Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 65 ( Tertabrak mobil )


__ADS_3

Bu Rima langsung menjerit karena tinggal beberapa meter lagi truk akan menabrak Raisya dan Jingga, tapi tiba-tiba Raisya yang tidak bisa berjalan pun langsung berlari menuju Bu Rima dan Bu Rima langsung memeluk nya, sehingga hanya Jingga yang tertabrak mobil truk.


Brugh


Jingga terpental jauh kemudian tergeletak di tengah jalan dengan berlumuran darah dari sekujur tubuhnya.


"Jingga," teriak Bu Rima yang melihat Jingga tertabrak di depan mata kepalanya sendiri.


Semua orang kini berkerumun melihat Jingga yang sudah tidak sadarkan diri.


"Tolong panggil Ambulance, tolong bawa Anak saya ke Rumah Sakit," teriak Bu Rima dengan menangis histeris.


Beberapa saat kemudian, Ambulance pun datang, Bu Rima dan Raisya akhirnya ikut naik ke dalam mobil Ambulance untuk mengantar Jingga ke Rumah Sakit.


Jingga saat ini dibawa ke IGD, Bu Rima yang sadar jika saat ini berada di Rumah Sakit yang sama dengan tempat Rasya di rawat pun akhirnya berlari membawa Raisya menuju kamar perawatan Rasya.


Bu Rima yang ketakutan langsung saja membuka pintu kamar perawatan Rasya tanpa mengucapkan Salam.


"Ibu kenapa?" tanya Mentari yang melihat Bu Rima hanya diam saja.


"Sayang, sebaiknya bawa Ibu duduk dulu," ucap Fajar, kemudian membawa Raisya dari gendongan Bu Rima.


Penampilan Bu Rima saat ini terlihat acak-acakan sehingga membuat Mentari dan Fajar merasa cemas.


"Ibu minum dulu," ujar Mentari dengan memberikan segelas air kepada Bu Rima.


Setelah Bu Rima minum, Bu Rima merasa lebih tenang, dan Bu Rima langsung memeluk tubuh Mentari.


"Mentari, Jingga_Jingga_ tertabrak mobil," ujar Bu Rima dengan suara terbata.


"Innalillahi, bagaimana kejadiannya Bu?" tanya Mentari.

__ADS_1


"Maafin Ibu karena tidak bisa menjaga Raisya, tadi saat Ibu mau pergi ke Pasar, Raisya maksa ingin ikut dengan Ibu, saat Ibu memilih sayuran, Ibu mendudukkan Raisya di meja kosong yang berada di samping tukang sayuran, Ibu tidak sadar kalau Raisya telah dibawa oleh Jingga." ujar Bu Rima dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Ibu tenang dulu, Ibu bicaranya pelan-pelan saja, Ibu lihat Raisya baik-baik saja kan, jadi Ibu jangan merasa bersalah," ujar Mentari.


"Ibu tadi melihat Raisya dan Jingga jatuh di tengah jalan dan sudah hampir tertabrak mobil truk, tapi tiba-tiba pada saat Ibu memanggil Raisya, Raisya berlari ke arah Ibu, dan hanya Jingga yang pada akhirnya tertabrak truk."


"Ibu gak salah lihat kan? Raisya tidak bisa berjalan Bu," ujar Mentari yang saat ini perasaannya campur aduk antara sedih karena mendengar Jingga tertabrak truk, dan tidak percaya jika Raisya bisa berlari, padahal jangankan untuk berlari berjalan saja Raisya tidak bisa.


"Raisya sayang, emang bener tadi Raisya bisa lari?" tanya Fajar.


"Iya, tadi Raisya lari karena denger suara Nenek manggil Raisya," jawab Raisya.


"Kalau begitu sekarang Ayah pengen lihat Raisya berjalan," ujar Fajar, kemudian menurunkan Raisya.


Raisya kini telah berdiri, kemudian Raisya secara perlahan berjalan menghampiri Mentari.


Mentari yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat pun langsung menangis memeluk tubuh Raisya.


Bu Rima kembali menangis karena baru sadar kalau Raisya sudah bisa berjalan.


"Ternyata di balik musibah yang Allah SWT berikan, ada hikmah yang tersembunyi. Alhamdulillah Ya Allah, karena telah memberikan kesembuhan kepada kedua Cucu hamba," ujar Bu Rima, yang langsung memeluk Raisya.


