
Rasya dan Dimas saat ini telah sampai di Rumah Sakit, dan Dimas sudah terlihat was-was karena takut Fajar akan murka jika mengetahui Rayna telah pergi dari rumahnya.
Om Fajar pasti murka nih kalau tau Rayna pergi dari rumah, tapi benar kata Rasya aku tidak boleh berbohong, karena satu kebohongan pasti akan menimbulkan kebohongan lainnya yang tidak akan ada habisnya. Sebagai seorang lelaki aku juga harus bertanggungjawab karena bayi yang dalam kandungan Rayna adalah Anakku, dan bagaimanapun juga Rayna juga Adikku yang harus selalu aku lindungi, batin Dimas.
"Kak Dimas tenang saja, Ayah dan Bunda pasti akan mengerti, dan nanti Rasya juga bakalan bantu mencari Kak Rayna."
"Terimakasih ya Calon Kakak ipar," ujar Dimas dengan terkekeh sehingga Rasya memutar malas bola matanya.
Rasya dan Dimas mengetuk pintu lalu mengucapkan Salam, dan pada saat mereka berdua masuk, Mentari terlihat sedang menyuapi Fajar makan.
"Rasya sayang, bagaimana kabar kamu Nak?" tanya Mentari dengan memeluk Anaknya, dan seperti biasa Fajar akan cemberut.
"Alhamdulillah Rasya baik-baik saja Bunda, Bunda jangan lama-lama meluknya, tuh lihat ada yang udah cemberut terus," sindir Rasya, sampai akhirnya Mentari langsung melepas pelukannya dari Rasya, serta kembali melanjutkan untuk menyuapi Fajar.
Fajar yang melihat Dimas langsung saja menanyakan keberadaan Rayna.
"Dimas, mana Rayna? apa kamu sudah meminta maaf kepadanya dan mengakui Rayna sebagai adik kamu?"
Dimas bingung harus menjawab apa, dan mau tidak mau Dimas harus mengatakan yang sebenarnya terhadap Fajar.
"Ma_maaf Om, sebenarnya Dimas belum bertemu dengan Rayna, karena Rayna ternyata sudah pergi dari rumah," jawab Dimas dengan suara terbata.
"Apa maksud kamu? kenapa Rayna sampai bisa pergi dari rumah, apa kamu yang sudah mengusirnya?" tanya Fajar dengan nada yang tinggi.
Rasya dan Mentari yang melihat Fajar emosi pun mencoba untuk menenangkannya.
"Istighfar Yah, jangan sampai emosi menguasai diri Ayah," ujar Mentari dengan memeluk tubuh Fajar.
__ADS_1
"Iya Bunda benar Yah, Ayah harus memikirkan kesehatan Ayah," ujar Rasya.
Fajar yang mendengar perkataan Mentari dan Rasya, langsung mengucap istighfar.
"Astagfirullah, maaf Bunda Ayah khilaf."
"Ayah minum dulu supaya lebih tenang," ujar Rasya dengan memberikan segelas air putih kepada Fajar.
"Makasih banyak Kak, semoga saja Rasya tidak mengikuti jejak Dimas yang sudah berbuat seenak jidatnya saja," ucap Fajar.
"Yah, seandainya Kak Dimas dan Kak Rayna tau dari awal kalau mereka berdua adalah Kakak beradik, pasti Kak Rayna dan Kak Dimas juga tidak akan mungkin menikah. Semuanya sudah terjadi, dan kita hanya bisa memperbaikinya bukan terus menyalahkan Kak Dimas," ujar Rasya, sehingga Fajar tertegun mendengar perkataan Rasya yang memang ada benarnya juga.
Rasya benar, seandainya saja dari awal aku menceritakan yang sebenarnya kepada Dimas, mungkin tidak akan terjadi pernikahan sedarah antara Rayna dan Dimas, ucap Fajar dalam hati.
"Ayah Mertua jangan marah ya, aku pasti bakalan cari Rayna sampai ketemu dan mengakuinya sebagai Adikku," ucap Dimas.
Dimas langsung tertunduk sedih mendengar perkataan Fajar.
