
Arumi yang tidak terima dengan keputusan Raisya, memutuskan untuk pergi dari Klinik, karena sekarang Arumi sudah tidak mungkin bisa berdebat lagi dengan Raisya, apalagi di sana ada Fajar, Mentari dan Rasya.
"Sebaiknya aku mencari cara supaya bisa membalas perbuatan Raisya. Gara-gara dia aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendekati Rasya. Sepertinya aku harus menghubungi Mas Lukman, aku akan mencari keuntungan dengan menjalin kerjasama dengannya," gumam Arumi dengan tersenyum licik.
Lain hal nya dengan Arumi yang begitu terobsesi untuk menjadi Sekretaris Rasya, Alea justru merasa tidak pantas mendapatkan posisi tersebut. Bahkan Alea berusaha untuk menolak permintaan Raisya, apalagi Alea tau jika Arumi pasti akan mengadu kepada Mama dan Papanya saat pulang kerja nanti.
"Nona Raisya, terimakasih banyak karena telah merekomendasikan saya menjadi Sekretaris Tuan Rasya. Akan tetapi, sepertinya saya tidak pantas menerima posisi tersebut, karena saya masih belum memiliki banyak pengalaman. Sebaiknya Tuan Rasya mencari orang lain saja," ujar Alea.
"Alea, kenapa kamu ikut-ikutan merubah panggilan juga? Kita ini adalah Teman, panggil aku Raisya saja seperti biasa. Aku tau kalau kamu merasa tidak enak terhadap Arumi kan? Sampai kapan kamu akan selalu mengalah sama dia?"
Alea hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa lagi, karena sejak kedatangannya ke Jakarta, Alea selalu diperlakukan tidak adil oleh Arumi dan Ibu tirinya.
"Alea, sekarang adalah kesempatan bagus untuk membuktikan kepada keluarga kamu kalau kamu juga bisa lebih baik dari Arumi. Kamu itu pintar, dan aku yakin kamu pasti bisa menjadi Sekretaris Kak Rasya. Meski pun Kak Rasya seperti kulkas dua pintu, tapi dia baik kok, dia juga gak gigit," ujar Raisya dengan terkekeh, dan Rasya menatap tajam Raisya.
"Terimakasih Raisya, terimakasih," ucap Alea dengan menitikkan airmata, karena baru kali ini ada seseorang yang peduli terhadapnya.
"Iya sama-sama. Sudah jangan nangis, nanti cantiknya hilang," ujar Raisya dengan memeluk tubuh Alea.
Alhamdulillah... Terimakasih Tuhan, karena Engkau telah mengirimkan Teman yang baik seperti Raisya. Baru kali ini ada orang yang benar-benar tulus terhadapku, bahkan keluargaku sendiri tidak pernah menganggap aku ada, ucap Alea dalam hati.
Alea tiada hentinya mengucap syukur di dalam hati karena memiliki sahabat sebaik Raisya, dan Rasya yang bisa mendengar isi hati Alea, merasa kasihan dengan nasib malang yang menimpa hidup Alea.
"Nak, terimakasih ya karena Alea sudah mau menjadi Teman Raisya. Raisya selalu bercerita kepada kami tentang Alea. Alea jangan pernah merasa sendirian lagi ya, Alea bisa menganggap kami sebagai keluarga," ucap Mentari dengan memeluk tubuh Alea.
"Terimakasih banyak Tante," ucap Alea dengan kembali menitikkan airmata bahagia.
"Jangan panggil Tante, panggil saja Bunda," ucap Mentari dengan tersenyum, dan Alea merasa tersentuh dengan sikap Mentari yang terlihat tulus menyayanginya.
"I_iya Bunda," ucap Alea dengan lirih.
Rasya melihat jam tangan yang melingkar pada tangannya, karena Rasya hampir saja lupa jika dia masih ada jadwal meeting di luar kantor.
"Semuanya, maaf ya Rasya masih ada jadwal meeting di luar kantor."
"Nak, sebaiknya Rasya bawa Alea supaya dia bisa belajar menjadi Sekretaris Rasya," usul Fajar.
__ADS_1
"Kalau begitu, sekarang kamu ikut saya Alea," ujar Rasya, dan Alea hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kak, awas jangan galak-galak ya, nanti Alea gak betah jadi Sekretaris Kakak," ujar Raisya.
"Selama ini mana pernah Kakak galak, apalagi sampai gigit orang. Memangnya Raisya pikir Kakak ini apa hemm?" ujar Rasya dengan mengacak rambut Raisya.
