
Fajar, Mentari dan Raisya telah sampai di salah satu Klinik Dokter kandungan, tapi Raisya terlihat murung ketika masuk ke dalam ruang periksa.
"Silahkan berbaring Nyonya," ujar Perawat dengan membantu Raisya untuk berbaring.
Setelah Dokter mengoleskan gel pada perut Raisya, secara perlahan Dokter mulai menggerakkan alat USG
"Dok, Apa benar Anak kami tengah hamil?" tanya Mentari mencoba memastikan.
"Benar Bu. Selamat ya, usia kandungan calon Bunda sudah memasuki minggu keenam," ucap Dokter.
Mentari dan Fajar tersenyum bahagia mendengar berita kehamilan Raisya, sedangkan Raisya langsung menitikkan airmata, apalagi ketika melihat layar komputer, karena saat ini di dalam perutnya terdapat buah cintanya dengan Dimas.
Nak, sehat-sehat terus ya di dalam perut Bunda. Meski pun sekarang Ayah tidak ada di samping kita, tapi Bunda yakin jika suatu saat nanti Ayah dan Kakak Al akan kembali untuk berkumpul bersama kita, batin Raisya dengan menahan sesak dalam dadanya.
"Nak, Raisya baik-baik saja kan?" tanya Mentari ketika melihat Raisya menangis.
"Raisya baik-baik saja Bunda. Ini adalah airmata bahagia, karena Raisya masih tidak menyangka jika di dalam perut Raisya sudah tumbuh buah cinta Raisya dengan Kak Dimas," jawab Raisya dengan tersenyum.
Mentari dan Fajar tau betul jika semua itu pasti berat untuk Raisya, karena Raisya harus hamil tanpa sosok Suami yang mendampinginya.
"Nak, meski pun saat ini Dimas tidak ada di samping Raisya, tapi kami akan selalu ada untuk Raisya. Jadi, Raisya jangan pernah merasa sendirian ya," ucap Fajar dengan mengelus lembut kepala Raisya.
Fajar dan Mentari memeluk tubuh Raisya untuk memberikannya kekuatan, dan Raisya yang sudah tidak bisa menahan airmatanya, akhirnya menumpahkan tangisannya dalam pelukan Fajar dan Mentari.
"Makasih banyak Ayah, Bunda. Raisya sangat beruntung karena bisa memiliki orangtua sebaik Ayah dan Bunda."
"Sudah seharusnya kami selalu ada untuk Anak-anak kami," ucap Fajar dengan menitikkan airmata juga.
Setelah Dokter menuliskan resep beberapa obat dan vitamin, Mentari dan Fajar kembali menggandeng Raisya untuk ke luar dari ruang periksa.
"Sayang, Bunda sama Raisya tunggu di sini dulu ya, biar Ayah yang mengantri obat," ucap Fajar, kemudian melangkahkan kakinya untuk mengantri obat.
Lukman yang juga tengah mengantri obat setelah mengantar Viona memeriksakan kandungan, begitu terkejut ketika melihat Fajar berada di belakangnya.
Kenapa Fajar bisa ada di sini? Gawat kalau dia sampai melihatku, apalagi jika Fajar tau kalau Viona adalah Istriku dan tengah hamil Anakku, ucap Lukman dalam hati yang tengah memikirkan cara supaya bisa menghindar dari Fajar dan keluarga.
Lukman terbesit ide untuk menelpon Anak buahnya supaya menggantikannya mengantri obat, beruntung sebelumnya Viona sudah dia suruh menunggu di parkiran.
Setelah Anak buahnya datang, Lukman meminjam topi milik Anak buahnya, kemudian Lukman bergegas ke luar dari antrian.
"Syukurlah Fajar tidak melihatku," gumam Lukman tanpa menyadari jika dari tadi Mentari melihat ke arahnya.
"Nak Lukman, kenapa bisa ada di sini?" tanya Mentari yang melihat Lukman berada di hadapannya.
Degg
Lukman begitu terkejut ketika melihat Mentari dan Raisya.
"Ta_nte, Raisya," ucap Lukman dengan lirih.
