Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda

Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda
Security papi


__ADS_3

"Hai, bro dateng ya sabtu depan. Rencananya anak-anak teman SMA mau ngadain pertemuan seperti reuni gitu. Lo ikut ya! Lo kan dulu pangeran impian cewek-cewek, mereka pada ngancem kalau lo ga dateng dia pada ga mau datang reuni. Ayolah Jo, ikut ya! Ga apa deh ga sampai selesai acara." ujar Romeo. Romeo adalah salah satu panitia dalam acara reuni tersebut. Reuni itu akan di hadiri siswa dan siswi satu angkatan di sekolah tersebut.


"Waduh jangan gitu lah, nanti istri gw bisa marah besar. Gw ga mau cari masalah. Kalau sekedar bertemu ok lah tapi ga ada unsur lainnya ya!" ujar Papi Jo.


"Yaelah lo serius banget nanggepinya, ga lak. Cewek-cewek itu hanya ingin melihat lo yang sekarang bukan berniat menjadi pelakor. Santai aja Bro!" sahut Romeo menyakinkan papi Jo.


"Ya udah nanti gw kabarin lagi ya bro, gw bilang sama bini gw dulu. Soalnya bini gw da mau lahiran." ucap Papi Jo polos.


Romeo terbawa terbahak-bahak mendengar penuturan temannya itu dan bahkan Romeo mencibir Papi Jo sebagai suami takut istri. Karna untuk datang ke acara reuni aja segala harus izin istri.


"Sorry bro, gw bukannya takut. Gw hanya ingin menghargai dia sebagai istri gw. Jadi gw ingin selalu jujur apapun itu." sahut papi Jo ketus.


Papi Jo baru saja sampai di rumah, dan seperti biasa sang istri langsung menyambutnya. Bagaimana papi Jo tak bisa menghargai sang istri, jika sang istri begitu menghargai dirinya sebagai seorang suami. Melayani sang suami dengan baik.


"Gimana ni anak papi hari ini, nakal ga di perut mami? Bikin mami kesel ga." ucap papi Jo kepada sang baby yang masih di dalam perut istrinya sambil mengelus-elus perut sang istri. Membuat sang anak menyambutnya dengan gerakan hingga akhirnya membuat keduanya tertawa geli.


"Tambah pintar ya anak papi. Sepertinya sudah tidak sabar ni keluar melihat dunia." ucap papi Jo lagi.


Setelah mandi, papi Jo langsung makan. Menikmati makanan buatan istri tercintanya. Ketiga anaknya sudah makan lebih dulu, sehingga menunggunya di ruang keluarga. Ruang tempat mereka berkumpul setiap hari. Untungnya sekarang-sekarang tak ada permasalahan di cabang lainnya, semua berjalan lancar di urus masing-masing manager cabang.


"Sekarang waktunya ceritakan apapun yang kalian lakukan hari ini. Karna papi ingin selalu tahu apa yang di lakukan anak-anak papi seharian!" ucap Papi Jo. Ini adalah hal yang selalu papi Jo lakukan. Tak ada yang di rahasiakan oleh anak-anaknya dari orang tuanya. Kedua orang tuanya adalah sahabat terbaik untuknya, tempat mereka berkeluh-kesah.


"Oh ya mi, tadi siang teman SMA papi telepon. Dia mengundang papi untuk datang ke acara reuni. Mami mau ikut ga? Papi sih tadi bilang, mau bicarakan dulu sama mami. Karna papi pengennya mami ikut nemenin papi." ungkap Papi Jo.


"Ya dateng lah pi kan acara itu jarang-jarang. Udah lama juga kalian tidak bertemu, hitung-hitung menjaga silaturahmi. Tapi kayanya mami ga bisa ikut deh, mami kan sudah menunggu kelahiran. Sudah cape untuk pergi-pergi lama begitu. Mami kasihan papi kalau nantinya mami malah merepotkan papi." ujar Celine.