"Sudah, sudah, sebaiknya sekarang kalian cepetan berangkat, nanti telat lho," ujar Mentari.
Alea tersenyum melihat kehangatan keluarga Mentari, karena sebelumnya Alea tidak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga.
"Kalau begitu, kami pamit dulu," ujar Rasya, kemudian Rasya dan Alea bergantian mencium punggung tangan Fajar dan Mentari sebelum berangkat.
"Kalian hati-hati ya, semoga meeting nya lancar," ucap Fajar yang di Amini oleh semuanya.
Setelah mengucapkan salam, Rasya dan Alea melangkahkan kakinya ke luar dari Klinik.
"Alea sama Kak Rasya sepertinya cocok," ujar Raisya ketika melihat Rasya dan Alea yang berjalanan beriringan.
"Sepertinya Tuan Putri kita yang cantik ini memiliki tujuan lain Yah," ujar Mentari.
Semua mata kini tertuju kepada Alea dan Rasya yang berjalan menuju bagian staf administrasi, karena sebelumnya Alea meminta ijin untuk mengambil tas nya terlebih dahulu.
"Alea, saya tunggu di lobi ya," ujar Rasya.
"Baik Tuan," ujar Alea, kemudian bergegas mengambil tas nya.
Arumi yang melihat Alea, langsung saja melontarkan sindiran, karena Arumi tidak bisa menerima jika saat ini Alea menjadi Sekretaris Rasya.
"Dasar penjilat tidak tahu malu," sindir Arumi, ketika Alea melewati mejanya.
"Seharusnya kamu berkaca dulu sebelum berbicara, karena sepertinya kata-kata itu lebih cocok untuk kamu. Maaf aku tidak ada waktu untuk meladeni orang yang selalu merasa iri terhadap orang lain," ujar Alea, kemudian berlalu meninggalkan Arumi.
"Lihat saja nanti Alea, aku pasti akan mengadukan kamu sama Mama," gumam Arumi dengan mengepalkan kedua tangannya.
......................
__ADS_1
Alea berlari untuk menghampiri Rasya yang masih menunggunya di lobi.
"Maaf Tuan, sudah lama menunggu," ucap Alea yang merasa tidak enak.
"Apa Arumi mengganggu kamu lagi?" tanya Rasya, dan Alea hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Alea, kalau ada masalah, kamu jangan sungkan untuk menceritakannya," ujar Rasya,
Alea terkejut mendengar perkataan Rasya, karena biasanya Rasya sangat irit bicara, bahkan Rasya terlihat dingin selain pada keluarganya.
Apa Tuan Rasya tidak salah bicara? Bukannya Tuan Rasya tidak suka dekat dekat dengan oranglain? Kamu jangan terlalu kepedean Alea, Tuan Rasya pasti hanya kasihan kepadaku, ucap Alea dalam hati.
"Sudah, jangan terlalu banyak berpikir, bagaimanapun juga sekarang kamu adalah Sekretaris aku," ujar Rasya dengan tersenyum, kemudian mengajak Alea masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan Perusahaan.
Alea duduk di jok belakang, karena Alea merasa malu jika duduk di sebelah Rasya.
"Alea, apa kamu pikir aku adalah Supir pribadi kamu? Sekarang juga kamu pindah ke depan. Kamu harus mempelajari dokumen untuk meeting kali ini," ujar Rasya yang sudah duduk di belakang kemudi.
"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud seperti itu," ucap Alea, kemudian pindah duduk ke samping Rasya.
Rasya memberikan dokumen kepada Alea supaya bisa mempelajarinya, dan sepanjang perjalanan menuju tempat meeting, Alea terlihat serius mempelajari isi dokumen tersebut.
"Kalau ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa menanyakannya kepadaku," ujar Rasya.
"Insyaallah saya sudah faham Tuan."
"Baguslah kalau begitu, berarti kamu sudah siap melakukan presentasi," ujar Rasya dengan tersenyum ketika melihat wajah terkejut Alea.
Ketika turun dari mobil, Alea terlihat gugup karena ini adalah pertama kalinya Alea akan melakukan presentasi.
"Kamu jangan gugup, baca Basmalah dulu sebelum mulai. Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya, anggap saja ini sebagai latihan, karena ke depannya kamu harus terbiasa melakukan presentasi," ujar Rasya sehingga membuat Alea bersemangat.
*
*
__ADS_1
Bersambung