Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 119 ( Akhir dari kesombongan )


__ADS_3

Arumi kembali angkat suara untuk memberitahu Mentari jika Raisya adalah perempuan yang sudah menggoda Anak dan Suaminya.


"Tante, perempuan pingsan itu adalah perempuan ja*lang yang sudah menggoda Anak dan Suami Tante."


Mentari terkejut ketika mendengar perkataan Arumi, begitu juga dengan Fajar dan Rasya.


Plak


Tamparan keras mendarat pada pipi Arumi, karena Mentari merasa geram ketika mendengar Raisya dihina bahkan difitnah oleh Arumi.


"Ke_kenapa Tante menampar Arumi? Selama ini Raisya yang sudah menggoda Tuan Fajar dan Tuan Rasya, dan Arumi bermaksud membantu Tante supaya Anak dan Suami Tante tidak terus digoda oleh perempuan ja*lang seperti Raisya," ujar Arumi yang tidak terima karena Mentari sudah menamparnya.


"Sekali lagi saya mendengar kamu menghina Putri saya, saya tidak akan segan-segan melaporkan kamu atas pencemaran nama baik," tegas Mentari.


Degg


Jantung Arumi rasanya berhenti berdetak mendengar perkataan Mentari. Arumi bagai tersambar petir di siang bolong ketika mengetahui jika Raisya adalah Anak Mentari.


"Ti_tidak mungkin, tidak mungkin Raisya Anak kandung Tante. Tante pasti cuma bercanda kan?" tanya Arumi.


Alea yang juga berada di sana terkejut ketika mengetahui kebenaran tersebut, tapi Alea tidak mau ikut berkomentar, karena Raisya pasti memiliki alasan sendiri kenapa dia merahasiakan identitasnya.


"Apa kamu tidak tau kalau Rasya dan Raisya adalah saudara kembar? Berani sekali kamu bersikap kurang ajar kepada Anak kesayangan kami," ujar Mentari.


"Maafin Arumi, Tante. Arumi sama sekali tidak mengetahui tentang semua itu."


Mentari menatap tajam Fajar dan Rasya, dan keduanya terlihat salah tingkah, karena Mentari pasti merasa kecewa terhadap mereka.


"Kenapa Ayah dan Rasya menyembunyikan identitas Raisya dari Karyawan lain? Apa maksud kalian melakukan semua itu?" tanya Mentari yang merasa heran.


"Maaf Bunda, tapi Raisya sendiri yang meminta kami melakukan semua itu," jawab Fajar yang merasa bersalah.


Arumi begitu malu kepada Mentari dan keluarga, dirinya sudah merasa kehilangan muka, sehingga Arumi terus meminta maaf.


"Tante, Tuan Fajar, Tuan Rasya, saya minta maaf karena telah memfitnah Nona Raisya, saya benar-benar tidak tau kalau Nona Raisya adalah Anak dari pemilik Angkasa Grup," ucap Arumi dengan tertunduk malu.


"Jadi kalau Raisya bukan Anak kami, kamu bisa bersikap seenaknya terhadap oranglain? Seharusnya kamu tidak melihat seseorang dari harta dan jabatannya. Kamu juga tidak perlu meminta maaf kepada kami, karena seharusnya kamu meminta maaf kepada Raisya," ujar Mentari yang masih merasa kesal terhadap Arumi.

__ADS_1


Kenapa semuanya bisa seperti ini? Aku sudah mencari gara-gara dengan Anak pemilik perusahaan, pasti aku yang akan segera di depak dari Angkasa grup. Apa yang harus aku jelaskan kepada orangtuaku jika aku sampai dipecat? Mama dan Papa pasti akan kecewa terhadapku, ucap Arumi dalam hati yang menyesali semuanya.


Beberapa saat kemudian Raisya mulai sadar dari pingsannya, dan Dokter yang sebelumnya memeriksa kondisi Raisya, tiba-tiba memberikan test pack kepada Raisya sehingga membuat semuanya merasa terkejut.


"Nona, sebelumnya saya sudah memprediksi jika Anda tengah hamil, tapi untuk lebih memastikannya, sebaiknya kita lakukan tes kehamilan," ujar Dokter.


Raisya terlihat bingung, ada bahagia bercampur sedih di dalam hatinya, karena saat ini tidak ada sosok Dimas di sampingnya.


"Sayang, biar Bunda antar Raisya ke kamar mandi ya," ujar Mentari dengan menggandeng Raisya menuju kamar mandi.


Semuanya sudah menunggu dengan harap-harap cemas ketika Mentari membantu Raisya menggunakan alat tes kehamilan, karena sebelumnya Raisya belum pernah menggunakan alat seperti itu.


Ketika Mentari dan Raisya ke luar dari dalam kamar mandi, keduanya terlihat menangis karena tidak mengira jika saat ini Raisya tengah hamil.


"Bunda, Raisya, kenapa kalian menangis?" tanya Fajar dengan menghampiri Raisya dan Mentari.


"Yah, kita akan segera menjadi Kakek dan Nenek," jawab Mentari dengan tersenyum sekaligus menitikkan airmata.


