Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda

Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda
Bos vs Asisten


__ADS_3

"Han, belikan saya asinan buah dan es cendol donk! " ujar Papi Jo.


"Tapi anda belum makan nasi Tuan. Nanti anda mual lagi." ucap Hanif mengingatkan.


"Saya kalau makan nasi mual Han. Ternyata wanita hamil itu kasihan ya. Sudahlah kapok saya. Ini yang terakhir saja, sudah cukup empat anak. Pusing kalau harus merasa mabok lagi seperti ini." sahut Papi Jo yang mengadu kepada asistennya seperti anak kecil kepada ibunya.


"Yakin Tuan ga mau nambah? Kan bikinnya enak." goda Hanif.


Ya memang bikinnya enak tetapi kalau mengalami ngidam seperti ini dan jatah kesejahteraan Bray menjadi terancam, repot nantinya.


Hanif menceritakan kalau dia justru kehamilan sang istri membawa berkah. Sang istri menjadi tambah liar di ranjang. Celine pun sama tapi Papi Jo yang menurun. Karna setiap dia melakukan hubungan suami istri dengan istrinya, akhirnya dia akan mengalami mabuk bahkan sampai muntah sampai-sampai tubuhnya terasa lemas. Lagi pula, belum selesai menuju puncak, udah harus terhenti karna ingin muntah.


"Istri kamu suka mengidam ga Han?" tanya papi Jo kepada asistennya. Intinya pembicaraan hari ini membahas tentang istri-istrinya yang sedang hamil.


"Istri saya sukanya makan masakan saya Tuan, makanya setiap hari saya lah yang memasak untuk makan kami. Kalau makan buatan saya, makannya lahap banget." sahut Hanif dengan bangganya.


Papi Jo pun akhirnya tak mau kalah, dia juga menceritakan saat sang istri hamil Clare dan Cairo yang selalu minta di masakan sama dirinya. Padahal masakan dia amburadul. Dan akhirnya mereka tertawa bersama. Membayangkan di kerjain oleh istri-istrinya yang sedang hamil.


"Tetapi kita bisa apa? Orang kita sayang ama mereka. Meskipun cape, ngantuk, atau malas pasti kita bela-belain memenuhi keinginannya. Kamu kan ingat dulu saya sampai manjat pohon mangga, gara-gara istri saya minta mangga langsung dari pohon. Yach di nikmati saja. Tetapi untuk kehamilan sekarang, saya yang mengalami kehamilan simpatik. Tetap saja saya yang merasa menderita. Makanya saya sudah ancam anak saya kalau nantinya dia ga peduli sama papinya ini. Papinya lah yang sangat berjasa." ujar Papi Jo dengan santainya.


Obrolan mereka terlihat sangat seru, bercerita tentang kebiasaan istri-istri mereka di saat hamil. Hanif mungkin di banding papi Jo lebih beruntung, karna keinginan sang istri tak melebihi batas. Berbeda dengan bosnya yang lebih di kerjain.


❤️❤️❤️

__ADS_1


"Yang, kamu pulang jam berapa?" tanya Emeli. Tak biasanya sang istri menanyakan hal itu kepada dirinya. Membuat Hanif bingung.


"Emmm...memangnya kenapa? Sebentar lagi mungkin, tapi aku nganter bos aku dulu pulang ya." uang Hanif.


Emeli mengatakan kalau dia menginginkan seblak buatan suaminya. Hanif mencoba melakukan tawar menawar dengan sang istri. Dia akan membelikan seblak di jalan, karna kalau membuat seblak sendiri, dia harua mencari kencur dan keperluan lainnya ke tukang sayur atau pasar. Tapi sayangnya Emeli tak mau. Dia ingin makan buatan suaminya.


"Baru di banggain udah bikin susah ayahnya ini anak." gerutu Hanif.


"Memangnya Emeli minta apa?" tanya bos nya kepo. Hanif menceritakan kalau sang istri minta dia membuatkan dia seblak. Papi Jo tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


"Saya juga mau donk Han. Enak ya? Nanti kamu kirim ke rumah ya kalau sudah matang.


