Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda

Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda
Kepergian orang yang di cinta


__ADS_3

"Mami...hiks...hiks...kenapa mami tinggalin aku?Bangun mi! Bangun! Jo sayang mami!" teriak Papi Jo saat mami Grace menghembuskan nafas terakhirnya. Mami Grace pergi untuk selamanya.


Papi Jo menekan tombol darurat, meminta bantuan agar dokter jaga segera datang mengecek sang mami. Papi Jo masih merasa tak percaya kalau sang mami sudah meninggal. Dokter yang menangani mencoba melakukan tindakan, tetapi tetap saja mami Grace tak dapat di selamatkan.


"Mohon maaf Tuan, kami sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa pasien. Tetapi takdir berkata lain. Sekali lagi saya ucapkan mohon maaf." ujar dokter yang menangani.


Papi Jo langsung meraung-raung berteriak memanggil nama sang mami. Menggoyang-goyangkan tubuh sang mami berharap sang mami membuka matanya. Tapi usahanya sia-sia, mami Grace tak dapat di selamatkan. Papi Jo langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi sang istri untuk memberi tahu tentang apa yang terjadi.


Mendengar ponselnya berbunyi, Celine langsung mencari keberadaan ponselnya dan mengangkat panggilan telepon dari suaminya.


"Yang, mami yang. Hiks...hiks...hiks. Mami meninggal." ucap Papi Jo lirih kepada sang istri.


Sejenak jantung Celine terasa terhenti, nafasnya terasa sesak, matanya membulat sempurna. Dia merasa tak percaya dengan ucapan suaminya.


"Ya Tuhan. Kamu serius? Aku akan segera ke sana! Aku akan kasih tau mami sama papi dulu biar dia ke sana juga. Kamu sabar ya! Hanif sudah kamu hubungi? Biar bisa membantu kamu." sahut Celine yang sudah meneteskan air matanya tetapi masih berusaha tenang.


Papi Jo meminta sang istri menghubungi Hanif untuk segera datang ke rumah sakit. Dan Papi Jo menyuruh Celine mengurus di rumah duka, menyambut kedatangan jenazah. Karena setelah semua di rumah sakit selesai, mami Grace akan langsung di bawa ke rumah duka. Urusan mami Grace di rumah sakit biar dia dan Hanif yang urus. Semua di suruh menunggu di rumah.

__ADS_1


"Tapi kamu yakin kuat aku tidak ada?" ucap Celine. Dia merasa khawatir dengan sang suami. Celine juga merasa menyesal karena tak berada di samping ibu mertua sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Papi Jo menyakinkan sang istri kalau dirinya kuat. Meskipun sebenarnya dalam hatinya dia merasa rapuh karena kehilangan orang yang di cintai. Untungnya sang asisten selalu setia menemani dirinya. Papi Jo merasa menyesal karna tak sempat mengobrol sebelum sang mami pergi untuk selamanya. Dia justru sibuk mengurus orang lain.


Air mata Papi Jo tak mampu tertahan lagi, sejak tadi terus menetes membasahi wajahnya. Tubuhnya terasa lemas, separuh nafasnya hilang meninggalkan dirinya.


"Kenapa mami pergi di saat Jo belum berbakti sepenuhnya sama mami? Jo sedih mi! Karna mami yang selalu menguatkan Jo, dan sekarang mami ga ada. Mami adalah wanita luar biasa." ujar papi Jo yang kini ikut dalam mobil jenazah. Mengiringi sang mami.


Sedangkan Celine dan Mami Leticia sibuk mengurus di rumah duka. Menunggu sang jenazah sampai. Setelah pulang dari rumah ibu tirinya, Celine memutuskan langsung ke rumah mami Grace. Celine sudah menyuruh supir Clara untuk menjemput anak-anak di sekolah dan membawanya ke rumah mami Grace.


