
Jo telah sampai di kantor. Aura dingin terpancar dari wajahnya. Dia selalu melakukan pekerjaan dengan serius.
Brak
Jo menggebrak meja di ruangan kepala cabang. Sejak tadi pagi, Pak Winarto sudah menjadi tahanan kantor. Dia tak di beri kesempatan untuk aktivitas keluar kantor.
" Jadi ini balasan anda atas kepercayaan yang telah saya berikan kepada anda ? " Ucap Jo menatap tajam Pak Winarto.
" Maaf tuan, saya hilaf ! " Sahut Pak Winarto. Dia tak berani menatap bos nya itu, tubuhnya pun terasa gemetar. Dia sangat mengenal karakter Jo yang tidak berbeda dengan papi nya.
" Sekarang anda bisa bilang khilaf ? Setelah apa yang anda lakukan berkali-kali pada perusahaan ini ! Mungkin jika tak pernah ketawan, saya yakin anda pasti masih akan terus melakukannya ! Apa anda tak menyadari perbuatan anda itu bisa membuat perusahaan ini bangkrut ! " Sahut Jo geram.
Pak Winarto saat ini tetap dalam keadaan tangan terborgol. Sedangkan Jo sedang memeriksa berapa jumlah uang yang di salahgunakan Pak Winarto berikut bukti-buktinya.
Jo menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat video rekaman cctv Pak Winarto yang sedang berjalan mesra dengan seorang wanita muda ke sebuah hotel dan itu bukan hanya sekali tapi lebih dari 10x dengan wanita yang berbeda. Sebenarnya Jo tak mau ambil pusing, semua ini urusan Pak Winarto. Tapi dia merasa tidak terima jika uang perusahaan yang di pakai Pak Winarto untuk bersenang-senang dengan wanita ja*lang. Pak Winarto melakukan tindak korupsi sebesar 500 juta. Bagi Jo itu bukan jumlah yang sedikit, meskipun dirinya seorang pengusaha hebat tapi dia tak pernah membuang uangnya dengan cuma-cuma hanya untuk bermain dengan wanita ja*lang.
" Sepertinya sel penjara adalah tempat yang pas untuk anda ! Bukankah selama ini anda telah menikmati kesenangan ? Saya tak habis pikir dengan anda, berani-beraninya anda memakai uang perusahaan hanya untuk bersenang-senang di luaran sana, padahal anda masih memiliki istri dan usia anda pun sudah mendekati ajal. Mungkin jika karna anda membutuhkannya untuk keluarga anda, saya masih bisa toleransi ! Asal anda tau, meskipun saya memiliki banyak uang tak ada sedikitpun keinginan saya untuk memakai jasa wanita malam. " Ujar Jo yang merasa sangat geram.
Setelah Jo meras puas mengeluarkan uneg-uneg nya, Jo menyuruh bagian administrasi cabang untuk menghubungi polisi untuk membawa Pak Winarto.
" Tuan Saya mohon, maafkan saya ! Saya janji tak akan pernah melakukannya lagi ! Ku mohon tuan kasihan saya, kasihan keluarga saya di rumah jika saya harus di penjara. " Ujar pak Winarto memohon iba.
Pihak kepolisian sudah datang, Pak Winarto langsung di bawa ke kantor polisi untuk di minta keterangan.
Jo menyenderkan tubuhnya di kursi yang berada di ruangan Pak Winarto. Tangannya memijit keningnya.
" Kenapa si gw selalu di bohongin orang ? Kenapa orang selalu mengkhianati kepercayaan gw ? Apa salah gw ? Padahal gw udah menaruh kepercayaan pada mereka, tapi kenapa mereka seperti itu padaku.
__ADS_1
" Tuan, silahkan di minum dulu ! " Ucap bagian administrasi yang meletakkan dua cangkir teh untuk dirinya dan juga Hanif. Kantor cabang di Yogyakarta tak sebesar di kantor pusat dan di kantor cabang Surabaya. Pegawainya pun tidak banyak, hanya terdiri dari beberapa orang staf yang mengurus administrasi kantor cabang Yogyakarta.
Jo langsung meminum teh manis itu. Dan kini dirinya sudah merasa tenang.
" Han, kamu urus semuanya ! Tapi sebelum kamu ke kantor, saya ingin supir kantor mengantar saya lebih dulu ke hotel ! " Ujar Jo yang tubuh nya terasa lelah. Dan survey membuktikan bahwa marah itu menguras tenaga.
Kini mobil yang membawa Hanif dan juga Jo sudah sampai di lobby hotel. Jo meminta pulang lebih awal ke hotel, dan dia meminta Hanif untuk mengurus kasus ini.
