
Hilman terus mendesak Miranda untuk meminum jus mangga buatannya sendiri sehingga membuat Miranda semakin merasa bingung dan terpojok.
"Ma, Lukman percaya kalau Mama tidak mungkin memiliki niat untuk mencelakai Anak dan Istri Lukman. Sebaiknya sekarang Mama minum saja jus mangga nya, supaya Hilman merasa puas dan tidak mencurigai Mama lagi."
Sebaiknya aku minum saja jus mangga ini, tadi juga Viona tidak langsung ingin buang air besar. Aku hanya perlu menahan rasa mulasnya saja sampai Hilman dan Ratu pulang, ucap Miranda dalam hati.
Ketika Miranda hendak meminum jus mangga yang saat ini sudah berada dalam genggaman tangannya, tiba-tiba Viona ke luar dari dalam kamar untuk menghentikan Miranda, apalagi sebelumnya perut Viona tidak terlalu sakit, karena sebenarnya Viona sudah tau rencana Miranda untuk mengerjai Ratu, makanya Viona tidak mau di bawa ke Rumah Sakit.
"Tunggu, Mama jangan sampai meminum jus mangganya, dan Mama tidak perlu membuktikan apa pun, karena bisa saja Ratu juga sudah mencampur obat pencahar ke dalam jus mangga milik Mama," teriak Viona.
Semua yang berada di sana terkejut ketika mendengar perkataan Viona, dan sekarang Miranda bisa bernafas lega karena dia tidak harus meminum jus yang akan membuatnya sakit perut.
Syukurlah, Viona datang tepat waktu. Anak itu memang bisa di andalkan, batin Miranda dengan mengelus dada nya.
"Perkataan Viona benar, bisa saja Ratu juga berniat mencelakai Mama," ujar Miranda dengan tersenyum licik.
"Ratu tidak memiliki pikiran picik seperti yang kalian tuduhkan. Jika memang maksud kalian mengundang kami datang ke sini hanya untuk mempermalukan dan menyakiti Ratu, sebaiknya lain kali kalian jangan pernah menghubungi kami lagi."
"Apa maksud kamu Hilman?" tanya Lukman.
"Jika kalian bertemu dengan kami, anggap saja kalian tidak pernah mengenal kami," jawab Hilman.
Miranda terkejut karena Hilman lebih memilih Istrinya dibandingkan dengan Ibu kandungnya sendiri.
"Jadi kamu lebih memilih Istri kamu dibandingkan dengan Ibu yang sudah melahirkan kamu ke Dunia ini?" tanya Miranda dengan nada tinggi.
"Maaf Ma, tapi Mama sendiri yang membuat Hilman mengambil keputusan seperti itu. Maafin Hilman karena Hilman bukan Anak yang berbakti, Hilman hanyalah Anak durhaka yang tidak tau membalas jasa orangtua," ucap Hilman dengan menangis.
Ratu memeluk tubuh Hilman, dan Ratu mencoba berbicara dengan Hilman, karena Ratu sama sekali tidak pernah menginginkan hubungan Hilman dengan keluarganya menjadi hancur, apalagi penyebab semua itu adalah dirinya.
"Mas, Ratu mohon tarik kata-kata Mas. Sebesar apa pun masalah yang kita hadapi, Mas harus ingat jika kita tidak boleh memutuskan tali silaturahmi, apalagi dengan keluarga sendiri," ucap Ratu dengan menatap lekat wajah Hilman.
Miranda yang mendengarkan perkataan Ratu bukannya sadar, tapi Miranda semakin merasa geram dengan sikap Ratu yang menurutnya hanya pura-pura baik.
__ADS_1
"Kamu tidak usah sok suci Ratu. Apa kamu pikir kami akan bersimpati sama kamu jika kamu membela kami? Hilman juga menjadi berubah semenjak bertemu dengan kamu. Dasar Menantu Benalu tidak tahu malu. Apa sekarang kamu puas karena sudah berhasil menghancurkan keluarga kami?" teriak Miranda.
Ketika Miranda hendak melayangkan tamparan kepada Ratu, Hilman bergegas mencegahnya dengan mencekal pergelangan tangan Miranda.
"Cukup Ma, jangan membuat Hilman semakin membenci Mama," tegas Hilman dengan airmata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Kamu sudah benar-benar dibutakan oleh cinta Hilman. Kamu bahkan masih percaya terhadap perempuan ja*lang yang memiliki niat untuk mencelakai keluarga kamu sendiri," ujar Miranda yang merasa kecewa karena rencana untuk memisahkan Ratu dan Hilman gagal lagi.
"Ma, meski pun Hilman tidak bisa membuktikan jika Ratu tidak bersalah, tapi ada Tuhan yang melihat setiap perbuatan Ummat-Nya, karena Tuhan tidak pernah tidur," ucap Hilman sebelum membawa Ratu untuk ke luar dari rumah Miranda.
Miranda sebenarnya merasa takut dengan perkataan Hilman yang sudah membawa nama Tuhan, tapi Miranda mencoba bersikap tenang supaya tidak ada yang curiga dengan perbuatan yang telah dilakukan olehnya.
