
Rasya tersenyum ketika mendengar isi hati Alea, tapi Rasya tidak mau membuat Alea malu, sehingga Rasya memutuskan untuk diam apabila Alea tidak mengajaknya mengobrol.
"M_mas Rasya," ucap Alea.
"Apa?" tanya Rasya.
"Terimakasih banyak atas semuanya," ucap Alea dengan tulus.
"Semua itu sudah seharusnya aku lakukan, jadi kamu jangan terlalu banyak berpikir. Oh iya, apa kamu memiliki keinginan atau membeli sesuatu?" tanya Rasya.
Alea menggelengkan kepalanya, karena selama ini Alea sudah terbiasa memenuhi semua keinginannya sendiri tanpa meminta dari orang lain.
"Kamu ingin mas kawin apa?" tanya Rasya lagi.
"Apa pun yang Mas Rasya berikan, Alea akan menerimanya dengan senang hati."
"Alea, aku tau jika selama ini kamu tidak pernah bergantung kepada oranglain, kamu juga hanya mengandalkan diri sendiri untuk mewujudkan keinginanmu. Akan tetapi, sekarang sudah ada aku yang akan terus berusaha ada untukmu. Aku juga akan berusaha untuk mewujudkan semua keinginan kamu jika memang aku mampu. Apabila memang ada sesuatu yang kamu inginkan, kamu jangan sungkan mengatakannya kepadaku," ujar Rasya.
Alea selalu merasa haru dengan sikap yang ditunjukan oleh Rasya dan keluarganya, tapi Alea takut jika dirinya sampai lupa daratan apabila bergantung terhadap oranglain.
"Hanya kata terimakasih yang bisa saya ucapkan, karena menjadi bagian dari keluarga Mas Rasya adalah kebahagiaan yang paling besar dalam hidup saya," ucap Alea yang selalu merasa bersyukur.
Setelah sampai di tempat parkir, Alea memutuskan untuk masuk terlebih dahulu ke dalam perusahaan, karena Alea takut ada orang yang mengetahui jika dia berangkat ke kantor bersama Rasya.
"Sepertinya Cinderella sudah bangun dari mimpinya," sindir Arumi ketika melihat Alea berjalan melewatinya.
Alea tidak menghiraukan perkataan Arumi sehingga membuat Arumi merasa geram.
Arumi bangun dari tempat duduknya, kemudian Arumi mencengkram kuat lengan Alea.
"Apa sekarang kamu sudah menjadi tuli?" teriak Arumi.
"Aku tidak ada waktu untuk meladeni orang seperti kamu. Lepaskan tanganku, karena di sini tempat untuk bekerja, bukan tempat untuk ribut," ujar Alea dengan menghempaskan tangan Arumi.
"Sepertinya sekarang kamu sudah memiliki keberanian untuk melawanku? Heh perempuan kampung, jangan mentang-mentang Rasya selalu melindungi kamu, kamu merasa mampu untuk melawanku. Kamu juga jangan kebanyakan bermimpi bisa mendapatkan Rasya, karena Rasya hanya akan menjadi milik ku," tegas Arumi dengan tersenyum licik.
__ADS_1
Rasya yang diam-diam melihat perlakuan Arumi terhadap Alea, rasanya ingin sekali menghampiri keduanya untuk memberikan pelajaran kepada Arumi, tapi Rasya takut tidak bisa mengendalikan dirinya, dan malah membongkar semuanya. Akan tetapi, Rasya merasa senang karena sekarang Alea sudah tidak terlihat takut ketika berhadapan dengan Arumi.
"Terserah apa katamu, aku sama sekali tidak peduli. Silahkan saja kamu lakukan semua yang kamu bisa, tapi aku tidak yakin jika kamu akan mendapatkannya," ujar Alea dengan tersenyum mengejek.
Syukurlah sekarang Alea sudah terlihat lebih berani. Sebaiknya aku memindahkan meja kerja Alea ke dalam ruangan ku. Dengan begitu aku akan lebih tenang karena bisa mengawasinya, ucap Rasya dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Rasya datang menghampiri Alea dan Arumi dengan membawa Anak buahnya. Kemudian Rasya memerintahkan Anak buahnya supaya memindahkan meja Alea ke dalam ruangannya.
"Alea, mulai sekarang kamu kerja di dalam ruangan saya, supaya kita lebih gampang untuk berdiskusi. Jika kamu terus duduk di sini, aku takut ada Nenek sihir yang terus berusaha mengganggu kamu," ujar Rasya dengan tertawa kecil.
Alea sebenarnya merasa risih jika harus berada dalam satu ruang kerja dengan Rasya, tapi Alea tidak mungkin melawan perintah atasan sekaligus calon Suaminya.
"Si_siapa Nenek Sihir yang Tuan Rasya maksud?" tanya Arumi dengan tergagap.
"Siapa lagi kalau bukan kamu?" jawab Rasya dengan ekspresi wajah yang dingin.
Mata Arumi membulat sempurna ketika mendengar Rasya memanggilnya dengan sebutan Nenek Sihir.
"Oh iya aku lupa. Nenek Sihir, mulai sekarang kamu jangan pernah menggangu Cinderella ku," ujar Rasya dengan menarik lembut tangan Alea untuk masuk ke dalam ruang kerja mereka.
