Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 62 ( Donor mata untuk Rasya )


__ADS_3

Fajar akhirnya kembali ke depan ruang ICU setelah dia selesai Sholat Subuh, dan ternyata di sana sudah ada Stella yang ingin menjenguk Angga.


"Stella kamu baik-baik saja kan?" tanya Fajar pada saat melihat Stella menangis di depan ruang ICU.


"Kenapa Kak Angga bisa sampai kecelakaan, padahal baru saja semalam kita bersama," ujar Stella.


"Semuanya sudah takdir Stella, sekarang kamu do'akan saja semoga Angga cepat sembuh," ucap Fajar.


Stella akhirnya masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat keadaan Angga.


Beberapa saat kemudian, Mentari dan kedua Anaknya sampai di Rumah Sakit, dan Mentari langsung menuju ruang ICU juga.


"Assalamu'alaikum Yah," ucap Mentari yang melihat Fajar sedang duduk di depan ruang ICU.


"Wa'alaikumsalam. Sayang kamu udah sampai, kenapa gak telpon dulu?" tanya Fajar yang langsung menggendong Raisya karena takut jika Mentari merasa kelelahan.


"Dari parkiran ke sini juga deket Yah, gak perlu naik tangga juga. Oh iya, gimana perkembangan Bang Angga?" tanya Mentari.


"Angga masih belum sadar juga karena mengalami pendarahan di otak nya, dan Dokter belum bisa berbuat apa-apa sebelum Angga sadar dari koma nya," jawab Fajar.


Stella akhirnya keluar dari ruang ICu setelah melihat keadaan Angga yang terbaring tidak berdaya, dan pada saat melihat Mentari, Stella langsung berhambur ke dalam pelukan Mentari.


"Kak, makasih ya sudah datang ke sini. Stella tidak tau kalau tidak ada kalian yang bantu, karena saat ini Stella sudah tidak punya siapa-siapa lagi," ujar Stella dengan menangis dalam pelukan Mentari.


"Kamu yang sabar ya Stella, sekarang kita terus berdo'a semoga Bang Angga cepat sadar," ujar Mentari dengan mengelus punggung Stella.


"Kenapa cobaan bertubi-tubi datang menghampiri keluarga kami, padahal baru saja kemarin Stella dan Kak Angga mengantarkan Mas David ke tempat peristirahatan terakhirnya. Pada saat semalam Kak Angga pamit untuk pulang, entah kenapa kata-kata Kak Angga seperti orang yang tidak akan bertemu lagi. Stella takut kalau Kak Angga juga pergi ninggalin Stella Kak."


"Kita tidak bisa melawan takdir Stella, kita harus ikhlas menerima semua yang terjadi dalam kehidupan kita, karena mungkin itu yang terbaik untuk kita," ujar Mentari.


"Kak, maafin keluarga Stella ya yang sudah membuat Kakak menderita, kami benar-benar menyesali semuanya."

__ADS_1


"Sebelum kamu meminta maaf, Kakak sudah memaafkan kalian, jadi kamu jangan terlalu banyak pikiran ya. Oh ya gimana keadaan Ratu sekarang?" tanya Mentari.


"Alhamdulillah Ratu sekarang sudah baikan, untung saja ada Bu Rima yang membantu Stella untuk menjaga Ratu. Kalau begitu Stella kembali ke ruangan Ratu dulu ya Kak, maaf kalau Stella sudah merepotkan," ucap Stella, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar perawatan Ratu.


Dokter saat ini memeriksa keadaan Angga, dan kondisi Angga semakin kritis. Namun, Angga terus menyebut nama Rasya dan Raisya, sehingga Dokter menemui Mentari.


"Maaf, apa Tuan keluarga Pasien yang bernama Angga?" tanya Dokter kepada Fajar.


"Iya Dok, bagaimana keadaan Angga sekarang?" tanya Fajar.


"Saat ini keadaan Pasien semakin kritis, tapi barusan dia memanggil nama Rasya dan Raisya, apa di sini ada yang bernama Rasya dan Raisya?" tanya Dokter.


"Ini Rasya dan Raisya Dok, mereka berdua adalah Anak kandung Pasien," jawab Fajar.