Rasya yang baru bangun tidur dan melihat Raisya sudah bisa berjalan pun langsung tersenyum bahagia.


Sesaat kemudian, Mentari tiba-tiba kepikiran dengan kondisi Jingga yang saat ini masih berada di ruang IGD.


"Bu, Mentari titip Anak-anak dulu ya, biar Mentari dan Mas Fajar yang mengurus semua administrasi Kak Jingga."


"Maaf ya Nak, Ibu sudah merepotkan kalian," ujar Bu Rima yang merasa tidak enak terhadap Mentari, padahal selama hidupnya Jingga sudah berbuat jahat kepada Mentari.


"Ibu tidak boleh berbicara seperti itu, bagaimanapun juga Kak Jingga adalah Kakak kandung Mentari, jadi semua itu sudah kewajiban Mentari sebagai Adiknya."

__ADS_1


"Tapi selama ini Jingga sudah banyak berbuat salah kepada Mentari," ujar Bu Rima.


"Setiap orang pasti mempunyai kesalahan Bu, jadi apa salahnya kita memberikan kesempatan untuk Kak Jingga supaya mau bertaubat," ujar Mentari.


"Sungguh mulia sekali hatimu Nak, Ibu bangga memiliki Anak seperti Mentari."


"Dan Mentari lebih bangga karena memiliki orangtua seperti Ibu dan Bapak, karena Mentari tidak akan mungkin bisa menjadi seperti sekarang kalau bukan berkat didikan Ibu dan Bapak yang sudah membesarkan Mentari dengan penuh kasih sayang. Kalau begitu Mentari berangkat sekarang ya Bu, Rasya dan Raisya jangan ngerepotin Nenek ya," ujar Mentari, kemudian keluar dari kamar perawatan Rasya dan Raisya setelah sebelumnya Mentari dan Fajar mengucapkan Salam.


Fajar langsung saja menggandeng Mentari, karena Fajar tidak ingin jauh-jauh dari istri tercintanya, sehingga Fajar selalu menempel terus kayak perangko.


"Yah, gak apa-apa kan kalau kita bantuin Kak Jingga?" tanya Mentari yang terlebih dahulu menanyakan pendapat Fajar. Sebenarnya dari tadi Mentari ingin bertanya terlebih dahulu kepada Suaminya sebelum ia mengambil keputusan, sebab Mentari takut jika Fajar masih membenci Jingga karena Jingga adalah penyebab kematian Dewi yaitu Kakaknya Fajar.


"Sayang, meskipun Jingga adalah penyebab kematian Kak Dewi, Ayah pasti akan selalu mendukung Bunda selama itu untuk kebaikan, karena bagaimanapun juga kita tidak dapat memungkiri kalau Jingga adalah Kakak kandung Bunda."


"Makasih ya Yah, karena Ayah selalu mendukung semua keputusan Bunda, Ayah sudah menjadi Suami dan Ayah yang baik, pokoknya Ayah yang paling terbaik," ujar Mentari kemudian mencium pipi Fajar. Mentari tidak ingat jika saat ini mereka berdua sedang berjalan di tempat umum, sehingga Fajar langsung tersenyum, karena Mentari belum menyadarinya.


"Lho, kenapa Ayah senyum-senyum sendiri?" tanya Mentari dengan heran.


"Bunda lihat saja di sekeliling kita, banyak orang kan?" ucap Fajar, dan Mentari langsung bersembunyi pada dada bidang Fajar, karena saat ini dia benar-benar merasa malu dengan perbuatannya.


"Untung saja cuma pipi, bagaimana kalau yang Bunda cium bibir Ayah, pasti lebih malu lagi," sindir Fajar.


"Kok Ayah gak ngasih tau Bunda sih."


"Udah gak usah malu, kita juga Suami istri, kalau nyium Suami oranglain baru gak boleh, tapi kalau cium Suami sendiri kan ibadah," ujar Fajar.


"Tapi tetep aja malu dilihatin semua orang, jadi kelihatan banget kalau Bunda bucin sama Ayah."


"Tapi pada kenyataannya Ayah yang bucin bucin bucin banget sama Bunda. Kita udah sampai sayang, yuk duduk dulu, daritadi Bunda ngumpet terus kayak habis maling aja," sindir Fajar kemudian membawa Mentari untuk duduk di sampingnya.


"Iya habis maling ciuman," ujar Mentari dengan tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2