Selama ini mereka sudah sepakat untuk saling menghormati dan memberikan kepercayaan kepada pasangan, berusaha untuk tidak cemburu. Namun jika salah satu mencoba mengkhianati, maka tak segan-segan salah satu pasangan akan bersikap tegas.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu aku ga usah datang aja deh. Aku merasa gimana gitu kalau kamu ga ikut bersama aku." ujar papi Jo. Papi Jo adalah seorang cowok popularitas sewaktu SMA. Menjadi rebutan para wanita. Meskipun demikian dia tak pernah menjadi seorang playboy, dia sangat sulit di taklukan.


Celine tetap menyuruh sang suami untuk hadir dalam acara tersebut meskipun tanpa nya. Papi Jo langsung merangkul tubuh istrinya yang selalu pengertian. Celine selalu memberikan kepercayaan kepada suaminya meskipun dia sadar kalau suaminya itu selalu menjadi incaran para wanita di luaran sana. Tapi baginya, kesetiaan suaminya tak perlu di pertanyakan lagi.


"Bagaimana kalau Papi sama aku aja. Aku bisa kok jadi Security yang baik untuk papi." ucap Clare dengan polosnya membuat Papi dan maminya tertawa geli. Mereka sangat tahu sifat anaknya perempuannya yang satu ini, selalu bersikap posesif dan bahkan kepada maminya sendiri.


"Clare sayang, ini acara orang dewasa. Jadi biar papi aja yang datang sendiri ya! Mami yakin nanti kamu akan bosan dan nantinya akan merusak momen spesial papi bertemu dengan teman-temannya." ujar mami Celine memberikan pengertian kepada anaknya.


"No mami. Clare harus ikut. Clare ga mau papi di goda wanita genit. Papi Clare ini sangat sempurna. Mami kan tau kalau di luaran sana banyak wanita yang mencoba merayu papi. Padahal waktu itu ada Clare, tapi masih saja dia ingin berkenalan sama papi. Dan mami tau ga kalau wanita itu usianya masih sangat muda." cerocos Clare membuat Papi Jo dan Celine geleng-geleng kepala.


Celine hanya bisa menghela nafas panjang mendengar penuturan sang anak, memang Clare pantas di acungkan jempol. Dia seorang Security hebat buat papinya. Dan untuk Papi Jo sendiri justru tak merasa keberatan, dia akan membawa sang anak dalam acara tersebut. Tentu saja hal itu membuat Clare bersorak gembira. Karena keinginannya berhasil.


❤️❤️❤️❤️


Hari yang di nanti telah tiba, Clare sudah berdandan sangat cantik dan sudah menunggu sang papi turun. Papi Jo tersenyum sepanjang menuruni anak tangga. Anaknya itu memang luar biasa, selalu bisa di andalkan. Bukan hanya cantik dan pintar, Clare juga memiliki sifat yang tegas.


Clare duduk di sebelah sang papi, hari ini papi Jo memilih menyetir mobil sendiri. Mereka menjelajahi kota Jakarta selama satu jam hingga akhirnya mereka sampai di hotel. Mereka menuju gedung pertemuan.


Clare bergandengan mesra dengan sang papi memasuki ruangan. Tak sedikitpun dia ingin melepas tangan sang papi.


"Hai...Jo. Pa kabar? Wah senangnya aku bisa bertemu kamu. Oh ya ini anak kamu? Cantik sekali." sahut Evelin salah satu fans garis keras papi Jo dulu. Papi Jo hanya menyambutnya dengan senyuman dan menjawab dengan singkat.


Bagaimana dengan Clare? Wajahnya sudah di tekuk dan memandang sinis wanita itu. Wanita yang mencoba bersikap genit dengan sang papi.


"Ayo pi masuk ke dalam, ngapain ngurusin wanita genit begitu!" ujar Clare membuat Evelin melongo dan mengepalkan tangannya. Hatinya merasa geram dengan julukan wanita genit dari Clare.