"A_apa? Jadi Raisya hamil?" tanya Fajar mencoba memastikan pendengarannya.


"Iya Yah, Raisya hamil," jawab Raisya dengan memeluk tubuh Fajar.


"Nona Raisya, saya benar-benar minta maaf karena sebelumnya tidak tau identitas Nona Raisya yang sebenarnya. Saya mohon jangan pecat saya dari Angkasa Grup, saya janji tidak akan membocorkan tentang kehamilan Nona Raisya kepada siapa pun."


Raisya yang mengerti maksud perkataan Arumi, secara perlahan melangkahkan kakinya mendekati Arumi.


"Kenapa kamu mengganti panggilan kamu terhadapku? Bukannya kamu biasa memanggilku dengan sebutan perempuan ja*lang? Kemana perginya Arumi yang selalu bersikap angkuh dan sombong?" tanya Raisya.


"Ma_maaf Nona, sebelumnya saya tidak tau identitas Nona Raisya. Semoga Nona mau memaafkan kesalahan saya. Saya berjanji akan merahasiakan tentang aib Nona yang telah hamil di luar nikah," ucap Arumi.


Plak


Tamparan keras mendarat pada pipi Arumi, karena Raisya tidak terima dengan perkataan Arumi yang sudah mengatakan jika dirinya telah hamil di luar nikah.


"Tadinya aku berniat untuk memaafkan kesalahan kamu yang sebelumnya, tapi ternyata mulut kamu masih belum belajar juga dan masih suka berbicara seenaknya tanpa mengetahui yang sebenarnya. Bayiku punya Ayah, dan aku tidak hamil di luar nikah, karena aku sudah memiliki Suami," tegas Raisya.


"A_apa?" ucap Arumi dengan menutup mulutnya.

__ADS_1


"Kamu tau Dimas Putra Angkasa kan? Kalau tidak salah, dia adalah sosok lelaki yang selalu kamu puja-puja. Asal kamu tau, bahwa dia adalah Suami sekaligus Ayah dari bayi yang aku kandung."


Arumi semakin terkejut mendengar fakta tentang Raisya yang tengah hamil Anak Dimas, tubuhnya terasa lemas, sampai akhirnya Arumi menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.


"Nona Raisya, sekali lagi saya minta maaf, saya berjanji tidak akan lancang berbicara yang tidak-tidak lagi tentang Nona Raisya," ucap Arumi.


Raisya menghela nafas panjang. Sebelumnya Raisya juga memang salah karena telah menyembunyikan identitasnya dari Karyawan lain, sehingga membuat semuanya salah paham.


"Nak, kalau memang Raisya ingin memecat Arumi, Raisya pecat saja. Semua keputusan ada di tangan Raisya," ucap Fajar.


"Yah, sebelumnya Raisya juga sudah salah karena telah menyembunyikan identitas Raisya dari Karyawan lain, sehingga mereka jadi salah paham terhadap Raisya. Akan tetapi, selama ini Arumi sudah banyak melakukan kesalahan. Arumi selalu bertindak semena-mena terhadap Karyawan lain, apalagi terhadap Karyawan baru."


"Lalu apa keputusan yang akan Raisya ambil?" tanya Fajar.


"Selama Raisya bekerja di Angkasa grup, Raisya sudah bisa menilai kinerja semua staf administrasi, dan Raisya ingin Arumi turun jabatan dari Sekretaris menjadi staf administrasi biasa."


Fajar terlihat berpikir, karena selama ini Fajar memang tidak terlalu membutuhkan Sekretaris, apalagi semua pekerjaannya sudah dihandle oleh Asisten Zain, ditambah ada Raisya yang selalu membantu menyelesaikan semua pekerjaannya.


"Ayah memang tidak terlalu membutuhkan Sekretaris, karena semua pekerjaan Ayah sudah dihandle oleh Asisten Zain, apalagi Raisya selalu membantu pekerjaan Ayah, tapi kemarin Sekretaris Rasya mengundurkan diri karena hamil, apa tidak sebaiknya kita mengambil Sekretaris baru untuk Rasya?"


Arumi sudah tersenyum bahagia, karena Arumi mengira jika dirinya akan pindah tugas menjadi Sekretaris Rasya.


"Saya bersedia menjadi Sekretaris Tuan Rasya," ucap Arumi tanpa tahu malu.


"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang Alea yang akan menjadi Sekretaris Kak Rasya," ujar Raisya.


"Terimakasih banyak Nona Raisya, saya pasti akan bekerja lebih baik lagi," ucap Arumi dengan terus mengembangkan senyuman.


"Arumi, kamu sepertinya kebanyakan berkhayal. Apa barusan kamu tidak dengar jika yang aku rekomendasikan menjadi Sekretaris Kak Rasya adalah Alea bukan kamu," ujar Raisya.


Senyuman Arumi hilang seketika, karena harapannya untuk mendekati Rasya pupus lah sudah.


Tidak, aku tidak bisa menerima semua ini. Aku harus mengadu sama Papa dan Mama, karena aku tidak rela jika Alea si gadis kampung menjadi Sekretaris lelaki yang aku taksir, ucap Arumi dalam hati.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2