
Keesokan paginya..
Raisya secara perlahan mulai membuka matanya. Ketika Raisya hendak bangun, Raisya meringis kesakitan ketika merasakan sekujur tubuhnya yang terasa sakit, apalagi pada bagian inti tubuhnya.
"Aww, kenapa seluruh tubuhku terasa sakit?"
Dimas yang tengah berada di dapur, bergegas menghampiri Raisya ke dalam kamar ketika mendengar suara istrinya yang meringis kesakitan.
"Sayang, Raisya kenapa?"
Raisya menutupi tubuh polos nya menggunakan selimut, karena Raisya masih merasa malu jika Dimas sampai melihatnya.
"Kenapa pake ditutupi segala? Kak Dimas juga sudah melihat semuanya, bahkan semalam sudah merasakannya," ujar Dimas dengan tersenyum penuh arti.
"Kenapa Kak Dimas bicara seperti itu? Kak Dimas membuat Raisya malu," ujar Raisya dengan menutupi wajah menggunakan kedua tangannya.
"Malu-malu tapi mau kan?" goda Dimas, kemudian mengangkat tubuh Raisya untuk membawanya ke dalam kamar mandi.
"Kak turunin, Raisya bisa berjalan sendiri."
"Terus kenapa tadi meringis kesakitan? Maaf ya sayang, Kak Dimas sudah membuat Raisya sakit, nanti kita beli obat untuk mengurangi rasa sakitnya."
"Tidak perlu Kak, Raisya pernah dengar, semua itu udah biasa kalau pertama kali melakukannya."
"Tapi Kak Dimas juga pernah dengar kalau ada salep yang bisa mengobati bengkak nya," ujar Dimas yang sengaja menggoda Raisya.
"Sebaiknya sekarang Kak Dimas ke luar, Raisya mau mandi dulu."
"Apa gak mau sekalian Kak Dimas mandiin?" goda Dimas dengan menaik turunkan alisnya.
"Nggak perlu," jawab Raisya dengan mendorong tubuh Dimas ke luar dari dalam kamar mandi, kemudian Raisya mengunci pintu kamar mandi karena takut Dimas akan kembali masuk.
Dimas tertawa melihat tingkah Raisya yang selalu menggemaskan, kemudian Dimas kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Setelah selesai membersihkan diri, Raisya ke luar dari dalam kamar untuk mencari Dimas.
"Kak, ini pakaian siapa? Kenapa bisa ada di kamar?" tanya Raisya.
"Itu pakaian buat kamu sayang. Sebenarnya kemarin Kakak membawa baju ganti yang di simpan di dalam bagasi."
"Kenapa semalam Kakak gak bilang? Apa Kakak sengaja menyembunyikannya?" tanya Raisya dengan memicingkan matanya.
"Kalau semalam bilang kita bawa baju ganti, kapan Kakak buka puasanya? Udah sebulan menikah masa puasa terus," bisik Dimas pada telinga Raisya, sehingga membuat bulu kuduknya meremang.
__ADS_1
Raisya hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, karena Raisya masih merasa malu ketika membicarakan masalah ranjang.
"Sebaiknya sekarang kita makan. Kakak sudah memasak untuk kita sarapan, kasihan Raisya pasti lapar, apalagi semalam kita tidak sempat makan," ujar Dimas dengan mengisi piring dan lauk yang dia masak.
"Kak, maaf ya, seharusnya Raisya yang melayani Kak Dimas."
"Tidak apa-apa sayang, sebagai Suami Istri, kita harus saling pengertian dan membagi tugas. Selama Kakak bisa mengerjakannya, apa pun pasti akan Kakak lakukan."
"Dari mana Kakak mendapatkan semua ini?" tanya Raisya yang merasa heran.
"Kemarin saat memboking vila ini, Kakak meminta kepada pengurus vila supaya sekalian menyiapkan bahan masakan. Sekarang kita harus makan yang banyak, supaya nanti kita bisa melanjutkan kegiatan yang semalam," ujar Dimas dengan tersenyum menggoda.
Glek
Raisya menelan saliva nya ketika mendengar perkataan Dimas, apalagi saat ini bagian inti tubuhnya masih terasa sakit.
"Kenapa wajah Raisya pucat seperti itu? Kak Dimas hanya bercanda sayang. Kakak juga mengerti kalau Raisya masih sakit, jadi Kakak tidak mungkin melakukan semua itu," ujar Dimas dengan menggenggam erat tangan Raisya.
Raisya bisa bernafas lega setelah mendengar perkataan Dimas, kemudian Raisya makan dengan lahap karena sudah merasa sangat lapar.
......................
Setelah selesai sarapan, Raisya mengajak Dimas untuk kembali ke Rumah Sakit, karena Raisya sudah kangen dengan Baby Al.
"Kak, sekarang kita kembali ke Rumah Sakit ya. Raisya sudah kangen sekali sama Baby Al."
