Menantu Benalu 2

Menantu Benalu 2
Bab 118 ( Raisya pingsan )


__ADS_3

Aira merasa bingung ketika mendengar pertanyaan Dimas, karena faktanya bagi Aira pekerjaan memang lebih penting, apalagi Arka bukan Anak kandungnya.


Aku tidak mungkin menjawab jika pekerjaan lebih penting dari pada keluarga, karena Dimas pasti akan marah dan menganggap jika aku bukanlah Ibu yang baik, tapi pada kenyataannya Arka memang bukan Anakku, dan aku hanya mencintai Dimas, ucap Aira dalam hati.


"Mas, di Dunia ini tidak ada yang lebih penting dari kalian berdua. Mas tau, kalau dari dulu aku yang selalu mengejar-ngejar Mas, karena Mas tidak pernah mau melirik ku, tapi sekarang aku sangat bersyukur karena Mas Aksa sudah menjadi milikku," ujar Aira dengan tersenyum ketika membayangkan masalalunya saat mengejar Dimas.


"Jika kami berarti untukmu, kenapa kamu tidak mau berhenti bekerja demi kami?"


"Mas, menjadi seorang Dokter adalah cita-citaku, dan aku tidak mudah untuk sampai di posisi saat ini. Aku juga sudah bekerja keras untuk menggapai cita-citaku. Aku mohon pengertiannya," ujar Aira dengan tatapan memohon.


Dimas menghela nafas panjang, karena pada kenyataannya Dimas tidak bisa memaksa Aira untuk berhenti bekerja.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku tidak akan memaksa kamu untuk berhenti bekerja lagi. Sebelum kita mendapatkan baby suster, biar aku saja yang merawat Arka," ujar Dimas.


"Terimakasih banyak ya sayang, Mas Aksa memang yang terbaik. Nanti kalau kita sudah mendapatkan baby suster untuk merawat Arka, Mas Aksa bisa langsung bekerja di perusahaan milik Temanku," ujar Aira dengan memeluk tubuh Dimas, tapi lagi-lagi Dimas merasa tidak nyaman dan langsung melepaskan pelukan Aira.


"Seharusnya aku yang berterimakasih, karena selama aku sakit, aku sudah merepotkan mu. Kalau begitu aku ke kamar dulu untuk menidurkan Arka," ujar Dimas yang sengaja menghindari Aira, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Dimas, sekarang kamu masih bisa menolakku, tapi aku tidak yakin kamu masih bisa menolakku apabila nanti kamu meminum ini," gumam Aira dengan tersenyum licik, ketika melihat botol kecil yang berisi obat perangsang.


......................


Sejak bekerja di Angkasa Grup, Raisya hanya memiliki satu Teman yang bernama Alea, karena staf yang lain sudah termakan hasutan Arumi, sehingga mereka tidak mau dekat-dekat dengan Raisya.


Setiap hari, Raisya dan Alea selalu makan siang bersama. Mereka juga lebih memilih membawa bekal dari rumah, apalagi akhir-akhir ini tubuh Raisya selalu merasa lemas dan mudah sekali kecapean.


"Alea, kenapa kamu masih mau berteman denganku? Apa kamu tidak mendengar gosip yang beredar, jika aku bukan perempuan baik-baik?" tanya Raisya.


"Untuk apa kita memperdulikan perkataan oranglain, yang penting kita tidak seperti yang mereka katakan, dan aku percaya jika kamu tidak mungkin seperti itu. Lagian aku juga tidak memiliki Teman selain kamu, karena Arumi juga sudah menghasut Karyawan lain supaya tidak mau menjadi Temanku. Jadi, aku bisa merasakan bagaimana rasanya dikucilkan," jawab Alea.


"Kenapa Arumi melakukan semua itu? Apa kamu membuatnya merasa kesal?"

__ADS_1


"Sepertinya kamu belum tau kalau aku dan Arumi adalah saudara satu Ayah," ujar Alea dengan tersenyum.


"Apa? Jadi kamu dan Arumi Adik Kakak? Tapi kenapa kalian tidak pernah akur?"


"Arumi selalu menganggap mendiang Ibuku sebagai perusak rumah tangga orangtuanya, padahal kenyataannya sebelum Papa menikah dengan Mamanya Arumi, Papa adalah pacar Mama aku, tapi Mama Arumi yang merebutnya dengan menjebak Papa. Setelah Papa menikah dengan Mamanya Arumi, Papa memutuskan untuk menikahi Mama juga, karena saat itu Mama tengah hamil aku."


"Jadi Mama kamu sudah meninggal dunia?"


"Iya. Mama meninggal dunia ketika melahirkan aku ke Dunia ini. Sejak saat itu aku dibesarkan oleh Nenek, tapi beberapa tahun yang lalu, Nenek meninggal dunia juga, sampai akhirnya, Papa menjemput ku supaya aku bisa kuliah sambil bekerja di Angkasa Grup," ujar Alea dengan menitikkan airmata ketika mengingat jika dirinya sudah kehilangan dua orang yang sangat berarti di dalam kehidupannya.


