Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 93 ( Rasya yang bijak )


__ADS_3

Rayna mencoba untuk mengetuk pintu Panti Asuhan, dan Ibu panti yang bernama Nani langsung saja membukanya.


"Assalamu'alaikum Bu," ucap Rayna.


"Wa'alaikumsalam, maaf apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Nani.


"Bu, apa di sini membutuhkan bantuan? saya sebenarnya tidak punya tempat tinggal," jawab Rayna dengan tertunduk sedih.


"Maaf ya Neng, saat ini kami sedang kekurangan dana, jadi tidak bisa mempekerjakan orang lagi," ujar Bu Nani.


"Ibu tidak perlu membayar saya, yang penting saya bisa mendapatkan makan dan tempat tinggal. Saya saat ini sedang hamil muda, dan saya lupa membawa dompet saat pergi dari rumah," ujar Rayna.


Bu Nani yang merasa iba terhadap Rayna akhirnya mengijinkan Rayna untuk tinggal di Panti Asuhan.


"Kalau begitu, Neng boleh tinggal di sini, tapi maaf jika tempatnya kurang nyaman, dan kami tidak bisa memberikan gaji," ujar Bu Nani.


"Tidak apa-apa Bu, yang penting saya bisa makan saja itu sudah lebih dari cukup. Perkenalkan Nama saya Rayna Bu," ujar Rayna dengan mengulurkan tangannya.


"Kalau saya Bu Nani, dan masih ada satu lagi pengurus Panti yang bernama Bu Tati. Kalau begitu silahkan masuk, saya harap Rayna betah tinggal di tempat sederhana ini," ujar Bu Nani dengan menjabat uluran tangan Rayna, kemudian menggandeng tangan Rayna untuk masuk ke dalam Panti.


"Terimakasih banyak ya Ibu sudah mau menerima saya untuk tinggal di sini, insyaallah saya akan membantu pekerjaan Ibu sebisa mungkin," ujar Rayna yang sedikit bernapas lega karena sudah mendapatkan tempat untuk tinggal."


"Sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling membantu," ujar Bu Nani dengan merangkul tubuh Rayna yang terlihat rapuh.


......................


Dimas saat ini sudah kebingungan mencari keberadaan Rayna, sampai akhirnya Dimas memutuskan pergi ke rumah Mentari terlebih dahulu untuk menemui Rasya, karena Rasya belum mengetahui kalau Ayahnya masuk Rumah Sakit.


Setelah Dimas mengucap salam, Rasya mengajak Dimas untuk masuk, dan Rasya begitu terkejut melihat keadaan Dimas yang berantakan.

__ADS_1


"Kak Dimas kenapa bajunya sampai acak-acakan gitu, Kak Dimas baik-baik saja kan? apa Kak Dimas sedang ada masalah dengan Kak Rayna?" tanya Rasya


Dimas beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab pertanyaan Rasya.


"Rasya, Kak Dimas sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, dan saat ini Kak Dimas tidak tau harus bagaimana."


"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, Kakak bisa mengadukan semua masalah yang Kakak punya kepada Sang Pencipta, insyaallah Kakak pasti akan mendapatkan jalan keluarnya, yang penting kita sudah berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang telah kita buat, dan hasil akhirnya kita hanya bisa pasrah," ujar Rasya yang selalu bijak dalam berbicara.


"Terimakasih banyak atas sarannya ya Sya, selama ini Kakak terlalu sibuk memikirkan masalah di Dunia, sampai-sampai Kakak melupakan kewajiban Kakak sebagai seorang Muslim," ujar Dimas dengan tertunduk sedih, karena dia sangat menyesali semuanya.


"Kalau boleh Rasya tau, masalah apa yang saat ini sedang Kakak hadapi?"


"Kakak dan Rayna ternyata adalah Kakak beradik satu Ayah, jadi pernikahan yang sudah kami lakukan secara Agama tidak Sah."


"Astagfirullah, kenapa bisa seperti itu Kak? Rasya juga baru tau sekarang dari Kak Dimas."


"Kakak juga baru tau tadi dari Ayah kamu."


"Om Fajar syok pada saat mendengar Kakak dan Rayna yang sudah menikah secara siri, sampai akhirnya Om Fajar pingsan dan dibawa ke Rumah Sakit karena terkena serangan jantung."