Jo membaringkan tubuhnya yang terasa lelah tanpa berganti pakaian lebih dulu. Sungguh hal ini sangat menyita waktu dan pikirannya.
" Clara ? Lagi apa ya dia ? " Gumam Jo dan akhirnya langsung meraih ponselnya dan melakukan panggilan video.
Clara masih tertidur pulas. Dan Celine sedang mandi hingga saat Jo menghubungi ponsel Clara tak ada yang mengangkat.
" Kemana ni anak ? Clara ga mengangkat, Celine pun juga. " Ujar Jo yang merasa bingung.
" Ya...Tuan.." Celine yang terburu-buru langsung saja spontan mengangkat. Hingga akhirnya mereka melakukan panggilan video.
Deg
Jantung Jo berpacu lebih cepat saja melihat wajah Celine di layar ponselnya. Terlebih terlihat jelas jika Celine baru saja mandi dan keramas hingga membuat pikiran Jo traveling tak menentu.
" Tuan..." Panggil Celine saat melihat Jo hanya dia terpaku.
" Eemmm.. Clara mana ? " Jo terlihat gugup hingga akhirnya Jo merubah panggilan Video ke panggilan telepon yang hanya mendengar suara Celine saja. Jo sangat grogi saat melakukan panggilan video Dengan Celine dia tak ingin Celine mengetahuinya.
" Maaf Tuan. Non Clara nya masih tidur. Belum bangun. " Sahut Celine sopan. Dan tanpa basa-basi Jo langsung mengakhiri panggilan telepon dengan Celine begitu saja.
__ADS_1
" Dasar tuan ga sopan. Ga ada basa-basi langsung menutup telponnya aja ! Dasar orang kaya sombong ! " Hujat Celine saat panggilan dengan Jo telah selesai.
Sedangkan Jo di kamar hotel menjadi tak jelas, pikirannya menjadi melayang tak jelas.
" Aaahhh... Celine kau selalu saja membuat saya gelisah ! " Gerutu Jo.
Untungnya Hanif datang mengetuk pintunya hingga dirinya terbebas pikiran melayang rambut basah Celine.
Wkwkwk emangnya kalau Celine rambutnya basah kenapa ? Kan Celine baru selesai mandi dan keramas ππ€£ππ
Jo membuka pintu kamarnya dan mengajak Hanif duduk di sofa di kamarnya.
" Gimana urusan Pak Winarto ? " Tanya Jo pada asistennya.
" Semua sudah beres tuan, sudah di serahkan kasus ini kepada pihak berwajib dan kita hanya menunggu kelanjutan nya. Tadi saya sudah jelaskan pada pihak polisi, bahwa tuan tak akan pernah mencabut kasus ini selama Pak Winarto belum membayar sejumlah uang yang dia pakai " Sahut Hanif yang kini ikut duduk di sofa bersama bosnya.
" Kerja yang bagus ! Lalu gimana masalah kasus di Surabaya apa perlu kita ke sana ? " Tanya Jo serius kepada asisten nya.
" Sejauh ini masih di selidiki kebenaran nya. Dan sepertinya kita masih harus di sini dulu tuan, kita harus mencari pengganti sementara untuk Tuan Winarto ! " Sahut Hanif. Dan bagi Jo itu ide yang sangat bagus. Jo harus segera memutuskan pengganti Pak Winarto.
Sungguh pilihan yang sangat sulit. Dia takut kecewa untuk berulang kali. Salah mempercayai orang hingga akhirnya orang tersebut berkhianat. Hingga akhirnya dia meminta bantuan Hanif untuk mencari kandidat yang tepat untuk menempati posisi itu sesuai dengan kinerja, kemauan, dan lama bekerja. Hanif harus mencari tau secara detail.
Setelah makan malam, Jo kembali ke kamarnya begitu juga Hanif yang kini masuk ke kamarnya sendiri.
Ternyata menahan rindu itu sangat menyakitkan. Biar Dilan saja yang menahan rindu. Hahahaha. πππ€£
Itulah yang di rasakan papi Jo saat ini. Pikirannya terus terlintas pada sosok Celine. Wanita yang tanpa sadar atau dia tak pedulikan yang telah hadir di hatinya. Jo berusaha untuk menahan rasa rindunya untuk wanita yang hadir di hatinya untuk dua hari. Dia ingin segera pulang.
__ADS_1
Rindu senyumnya, rindu perhatiannya, rindu wajahnya, rindu bibirnya, rindu duo semangka nya, rindu ucapannya. πππ€£