
Vino sudah memutuskan untuk menerima perjodohan papinya. Meskipun hatinya masih untuk Celine, namun dirinya berharap bisa untuk segera melupakan Celine karna hadirnya wanita lain di hidupnya.
"Baguslah kalau begitu! Papi jamin kalian akan hidup bahagia, Miranda gadis yang cantik dan sepadan dengan kita." ucap Papi Richard.
"Kamu tak perlu khawatir, papi dan kedua orang tua Miranda yang akan mengurus pernikahan kalian! Kamu hanya butuh mempersiapkan mental kamu sebagai seorang suami." ucap Papi Richard kembali dan Vino hanya menganggukkan kepalanya.
Harapannya untuk meraih kebahagiaan telah hancur, saat dirinya mengetahui jika Celine telah menjadi milik orang lain. Padahal selama ini Vino sudah bertekad untuk menikahi Celine dengan atau tanpa restu sang papi.
"Aku terpaksa melakukan hal ini Lin, meskipun hati aku masih untuk kamu. Namun aku masih terus berharap jika aku bisa merasakan bahagia, meskipun bukan dengan kamu." ucap Vino lirih.
Derasnya air hujan yang membasahi bumi, sebagai pengiring kesedihan Vino. Suasana di luar terlihat gelap, bahkan bintang pun tak bisa menjadi penerang di kala hujan. Itulah yang di rasakan Vino saat ini.
❤️❤️❤️❤️
Hari ini adalah hari pertemuan dirinya dengan Miranda. Mereka sudah berjanji akan bertemu di sebuah cafe yang letaknya berada di tengah-tengah dengan perumahan mereka. Miranda telah datang lebih dulu, sudah menunggu Vino datang. Sebelumnya mereka belum sempat bertemu, hanya baru mengenal lewat foto yang di berikan masing-masing orang tuannya.
"Sepertinya itu Miranda." gumam Vino saat melihat sosok wanita cantik yang sudah menunggu dirinya. Vino mencoba untuk menikmati alurnya, membuka hatinya untuk wanita baru di hidupnya.
__ADS_1
"Hai...aku Vino. Kamu Miranda kan?" sapa Vino ramah. Miranda langsung terpanah melihat wajah tampan asli Vino yang ternyata lebih berkharisma aslinya. Dan tentu saja Miranda menyambutnya dengan senang hati.
"Mungkin lebih baik aku menerima kamu di hidupku, agar aku bisa dengan mudah melupakanmu! Tapi aku minta maaf jika untuk saat ini kamu hanya aku jadikan pelampiasan semata. Tapi aku akan tetap berusaha untuk membuka hatiku untukmu secepatnya." gumam Vino yang kini sudah duduk berhadapan dengan Miranda.
Tidak ada salahnya Vino mengenal sosok Miranda, dia sosok wanita yang menarik, lagi pula Miranda adalah wanita yang di pilih oleh orang tuannya. Ternyata obrolan mereka menyambung, untuk sementara waktu Vino melupakan sesaat sosok wanita cantik yang masih terpatri di hatinya.
"Apa kamu yakin ingin menikah denganku? Terlebih kita belum saling mengenal, dan memangnya saat ini kamu tidak memiliki kekasih?" tanya Vino untuk memastikan, karna sejak tadi hanya mengobrol yang tak jelas.
Miranda menganggukkan kepalanya dengan malu-malu, tapi ini memang kenyataannya. Bahwa dirinya semakin yakin untuk menikah dengan Vino. Sebenarnya Miranda sempat dekat dengan seorang duda, namun anak sang duda tak merestui hubungan mereka. Hingga akhirnya dia di putuskan. Miranda usianya lebih tua dua tahun dari Vino, meskipun lebih tua Miranda masih terlihat seumuran dengan Vino.
Saat ini Miranda bekerja menjadi sekertaris di perusahaan sang papi. Kelak perusahaan itu akan di urus Vino.
