
Hari ini adalah hari pernikahan Emeli dan Hanif. Tak ada pesta meriah di pernikahan mereka. Hanya sekedar akad nikah dan syukuran saja. Namun Hanif berharap sang istri merasa bahagia dengan kedatangan ibu mertuanya di pesta pernikahan mereka. Demi istri tercintanya, Hanif rela menggelontorkan uang kembali demi ibu mertuanya. Dia meminta agar ibu mertuanya tak akan pernah mengganggu istrinya lagi, menyakiti hati Emeli.
"Mama, kok mama bisa tau aku akan menikah hari ini? Mama kok bisa tau aku di sini?" ucap Emeli terkejut. Kini pandangannya beralih kepada suaminya, karna dia yakin suaminya lah yang melakukan hal ini.
"Aku yang mengundang mereka untuk menghadiri hari bersejarah buat kita. Aku ingin kamu bahagia." sahut Hanif. Bagaimanapun Emeli masih memiliki orang tua, tak seperti dirinya yang hidup sebatang kara. Hanya bos dan keluarganya yang Hanif anggap sebagai keluarganya.
Acara akad nikah akan segera di mulai. Meskipun terlihat sederhana namun Hanif dan Emeli terlihat cantik dan tampan. Papi Jo beserta keluarga sudah hadir di sana. Combreng bersama sang istri pun telah hadir di sana. Pernikahan itu di gelar secara tertutup hanya di hadiri orang terdekat mereka.
Sah
Emeli dan Hanif telah resmi menjadi sepasang suami istri. Keduanya terlihat sangat serasi. Emeli mencium tangan Hanif, membuktikan rasa hormatnya kepada imamnya. Dan Hanif mencium kening Emeli sebagai ungkapan rasa cintanya kepada sang istri. Semua yang hadir di sana terlihat sangat bahagia. Terutama papi Jo. Dia merasa sangat bahagia karna asistennya telah melepas masa lajangnya.
Acara berlangsung secara khidmat, sampai-sampai Emeli meneteskan air matanya karna terharu. Terlebih dengan hadirnya sang ibu di acara pernikahannya.
"Mulai hari ini aku akan selalu melindungi mu, memberikan kebahagian, menyayangi kamu, dan tak akan membuat kamu menangis karna kesedihan." ucap Hanif sambil mengelus pipi Emeli lembut membuat Emeli tersipu malu.
Serangkaian acara telah selesai, dan berlanjut ke acara bebas. Menikmati hidangan yang telah pasangan pengantin siapkan. Meskipun hanya makanan sederhana, namun mereka sangat menikmati.
" Selamat Han! Semoga kalian menjadi keluarga Sakinah, mawadah, dan warohmah. Ingat pelan-pelan jangan langsung tancap gas!" ujar papi Jo di akhiri candaan membuat Emeli yang mendengarnya tersipu malu.
Semua tamu yang hadir memberikan ucapan selamat kepada Hanif dan Emeli satu persatu. Doa terbaik dari mereka untuk Emeli dan Hanif.
__ADS_1
"Selamat ya sayang...sekarang anak mama sudah menjadi seorang istri dari Pria pilihan kamu! Maafkan mama yang sempat menyakiti hati kamu! Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan dari nya." ucap Mamanya Emeli sambil terisak tangis. Dia sangat menyesali perbuatannya dulu. Berniat merenggut kebahagiaan anaknya, untungnya hal itu tak terjadi. Hanif sang Dewa penolong, menolong dirinya. Menyelamatkan hidupnya.
"Makasih ya ma sudah datang di acara sakral Emeli. Emeli sudah maafkan mama kok, doakan Emeli ya mah semoga kebahagiaan selalu menyertai pernikahan kami. Udah ya mama jangan sedih lagi!" sahut Emeli. Emeli tak tahu apa di balik semua ini. Semua ini karna suaminya yang luar biasa.
Emeli mengambil satu piring nasi yang sudah berisi nasi, sayur, dan lauk pauk. Dia berniat untuk menyuapi suaminya. Emeli menghampiri suaminya yang sedang asyik mengobrol dengan bos dan juga sahabat bosnya yang tak lain Combreng.