"Hilman, jika saat ini kamu lebih memilih untuk melangkahkan kaki kamu ke luar dari rumah ini, maka jangan harap kamu bisa masuk lagi ke dalam rumah ini. Anggap saja Ibu yang sudah melahirkan kamu sudah mati !!" teriak Miranda, tapi Hilman tidak menghentikan langkahnya, bahkan Hilman tidak menoleh sedikit pun untuk melihat Miranda.
Ratu tau jika semua itu berat untuk Hilman, dan Ratu mencoba menghentikan langkah Hilman supaya tidak menyesali perbuatannya yang sudah melawan keluarga demi Ratu.
"Mas_" perkataan Ratu terhenti karena Hilman langsung memotongnya.
"Ratu, ini sudah menjadi pilihan Mas, karena mereka sendiri yang memaksa Mas untuk melakukan semua itu. Mulai sekarang kita tidak perlu lagi mengurusi kehidupan mereka," ucap Hilman dengan menahan sesak dalam dadanya.
Di kediaman Fajar dan Mentari, saat ini semuanya tengah berkumpul untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.
"Sayang, Alea makan yang banyak ya," ucap Mentari dengan menambahkan lauk ke dalam piring Alea.
"Terimakasih banyak Bunda," ucap Alea dengan tersenyum sekaligus menitikkan airmata, karena Alea selalu merasa terharu dengan sikap Mentari dan keluarganya.
Apa seperti ini rasanya diperhatikan oleh seorang Ibu? Ucap Alea dalam hati.
Rasya yang mendengar isi hati Alea selalu merasa kasihan, dan Rasya benar-benar memiliki niat untuk membahagiakan Alea, sampai akhirnya Rasya memberanikan diri untuk bertanya tentang jawaban Alea atas lamarannya.
"Alea, apa kamu sudah melakukan Shalat Istikharah?" tanya Rasya dengan malu-malu.
"Sepertinya Kak Rasya sudah tidak sabar ingin menikahi Alea," celetuk Raisya.
__ADS_1
"Sebenarnya semalam Alea sudah melaksanakan Shalat Istikharah," jawab Alea yang terlihat malu-malu juga.
"Lalu, bagaimana jawabannya?" tanya Rasya dengan harap-harap cemas.
Mentari dan Fajar saling berpandangan, karena mereka tidak menyangka jika Rasya yang pemalu dan irit bicara sampai memberanikan diri untuk menanyakan keputusan Alea di hadapan semua keluarga.
Alea terdengar membaca Basmalah sebelum menjawab pertanyaan Rasya.
"Insyaallah Alea bersedia menikah dengan Tuan Rasya," ucap Alea.
Rasya rasanya tidak dapat berkata apa-apa lagi. Meski pun Rasya belum memiliki perasaan cinta untuk Alea, tapi saat ini dirinya merasa begitu bahagia ketika mendengar jawaban dari Alea.
"Alea, semoga nanti kamu tidak menyesali keputusan kamu ya. Kamu harus tau, Kak Rasya itu suka ngorok kalau lagi tidur, Kak Rasya juga susah sekali dibangunin," ujar Raisya yang sengaja menggoda Rasya.
"Raisya, bisa-bisanya kamu menjatuhkan image Kakak di depan Kakak ipar kamu," ujar Rasya yang merasa gemas terhadap Raisya.
"Apa benar seperti itu?" tanya Alea yang ikut menggoda Rasya juga.
"Tidak mungkin seperti itu, kamu jangan percaya perkataan Raisya, dia sengaja berkata seperti itu supaya kamu merasa ilfil sama aku," ujar Rasya yang mencoba membela diri.
"Sayang sekali kalau semua itu tidak benar, padahal aku juga suka mendengkur dan susah dibangunin," ujar Alea dengan tertawa kecil.
Rasya merasa terkejut karena tidak mengira jika Alea akan berkata seperti itu, padahal biasanya seorang gadis tidak akan mengatakan kekurangannya di depan calon Suaminya, apalagi Alea mengatakan semua itu di depan keluarga Rasya.
Alea benar-benar berbeda dari gadis lain, ucap Rasya dalam hati.
"Alea, terimakasih karena kamu sudah bersedia menerima lamaran Kak Rasya. Kak Rasya beruntung bisa mendapatkan kamu, dan kamu harus tau, jika kamu juga beruntung bisa mendapatkan Kak Rasya, karena di Dunia ini kamu tidak akan pernah menemukan lelaki yang lebih baik dari Kak Rasya. Kak Rasya adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab selain Ayah dan Kak Dimas," ucap Raisya dengan menitikkan airmata.
"Aku tau itu, karena bertemu dengan kalian adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepadaku. Aku juga yakin, jika suatu saat nanti, kamu akan berkumpul lagi dengan Suami dan Anak kamu, karena tidak ada yang mustahil jika Tuhan sudah berkehendak," ucap Alea dengan memeluk tubuh Raisya.
Terimakasih Alea, terimakasih karena kamu sudah mengerti perasaanku. Semoga suatu saat nanti kebahagiaan itu akan kembali lagi, ucap Raisya dalam hati.
*
__ADS_1
*
Bersambung