__ADS_1
"Kenapa Nak Lukman melihat kami seperti melihat hantu saja?" tanya Mentari dengan tersenyum.
"Saya hanya tidak menyangka jika kita bisa bertemu di sini," jawab Lukman yang terlihat salah tingkah.
"Siapa yang hamil? Apa Istri Nak Lukman?" tanya Mentari.
"Bu_bukan Tante, mana mungkin seperti itu, saya kan belum menikah. Tadi ada salah satu Karyawan yang pingsan karena tengah hamil muda, makanya saya membawa Karyawan tersebut memeriksakan kandungannya ke sini, soalnya saya merasa kasihan, karena kebetulan Suaminya sedang berada di luar kota," ujar Lukman yang terlihat gelagapan.
"Nak Lukman baik sekali. Pasti suatu saat nanti Nak Lukman akan menjadi Suami dan Ayah yang baik," puji Mentari, dan Lukman hanya nyengir kuda mendengar pujian dari Mentari.
"Oh iya, apa Tante sedang hamil juga?" tanya Lukman.
"Bukan Tante yang hamil, Tante kan sudah tua, tapi Raisya yang hamil, dan sebentar lagi Tante akan menjadi Nenek," jawab Mentari dengan tersenyum bahagia.
Wajah Lukman seketika berubah menjadi pucat, karena usaha Lukman untuk mendekati Raisya pasti akan lebih sulit jika Raisya hamil Anak Dimas.
"A_apa?" gumam Lukman.
Tidak, tidak mungkin Raisya hamil Anak Dimas. Padahal aku sudah berhasil menyingkirkan Dimas dan keturunannya, kenapa sekarang Raisya malah hamil Anak Dimas? Aku harus bagaimana? Batin Lukman kini bertanya-tanya.
"Nak Lukman baik-baik saja kan?" tanya Mentari.
"Eh iya Tante, saya baik-baik saja. Kalau begitu saya duluan," ujar Lukman yang masih terlihat bingung.
......................
Di tempat lain, semua peserta meeting merasa kagum dengan presentasi Alea, karena Alea menjelaskan semuanya secara rinci dan mudah dipahami.
"Semoga kerjasama kali ini berjalan dengan lancar. Selamat Tuan Rasya, Anda memiliki Sekretaris yang hebat, dan kami sangat puas dengan presentasinya," ucap klien Rasya yang bernama Pak Anton.
"Terimakasih banyak Tuan, saya juga tidak menyangka jika Alea bisa melakukan presentasi dengan baik, padahal Alea baru pertama kali melakukannya," ucap Rasya dengan terus mengembangkan senyuman.
Atasan Pak Anton yang sebelumnya pernah bertemu dengan Alea saat berkunjung ke rumahnya, tidak menyangka jika Alea lebih berbakat dibandingkan dengan Arumi.
"Bukannya Alea ini adalah Anaknya Tuan Wisnu Wardana ya?" tanya Pak Sopian.
"Benar Tuan," jawab Alea dengan tersenyum serta menganggukkan kepalanya.
"Sebelumnya saya pernah berkunjung ke rumah Tuan Wisnu untuk membicarakan perjodohan Anak-anak kami. Untung saja saya belum memilih antara Arumi dan Alea yang akan dijodohkan dengan Riko, karena ternyata Alea lebih pintar dan cantik dibanding dengan Arumi. Sepertinya nanti saya akan membuat keputusan untuk menjodohkan Riko dengan Alea saja," ujar Pak Sopian.
Degg
Alea dan Rasya terkejut ketika mendengar perkataan Pak Sopian, karena Alea tidak menyangka jika dirinya akan dijodohkan dengan Anak Pak Sopian, padahal Alea masih belum siap untuk menikah. Sedangkan Rasya merasa heran dengan perasaannya, karena tiba-tiba Rasya merasa tidak rela ketika mendengar Alea akan dijodohkan dengan lelaki lain.
Kenapa rasanya aku tidak rela ketika mendengar Alea akan dijodohkan dengan Anaknya Tuan Sopian, batin Rasya yang merasa gelisah.
"Maaf Tuan, tapi saya sudah memiliki kekasih," ujar Alea yang mencari alasan supaya Pak Sopian berubah pikiran.
