Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 134 ( Nafkah pertama )


__ADS_3

Rasya yang tidak ingin orang lain mendengar teriakan Alea, secara spontan langsung membungkamnya dengan ciuman sehingga membuat Alea membulatkan matanya.


"Ma_maaf," ucap Rasya ketika melepas ciuman mereka, tapi tiba-tiba Alea mencium balik Rasya sehingga membuat keduanya lupa daratan dengan terus bertukar saliva.


Rasya dan Alea melepas pagutan mereka ketika pasokan oksigen pada keduanya sudah mulai menipis, dan keduanya terlihat salah tingkah dengan senyum senyum sendiri ketika mengingat ciuman panas yang telah mereka lakukan.


Rasya yang merasa haus sampai menenggak habis minuman yang saat ini berada di sampingnya, bahkan Rasya tidak menyadari jika yang diminum olehnya adalah jamu kuat pemberian dari Bu Rima, apalagi jamu tersebut tidak terasa pahit.


Beberapa saat kemudian, tubuh Rasya terasa panas, dan sesuatu miliknya yang saat ini berada di balik handuk sudah mulai menegang.


Kenapa tubuhku langsung bereaksi seperti ini? Sepertinya aku sudah meminum jamu kuat pemberian Nenek? Bagaimana ini, aku tidak bisa menahannya, ucap Rasya dalam hati dengan wajah yang terlihat memerah karena menahan hasratnya.


"Mas Rasya kenapa? Apa Mas kedinginan? Kalau begitu Alea ke kamar Mas dulu ya buat ambil pakaian," ujar Alea yang hendak berdiri dari duduknya, tapi tiba-tiba Rasya menarik tubuh Alea sehingga telentang di atas kasur.


"Alea, sepertinya aku sudah meminum jamu kuat pemberian Nenek, dan sekarang sesuatu di bawah sana sudah terbangun," jawab Rasya.


"Memangnya apa yang bangun?" tanya Alea yang memang masih polos.


"I_itu punyaku," jawab Rasya dengan tergagap.


"Apa boleh Alea melihatnya? Siapa tau Alea bisa membantu Mas Rasya?" tanya Alea yang masih belum mengerti perkataan Rasya.


Wajah Rasya memerah karena merasa malu ketika mendengar perkataan Alea, tapi Rasya merasa ragu untuk memperlihatkannya kepada Alea.


"Apa kamu yakin ingin melihatnya? Karena sepertinya hanya kamu yang bisa membantuku menidurkannya," ujar Rasya.


"Apa pun akan Alea lakukan untuk membantu Mas Rasya, apalagi sekarang kita sudah menjadi Suami Istri, jadi Mas Rasya jangan merasa sungkan. Kalau begitu sekarang Mas perlihatkan sesuatu yang bangun itu," ujar Alea dengan polosnya.


"Tapi kamu harus janji tidak boleh menjerit lagi," ujar Rasya, dan Alea menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Secara perlahan Rasya membuka handuk yang menutupi bagian inti tubuhnya, dan Alea langsung membulatkan mata serta menutup mulutnya ketika Rasya menunjuk sesuatu di bawah sana.


"Ja_jadi itu yang Mas Rasya maksud? Kenapa jadi besar sekali? Sepertinya tadi tidak sebesar itu," tanya Alea kemudian menutup kedua matanya.


"Kalau kamu masih belum siap. sebaiknya aku mandi air dingin saja, aku pernah mendengar jika mandi air dingin bisa membuat dia tertidur lagi," ujar Rasya.


Pada saat Rasya hendak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, Alea tiba-tiba menarik tangan Rasya hingga terjatuh di atas tubuhnya.


"Mas, Alea sudah siap melaksanakan kewajiban Alea sebagai seorang Istri," ucap Alea yang terlihat malu-malu.

__ADS_1


Rasya merasa bahagia ketika mendengar perkataan Alea, kemudian Rasya terdengar membaca Basmallah dan do'a sebelum memberikan nafkah batin untuk yang pertama kali kepada Alea.


Secara perlahan Rasya mulai menciumi setiap jengkal tubuh Alea, sampai akhirnya terdengar suara merdu Alea ketika Rasya mencium titik titik sensitif pada tubuh nya.


Saat ini Alea sudah tidak mengenakan sehelai benang pun sehingga membuat Rasya semakin bergairah.


"Mas, jangan dilihat terus, Alea malu," ucap Alea dengan menutupi gunung kembar nya menggunakan tangan.


