Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda

Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda
Hanif dan Emeli


__ADS_3

Hanif memilih menutupi tentang kehadiran Emeli di hidupnya dari bosnya. Untungnya hari ini dia bisa pulang cepat. Karna harus mengantar tuan nya yang sedang sakit untuk segera pulang ke rumah. Setelah mengantarkan papi Jo, Hanif langsung melajukan mobilnya menuju ke sebuah mall yang letaknya tak jauh dari apartemennya. Dia berniat membelikan baju untuk di rumah, untuk pergi, pakaian dalam, dan juga baju tidur. Tak lupa dia juga pergi ke swalayan untuk membeli bahan makanan. Untuk sementara waktu, dia tak ingin membiarkan Emeli keluar dari apartemen. Semua kebutuhan makanan, cemilan, buah, dan perlengkapan lainnya di beli oleh Hanif. Trolinya kini sudah terlihat sangat penuh.


"Sebaiknya aku mampir beli ayam kriuk dulu, pasti Emeli suka." gumam Hanif, dan kini dirinya sudah di restoran yang menjual ayam kriuk. Hanif membeli 1 box ayam yang berisi 5 buah ayam, Hanif juga membeli French fries ukuran jumbo dan dua buah burger untuk dirinya dan Emeli.


"Ngomong-ngomong ukuran bukit kembar Emeli besar juga. Ga salah dia meminta aku membelikan ukuran 40." membayangkan hal itu membuat Hanif beberapa kali menelan Saliva nya. Hingga akhirnya dia memukul-mukul kepalanya sendiri agar tak berpikir macam-macam.


Kini Dia telah sampai di apartemennya, berhubungan barang bawaannya sangat banyak. Hanif harus dua atau bahkan tiga kali balik untuk mengambilnya.


Bel apartemen berbunyi, Emeli langsung berlari untuk segera membuka pintu kamar apartemen.


"Ini perlengkapan untuk kamu semua! Semoga ukurannya pas! Ya sudah aku ambil barang yang lain dulu ya!" ujar Hanif yang menyerahkan 5 bungkus yang berisi 5 pasang pakaian dalam, dua buah daster, satu buah piyama, dua buah celana jeans panjang, satu buah kemeja, satu buah kaos untuk pergi, satu buah blouse, dua buah celana pendek santai, dan dua buah kaos oblong ukuran untuk cewek. Tak lupa dirinya juga membelikan satu paket kosmetik dan juga sisir untuk Emeli. Hanif juga membelikan satu buah sendal dan satu buah switer.


"Kamu baik banget kak sama aku. Ini pasti tak cukup sedikit kamu membelikan semuanya untuk aku. Aku banyak berhutang Budi sama kamu kak. Semoga aku bisa membalas kebaikan kamu kepada aku." ucap Emeli lirih. Dia benar-benar terharu dengan sikap tulus Hanif kepada dirinya.


Hanif datang kembali membawa 4 kantong belanja yang berisi cemilan, buah, dan bahan-bahan untuk memasak. Dan juga satu bungkus berisi ayam kriuk.


"Aku mandi dulu, tolong kamu rapihkan ya! Dan tolong siapkan untuk kita makan." ucap Hanif sambil meletakkan satu persatu kantong belanja.

__ADS_1


Setelah semua selesai, Emeli pun memilih untuk mandi. Dirinya sudah merasa risih karna tak memakai kain segitiga.


Deg


Jantung Hanif berpacu dengan cepat saat melihat Emeli keluar dengan memakai daster yang ukurannya sangat pas di tubuhnya. Rambut Emeli masih terlihat basah. Membuat Hanif berulang kali menelan Saliva nya.


"Sadar Hanif, Lo ga boleh terlarut seperti ini! Emeli sudah Lo anggap sebagai adik Lo! Jangan punya pikiran kotor." gumam Hanif kepada hatinya.


Kini mereka sudah berada di meja makan, Emeli dengan telaten melayani Hanif mengambil nasi.


"Gimana rasanya seharian di apartemen? Tadi siang kamu makan apa? Maaf ya tadi kakak ga sempat menghubungi kami, karna bos kakak sakit jadi kakak sibuk nganter dia pulang dan setelah itu kakak langsung ke belanja keperluan kita di sehari-hari." ucap Hanif membuka obrolan.