"Sebaiknya Bapak dan Ibu bawa Rasya dan Raisya untuk bertemu dengan Pak Angga, karena mungkin ini untuk terakhir kalinya mereka bisa bertemu dengan Ayahnya," ucap Dokter yang mempersilahkan Mentari dan keluarganya untuk masuk ruang ICU.


"Bunda, Om ganteng sakit apa?" tanya Raisya.


Angga secara perlahan membuka matanya, dan dia tersenyum pada saat melihat kedua Anaknya yang saat ini berada di sampingnya.


"Rasya, Raisya maafin Ayah Nak," ucap Angga dengan suara lirih.


"Mentari, Fajar, terimakasih atas semuanya. Maaf jika selama ini aku telah banyak melakukan kesalahan kepada kalian," ucap Angga.


"Bang, jangan memaksakan diri untuk bicara, kami sudah memaafkan serta melupakan semuanya, jadi Abang jangan terlalu banyak pikiran ya, yang penting saat ini Abang bisa segera sembuh," ujar Mentari.


"Mentari, waktu Abang sudah tidak banyak lagi, tolong kabulkan permintaan terakhir Abang. Jika Abang meninggal, donorkan mata Abang untuk Rasya, supaya dia bisa melihat Dunia ini," ujar Angga.


Mentari dan Fajar meneteskan airmata mendengar perkataan Angga.


"Rasya, Raisya, Ayah sayang kalian," ucap Angga dengan suara yang semakin lemah.

__ADS_1


"Nak, coba Rasya dan Raisya panggil Ayah kepada Ayah Angga," ucap Fajar.


Rasya dan Raisya akhirnya memanggil Angga dengan sebutan Ayah untuk yang pertama kalinya sebelum Angga menghembuskan nafas terakhirnya.


"Ayah," teriak Rasya dan Raisya dengan menangis memeluk Angga, dan Angga sempat tersenyum sebelum akhirnya menutup mata.


Dokter yang melihat alat pendeteksi jantung Angga terhenti pun langsung menyuruh Suster untuk mencatat waktu kematian Angga.


"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ucap Mentari dan Fajar dengan menggendong kembali Rasya dan Raisya.


"Tuan dan Nyonya, sesuai keinginan terakhir Pasien, kami akan langsung melakukan operasi donor mata untuk Rasya," ujar Dokter, kemudian menyuruh Perawat untuk mempersiapkan ruang operasi.


Rasya akhirnya melakukan operasi donor mata dengan Fajar yang terus menunggu di depan ruang operasi, karena Mentari meminta ijin kepada Fajar untuk memberitahukan tentang kematian Angga kepada Stella dan Bu Rima dengan membawa Raisya bersamanya.


Mentari masuk ke dalam kamar Perawatan Ratu, setelah sebelumnya Mentari mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum Bu, Stella," ucap Mentari.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Rima dan Stella.


"Kak, gimana sekarang keadaan Kak Angga?" tanya Stella yang saat ini duduk di samping Mentari, sedangkan Bu Rima langsung menggendong Raisya untuk melihat Ratu yang baru bangun.


"Stella yang sabar ya, Bang Angga sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya," jawab Mentari dengan memeluk tubuh Stella yang langsung menangis.


"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ucap Bu Rima dan Stella secara bersamaan.


"Stella tidak pernah menyangka jika semalam adalah malam terakhir Stella bersama Kak Angga. Maafin Stella Kak, karena selama Kak Angga hidup, Stella hanya bisa nyusahin Kakak," ujar Stella yang menyesali semuanya.


"Kamu jangan berkata seperti itu Stella, Bang Angga sangat menyayangi keluarganya, jadi dia tidak pernah merasa terbebani oleh kalian," ujar Mentari.


"Bang Angga dan Rasya saat ini sedang melakukan operasi, karena keinginan terakhir Bang Angga adalah mendonorkan matanya untuk Rasya," sambung Mentari.

__ADS_1


"Semoga semuanya berjalan dengan lancar ya Kak, Kak Angga selalu berkata jika dia menyesal karena belum bisa memberikan apa pun untuk Anaknya, dan mungkin hanya itu yang bisa Kak Angga lakukan untuk Rasya," ujar Stella yang lagi-lagi harus mencoba untuk ikhlas karena mendapatkan cobaan secara bertubi-tubi dengan kehilangan orang-orang yang disayanginya.


__ADS_2