"Innalillahi...kalau begitu sekarang kita berangkat ke Rumah Sakit ya Kak, Rasya khawatir dengan keadaan Ayah."


"Kamu tenang saja, Om Fajar sekarang sudah baik-baik saja, bahkan tadi Ayah kamu sudah memarahi Kak Dimas."


Rasya yang mendengar perkataan Dimas langsung mengerutkan dahinya, pasalnya selama ini Rasya tidak pernah melihat Fajar marah.


"Kok bisa, padahal selama ini Rasya tidak pernah melihat Ayah marah."


"Bahkan kalau Om Fajar tidak sakit, tadi Om Fajar bilang mau menghajar Kakak."

__ADS_1


"Kakak pasti menyinggung tentang Raisya kan? soalnya setahu Rasya kalau udah menyinggung masalah Raisya, Ayah pasti tidak akan tinggal diam saja. Selama ini Raisya kan Putri kesayangan Ayah."


Aku gak mungkin kan cerita sama Rasya kalau Om Fajar marah karena mengetahui pada saat aku melakukan hubungan dengan Rayna aku sudah ngebayangin wajah Raisya, ucap Dimas dalam hati.


"Udah gak usah bilang juga Rasya udah tau isi hati Kak Dimas barusan."


"Eh iya, Kak Dimas lupa kalau kamu bisa mengetahui isi hati seseorang, tapi Kak Dimas benar-benar mencintai Raisya, dan Kak Dimas baru menyadarinya setelah menikah dengan Rayna."


"Jelas saja Ayah marah, Rasya juga kalau begitu ceritanya bakalan marah juga sama Kak Dimas."


"Jangan dong, kalau semuanya marah, siapa yang bakalan dukung Kak Dimas buat dapetin cinta Raisya."


"Lagian salah sendiri, segala sesuatu itu seharusnya jangan terlalu diputuskan dengan terburu-buru, Kak Dimas sih saat menikahi Kak Rayna terlalu cepat mengambil keputusan, padahal saat itu Kak Rayna hanya Kak Dimas jadikan pelarian saja. Sekarang nyesel sendiri kan, tapi bagaimanapun juga bayi yang berada dalam kandungan Kak Rayna tidak berdosa walaupun nanti bakalan bingung juga harus manggil Kak Dimas dengan sebutan Om atau Ayah," ujar Rasya.


Dimas nampak tertegun dengan perkataan Rasya, karena semuanya memang begitu adanya.


"Kalau begitu kamu bantu Kak Dimas mencari Rayna ya, karena saat ini dia sudah pergi dari rumah," ujar Dimas dengan merangkul tubuh Rasya.


"Apa, jadi Kak Rayna minggat dari rumah Kak Dimas? situasinya semakin rumit saja, bisa-bisa Kak Dimas dihajar beneran sama Ayah."


"Bantuin Kak Dimas dong, Kak Dimas gak tau harus cari Rayna kemana lagi, dia juga sepertinya gak mungkin pulang ke rumah Nek Rima kan."


Rasya nampak berpikir, dia tau betul sifat Rayna dari semenjak mereka masih kecil karena mereka tumbuh bersama.


"Kak Rayna tidak mungkin pulang ke rumah Kakek dan Nenek, pasti dia sudah memutuskan untuk pergi jauh dari sini. Ya sudah sebaiknya sekarang kita ke Rumah Sakit saja dulu, biar nanti kita cari Kak Rayna kalau Rasya sudah melihat kondisi Ayah."


Dimas ingin meminta kepada Rasya supaya tidak mengatakan apa pun tentang Rayna kepada Fajar dan Mentari, karena Dimas takut kalau Fajar akan semakin murka. Akan tetapi, belum juga Dimas bicara, Rasya sudah terlebih dahulu angkat suara.


"Kak Dimas jangan meminta Rasya untuk berbohong, karena jujur akan lebih baik daripada berbohong tapi menyakitkan. Karena sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai, cepat atau lambat bakalan kecium juga," ujar Rasya sehingga Dimas mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Kak Dimas kagum sama kamu, meskipun usia kamu masih muda, tapi pemikiran Rasya sudah lebih dewasa dibandingkan dengan Kak Dimas."


"Usia bukan tolak ukur seseorang bisa bersikap dewasa Kak, karena pemikiran setiap orang itu berbeda-beda," ujar Rasya.


__ADS_2