"Emeli mau nyuapin Hanif ya? Cie...sekarang mah makan aja ada yang nyuapin. Mau tidur ada yang nemenin, pengen ada tempat pelampiasan, intinya hidup ga kesepian lagi." celoteh Combreng.
Dan dengan tak tau malunya Emeli menyuapi Hanif di depan bos dan sahabat bosnya. Sebenarnya Hanif merasa risih dengan sikap Emeli. Tapi Papi Jo dan Combreng mencoba memberi pengertian, dia ingin Hanif menikmati masa pengantin baru.
"Ya sudah suap-menyuap deh kalian! Saya juga mau makan dulu!" ujar Papi Jo di ikuti Combreng. Dan kini hanya meninggalkan mereka berdua.
Namun di saat posisi sang sahabat terlihat down, peranan sahabat sangat di butuhkan. Papi Jo menepuk pundak Combreng untuk menguatkan. Karna banyak di luaran sana yang memiliki cerita yang sama dengan Combreng. Memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah.
Semua tamu undangan telah pamit pulang dan hanya menyisakan pasangan pengantin. Keadaan apartemen pun sudah tertata rapi kembali.
"Kamu mau ke mana? Mulai malam ini kita sudah sah untuk tidur bareng! Ayo pindahkan barang-barang kamu." ujar Hanif membuat wajah Emeli memerah.
"Kenapa malu? Bukannya dulu kamu yang sudah tidak sabar ingin tidur satu ranjang sama aku?" goda Hanif membuat jantung Emeli berpacu sangat cepat. Dia terlihat tegang. Membuat Hanif terkekeh melihatnya
Hanif membantu Emeli merapihkan barang-barangnya dan memindahkan ke kamarnya yang akan menjadi kamar mereka berdua. Suasana terasa kikuk. Terlebih Emeli, aliran darahnya berdesir hebat. Karna membayangkan akan malam pertamanya.
__ADS_1
"Kak, boleh ga aku minta satu permintaan ke kakak?" tanya Emeli ragu-ragu. Dia takut suaminya akan kecewa, tapi dia juga masih merasa takut untuk melakukan malam pertama.
"Ya ada apa? Katakanlah!" sahut Hanif yang matanya kini fokus mengarah kepadanya.
Emeli mengatakan tentang permintaannya yang menginginkan menunda malam pertama mereka karna masih merasa takut.
"Kamu tega banget sih nyuruh aku menunda lagi. Aku sudah 30 tahun lebih menunggunya." sahut Hanif lirih. Dia merasa kecewa.
Hanif menanyakan tentang alasan sang istri ingin menunda malam yang selalu di nanti pasangan pengantin baru. Dan dengan polosnya karna Emeli merasa takut dan belum siap.
Hanif langsung mendekatkan wajahnya dengan wajah Emeli. Dan mendaratkan bibirnya di bibir Emeli. Menciumnya dengan penuh kelembutan. Hanif juga menarik tengkuk Emeli agar memperdalam ciuman tersebut. Dia ingin sang istri terhanyut dan melupakan mindset tentang malam pertama yang menyakitkan.
"Kamu ga usah khawatir. Aku akan melakukannya dengan kelembutan. Memang akan tetap merasa sakit di awal tapi aku yakin seterusnya kamu akan merasakan nikmat." bisik Hanif sambil memeluk erat sang istri.
Hanif langsung membuka resleting gaun pengantin sang istri dan menurunkannya. Dan hanya memperlihatkan kain segitiga sang istri dan penutup dua bukit kembar sang istri. Tangan Hanif mengelus sekujur tubuh istrinya. Memberikan sengatan-sengatan di mulai dari leher hingga ke tubuhnya.
"Bagaimana apa kamu siap melakukannya malam ini?" tanya Hanif lagi menegaskan. Dia ingin keputusan sang istri berubah. Emeli menganggukkan kepalanya, pertanda kalau dirinya merasa siap. Tentu saja hal itu membuat Hanif merasa bahagia dan bersemangat.
"Kita mandi bareng dulu ya! Biar tubuh kita bersih!" ujar Hanif dan Emeli mengikuti saja keinginan suaminya itu.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya ππππ
__ADS_1