
Sejak tadi Hanif berusaha untuk memejamkan matanya, tapi tak bisa-bisa. Dia terlihat gelisah. Kejadian saat dirinya bercumbu mesra dengan Emeli terus terbayang.
"Apa aku mencintaimu?" gumam Hanif. Tiba-tiba saja pikiran itu terlintas di benaknya.
"Apa sebaiknya aku menjaga jarak dengannya, agar aku tak kehilangan kendali. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hatiku." Hanif berkata pada hatinya.
Sama hal dengan Hanif, Emeli pun terlihat gelisah. Sejak tadi dirinya kesulitan untuk memejamkan matanya. Hingga akhirnya Emeli memutuskan untuk menonton tv berharap matanya akan segera mengantuk. Dan ternyata benar, baru sebentar menonton tv Emeli sudah tertidur pulas. Dan hanya Hanif saja yang masih belum bisa memejamkan matanya.
"Kenapa jadi begini sih? Lebih baik aku membuat teh manis hangat saja." ucap Hanif bicara dengan diri sendiri.
"Emeli? Kenapa anak ini tidur di sofa? Sepertinya dia tertidur saat menonton tv?" ucap Hanif saat dirinya keluar kamar dan hendak membuat teh manis hangat.
Dan akhirnya Hanif mematikan tv dan hendak memindahkan Emeli ke kamar. Meletakkan tubuh Emeli ke ranjang. Dan di duduk di tepi ranjang.
"Euugh..." Emeli meleguh, merenggangkan tubuhnya membuat daster yang di pakai menjadi terangkat. Memperlihatkan pahanya putihnya yang mulus membuat Hanif terus menelan Saliva nya. Dan akhirnya Hanif memilih keluar dari kamar Emeli, di tak ingin nantinya khilaf terlebih miliknya yang sudah menegang.
"Nasib...nasib... lagi-lagi harus menuntaskan sendiri. Gini rasanya kalau ga punya istri." gerutu Hanif sambil membuang calon anaknya kembali ke closet.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Tak terasa sudah tiga bulan lamanya Emeli di apartemen Hanif. Hubungan mereka semakin hari semakin dekat seperti seorang pasangan suami istri, tapi dalam batas kewajaran. Hanya sekedar menyiapkan makanan, semua keperluan Hanif, dan menemani kesepian Hanif. Tapi tidak untuk urusan ranjang karna Hanif selalu berusaha menjaga kehormatan Emeli.
"Tuan, apa saya boleh bertanya?" ucap Hanif ragu-ragu. Dia mencoba berpikir apa sebaiknya dia sharing dengan bosnya itu. Kini Jo menatap serius ke arah asistennya, mencari tahu apa yang ingin asistennya katakan.
.
"Eemmmm, begini tuan jika kita merasa nyaman di dekatnya, merasa kehadiran dia sangat berarti, dan selalu ingin dekat dengannya. Apa kita mencintainya?" tanya Hanif.
Jonathan tersenyum, dia merasa bahagia karna ini adalah hal pertama kali Hanif bicara seperti ini. Bertanya tentang perasaan. Tak seperti biasanya, jika membahas tentang suatu hubungan percintaan, memilih untuk diam.
"Ya itu tandanya kamu mencintainya. Wah selamat Han akhirnya kamu menemukan pelabuhan cinta kamu. Saya kira kamu ga akan pernah suka wanita. Siapa wanita yang beruntung itu?" serentetan pertanyaan terlontar dari bibir sang bos.
Hanif tersenyum sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum cengengesan. Dia bingung bagaimana caranya dia bicarakan hal ini kepada bos nya kalau selama tiga bulan ini dia telah hidup satu atap dengan wanita itu. Dia menjadi salah tingkah
"Jadi Tuan mengatai saya gila?" sahut Hanif kesal. Bagaimana tidak, dia di katai orang gila oleh bosnya.
