
Celine langsung memeluk tubuh sang suami, tak ingat jika dirinya masih menggunakan bathrobe karna memang dirinya baru saja selesai mandi.
Dan tentu saja hal itu membuat sinyal Bray menjadi kuat karna mendapatkan guncangan tiba-tiba dari duo semangka. Hingga dirinya mengamuk di dalam bedongan.
"Mengapa Bray menendang ku?" ucap Celine dengan polosnya. Dia mengikuti sang suami untuk memanggil pisang tanduk sang suami dengan panggilan Bray.
"Itu tandanya, dia menginginkanmu! Siapa suruh kau membangunkan dirinya yang sedang bobo ganteng." goda Papi Jo sambil menaik turunkan alisnya. Membuat wajah mami Celine memerah.
"Ayo kamu harus tanggung jawab!" ucap papi Jo, Papi Jo langsung menarik tangan sang istri. Kini dirinya sudah tak mampu jika harus menggendong tubuh sang istri yang sangat berat karna sedang mengandung bayi kembarnya.
Papi Jo langsung membuka bathrobe mami Celine dan melemparnya hingga membuat mami Celine sudah dalam keadaan polos. Dia pun membuka pakaiannya dan kini mereka sudah sama-sama polos.
Papi Jo langsung melahap bibir istrinya dengan rakus, karna hasratnya sudah mengebu-ngebu dan bahkan bray sudah ingin bermain di sarangnya. Lagi-lagi mami Celine hanya menikmatinya, menikmati sengatan-sengatan listrik yang di buat sang suami.
"Aaaahhh..." desau Celine. saat sang suami memainkan jari nya di lubang kenikmatan miliknya.Menaik turunkan seakan Bray yang sedang bermain dan bibirnya terus bermain dan bahkan kini lidah mereka saling membelit satu sama lain membuat keadaan semakin memanas.
Papi Jo semakin tak tahan, dia langsung memasukkan si Bray ke dalam sarangnya. Dan memompanya. Tak hanya hanya sampai di situ, Kini papi Jo menyuruh sang istri memimpin permainan. Bray memang sungguh perkasa, membuat mami Celine menjerit berkali-kali karna merasakan tubuh Bray yang kekar dan berotot.
Haredang...awas jangan traveling ya! Mikirin tubuh Bray yang kekar dan berototπ€£πππ
"Aaahh sayang nikmat sekali." racau Papi Jo saat milik mami Celine seperti menggigit. Mami Celine mengalami pelepasan lebih dulu. Merasakan milik sang istri yang terasa basah dan menggigit, membuat bray semakin kesurupan ingin mengalami pelepasan.
"Faster, sayang!"ucap Papi Jo dengan mata yang seperti orang cacingan. Keringat sudah bercucuran membasahi tubuh mereka, bahkan rasa dingin AC tak lagi mampu menutupi hawa panas yang menjalar di tubuh keduanya.
"Aaaahh.." akhirnya papi Jo mengerang dan mengalami pelepasan.
__ADS_1
Mami Celine langsung membaringkan tubuhnya di samping sang suami, tubuhnya terasa lemas akibat pergulatan yang di lakukan bersama sang suami. Papi Jo menggenggam erat tangan sang istri.
"Ku mohon jangan pernah tinggalkan aku, aku yakin jika aku tak akan sanggup kehilangan kamu! Tetaplah di sini mendampingi aku, membesarkan anak-anak kita bersama, kita menua bersama! Aku hanya mencintai kamu hingga kapanpun!" ucap Papi Jo yang kini menatap lekat wajah istrinya membuat Celine tak mampu berkata-kata dan hanya air mata yang mewakilkan perasaannya saat itu. Celine merasa terharu atas cinta yang di berikan suaminya kepadanya.
Berbeda hal nya dengan dua insan yang baru saja memadu kasih. Vino masih hanya diam menatap wajah wanita yang dia cintai yang kini telah menjadi milik orang lain. Sedih dan tangisnya tak akan membuat Celine kembali kepadanya, mengikhlaskan mungkin itu yang terbaik dari pada dia harus hidup dalam keterpurukannya. Dan akhirnya Vino memutuskan untuk menerima perjodohan orang tuanya. Dia ingin melihat Celine hidup bahagia meskipun bukan dengannya.