"Kamu yang sabar ya, aku yakin jika suatu saat nanti, kamu akan mendapatkan kebahagiaan," ujar Raisya dengan memeluk tubuh Alea.


"Terimakasih banyak Raisya, kamu adalah Teman pertama yang aku miliki," ucap Alea dengan menangis bahagia.


"Kamu tidak perlu merasa sungkan, kamu bisa menganggap aku sebagai saudara, kebetulan aku tidak memiliki saudara perempuan," ujar Raisya, dan Alea tiada hentinya mengucapkan terimakasih serta bersyukur karena memiliki sahabat sebaik Raisya.


Ketika Alea dan Raisya selesai makan siang, tiba-tiba Raisya merasakan gejolak hebat pada perutnya, Raisya merasa mual dan langsung berlari untuk memuntahkan isi perutnya.


Alea yang merasa khawatir, menyusul Raisya ke kamar mandi, kemudian Alea memberikan minyak kayu putih, juga memijit pelan tengkuk leher Raisya.


"Aku juga tidak tau, kepalaku tiba-tiba pusing, aku merasa mual dan ingin muntah. Apa mungkin aku masuk angin," jawab Raisya.


"Kalau begitu aku akan mengantar kamu ke klinik," ujar Alea dengan membantu Raisya berjalan.


Setelah berada di luar kamar mandi, tubuh Raisya semakin merasa lemas, dan Raisya yang sudah tidak kuat lagi akhirnya pingsan, untung saja Alea berhasil menopang tubuh Raisya.


"Tolong, tolong," teriak Alea untuk meminta bantuan, dan beberapa saat kemudian, Rasya dan Fajar yang baru pulang meeting dari luar kantor, merasa terkejut melihat Raisya yang sudah dalam keadaan pingsan.


"Sayang, bangun sayang," ujar Fajar yang terlihat panik, begitu juga dengan Rasya.


"Alea, kenapa dengan Raisya?" tanya Rasya.

__ADS_1


"Saya juga tidak tau Tuan, tadi setelah kami selesai makan, Raisya tiba-tiba merasa mual, kemudian berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya."


Arumi yang mendengar perkataan Alea langsung saja angkat suara.


"Sepertinya Raisya hamil deh," ujar Arumi, sontak saja perkataan Arumi membuat semua orang yang berada di sana membicarakan Raisya, karena mereka mengira jika Raisya masih belum menikah.


"Rasya, bantu Ayah membawa Raisya ke Klinik," ujar Fajar, kemudian Fajar dan Rasya menggotong Raisya ke Klinik perusahaan.


Alea yang merasa khawatir kepada Raisya, memutuskan untuk ikut ke Klinik, sedangkan Arumi terbesit ide jahat untuk mengadukan tentang Raisya kepada Mentari.


"Sekarang sudah waktunya aku membalas dendam kepada si ja*lang Raisya. Sebaiknya aku segera menelpon Tante Mentari dan mengatakan jika Raisya sudah menggoda Anak dan Suaminya, aku juga harus mengatakan tentang kondisi Raisya yang kemungkinan besar tengah hamil Anak Tuan Fajar," gumam Arumi dengan tersenyum licik.


Mentari yang mendapatkan kabar dari Arumi tentang seorang perempuan yang menggoda Anak dan Suaminya, bergegas menuju kantor untuk membuktikan perkataan Arumi. Apalagi sejak Raisya bekerja di Angkasa Grup, Raisya tidak pernah mengatakan apa pun tentang kelakuan Fajar dan Rasya saat berada di perusahaan, jadi Mentari tidak percaya begitu saja ketika Arumi mengadukan kelakuan Fajar dan Rasya yang sudah berselingkuh.


Semua Karyawan terkejut ketika melihat kedatangan Mentari, apalagi Mentari langsung menghampiri Arumi yang sudah terlihat menunggu kedatangannya.


"Arumi, dimana perempuan yang kamu bilang sudah mengganggu Suami dan Anak saya? Sekarang juga saya ingin bertemu dengan perempuan itu," ujar Mentari.


"Kebetulan barusan perempuan itu pingsan, dan kemungkinan besar dia sedang hamil. Tidak mungkin kan jika perempuan baik-baik hamil di luar nikah," ujar Arumi yang mencoba memprovokasi Mentari.


Ketika Mentari dan Arumi tiba di Klinik, Mentari terkejut karena melihat Raisya yang terbaring di atas ranjang pesakitan, begitu juga dengan Rasya dan Fajar yang melihat keberadaan Mentari di Perusahaan, karena keduanya belum sempat memberikan kabar tentang Raisya kepada Mentari.


"Kenapa Bunda bisa berada di sini?" tanya Fajar dan Rasya secara bersamaan.


"Apa yang sudah Ayah dan Rasya sembunyikan dari Bunda?"


Arumi sudah tersenyum penuh kemenangan, karena mengira jika Mentari terkejut melihat Suami dan Anaknya yang sudah berselingkuh.


Sebentar lagi kamu pasti akan segera di depak dari Angkasa Grup, Raisya. Dan aku tidak akan memiliki saingan lagi untuk mendapatkan Rasya, ucap Arumi dalam hati dengan tersenyum penuh kemenangan.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2