya yang menyusul Raisya ya," ujar Rasya kemudian berlari untuk menyusul Raisya.
Rasya tau kalau Raisya tidak mungkin pergi ke kamarnya karena di kamar Raisya saat ini ada Mommy Sandra, sehingga Rasya menyusul Raisya ke kamarnya.
"Ternyata benar dugaan Kakak kalau Raisya ada di sini," ujar Rasya yang saat ini mendekati Raisya yang sedang menangis.
"Kakak tau kalau Raisya sedih karena mendengar perkataan Kak Dimas yang membicarakan seorang perempuan yang dia temui saat di Bandara tadi, tapi Raisya tidak boleh pergi begitu saja, kasihan Ayah dan Bunda jadi kepikiran sama Raisya kan."
"Maaf Kak, Raisya tidak bermaksud seperti itu, tapi hati Raisya benar-benar merasa sakit ketika mendengar Kak Dimas menyukai perempuan lain. Mungkin Raisya sudah terlalu banyak berharap kepada Kak Dimas, karena kenyataannya Kak Dimas hanya mengganggap Raisya sebagai Adik saja, dan cinta Raisya kepadanya ternyata hanya bertepuk sebelah tangan," ujar Raisya yang saat ini menangis dalam pelukan Rasya.
"Maaf ya De, Kakak tidak bisa berbuat apa-apa, karena cinta tidak bisa dipaksakan, dan Kakak yakin kalau kamu akan mendapatkan lelaki yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Kak Dimas," ujar Rasya yang mencoba untuk menghibur Raisya.
"Iya Kak, Raisya tau, mulai sekarang Raisya tidak akan mengharapkan cinta Kak Dimas lagi."
Kenapa cinta pertamaku harus tragis seperti ini, padahal baru kali ini aku merasakan jatuh cinta, tapi aku harus menelan pil pahit karena lelaki yang kucintai tidak mempunyai perasaan yang sama, ucap Raisya dalam hati.
"De, yang namanya jodoh kan rahasia Allah SWT, dan kita tidak tau jodoh kita siapa, bisa saja kan jodoh Raisya memang Kak Dimas," ujar Rasya yang merasa kasihan kepada Raisya.
"Kak Rasya tidak perlu menghibur Raisya, Raisya juga akan berusaha mengubur perasaan Raisya untuk Kak Dimas."
"Ya sudah kalau begitu kita keluar lagi ya, gak enak sama Ayah dan Bunda, nanti mereka pasti cemas sama kamu," ujar Rasya dengan menggandeng Raisya menuju meja makan.
Mentari yang melihat mata Raisya sembab pun merasa cemas.
"Sayang, kamu kenapa? Raisya habis nangis ya?" tanya Mentari.
"Tadi Raisya cuma sakit perut aja Bunda, makanya Raisya cepet-cepet lari. Maaf ya kalau Raisya sudah membuat Ayah sama Bunda khawatir."
__ADS_1
"Apa perlu kita ke Dokter buat meriksa perut kamu sayang, Ayah takut kalau ada yang tidak beres dengan perut Raisya."
"Tidak perlu Yah, Raisya sekarang sudah lebih baikan kok," ujar Raisya tanpa mau melihat ke arah Dimas yang diam-diam terus menatap wajahnya.
Kok tumben ya Raisya tidak banyak bicara? apa ada sesuatu yang terjadi kepadanya? batin Dimas kini bertanya-tanya.
Setelah Dimas selesai makan, karena yang lain hanya menemaninya saja, Dimas akhirnya dipersilahkan untuk istirahat di kamar tamu.
"Raisya, tolong antar Kak Dimas ke kamar tamu ya," ujar Mentari.
"Maaf Bunda, sebaiknya Kak Rasya saja yang mengantar Kak Dimas, karena Raisya mau melihat Nenek dulu di kamar," ujar Raisya kemudian meninggalkan semuanya yang terlihat kebingungan, kecuali Rasya yang memang sudah mengetahui alasan Raisya menjauhi Dimas.
Raisya semakin aneh saja, padahal biasanya Raisya suka nempel terus sama aku, apa aku sudah melakukan kesalahan sampai akhirnya Raisya berniat untuk menjauhiku, batin Dimas kini bertanya-tanya.
