
Saat ini rumah tangga Rayna dan Dimas sudah berjalan selama dua bulan, meskipun Dimas tidak pernah memperlakukan Rayna layaknya seorang istri, tapi Rayna tidak pernah memperdulikan semua itu, apalagi saat ini Rayna sudah bertekad untuk mencoba melepaskan Dimas demi kebahagiaannya.
Rayna memberanikan diri mengutarakan keinginannya pada saat dia dan Dimas sedang sarapan.
"Kak, ada yang mau Rayna bicarakan."
"Bicara saja, Kak Dimas pasti akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rayna," ujar Dimas.
"Rayna ingin meminta cerai Kak, Rayna tau kalau yang Kak Dimas cintai adalah Raisya, dan Rayna tidak mau menjadi penghalang hubungan kalian berdua."
Dimas rasanya bahagia mendengar keinginan Rayna yang memintanya untuk bercerai.
"Kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Dimas.
"Tidak Kak, percuma juga kita menjalani rumah tangga, tapi hati Kak Dimas untuk perempuan lain, apalagi perempuan itu adalah Raisya, saudara Rayna sendiri. Kita juga baru menikah Agama, jadi Kak Dimas akan lebih mudah menceraikan Rayna."
Dimas akhirnya bisa bernafas lega, karena pada kenyataannya Dimas memang menginginkan berpisah dari Rayna, tapi dia tidak mau kalau sampai membuat Rayna sakit hati, dan saat ini Rayna sendiri yang menginginkannya.
"Baiklah kalau itu memang keinginan kamu, Kak Dimas minta maaf jika selama Kak Dimas jadi Suami Rayna, Kak Dimas tidak bisa memberikan nafkah batin, dan Rayna juga pasti tau alasannya."
"Iya Kak, semoga saja Kak Dimas bisa segera bersatu dengan Raisya," ujar Rayna yang di Amini oleh Dimas. Padahal sebenarnya saat ini Rayna menahan sesak dalam dadanya karena merasa berat untuk melepaskan Dimas, sebab sebelum mereka berdua menikah, Rayna sudah jatuh cinta kepada Dimas.
"Makasih banyak ya Rayna, semoga suatu saat nanti kamu juga bisa mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik segala-galanya di banding Kak Dimas," ujar Dimas, tapi pada saat Dimas hendak menjatuhkan kata talak, tiba-tiba perut Rayna bergejolak hebat sehingga Rayna berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Dimas yang merasa khawatir langsung saja menyusul Rayna yang saat ini terlihat muntah-muntah.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Dimas dengan membantu memijit tengkuk Rayna,
"Rayna baik-baik saja Kak, Kak Dimas tidak perlu khawatir," jawab Rayna, tapi pada saat Dimas memapah Rayna menuju kamar, Rayna tiba-tiba merasa pusing, sampai akhirnya Rayna pingsan.
"Rayna kamu kenapa?" tanya Dimas yang terlihat khawatir, dan Dimas langsung saja membawa Rayna menuju Klinik terdekat.
Setelah sampai di Klinik, Rayna langsung diperiksa oleh Dokter.
Dokter tersenyum pada saat memeriksa Rayna yang saat ini sudah mulai sadar, tapi Rayna masih terlihat lemas, dan setelah Dokter selesai memeriksanya, Dokter akhirnya angkat suara.
"Selamat ya Pak, Bu, kalian akan segera menjadi orangtua, karena saat ini istri Bapak sedang hamil muda," ucap Dokter, sehingga Dimas langsung menjatuhkan tubuhnya karena merasa syok dengan perkataan Dokter.
Dokter mengira jika Dimas merasa bahagia, dan saking bahagianya Dimas sampai menangis, padahal yang sebenarnya terjadi adalah Dimas merasa sedih karena harus melupakan perasaan cintanya kepada Raisya, karena tidak mungkin dia menceraikan Rayna pada saat hamil.
Setelah Dokter keluar dari kamar perawatan Rayna, Rayna yang melihat Dimas menangis pun mencoba untuk menghampirinya, karena Rayna tau betul kalau Dimas pasti sedih karena tidak mungkin menceraikan Rayna.
