
Mentari menitipkan Raisya terlebih dahulu kepada Bu Rima yang saat ini masih berada di dalam kamar perawatan Ratu, karena Mentari mau melihat apakah Rasya dan mendiang Angga sudah selesai melakukan operasi atau belum.
"Bu, titip Raisya dulu ya, Mentari mau melihat Rasya sudah selesai operasinya atau belum."
"Iya Nak, Mentari tenang saja, Ibu bakalan jagain Raisya. Apa Stella mau ikut sama Mentari? biar Ibu yang jagain Ratu," ujar Bu Rima.
"Stella gak sanggup kalau harus melihat jenazah Kak Angga Bu, Stella juga mau menghubungi pihak kepolisian dulu supaya mengijinkan Mommy untuk menghadiri pemakaman Kak Angga nanti."
"Ya sudah kalau begitu Kakak keluar dulu ya, Stella yang tabah, kasihan Bang Angga kalau kita terus berlarut-larut dalam kesedihan," ucap Mentari, kemudian keluar dari kamar perawatan Ratu setelah mengucapkan Salam.
Mentari langsung menghampiri Fajar yang masih duduk di depan ruang operasi.
"Yah, operasinya belum selesai ya?" tanya Mentari yang ikut duduk di samping Fajar.
"Belum Bunda, mungkin sebentar lagi," jawab Fajar.
"Ayah sebaiknya makan dulu, biar Bunda yang nunggu di sini," ujar Mentari.
"Nanti aja sayang, Ayah gak bakalan tenang kalau operasinya belum selesai," ucap Fajar.
"Oh iya, Ayah makan roti dulu aja, kebetulan tadi Bunda bawa cemilan buat Anak-anak."
"Eng_," ucapan Fajar terhenti karena saat ini Mentari memasukan roti ke dalam mulutnya.
"Sayang gak usah, nanti aja," ucap Fajar dengan mengunyah roti.
"Pokoknya Bunda gak mau tau, Ayah harus makan rotinya sampai habis," ujar Mentari dengan terus memasukan roti ke dalam mulut Fajar, kemudian memberikan sebotol air mineral setelah roti nya habis.
"Makasih ya sayang," ucap Fajar dengan menggenggam tangan Mentari, kemudian bersandar di pundaknya.
"Harusnya Bunda yang bilang terimakasih, karena Ayah selalu ada pada saat kami butuhkan," ujar Mentari dengan mengelus kepala Fajar, sampai akhirnya Fajar tertidur di bahu Mentari.
"Kasihan, Ayah sampai ketiduran, pasti karena semalaman kurang tidur," gumam Mentari.
__ADS_1
Satu jam kemudian, secara perlahan Fajar membuka matanya.
"Sayang, maaf ya Ayah ketiduran, pasti bahu Bunda terasa pegal," ucap Fajar, kemudian memijit pelan bahu Mentari.
"Udah Yah gak apa-apa, kasihan Ayah pasti ngantuk banget sampai ketiduran," ujar Mentari.
"Operasinya belum selesai ya?" tanya Fajar yang masih melihat lampu di atas pintu ruang operasi menyala.
"Mungkin sebentar lagi Yah," ucap Mentari, dan benar saja beberapa saat kemudian lampu di depan ruang operasi pun padam.
Mentari dan Fajar sudah harap-harap cemas menunggu Rasya yang keluar dari ruang operasi.
Beberapa saat kemudian, Perawat terlihat membuka pintu ruang operasi, Fajar dan Mentari akhirnya bisa melihat Rasya yang masih belum sadar dari pengaruh obat bius, dan sesaat kemudian Mentari juga melihat jenazah Angga yang sudah tertutup oleh kain penutup jenazah.
Tiba-tiba kain penutup wajah Angga tertiup oleh angin sehingga Mentari dan Fajar bisa melihat wajah Angga yang pada bagian matanya sudah ditutupi oleh kain kasa.
Mentari langsung menyembunyikan wajahnya dan menangis dalam pelukan Fajar, karena ia tak kuasa melihat wajah lelaki yang pernah mengisi hari-harinya.
"Bunda yang sabar ya, sekarang Angga sudah tenang di alam sana, kita sebaiknya kirim do'a untuk almarhum Angga dan segera mengurus kepulangan jenazah supaya bisa segera dimakamkan," ucap Fajar.