"Kenapa harus malu, kita sudah menjadi Suami Istri, dan Mas merasa bahagia karena bisa melihat pemandangan indah yang saat ini berada di depan mata Mas," ucap Rasya yang semakin tidak bisa menahan hasrat nya.


Alea menjerit kesakitan ketika Rasya mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang Suami, dan Rasya merasa tidak tega ketika melihat Alea menitikkan air mata.


"Apa sangat sakit? Sebaiknya kita hentikan saja," tanya Rasya.


"Jangan Mas, kata orang sakitnya hanya sebentar," jawab Alea dengan malu-malu.


Semakin lama rasa sakit itu berubah menjadi rasa yang tidak bisa di ungkapkan oleh keduanya, sampai akhirnya terdengar suara dessahan dan errangan dari pasangan pengantin baru tersebut.


"Sayang, terimakasih banyak karena telah memberikan sesuatu yang paling berharga kepada Mas," ucap Rasya dengan memeluk tubuh Alea ketika keduanya selesai melakukan ritual malam pertama.


......................


Tadinya Rasya ingin membangunkan Alea untuk mengajaknya shalat subuh berjamaah, tapi Rasya merasa tidak tega ketika melihat Alea yang masih terlelap.


"Sebaiknya aku Shalat duluan saja, nanti selesai shalat baru aku bangunkan Alea," gumam Rasya, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Rasya mencoba mencari pakaian miliknya di dalam lemari yang berada di kamar tersebut, dan ternyata hampir semua pakaian Rasya sudah berada di sana, karena sebelumya Mentari sudah memindahkannya.


"Ternyata hampir semua pakaianku sudah berada di sini, pasti Bunda yang sudah memindahkannya," gumam Rasya, kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


Rasya sebenarnya tidak tega membangunkan Alea, tapi saat ini waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi.


"Sayang, bangun dulu, sebentar lagi waktu Subuh nya habis," bisik Rasya dengan mengusap lembut kepala Alea.


"Mas, maaf ya Alea bangun kesiangan. Kenapa tidak dari tadi Mas bangunin Alea?"


"Mas kasihan karena kamu pasti kecapean," ujar Rasya dengan tersenyum penuh arti sehingga membuat Alea tersenyum malu.


Alea memutuskan membalut tubuhnya dengan selimut, karena Alea tidak berhasil menemukan pakaiannya.

__ADS_1


"Awww," Alea meringis kesakitan ketika mencoba bangun dari atas ranjang.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan? Apa masih sakit?" tanya Rasya yang terlihat khawatir.


Alea merasa bahagia ketika mendapat perhatian dari Rasya, apalagi Rasya memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Iya Mas, ini masih sakit sekali."


"Maaf ya, Mas sudah membuat Alea kesakitan, kalau begitu biar Mas bantu Alea ke kamar mandi," ujar Rasya kemudian mengangkat tubuh Alea yang masih polos.


Alea menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Rasya, karena Alea merasa malu ketika Rasya kembali melihat tubuh polosnya.


"Mas, jangan dilihatin terus, Alea malu."


"Aku sudah melihat bahkan merasakannya, jadi kamu tidak perlu merasa malu seperti itu. Sebaiknya sekarang Alea mandi dulu, atau mau Mas mandiin?" goda Rasya.


"Ti_tidak perlu Mas, Alea bisa sendiri," jawab Alea dengan bergegas menutup pintu kamar mandi, dan Rasya merasa gemas melihat tingkah Istrinya tersebut.


"Sepertinya aku sudah kecanduan," gumam Rasya dengan tersenyum bahagia ketika melihat darah perawan Alea yang masih menempel di atas sprei.


Setelah selesai Shalat Subuh, Alea berniat untuk membantu Mentari memasak, tapi Rasya melarang Alea, karena Rasya merasa kasihan ketika melihat Alea yang selalu meringis kesakitan ketika menggerakkan tubuhnya.


"Mas, Alea tidak enak kalau tidak membantu Bunda memasak."


"Sayang, Bunda juga pasti mengerti, jadi Alea jangan terlalu banyak pikiran. Sebaiknya sekarang Alea tidur lagi, nanti kita sarapan di dalam kamar saja."


"Ta_tapi Alea malu."


"Lebih malu mana jika mereka melihat cara berjalan Alea yang seperti pinguin? Mereka pasti akan terus menggoda kita."


"Iya juga sih, sekarang Alea harus bagaimana?"


"Seorang Istri harus menurut pada Suaminya, atau Alea mau kita mengulang yang semalam sampai Alea tidak bisa turun dari atas kasur?" goda Rasya sehingga membuat Alea menelan saliva nya.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2