"Kak Dimas, maaf ya, Rayna tidak tau kalau saat ini tengah hamil, tapi Kak Dimas tidak perlu khawatir, kita berdua akan tetap bercerai, dan Kak Dimas masih bisa mengejar cinta Raisya," ucap Rayna yang ikut menangis juga.
Ternyata rasa cinta Kak Dimas terhadap Raisya begitu besar lebih dari yang aku bayangkan, kenapa aku harus hamil, apa aku gugurkan saja bayi yang saat ini berada dalam kandunganku? untuk apa aku mempertahankannya jika Ayahnya sendiri tidak menginginkannya, batin Rayna yang sangat yang begitu terpukul dengan respon yang diberikan Dimas, apalagi saat ini Dimas terus saja diam tanpa berbicara satu patah kata pun, sampai akhirnya dengan berat hati Rayna kembali angkat suara.
"Kak, kalau memang bayi ini akan menjadi penghalang untuk hubungan Kak Dimas dan Raisya, lebih baik Rayna menggugurkannya saja," ujar Rayna yang membuat Dimas tidak percaya mendengarnya.
__ADS_1
"Apa maksud kamu? apa kamu pikir aku adalah lelaki bejat yang tega membunuh darah dagingku sendiri?" tanya Dimas yang merasa geram dengan perkataan Rayna, karena Dimas sadar betul kalau bayi yang Rayna kandung tidaklah berdosa.
"Tapi Rayna tau kalau Kak Dimas tidak menginginkannya."
Dimas saat ini berada dalam dilema, karena ia tidak mungkin menceraikan Rayna dalam keadaan hamil.
"Aku menginginkannya atau tidak itu tidak penting, karena bagaimanapun juga kita akan sangat berdosa jika sampai mengugurkan bayi yang tidak berdosa ini," ujar Dimas dengan memegang perut Rayna yang masih terlihat rata, sampai akhirnya Rayna memeluk Dimas dan menumpahkan tangisannya dalam pelukannya.
"Kamu jangan berpikir seperti itu lagi, bagaimanapun juga bayi yang kamu kandung adalah darah daging kita. Kak Dimas tidak akan mungkin bisa menceraikan kamu dalam keadaan hamil Rayna, apa kata keluarga kita nanti, dan Kak Dimas tidak mau di cap sebagai lelaki yang tidak bertanggung jawab, apalagi kalau sampai Raisya mengetahuinya, karena Raisya pasti akan semakin membenci Kak Dimas."
Ternyata Kak Dimas mempertahankan bayi ini karena tidak mau kalau Raisya merasa kecewa terhadapnya. Maafkan Mama Nak karena sudah mempunyai niat untuk menggugurkan kanu. Meskipun Papa kamu tidak menginginkan kehadiran kamu di dunia ini, tapi Mama berjanji akan mempertahankan kamu dan akan membesarkanmu meskipun tanpa sosok Ayah, ucap Rayna dalam hati.
Setelah cairan infusan Rayna habis, Dokter sudah memperbolehkan Rayna untuk pulang.
"Bu Rayna sekarang sudah boleh pulang ya, tapi ingat kalau Ibu harus menjaga kandungannya, karena di trimester pertama ini janin masih lemah, dan Ibu juga jangan terlalu cape atau pun stres. Saya akan memberikan resep untuk mengurangi rasa mual muntah dan juga vitamin supaya kandungan Ibu lebih sehat, dan untuk olahraga malamnya sebaiknya jangan dilakukan dulu sampai kandungan memasuki trimester kedua ya," ujar Dokter dengan tersenyum.
Bagaimana mau olahraga malam, Kak Dimas saja tidak pernah mau menyentuhku lagi, batin Rayna dengan tersenyum kecut.
"Iya Dok, saya akan mengingatnya, terimakasih atas semuanya," ucap Rayna dengan mengambil resep yang diberikan oleh Dokter, karena daritadi Dimas hanya terlihat melamun saja.
"Kak, Rayna sudah diperbolehkan pulang" ujar Rayna yang menyadarkan Dimas dari lamunannya.
"Dok, kalau begitu kami permisi dulu ya, sekali lagi kami ucapkan terimakasih," ucap Rayna kemudian mengajak Dimas keluar dari kamar perawatannya.
__ADS_1