Jika bisa menangis, Hanif pasti sudah menangis. Harus mengurus dua orang yang mengidam. Nyesel harus cerita ke bos nya.


"Saya kirim lewat aplikasi online saja ya Tuan. Kalau sudah di apartemen, istri saya ga mau tinggal." ujar Hanif. Ini adalah hal pertama kalinya dia menolak bosnya.


❤️❤️❤️


"Mau baso tapi ga mau baso nya, mau bubur ayam tapi ga mau pake ayam. Berarti tuan salah pesen. Tuan psn bubur sama mie aja." sindir Hanif.


Hanif merasa calon anak bosnya itu berjenis kelamin perempuan. Karna tak suka makan daging-dagingan. Sedangkan papi Jo berharap sang anak kelak berjenis kelamin laki-laki, agar tak menambah banyak yang akan mengomel kepada dirinya. Cukup Clara dan Clare saja yang buat dia pusing.


Dengan menahan rasa malu Hanif pergi membelikan pesanan untuk bosnya itu. Bagaimana tidak. Dia akan di cap orang aneh dengan pesanan bosnya yang aneh itu.

__ADS_1


"Kok aneh si mas bro. Pesen baso, tapi ga pake baso. Mending pesen mie ayam saja kalau begitu." sindir pelayan baso.


"Maklum aja bang, demi orang ngidam. Ngidamnya aneh. Bukan ini saja. Dia juga minta bubur ayam tapi ga mau pake ayam." sahut Hanif ketus, menahan kesalnya. Gara-gara bosnya dia menjadi di bully.


"Semoga aja besok ga nyuruh gw manjat pohon mangga atau nyolong mangga orang. Yang ada gw yang kena getahnya di amuk orang." gerutu Hanif dalam hati.


Hanif melangkahkan kakinya memasuki perusahaan. Semenjak bosnya mengalami kehamilan simpatik, kerjaannya menjadi bertambah.


"Han, saya mau es kelapa tapi jangan pake kelapanya. Saya mau airnya saja." ujar Papi Jo dengan santainya.


"Itu namanya tuan beli air kelapa, bukan es kelapa." gerutu Hanif.


Hal itu membuat Hanif terus menggerutu selama dalam perjalanan membeli air kelapa. Hari ini dia benar-benar di buat pusing dan malu oleh bosnya itu. Harus menuruti ngidam yang aneh-aneh.


Dengan rasa kesal, akhirnya mau tak mau Hanif menuruti permintaan Tuannya. Ternyata mengurusi orang mengidam itu sangat sulit, di bandingkan mengurus pekerjaan tuannya yang segunung.


Jika dalam kehamilan pertama sang istri, Papi Jo lah yang di buat pusing, dan pada kehamilan kedua justru Hanif lah yang di buat pusing karena harus mengikuti keinginan bosnya.


❤️❤️❤️


Hanif baru saja sampai di rumah. Dan langsung di sambut oleh Emeli. Sama halnya dengan Papi Jo.


"Sayang...aku ingin." ujar Emeli dengan malu-malu. Karena bagi Emeli meminta bercinta duluan itu sangat memalukan bagi seorang wanita.

__ADS_1


"Ingin apa? Katakanlah!" ujar Hanif santai. Padahal dalam hatinya sudah merasa ketar-ketir, takut jika nantinya sang istri minta yang macem-macem.


"Aku ingin bercinta dengan kamu!" bisik Emeli seseksi mungkin. Tentu saja hal itu membuat Hanif melongo di buat Emeli. Memang selama hamil, Emeli terlihat lebih liar di ranjang. Emeli langsung melahap bibir suaminya. Tangannya pun terus meraba milik suaminya hingga akhirnya berhasil menemukan. Mengocoknya seperti mengocok botol. Hal itu membuat Hanif mendesau keenakan, memang Emeli paling bisa memuaskan suaminya.


__ADS_2