Sirine mobil jenazah memasuki pekarangan rumah mami Grace. Celine yang melihat sang suami datang, langsung bergegas menghampiri mobil ambulance. Dia merasa khawatir dengan sang suami. Papi Jo terlihat lesu tak bersemangat. Wajahnya terlihat pucat dan matanya terlihat bengkak karena banyak menangis.


Tangis kesedihan mengiringi nenek, mami, dan ibu mertua. Clara dan kembar yang mengetahui sang nenek meninggal, tentu saja merasa kehilangan. Tak mampu membendung air matanya.


"Sabar ya Jo, papi yakin kamu pasti kuat! Ini demi kebaikan mami, biar mami tak merasakan sakit lagi! Dia sudah berkumpul dengan papi kamu di surga." ujar Cristian. Cristian sekarang adalah papi nya, papi mertuanya. Dan hanya Cristian dan Leticia yang Celine dan Jo miliki.


Clara terlihat sangat terpukul sekali, saat mengetahui sang nenek sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Padahal yang mereka tahu kemarin-kemarin mami Grace masih terlihat sehat, makanya mereka terlihat kaget tak percaya saat mendengar berita sang nenek masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal.

__ADS_1


"Selamat jalan mi! Selamat jalan pahlawan di hidup aku! Mami udah ga merasa sakit lagi, mami sudah merasa tenang! Maaf kalau aku belum bisa menjadi menantu yang baik untuk mami." ucap Celine lirih dalam hati.


Banyak orang yang datang dan mengantar kepergian mami Grace ke tempat peristirahatan terakhir. Papi Jo sudah mulai terlihat tenang, dia sudah mulai mengikhlaskan sang mami.


"Selamat jalan mi! Kamu akan selalu ada di hidupku! Doakan aku agar selalu bisa menjadi suami dan papi yang baik untuk keluarga ku! Terima kasih telah memberikan kebahagian yang luar biasa untuk aku, terima kasih sudah menjadi mami yang hebat untuk aku! Aku menyayangi kamu." ucap Papi Jo dalam hati saat mengantarkan sang mami ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Belum hilang rasa sedih yang di rasa Celine atas kehilangan orang yang di cinta, kepergian ibu mertuanya menorehkan kesedihan di hatinya. Kini Celine harus di hadapkan kepergian ibu tirinya. Saat dirinya sampai di rumah, ponselnya berdering. Ernesta mengabarkan kepada dirinya kalau sang mami meninggal. Tentu saja membuat Celine merasa tambah sedih. Dalam satu hari dirinya harus mengetahui dua orang yang selama ini ada di hidupnya, pergi untuk selamanya. Tetapi semua itu adalah takdir, dia tak bisa menghindarinya.


"Sayang...ibu tiri aku meninggal. Boleh aku pamit ke rumahnya sebentar? Aku ingin menyumbangkan uangku untuk mengurus pemakamannya. Setelah selesai, aku akan segera pulang." ujar Celine dan Papi Jo mengizinkannya.


Setelah pamit kepada anak-anaknya dan maminya, Celine bergegas menuju ke rumah ibu tiri nya untuk memberikan uang kepada Ernesta untuk mengurus pemakaman ibu tirinya. Kini


"Kak, mami kak. Mami meninggal. Hiks...hiks..." ucap Ernesta saat Celine menginjakkan kakinya di rumah duka. Celine meminta maaf karna tak mengajak serta sang suami ikut ke sana, mertuanya meninggal dan baru saja selesai pemakaman.


"Sabar ya Er, mungkin itu yang terbaik untuk mami! Mami udah ga menderita lagi, menahan rasa sakit yang di derita." sahut Celine, menenangkan sang adik.


Ernesta meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat sang mami dulu, dan mungkin saat ini mami sudah merasa tenang untuk meninggalkan dunia karna sudah bertemu Celine tadi pagi.

__ADS_1


Yuk beri dukungan untuk karya ini, jangan lupa vote nya ya! Hari ini author crazy up ya😘😍


__ADS_2