Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda

Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda
Mengenal sosok Emeli


__ADS_3

"Oh ya? Kok bisa? Kamu masih sangat muda, mengapa orang tua mu buru-buru ingin menikahkan kamu?" tanya Hanif. Sebenarnya Hanif tipe orang yang cuek dan masa bodo dengan persoalan orang lain. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja dirinya merasa penasaran dengan sosok Emeli, wanita yang berada di hadapan.


Hanif merasa nyaman dekat dengan Emeli, sama halnya dengan Emeli. Meskipun di awal pertemuan pertama mereka sempat bersiteru. Ternyata Hanifa sosok yang menyenangkan dan dewasa, lama kelamaan Emeli malah membongkar tentang kehidupannya yang sangat menyedihkan.


"Oh ternyata kamu selama ini tinggal dengan bapak tiri kamu dan ibu kandung kamu? Saya tak menyangka, demi uang ibu kandung kamu bekerja sama dengan bapak tiri kamu untuk menjual kamu dengan duda kaya raya itu. Lantas setelah ini apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan kembali kepadanya dan menikah dengan pria itu?" tanya Hanif menyelidik.


Hanif menceritakan kisah cinta bos nya yang seorang duda yang akhirnya menikah dengan babysitter anaknya. Mereka hidup bahagia dan telah memiliki anak dari pernikahan mereka. Di awal hubungan tak ada cinta di antara mereka, karna mereka menikah terpaksa karna di jebak oleh mami nya dan akhirnya mereka di nikahkan. Namun lambat laun akhirnya mereka saling mencintai.


"Tapi aku tak yakin akan mencintai dia. Karna dia seorang Casanova, dan aku hanya di jadikan pemuas ranjang." ungkap Emeli sambil terisak tangis. Membuat Hanif semakin merasa tak tega.


Hanif langsung membawa tubuh Emeli dalam pelukannya, hatinya merasa iba. Seperti seorang kakak yang merasa kasihan dengan kisah hidup adiknya. Hanif mengusap rambut Emeli dengan lembut. Mencoba menenangkan.


"Apa aku boleh tinggal di sini kak? Ga masalah kakak menjadikan aku sebagai pembantu kakak. Asalkan kakak tetap mengizinkan aku tinggal di sini. Hanya kakak yang aku miliki, ibu tak lagi menyayangi aku. Dia hanya membutuhkan uang untuk dirinya bermain judi dan mabuk." ucap Emeli.


Hanif merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Emeli. Dia tak menyangka di balik gaya kerasnya Emeli saat pertama kali bertemu, ternyata menyimpan kehidupan penuh air mata.


"Mulai sekarang kamu jangan sedih lagi ya! Ada kakak yang akan menjaga kamu di sini!" ujar Hanif lembut sambil meraup kedua pipi Emeli, dan mata mereka kini saling bertemu.


"Benarkah? Kakak ga bohongi aku seperti pacarku dulu? Pacarku berkhianat di belakang aku, dia berselingkuh dan bahkan waktu itu aku memergoki dia dan sahabatku yang sedang bercumbu mesra. Padahal dulu dia pernah berkata seperti yang kakak ucapkan tadi." sahut Emeli.


Hanif berjanji, mulai detik ini dia akan menganggap Emeli sebagai adiknya. Dia akan selalu menjaga Emeli. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Hanif hidup sebatang kara. Dia merantau ke Jakarta untuk merubah nasib. Sebenarnya dia anak orang kaya, namun keluarga dari orang tuanya berniat menguasai harta kekayaan orang tuanya hingga mereka berniat melenyapkan Hanif dari muka bumi.


"Oh ya saat ini kesibukan kamu apa?" tanya Hanif.

__ADS_1


"Sebenarnya aku masih kuliah kak, aku merasa beruntung mereka mau menguliahkan aku. Tapi sebentar lagi aku lulus, dan sebagai imbalannya aku harus menikah dengan Casanova itu kak. Sebagai bentuk balas Budi." sahut Emeli.


Hanif mencoba berpikir, jika Emeli berkuliah di kampus itu apa kedua orang tuanya tak akan mencarinya. Dan pastinya akan membawa Emeli paksa untuk di nikahi. Sedangkan dirinya tak mungkin menjaga Emeli terus menerus, karna dia harus bekerja.