"Yah, udah jangan buat Dimas sedih terus, kalian berdua ribut terus seperti Anak kecil saja. Pokoknya nanti kita serahkan semua keputusannya kepada Raisya, karena yang akan menjalaninya juga Raisya bukan kita. Sebagai orangtua kita hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaan Anak-anak kita," ujar Mentari.
"Ayah hanya ingin yang terbaik untuk Princess kita, dan menurut Ayah di luar sana masih banyak yang lebih segala-galanya dibandingkan dengan Dimas."
"Ayah benar, di luar sana mungkin masih banyak lelaki yang lebih segala-galanya dibandingkan dengan Dimas, tapi lelaki terbaik yang sudah kita kenal selama ini adalah Dimas, dan Dimas juga masih keponakan Ayah. Bunda takut kalau Raisya menikah dengan lelaki yang belum kita kenal kejadian Dita akan terulang kepada Raisya."
"Bunda jangan terlalu banyak pikiran ya, semoga Princess kita selalu bahagia dengan siapa pun nanti Raisya berumah tangga," ujar Fajar yang di Amini oleh Mentari dan Rasya, sedangkan Dimas terlihat cemberut karena dia masih berharap kalau Raisya akan menjadi pendamping hidupnya.
"Bunda, apa Bunda akan merahasiakan kepergian Kak Rayna kepada Kakek dan Nenek?" tanya Rasya.
__ADS_1
Mentari nampak berpikir dengan pertanyaan Rasya.
"Bunda takut kondisi kesehatan Kakek dan Nenek akan memburuk kalau mengetahui tentang semua kebenaran ini, apalagi kalau mereka tau Rayna sudah pergi dari rumah," jawab Mentari.
"Tapi cepat atau lambat Bapak dan Ibu akan mengetahui tentang semua ini juga sayang, dan Ayah takut kalau mereka mengetahui semuanya dari mulut oranglain. Sebaiknya nanti setelah Ayah diijinkan pulang, kita langsung ke rumah Ibu dan Bapak untuk menceritakan semuanya," ujar Fajar dan Mentari hanya bisa menyetujui usul Fajar karena bagaimanapun juga Bu Rima dan Pak Hasan berhak mengetahui semua kebenarannya, apalagi semenjak Rayna kecil mereka berdua yang sudah membesarkannya.
Fajar yang melihat Dimas terdiam saja kembali angkat suara.
"Kamu juga nanti harus ikut kami ke rumah Ibu dan Bapak, kamu harus meminta maaf karena telah menyebabkan Rayna pergi dari rumah."
"Iya Ayah Mertua, demi Ayah Mertua Dimas akan melakukan apa pun juga," jawab Dimas, dan Fajar selalu emosi dengan sebutan baru Dimas untuknya.
"Sekali lagi kamu panggil Om dengan sebutan Ayah Mertua, kamu akan Om kutuk karena sudah menjadi Keponakan durhaka."
Rasya dan Mentari hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Fajar dan Dimas yang kekanak-kanakan.
"Ayah Mertua VS Keponakan Durhaka sebentar lagi kayaknya akan memulai perang," sindir Rasya dan Mentari hanya terkekeh mendengarnya.
......................
Di tempat lain, tepatnya di Panti Asuhan, Rayna merasa bahagia karena semua yang berada di sana menerimanya dengan tangan terbuka.
"Terimakasih ya semuanya karena sudah menerima Kak Rayna sebagai bagian dari keluarga di Panti Asuhan ini," ucap Rayna kepada Anak-anak Panti Asuhan yang saat ini terlihat menyambut kedatangannya.
"Selamat datang di Panti Asuhan Kasih Bunda Kak," ucap Anak-anak Panti Asuhan.
Rayna sampai menitikkan airmata melihat Anak-anak kurang beruntung yang tinggal di Panti Asuhan tersebut. Rayna bersyukur karena pada saat dulu Rayna merasa dibuang oleh Jingga, dia dipertemukan dengan Kakek dan Nenek yang sangat menyayanginya.
__ADS_1
Nek, Kek, maafin Rayna yang sudah pergi tanpa pamit kepada kalian, Rayna harap Kakek dan Nenek akan selalu diberikan kesehatan dan mengerti dengan keadaan Rayna saat ini. Maafin Rayna juga karena belum bisa membalas semua kebaikan dan kasih sayang yang telah Kakek dan Nenek berikan, ucap Rayna dalam hati.