β€οΈβ€οΈβ€οΈ
Hari terus berlalu kini Celine, Clara, dan papi Jo sedang berada di pusat perbelanjaan untuk membeli semua keperluan untuk kedua bayinya yang sebentar lagi akan lahir. Papi Jo memilih sang istri untuk melahirkan secara sesar, karna dia tak ingin sang istri mengalami resiko harus melahirkan anak kembarnya lewat persalinan normal terlebih ini adalah hal pertama bagi Celine.
"Kamu dan Clara pilih perlengkapan untuk baby girl dan aku untuk si boy! Gimana setuju?" ucap papi Jo, Clara dan Celine setuju.
Bukan hanya sebagai suami, papi siaga tapi dia juga ingin menjadi seorang papi yang ada peranannya dalam memilih untuk sang buah hati. Dan biar adil, papi Jo membaginya dengan sang istri dan juga Clara sesuai jenis kelamin sang anak. Mereka terlihat bahagia.
"Kamu sudah sangat bahagia dengannya! Semoga akupun bisa menemukan kebahagiaan meskipun bukan denganmu!" ucap Vino lirih saat melihat Celine bersama keluarga kecilnya dari jauh. Ikut merasa bahagia mungkin itu yang terbaik.
...Tak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar,...
...dari air mata...
...Namun ku coba menerima hatiku membuka, siap untuk terluka...
...Cinta tak mungkin berhenti, secepat saat aku jatuh hati...
...Jatuhkan hatiku kepadamu, sehingga hidupku pun berarti...
__ADS_1
...Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci...
...Walau kini aku harus pergi, tuk sembuhkan hati...
...Walau seharusnya bisa saja, dulu aku menghindar dari pahitnya cinta...
...Namun ku pilih begini, biar ku terima sakit demi jalani cinta...
"Aku ke toilet dulu ya yang." ucap Celine dan Papi Jo mengatakan iya dan mengingatkan sang istri agar berhati-hati di toilet. Dan Celine mengangguk mengerti maksud sang suami.
Papi Jo memilih untuk menunggu di tempat duduk bersama Clara yang letaknya lumayan jauh dari jarak toilet.
Dua insan yang pernah menjalin hubungan kini bertemu dan saling menatap, namun tatapan mereka tak lama. Celine tersadar bahwa dia telah menjadi milik suaminya seutuhnya.
"Maaf, maafkan aku yang telah menyakiti hati kamu! Aku kini sudah bahagia bersamanya, semoga kelak kamu juga akan mendapatkan kebahagiaan kamu bersama yang lain." ucap Celine. Celine memilih menunduk, dia tak ingin keputusannya akan berubah.
Tangan Vino mengangkat dagu Celine dan meraup kedua pipi Celine, membuat kini mereka saling menatap.
"Katakan padaku, apakah masih ada cinta di hatimu untukku?" tanya Vino, dia hanya ingin memastikan saja perasaan yang di rasa wanita yang masih bertengger di hatinya.
Celine menggeleng lemah, mungkin lebih baik dia berbohong demi kebaikan. Karna rasa itu tak mungkin secepat itu hilang seperti dirinya dulu membuka hatinya untuk mencintai Vino. Vino sempat menjadi yang terindah menduduki posisi teratas, namun cintanya telah hilang saat Vino pergi meninggalkan dirinya dulu untuk pindah keluarga negeri. Dan kini dirinya kembali di saat Celine tak bisa lagi bersamanya. Dia telah di miliki suaminya.
"Mata mu dan mulut mu tak sejalan. Mulut bisa berkata tidak, tapi mata tak bisa membohongi perasaan kamu. Aku yakin masih ada nama aku di hatimu." ucap Vino sinis. Dia merasa kesal dengan sikap Celine yang membohongi dirinya.
Tanpa mereka sadari ada dua orang yang melihat kebersamaan mereka. Sakit, papi Jo merasa sakit. Dia tak menyangka jika sang istri masih dekat dengan mantan kekasihnya. Clara menggenggam erat tangan sang papi mencoba menguatkan. Clara yakin jika sang mami tak akan mengkhianati papinya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya ππππ