Raisya yang tidak tega kepada Dimas, akhirnya menyetujui permintaan Suaminya tersebut.
"Tapi cuma satu malam lagi ya," ujar Raisya.
"Iya, iya, kalau begitu sebaiknya sekarang kita kembali ke kamar," ujar Dimas dengan menggendong tubuh Raisya ala bridal style.
"Mau ngapain ke kamar?" tanya Raisya yang sudah merasa ketakutan.
"Mau ngapain aja boleh," jawab Dimas dengan mencium kening Raisya.
"Jangan macam-macam ya Kak, tadi Kak Dimas sudah janji gak bakalan ngelakuin itu dulu," ujar Raisya dengan malu-malu.
"Iya, Kak Dimas ingat. Sekarang kita hanya tidur saja, lagian Kak Dimas masih ngantuk, tapi tidak dengan nanti malam," ujar Dimas dengan membawa Raisya ke dalam pelukannya.
......................
Setelah dua hari menginap di Lembang, Raisya dan Dimas kembali ke Rumah Sakit untuk melihat Baby Al.
__ADS_1
Ketika sampai Rumah Sakit, Dimas dan Raisya langsung meminta ijin kepada petugas jaga supaya bisa masuk ke dalam ruang bayi untuk melihat Baby Al.
"Kak, Baby Al mirip sekali ya sama Kak Dimas."
"Kak Dimas kan Ayahnya, tentu saja wajah Baby Al mirip sama Kakak," ujar Dimas dengan tersenyum bahagia.
Raisya ikut tersenyum ketika melihat Dimas yang terlihat bahagia, karena Raisya menyayangi Baby Al seperti Anak kandungnya sendiri.
"Raisya udah gak sabar ingin membawa Baby Al pulang. Sebentar lagi acara tahlil empat puluh hari mendiang Kak Rayna, semoga saja saat hari itu tiba, kita sudah bisa berkumpul dengan semuanya."
"Amin, semoga saja. Dokter juga tadi sudah bilang kalau sekitar tiga hari lagi, Baby Al sudah bisa kita bawa pulang."
Setelah cukup lama berada di dalam ruang bayi, Raisya dan Dimas diminta oleh petugas jaga untuk ke luar dari dalam ruang bayi, karena waktu kunjungan sudah habis.
"Padahal Raisya masih ingin melihat Anak kita."
"Sabar sayang, sebentar lagi kita bertiga akan selalu bersama. Oh iya, bagaimana dengan kuliah Raisya di Singapura?"
"Raisya sudah memutuskan untuk berhenti kuliah dulu, karena Raisya ingin fokus merawat Baby Al dan Ayahnya."
"Sayang, kalau memang Raisya masih ingin kuliah, Kak Dimas tidak akan melarangnya. Kak Dimas tidak mau Raisya mengorbankan cita-cita Raisya hanya demi bisa merawat kami. Kak Dimas tidak mau jika suatu saat nanti Raisya menyesali semuanya," ujar Dimas dengan menangkup kedua pipi Raisya.
"Kak, saat ini yang paling penting bagi Raisya adalah Anak dan Suami. Raisya tidak akan pernah menyesali semuanya, yang penting Raisya selalu bersama kalian."
"Terimakasih banyak ya sayang, Kak Dimas bahagia sekali karena bisa memiliki Istri yang begitu pengertian seperti Raisya," ujar Dimas dengan memeluk tubuh Raisya.
Aira merasa geram ketika melihat Dimas dan Raisya berpelukan, dan Aira langsung saja melontarkan sindiran.
"Ekhem, dasar tidak tau tempat, di Rumah Sakit juga masih sempat-sempatnya bermesraan."
Raisya dan Dimas terkejut ketika melihat keberadaan Aira di Rumah Sakit tersebut, apalagi Aira memakai seragam Dokter.
"Memangnya ada yang salah ya kalau Suami Istri bermesraan? Lagian kenapa sih kamu itu seperti Jelangkung saja, datang tidak di undang, pulang tidak di antar," ledek Raisya.
Aira tidak terima mendengar perkataan Raisya, sampai akhirnya terjadi adu mulut di antara keduanya.
"Kamu jangan asal bicara. Aku adalah salah satu Dokter di Rumah Sakit ini," ujar Aira dengan angkuhnya.
"Maaf atas perkataan saya ya Bu Dokter. Bagaimana kalau saya mengganti panggilan Anda dengan perawan tua yang kegatelan?" ledek Raisya dengan tertawa, kemudian Raisya mengajak Dimas untuk pergi meninggalkan Aira yang masih merasa kesal.
Awas saja kamu Raisya. Aku pasti akan merebut Dimas dari kamu. Jika aku tidak bisa mendapatkan Dimas, maka tidak akan pernah ada perempuan lain yang bisa memilikinya, ucap Aira dalam hati dengan mengepalkan kedua tangannya.
*
__ADS_1
*
Bersambung