"Kalau menurut saran kakak, lebih baik kamu cuti dulu dan lebih banyak di dalam apartemen saja! Karna kakak yakin saat ini kedua orang tua kamu pasti sedang mencari keberadaan kamu! Besok kakak akan mengurus kuliah kamu. Nama kamu siapa? Kuliah di mana? Dan tolong siapkan kartu identitas kamu! KTP dan kartu mahasiswi kamu, untuk memudahkan kakak mengurusnya!" ujar Hanif dan Emeli akan mengikuti perintah Hanif.


Emeli memberikan berkas-berkas dirinya ke Hanif. Dan obrolan mereka harus terhenti, karna kini sudah larut malam. Besok Hanif harus bekerja.


"Emiliana? Jadi nama kamu itu. Wajah kamu cantik sekali di foto. Sayang kehidupan kamu tak secantik wajah kamu. Aku janji akan berusaha melindungi kamu!" gumam Hanif saat memandang wajah Emeli. Hanif merebahkan tubuhnya dan berusaha untuk memejamkan matanya. Karna dirinya besok pagi harus bangun dan berkerja.


Emeli hadir ke dalam mimpi Hanif. Senyum manisnya mengiringi tidurnya. Dan hal itu membuat Hanif tersentak kaget dan membuka matanya. Untungnya dia terbangun karna matahari sudah mulai menyelusup masuk menembus teras kamarnya.


"Eemmmm...wangi sekali. Seperti bau masakan." gumam Hanif dan langsung bergegas bangkit untuk mencari sumber wangi. Dia membuka pintu kamarnya, dan ternyata Emeli lah yang sedang sibuk memasak di dapur.


"Aish kakak...bikin aku kaget saja! Aku sedang memasak buat sarapan kita. Tapi maaf aku hanya memasak yang bahannya ada di kulkas saja." ujar Emeli sambil terkekeh.


Senyum manisnya sudah terbit kembali, tak ada lagi wajah murungnya, dia sudah merasa bahagia.


"Maaf jika suara aku mengangetkan kamu, aku tak bermaksud! Mungkin karna aku baru saja bangun tidur, jadi suara ku masih suara ciri khas orang bangun tidur." ujar Hanif sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak terasa gatal.


Emeli menyuruh Hanif untuk mandi dan nanti mereka akan makan bersama. Hanif pun mengikuti ucapan Emeli karna dia memang tak ingin terlambat ke kantor.


Makanan sudah tersaji rapi di meja makan, namun saat Emeli mau mandi dia teringat jika dirinya tak memiliki baju ganti hingga akhirnya memilih menunggu Hanif selesai mandi.

__ADS_1


Hanif sudah selesai bersiap-siap dan keluar dari kamarnya. Emeli mencoba menahan Saliva nya saat melihat wajah tampan dan maskulin pria di hadapannya. Wajah Hanif terlihat segar. Deheman Hanif membuat Emeli tersadar.


"Eemmmm...maaf." ucap Emeli, wajahnya sudah memerah karna merasa malu tertangkap basah sedang memperhatikan Hanif.


"Apa aku bisa pinjam kaos dan celana pendek lagi? Aku tak memiliki baju ganti untuk mandi kak." ujar Emeli. Membuat Hanif teringat jika dirinya belum membelikan Emeli pakaian dan pakaian dalam.


"Baiklah nanti aku akan mampir beli pakaian untuk kamu. Kamu biasa pakai ukuran apa? Dan maaf untuk pakaian dalam kamu ukurannya apa?" ucap Hanif sedikit malu membayangkan dirinya saat akan membeli pakaian dalam untuk Emeli.


Mereka sama-sama tertawa geli, membayangkan Hanif yang terpaksa harus membeli pakaian dalam untuknya. Tapi mau tak mau Emeli harus mengatakan karna Hanif nanti yang akan beli.


"Maaf ya kak aku jadi merepotkan kamu! Sampai-sampai aku mengerjai kamu untuk beli pakaian dalam." ucap Emeli.


Jangan lupa beri dukungannya ya kakakπŸ˜„πŸ™πŸ˜˜


Like


Comment


Vote


Hadiah


Rating 🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


__ADS_2