"Ayo Kak Dimas, Rasya yang antar ke kamar."
Mentari dan Fajar kini saling menatap, dan mereka akhirnya bicara secara bersamaan.
"Kita kok sampai barengan bicaranya," ujar Mentari.
"Kalau udah sehati ya gitu," ujar Fajar.
"Bunda kita ke kamar yuk," ajak Fajar.
"Mau ngapain Yah, masih siang juga," ujar Mentari.
"Bunda tuh pikirannya mesum terus ya, Ayah mau membicarakan sesuatu," ujar Fajar kemudian menggandeng Mentari ke dalam kamar mereka.
Fajar kini mengajak Mentari duduk di sofa, lalu Fajar memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Katanya tadi ada yang mau Ayah bicarakan?" tanya Mentari kepada Fajar.
__ADS_1
"Bunda merasa aneh tidak dengan sikap yang Raisya tunjukan?" tanya Fajar.
"Emang agak aneh sih, padahal biasanya Raisya selalu ingin menempel pada Dimas, tapi sekarang Raisya sepertinya menghindari Dimas deh.
"Ayah rasa Raisya suka sama Dimas, pada saat mereka bertiga datang Raisya terlihat biasa saja, tapi pada saat Dimas membicarakan perempuan yang menabraknya di Bandara, Raisya langsung terlihat sedih, kemudian berlari ke kamar."
"Iya Yah, Bunda juga berpikir seperti itu, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau sudah menyangkut masalah hati. Sekarang Anak-anak sudah mulai dewasa, dan kita hanya bisa menyerahkan semuanya kepada mereka tanpa harus ikut campur dalam memilih pasangan, yang penting lelaki yang dipilih Raisya baik dan bertanggungjawab kita hanya bisa merestuinya."
"Memangnya Raisya ingin menikah muda seperti Bunda?" tanya Fajar, karena dulu juga Mentari menikah pada umur 18 tahun.
"Bunda sih berharapnya Raisya Kuliah dulu dan bisa menggapai cita-citanya, dulu juga Bunda bukannya tidak ingin melanjutkan Sekolah, tapi karena keterbatasan ekonomi, Bunda terpaksa Sekolah hanya sampai SMP."
Fajar yang melihat kesedihan di mata Mentari pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafin Ayah ya, Ayah tidak bermaksud mengingatkan Bunda dengan masalalu yang menyedihkan. Apa Bunda mau lanjutin sekolah lagi, dari dulu kan Ayah udah nawarin kalau Bunda mau kejar Paket C sama Kuliah, Ayah pasti dukung."
"Tidak perlu Yah, percuma kita mempunyai ijazah jika tidak dipakai. Bunda juga sudah mendapatkan cita-cita Bunda."
"Apa memang cita-cita Bunda?" tanya Fajar yang merasa penasaran.
"Menjadi Istri dan Ibu yang baik. Bunda juga sudah mendapatkan Suami yang sempurna serta dua Anak yang selalu membuat orangtua bangga, jadi tidak ada yang Bunda inginkan lagi, karena Bunda sudah memiliki semuanya."
Fajar yang mendengar perkataan Mentari merasa tersentuh, dan tidak berhentinya mengucap syukur karena memiliki Istri yang begitu sempurna dalam hidupnya.
"Biasa aja terharunya gak usah sampai nangis begitu," goda Mentari yang melihat Fajar menitikkan airmata kebahagiaan.
"Ayah terlalu bahagia karena memiliki kehidupan rumah tangga yang sempurna. Bunda setuju tidak kalau kita keliling dunia setelah Anak-anak menikah? Ayah akan menyerahkan Perusahaan kepada Dimas dan Rasya, jadi Ayah bisa menghabiskan waktu bersama dengan Bunda setiap hari dan menikmati masa tua kita."
"Kenapa harus keliling Dunia Yah? padahal Bunda pikir kita akan menghabiskan hari dengan berjemur saat pagi hari, serta mengurus Cucu-cucu kita."
"Tapi kita belum pernah melakukan honeymoon kan, jadi anggap saja itu sebagai honeymoon kita."
__ADS_1
"Ayah, kita ini sudah tua, lagian setiap malam juga kita honeymoon," ujar Mentari yang terus saja bercanda dengan Fajar.