"Tante kalau mau coba-coba menjadi pelakor, jangan sama papi aku. Security nya galak!" ujar Clare menyeringai licik. Papi Jo menahan tawanya. Dia tak bisa membayangkan perasaan Evelin di hatinya.

__ADS_1


Papi Jo memasuki ruangan menyelusuri ke dalam mencari keberadaan teman-teman dekatnya dulu sewaktu SMA.


"Wah akhirnya datang juga bro. Thank you sudah menyempatkan waktu pengusaha hebat kita." ujar Romeo.


"Bisa aja lo! Kalian juga hebat. Oh ya kenalin ini anak ketiga gw, namanya Clare. Clare ini teman papi." ujar papi Jo. Clare menyalami kedua teman papi nya, namun wajahnya tak bersahabat. Entah mengapa Clare tak suka.


"Oh ya tadi lo di cariin Evelin, Sasa, Claudia, sama si Sabrina." ujar Romeo dengan santainya. Dia tak melihat jika Clare memberi tatapan tajam kepada teman papinya itu.


Di tambah lagi dengan kehadiran ulat keket yang menghampiri sang papi bergaya menggoda. Hati Clare bertambah panas.


"Halo anak cantik, kenalin nama tante Sasa." ujar Sasa mencoba bersikap ramah dengan Clare.


Dia tak tahu jika Clare bukanlah anak kecil biasa. Sedangkan Papi Jo hanya tertawa geli dalam hati. Clare memang seorang Security terbaik yang menjaga sang ayah dari godaan pelakor.


"Hai tante mecin." sahut Clare membuat ketiga pria di sana menertawakan Sasa. Sasa menghentak-hentakkan kakinya pergi meninggalkan mereka.


"Sia*lan tuh anak kurang ajar banget. Gw di panggil mecin mentang-mentang nama gw mecin." gerutu Sasa.


Papi Jo yang melihat sikap anaknya yang seperti itu, merasa sadar kalau sang anak merasa tak nyaman dengan keadaan di sana.


"Kenapa papi senyum-senyum? Papi pasti meledek aku kan dalam hati? Kalau aku ga ada, ikut bersama papi. Pasti mecin dan wanita genit itu sudah merayu papi." ujar Clare sambil menyilangkan tangannya di dada. Wajahnya menunjukkan wajah tak bersahabat.


"Makanya papi bersyukur sekali punya Security hebat yang bisa melindungi papi dari serangan ulat keket. Tenang aja papi ga akan tergoda. Karna kamu, mami, Cairo, kak Clara, dan adik yang masih dalam kandungan mami sudah menjadi pengingat papi untuk selalu bersyukur.


Akhirnya papi Jo mengajak Clare untuk pulang, dia rasa sudah cukup pertemuannya dengan teman-temannya. Papi Jo pamit pulang kepada teman-temannya. Padahal teman-temannya mengajak dia untuk club malam untuk pesta bersama. Tentu saja papi Jo menolak, karena setelah menikah dia sudah berjanji tak akan menyentuh minuman itu. Kalaupun mau, dia akan meminumnya di rumah seperti biasanya. Dia tak ingin kemabukan akan menghancurkan hidupnya, bersikap tak jelas tanpa sadar. Hal itu yang selalu papi Jo sangat jaga. Dia bukan seorang ceo yang sering mengunjungi club malam dan bermain wanita yang dia inginkan. Dia lebih memilih melakukannya sendiri di rumah.


Kini papi Jo sudah dalam perjalanan pulang, dia melirik sekilas melihat sang anak yang sudah tertidur pulas. Kalau seperti ini Clare kembali menjadi anak yang menggemaskan. Membuat sang papi terlepas dari senyum bahagianya. Anak-anaknya memang selalu bisa di andalkan, papi Jo masih mengingat apa yang di lakukan Clara dulu mencoba melindungi dia dari para pelakor dan wanita tak baik. Bagaimana Clara dulu bersikeras menginginkan papi Jo dengan babysitter nya.

__ADS_1


__ADS_2