Jantung keduanya berpacu sangat cepat. Saat Hanif memegang dagu Emeli untuk mengambil nasi di dagunya. Membuat kedua netra mereka saling bertemu. Hening seketika. Keduanya saling memandang.


"Ehem...maaf! Sabar ya...nanti kalau kakak libur kamu ga akan merasa kesepian lagi. Oh ya, hari ini aku belum sempat ke kampus kamu. Maaf ya! Kemungkinan baru besok kakak ke kampus kamu." ujar Hanif dan Emeli hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah selesai makan, mereka memilih untuk mengobrol bersama sambil menikmati tayangan tv.

__ADS_1


"Kamu lucu banget sih pake daster gitu. Maaf ya aku ga ngerti soalnya, maaf kalau pilihan kakak ga sesuai sama kamu. Semoga semua ukurannya pas ya!" ujar Hanif. Membicarakan soal ukuran, Hanif jadi teringat ukuran bra Emeli yang besar. Dan sekarang terlihat sekali saat Emeli memakai daster seperti itu. Emeli terlihat sexy.


Malam ini mereka asyik mengobrol, saling bertukar pikiran. Keduanya terlihat sangat nyaman dan cocok. Emeli bangkit membuatkan teh manis hangat untuk Hanif. Kini Hanif tak lagi kesepian. Dan tak melakukan sendiri. Sudah ada Emeli yang kini menemani hari-harinya. Canda tawa mengiringi kebersamaan mereka.


"Makasih ya sudah memberi warna di hidup kakak! Kakak sudah tak merasa kesepian lagi. Sekarang sudah ada kamu yang menemani kakak. Mengurus semua keperluan kakak." ujar Hanif membuat Emeli tersipu malu atas ucapan Hanif.


"Sampai kapan ya kak kita bisa sedekat ini? Apa kita masih bisa dekat kalau nantinya kakak memiliki pendamping hidup. Hiks...rasanya aku tak rela." ujar Emeli terlihat sedih.


"Jangan berpikir terlalu jauh dulu, jalanin saja dulu! Toh kakak belum menemukan orang yang pas kok untuk kakak cintai, kakak masih merasa nyaman hidup seperti ini. Jadi kamu jangan mikir macam-macam ya!" ujar Hanif sambil mencubit hidung Emeli.


Hanif merasa gemas saat melihat Emeli sedang dalam mode ngambek. Hanif langsung menarik tangan Emeli dan membawa ke dalam dekapannya. Membuat dada bidang Hanif menempel dengan bukit kembar Emeli. Hembusan nafas mereka sangat terasa.


"Kamu cantik, kamu wanita yang sempurna." ucap Hanif sambil merapihkan poni Emeli. Hal itu tentu saja membuat wajah Emeli semakin memerah. Jantungnya pun tak bisa di kondisikan lagi.


"Apa aku boleh jika nantinya aku mencintai kakak? Menginginkan kakak?" ucap Emeli. Dia mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang dia rasa. Hanif menganggukkan kepalanya, sebagai tanda dia mengizinkan untuk Emeli melakukan itu.


Emeli mendekatkan wajahnya dengan wajah Hanif, hingga keduanya tak ada jarak. Tangan Emeli menggenggam tangan Hanif dengan erat. Bibir mereka semakin mendekat hingga akhirnya menempel. Emeli lah yang memulai ciuman itu, dia telah mengambil ciuman pertama Hanif. Mereka bercumbu mesra, terhanyut dalam kedekatan mereka. Emeli mendorong tengkuk Hanif agar semakin memperdalam ciuman itu. Namun saat Hanif merasakan bedongan miliknya sudah terasa sesak, Hanif memilih menghentikan ciuman yang semakin panas itu. Dia tak ingin melakukan terlalu jauh. Hanif langsung bangkit dan menuju kamar mandi untuk membuang racun miliknya. Melemaskan otot-otot miliknya yang sudah menegang.

__ADS_1


Hari ini author menceritakan tentang perjalanan cinta Hanif sangat asisten papi Jo ya.πŸ˜˜πŸ˜„πŸ˜ƒ


__ADS_2