......................
Setelah selesai meeting, Fajar meminta waktu kepada Papa Wisnu untuk membicarakan tentang rencana pernikahan Alea dan Rasya.
"Tuan Wisnu, apa bisa saya meminta waktunya?" tanya Fajar.
"Tentu saja Tuan," jawab Papa Wisnu, kemudian mengurungkan niatnya untuk ke luar dari ruang meeting.
"Sebenarnya saya ingin membicarakan tentang rencana pernikahan Rasya dan Alea," ucap Fajar.
"Ja_jadi Tuan Rasya serius dengan Alea? Bahkan sampai berniat untuk menikahi nya?" tanya Papa Wisnu yang pada awalnya mengira jika Rasya tidak berniat serius terhadap Alea.
"Tentu saja Rasya serius terhadap Alea, apalagi Alea adalah perempuan pertama yang sudah berhasil mencuri hati Rasya," ujar Fajar.
"Maaf Tuan, saya kira sebelumnya Tuan Rasya tidak memiliki niat untuk menikahi Putri saya, karena saya rasa Alea tidak pantas untuk Tuan Rasya yang hebat."
__ADS_1
"Sepertinya Anda belum mengetahui kemampuan Alea, bahkan kemarin Alea berhasil mendapatkan proyek besar dari Abadi Grup saat pertama kali melakukan presentasi," ujar Fajar sehingga membuat Papa Wisnu semakin merasa terkejut.
Papa Wisnu sama sekali tidak menyangka jika Alea begitu hebat, padahal Abadi grup termasuk salah satu perusahaan yang susah untuk di ajak kerjasama.
"Tuan Wisnu. Anda pasti mengetahui tentang peraturan perusahaan yang tidak memperbolehkan Suami istri bekerja dalam satu perusahaan, apalagi Alea adalah Sekretaris Rasya."
"Apa Anda ingin meminta Alea supaya mengundurkan diri?"
"Tadi pagi kami sudah mendiskusikannya, dan Rasya akan tetap mengijinkan Alea melanjutkan kuliah dan bekerja setelah mereka menikah, karena itu adalah impian Alea. Meski pun pada kenyataannya Alea akan memenuhi semua permintaan Rasya, tapi Rasya tidak ingin memaksakan kehendaknya terhadap Alea," jelas Fajar.
Papa Wisnu tertegun mendengar penjelasan dari Fajar, karena beliau tidak mengira jika keluarga Fajar sama sekali tidak keberatan bahkan mendukung semua keinginan Alea.
"Tuan, terimakasih banyak karena semuanya sudah mendukung Alea. Sebagai seorang Ayah, seharusnya saya yang selalu ada untuk Putri saya, tapi semua itu tidak pernah saya lakukan," ujar Papa Wisnu dengan menitikkan airmata, karena beliau sangat menyesali perbuatannya di masalalu.
"Sekarang masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Anda tidak perlu mengkhawatirkan kebahagiaan Alea, karena sebentar lagi Alea akan menjadi bagian dari keluarga kami, dan kami pasti akan menyayangi serta melindunginya dari orang-orang yang memiliki niat jahat terhadap Alea, termasuk Anak dan Istri Anda."
Papa Wisnu merasa malu karena Fajar sudah mengetahui aib dalam rumah tangganya, tapi Papa Wisnu merasa bahagia karena Alea akan memiliki keluarga yang menyayanginya.
"Terimakasih banyak atas semua kebaikan Tuan dan Keluarga. Jadi, apa rencana Tuan supaya Alea masih bisa bekerja di Angkasa Grup?"
"Kami sudah sepakat jika untuk sementara waktu akan merahasiakan pernikahan Alea dan Rasya dari semua orang, mungkin sampai Alea benar-benar siap untuk berhenti bekerja. Apa Tuan Wisnu tidak keberatan dengan rencana kami? Karena saat ini kami belum bisa mengadakan resepsi pernikahan untuk Alea dan Rasya," ujar Fajar.
Papa Wisnu terlihat berpikir, meski pun hati kecilnya menginginkan semua orang mengetahui pernikahan Putrinya, tapi saat ini kebahagiaan Alea lebih penting, apalagi Papa Wisnu tau betul jika Alea pasti tidak menginginkan pesta pernikahan.
"Jika memang itu keinginan Alea, saya tidak akan merasa keberatan, dan saya pasti akan mendukungnya, karena yang terpenting adalah kebahagiaan Alea."
Fajar dan Papa Wisnu sudah sepakat untuk menikahkan Alea dan Rasya besok, karena kebetulan besok libur kerja, dan Papa Wisnu juga sudah menyetujui permintaan Fajar supaya merahasiakan pernikahan Alea dan Rasya dari Arumi dan Mama Bela.
Semoga saja setelah menikah dengan Rasya, Alea menemukan kebahagiaan, karena selama ini aku bukanlah Ayah yang baik, bahkan aku tidak pernah ada untuk Putri kandungku sendiri, ucap Papa Wisnu dalam hati yang selalu merasa bersalah terhadap Alea.
*
*
Bersambung
__ADS_1