"Jangan masukan dalam hati! Maaf jika kata-kata saya menyinggung kamu! Ini hanya istilah kata! Baiklah saya ucapkan selamat untuk kamu! Segera lamar gadis itu, sebelum ada orang yang mengambilnya! Jangan buat kamu menyesal seumur hidupmu, meratapi nasib karna kebodohan kamu! Kamu ingat kasus saya dengan istri saya. Jika mami saya tidak melakukan hal cepat, mungkin saat ini kami bukan suami istri dia sudah di miliki mantan pacarnya!" ungkap Papi Jo.
Hanif jadi teringat akan ucapan Emeli bahwa dirinya berniat di jodohkan oleh orang tuanya dan juga dia memiliki mantan kekasih. Sewaktu-waktu mereka bisa saja hadir kembali. Karna tidak mungkin Emeli terus menerus di apartemen. Dan hal itu Hanif tak ingin terjadi. Dia tak ingin Emeli di miliki orang lain. Dia ingin melamar Emeli sebagai istrinya secepatnya.
__ADS_1
"Terima kasih masukannya, sangat berguna untuk saya! Saya dan wanita ini sudah tinggal tiga bulan di apartemen saya. Tiga bulan lalu saya bertemu dia. Dia hampir saja menabrakkan dirinya ke mobil saya sewaktu saya akan pulang ke apartemen. Dia bercerita pada saya, kalau dia sedang berusaha kabur dari dua orang bodyguard suruhan pria yang akan di nikahi olehnya. Dia menolak menikah dengan orang itu karna pria itu usianya sangat jauh terlebih dia seorang duda dan Casanova. Dan sebenarnya pertemuan ini yang kedua, karna sebelumnya kami sempat bertemu di sebuah restoran saat saya dulu menggantikan anda dan saat itu saya sedang menunggu klien perusahaan ini.
Mendengar ucapan Tuan membahas tentang mantan, saya jadi teringat dengan dirinya. Dia mempunyai mantan, dan mereka belum lama putus. Emeli melihat mantan pacarnya bercumbu mesra dengan sahabatnya. Jo awalnya tersentak kaget mendengar Hanif sudah tinggal satu atap dengan wanita itu. Padahal dia pun saja yang seorang tak berani melakukan hal itu. Takut nantinya akan khilaf.
"Saran saya ya itu, segera kamu nikahi wanita itu! Terlebih kalian sudah tinggal satu atap, bisa-bisa kamu ga tahan. Karna jika mencoba sekali, saya yakin kamu akan ketagihan dan ingin terus melakukannya. Bisa-bisa wanita itu hamil sebelum kalian menikah. Cepat kamu halalkan, akan kalian bebas bermesraan! Apa jangan-jangan kamu sudah membuka segelnya lebih dulu?" ucap Jo menatap intens ke arah asistennya.
"Tidak. Alhamdulillah saya masih sadar waktu itu, kami hanya berciuman saja. Tapi benar yang di katakan tuan, saya takut nantinya khilaf. Karna wajah dan tubuhnya sangat menggoda saya." sahut Hanif sambil terkekeh.
"Makanya segera kamu nikah, kamu bisa secepatnya merasakan surga dunia. Kamu juga akan merasa hidup tenang karna tidur ada yang menemani!" ujar Jo dan Hanif menganggukkan kepalanya.
Dia akan membicarakan hal ini kepada Emeli, Hanif yakin Emeli tak akan menolaknya. Terlebih Emeli pernah bicara menanyakan tentang apakah dia boleh mencoba mencintai dirinya?
❤️❤️❤️
Hanif telah sampai di apartemen, dan seperti biasanya di sambut oleh Emeli.
"Em, ada yang ingin aku katakan kepada kamu! Tapi aku mandi dulu ya! Tubuhku sangat lengket." ujar Hanif dan Emeli menganggukkan kepalanya.
Hanif telah masuk ke kamarnya untuk mandi.
__ADS_1
"Apa yang ingin kak Hanif bicarakan ya? Sepertinya sangat serius. Apa dia ingin mengusir aku dari apartemennya karna dia telah memiliki pacar dan tak ingin membuat pacarnya cemburu?" serentetan pertanyaan menari di pikirannya.
Yuk beri dukungan 😍😄🙏