Perawat akhirnya membawa jenazah Angga menuju kamar mayat untuk memandikannya, sedangkan Rasya di pindahkan ke ruang perawatan yang sama dengan Ratu, supaya Mentari bisa bergantian menjaganya dengan Bu Rima dan Stella, karena Fajar akan mengurus pemakaman Angga dan membawanya terlebih dahulu ke Mesjid yang berada di sebelah rumah mereka untuk dishalatkan.
Rasya dan Mentari kini telah berada di kamar perawatan Ratu, dan sebelumnya Mentari sudah membicarakan semuanya dengan Stella dan Bu Rima.
"Alhamdulillah, akhirnya operasinya berjalan dengan lancar," ucap Bu Rima dan Stella yang melihat Rasya sudah selesai di operasi.
"Stella, apa Bu Sandra sudah dikasih tau tentang meninggalnya Bang Angga?" tanya Mentari.
"Sudah Kak, tapi kata Polisi Mommy langsung pingsan saat mendengarnya, jadi Mommy belum bisa melihat jenazah Bang Angga," jawab Stella.
"Bu Sandra pasti merasa syok mendengar Bang Angga yang meninggal secara tiba-tiba," ujar Mentari.
"Iya Kak, apalagi Mommy selalu merasa berdosa karena telah menghancurkan pernikahan Kak Angga dan Kak Mentari," ujar Stella.
__ADS_1
"Sekarang kita harus bisa ikhlasin semuanya, dan do'akan supaya Bang Angga mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya," ujar Mentari yang di Amini oleh Bu Rima dan Stella.
"Masalah umur memang tidak ada yang tau, semoga saja kita semua meninggal dengan Khusnul khatimah," ucap Bu Rima.
"Iya Bu, Amin," ucap Mentari dan Stella.
......................
Fajar saat ini sudah selesai mengurus administrasi kepulangan jenazah Angga, dan Fajar langsung saja membawa jenazah Angga menggunakan Ambulance, karena Pak Supri telah Fajar suruh untuk pulang terlebih dahulu supaya bisa mempersiapkan tempat untuk Shalat Jenazah, serta pemakaman Angga.
"Angga, terimakasih karena telah memberikan Amanah kepadaku, aku pasti akan menyayangi serta membesarkan Rasya dan Raisya seperti Anak kandungku sendiri," gumam Fajar yang saat ini berada di samping Jenazah Angga.
Setelah sampai di Mesjid yang berada di sebelah rumah Fajar, Jenazah Angga langsung dishalatkan, karena kebetulan sudah banyak warga yang berkumpul di sana termasuk Pak Hasan, karena Pak Hasan ingin mengantarkan Angga menuju tempat peristirahatan terakhirnya, sehingga menitipkan Rayna supaya dijaga oleh Karyawan toko nya.
"Assalamu'alaikum Pak," ucap Fajar pada saat bertemu dengan Pak Hasan, kemudian mencium punggung tangan Mertuanya tersebut.
"Wa'alaikumsalam Nak," jawab Pak Hasan, lalu memeluk Fajar.
Pak Hasan selalu merasa beruntung karena mendapatkan Menantu seperti Fajar, yang selalu menganggap Mertua sebagai orangtua kandung sendiri.
"Bagaimana sekarang keadaan Rasya?" tanya Pak Hasan.
"Alhamdulillah, Rasya sudah selesai di operasi Pak, dan kita tinggal menunggu hasilnya setelah Rasya dibuka perbannya satu minggu ke depan," jawab Fajar.
"Alhamdulillah, semoga Rasya bisa segera melihat dengan kornea mata pemberian Angga," ujar Pak Hasan yang di Amini oleh Fajar.
Setelah selesai dishalatkan, Jenazah Angga kini dibawa ke Tempat Pemakaman Umum yang tidak jauh dari rumah Fajar.
Mommy Sandra dan Stella ternyata sudah berada di sana dengan didampingi oleh Polisi.
Mommy Sandra langsung menangis histeris pada saat melihat Jenazah Angga dikeluarkan dari mobil Ambulance.
"Angga, maafin Mommy Nak, bangun Nak, jangan tinggalin Mommy sayang," teriak Mommy Sandra yang meronta-ronta ingin menggapai Jenazah Angga, tapi Stella memeluk tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
"Mommy yang sabar ya, kita harus ikhlasin Kak Angga supaya Kak Angga tenang di alam sana," ujar Stella.
Pada saat Mommy Sandra melihat Jenazah Angga dimasukan ke dalam liang lahat, Mommy Sandra pun kembali pingsan.