Karna tak ada masalah bagi Miranda, Vino akhirnya menerima perjodohan ini. Dia akan menikahi Miranda. Namun sayangnya Vino tak tahu jika Miranda sudah tidak virgin. Dan ini salah satu alasan baginya untuk memilih menjalin hubungan dengan seorang duda. Namun cintanya selalu kandas, karna tak ada yang mau menerimanya. Inilah alasan dirinya menerima perjodohan dengan Vino.
Setelah selesai makan dan mengobrol, Vino mengantarkan Miranda ke apartemennya. Sejak kuliah, Miranda lebih memilih tinggal di apartemen. Karna papi dan mami nya sudah tidak akur, dia malas jika harus melihat terus menerus pertengkaran kedua orang tuanya.
"Masuk Vin, nanti kalau kita menikah kita tinggal di sini aja ya! Aku dengar kamu baru lulus kuliah, pasti. boleh punya tabungan donk. Kita beli rumahnya nanti aja kalau kita sudah memiliki anak. Gimana menurut kamu?" tanya Miranda dan Vino ikut saja. Vino belum mau banyak rencana, dia mencoba untuk menjalankan saja .
__ADS_1
Miranda mengambilkan minuman dan Vino duduk di ruang tv.
"Apa ini? Aku tak biasa minum minuman alkohol, maaf! Kamu seorang peminum?" tanya Vino menyelidik. Dirinya kini menatap Miranda serius.
"Ya inilah hidupku, hidupku sudah berantakan! Aku seorang peminum dan bahkan aku sering mengunjungi club malam. Semenjak kedua orang tua ku tak akur, aku menjadi anak yang broken home. Bahkan aku suka melakukan se*x bebas dengan partner minum ku. Maaf jika kamu kecewa dengan aku! Tapi aku janji, jika nanti aku sudah menikah dengan kamu, aku akan meninggalkan keburukan aku. Sejak keperawanan aku di ambil oleh orang yang tak bertanggungjawab, aku menjadi seorang pecandu se*, tapi kamu tenang saja, kami melakukannya dengan pengaman. Aku bukan wanita sempurna, namun aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu. Apa kamu pernah melakukan hubungan intim dengan wanita lain? Kalau pernah aku tak masalah, yang terpenting setelah menikah kamu hanya menjadi milikku!" ujar Vino membuat dirinya geleng-geleng. Ternyata bagi Miranda hubungan suami-istri sebelum menikah, suatu hal yang biasa. Meskipun Vino sempat berkuliah di negara bebas, tak sekalipun dia ingin mencobanya. Dia ingin berikan keperjakaannya untuk Celine, menjaganya dengan baik. Meskipun tak munafik jika dirinya juga menginginkannya.
Vino menolak untuk minum, dia juga berusaha untuk melarang Miranda tapi Miranda tak peduli. Dia tetap menenggak beberapa gelas hingga saat ini dirinya sudah terlihat mabuk. Tanpa sadar Miranda sudah membuka pakaiannya, hingga dirinya kini terlihat polos. Vino berusaha untuk menelan Saliva nya berkali-kali, Vino tetaplah seorang pria normal.
Miranda kini sudah berada di pangkuan Vino, dan menggerak-gerakkan bokongnya hingga menyentuh milik Vino.
"Tahan Vino, kamu ga boleh terhanyut!" ujar Vino dalam hati, menguatkan. Ternyata Miranda semakin liar dia langsung meraup bibir Vino dan Melu*matnya. Ini adalah hal pertama kali buat Vino, hingga Vino merasa kaget jika wanita yang sebentar lagi akan menikah dengannya, sangat liar.
"Hentikan Miranda, kau tak boleh melakukan hal ini! Kita belum menikah!" ujar Vino. Vino menjadi gemetaran, tubuhnya juga berdesir hebat.
Miranda langsung melepaskan celana Vino dan bedongan miliknya. Miranda langsung turun dan jongkok untuk mensejajarkan dengan milik Vino.
"Aaahh..." desau Vino saat miliknya sudah masuk ke goa bergigi milik Miranda. Ini hal pertama kali baginya merasakan sentuhan dari seorang wanita.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya😁😘😄🙏😍