"Yang sudah menikah saja bisa bercerai, apalagi yang baru pacaran. Sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan untuk Riko mendapatkan Alea," ujar Pak Sopian dengan terkekeh.
__ADS_1
Rasya semakin gelisah mendengar perkataan Pak Sopian, padahal sebelumnya Rasya tidak pernah merasakan hal seperti ini terhadap seorang perempuan.
"Sepertinya Tuan Sopian harus mengurungkan niat untuk menjodohkan Anak Tuan dengan Alea, karena kebetulan Calon Suami Alea adalah Saya," ujar Rasya, sontak saja semua yang berada di sana merasa terkejut ketika mendengar pernyataan Rasya, begitu juga dengan Alea yang tidak menyangka jika Rasya akan mengaku sebagai Calon Suami nya.
"Maaf Tuan Rasya, saya pikir Calon Suami Alea bukan Tuan Rasya. Sepertinya Anak saya juga tidak akan menang apabila bersaing dengan Tuan Rasya," ujar Pak Sopian yang merasa malu terhadap Rasya.
"Tidak apa-apa Tuan, yang penting Tuan Sopian tidak lagi berusaha untuk menjodohkan Alea dengan Anak Tuan, karena saya tidak akan membiarkan calon Istri saya di ambil oleh lelaki lain," ujar Rasya dengan merangkul bahu Alea.
Deg deg deg
Jantung keduanya berpacu cepat, karena baru kali ini Alea dan Rasya begitu dekat dengan lawan jenis.
"Tuan Rasya tenang saja. Saya pasti tidak akan berani merebut Alea dari Tuan Rasya. Kalian juga pasangan yang sangat serasi. Semoga hubungan Alea dan Tuan Rasya sampai ke jenjang pernikahan."
"Amin," ucap Alea dan Rasya secara bersamaan, keduanya bahkan tidak menyadari jika mereka telah mengaminkan perkataan Tuan Sopian.
"Kalian memang benar-benar pasangan yang cocok dan kompak," puji Pak Anton sehingga membuat Alea dan Rasya terlihat salah tingkah.
Sebaiknya aku segera pamit pulang. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung jika terus berada di dekat Alea, ucap Rasya dalam hati.
"Tuan Anton, Tuan Sopian, kalau begitu kami pamit dulu. Sayang, sebaiknya sekarang kita langsung pulang saja ya, kasihan kamu pasti kecapean," ujar Rasya dengan menggenggam erat tangan Alea.
Setelah ke luar dari ruang meeting, Alea tiba-tiba angkat suara.
"Tuan, kita sudah berada di luar. Jadi, Tuan tidak perlu berakting lagi. Terimakasih banyak ya, karena Tuan Rasya sudah berkenan membantu saya. Saya tidak menyangka jika Tuan Rasya ternyata sangat pandai berakting. Pasti Anda akan mendapatkan penghargaan seandainya berprofesi sebagai Aktor," cerocos Alea.
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Rasya dengan mencondongkan wajahnya mendekati wajah Alea.
"Tu_tuan mau apa?" tanya Alea yang terlihat gugup, Alea juga reflek memejamkan matanya, karena mengira jika Rasya akan menciumnya.
Pletak
Rasya tiba-tiba menyentil dahi Alea.
"Kenapa merem? Apa kamu pikir aku bakalan nyium kamu?" tanya Rasya dengan tertawa.
Alea merasa malu dan terlihat salah tingkah, tapi baru kali ini Alea melihat Rasya tertawa, dan Rasya terlihat lebih tampan.
Ternyata kulkas dua pintu kalau tertawa lebih tampan ya, ucap Alea dalam hati.
"Ma_mana mungkin seperti itu, saya cuma kaget saja," ujar Alea dengan mempercepat langkahnya.
"Alea tunggu. Kamu ngaku saja, barusan kamu muji aku tampan kan?" teriak Rasya dengan mengejar Alea.
"Tuan Rasya gak usah kepedean, mana mungkin seperti itu," ujar Alea yang terus menghindari Rasya karena merasa malu, apalagi Rasya terus saja menggodanya.
*
*
__ADS_1
Bersambung