
"Yang, kamu setuju ga kalau kita liburan ke villa bareng Hanif dan Combreng. Ya hitung-hitung merayakan kesembuhan Combreng. Anak-anak juga kan bisa bebas bermain di sana. Gimana menurut kamu?" tanya Papi Jo dan langsung di setujui istrinya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan bicarakan hal ini kepada Hanif dan Combreng. Sabtu ini kita berangkat, kamu siapkan semuanya ya keperluan anak-anak! Untuk keperluan makan di sana biar si Bang Ayep saja yang urus. Dulu aku selalu begitu sama mami. Kalau anak-anak pengen jajan kan bisa pesen juga. ujar Papi Jo.
Papi Jo baru saja sampe di perusahaan. Dan langsung berkutat dengan pekerjaannya. Dia selalu serius dalam kerja. Pantas saja dia bisa meraih kesuksesan menjadi seorang pengusaha hebat.
"Han, Sabtu ini saya mau mengajak kamu dan Emeli untuk berlibur ke Villa saya. Hitung-hitung kita mengadakan syukuran kesembuhan Combreng. Otak biar rileks dulu sejenak. Sebelum istri-istri kita melahirkan. Suasananya juga enak untuk bermesraan dengan pasangan." ujar Papi Jo. Tentu saja Hanif langsung ok. Karna selama dia dan Emeli menikah, dirinya belum pernah mengajak Emeli berlibur. Kemarin pun ke Singapura karna paket gratis dari bosnya.
"Baiklah kalau kamu sudah ok, saya tinggal menghubungi Combreng." sahut Papi Jo.
Papi Jo langsung menghubungi sang sahabat untuk memberi tahu tentang liburan ke Puncak. Combreng langsung menerimanya. Dia ingin membahagiakan Mila sang istri yang selama ini telah setia mengurus dirinya selama sakit. Meskipun bukan dari dia langsung, tetapi bisa membuat Mila terhibur.
❤️❤️❤️
"Clara, Cairo, dan Clare sabtu ini kita akan berlibur bersama ke Puncak. Kalian bantu mami persiapkan yang kalian mau bawa ya! Nanti ada om Hanif sama tante Emeli juga. Om Combreng sama tante Mila juga ikut." sahut Papi Jo.
Clare langsung bersorak gembira, Cairo hanya bersikap datar, dan Clara akhirnya menyetujui saja.
Hari yang di nanti telah tiba, keluarga papi Jo sudah bersiap-siap untuk berangkat. Untuk combreng, papi Jo sudah menyediakan satu mobil beserta supir yang akan mengantar Combreng ke acara tersebut. Hanif membawa mobilnya sendiri, dia pergi hanya berdua Emeli. Clare, Clara, dan Cairo tak mau di pisahkan, meskipun mobil sang papi tak cukup dan harus berdesakan.
"Wow bagus banget pi, yeay Clare bisa berenang." ujar Clare. Dia terlihat antusias, wajahnya terlihat sumringah.
__ADS_1
"Norak, seperti di rumah ga ada kolam renang aja. Di rumah bisa berendam gaya apapun yang kamu suka. Wanita selalu membuat aku pusing." sindir cairo. Karna ulahnya, Clare menjadi menangis.
Kini mereka sudah berada di kamar masing-masing, kamar yang sudah di sediakan. Hanif langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Tubuhnya terasa sedikit lemas. Karna traffic jalanan tadi menuju Villa cukup padat.
"Sayang...jangan begini aku malu kalau nanti sampai terdengar orang di luar!" ujar Emeli.
"Tenang aja, bos aku itu sangat pengertian sekali. Lagi pula dia itu justru master of mesum. Level kemesumannya justru lebih tinggi dari aku." ujar Hanif.
Dari ketiga orang mesum di sana, Hanif lah yang memulai pertama untuk adegan ranjang.
"Ayo yank, dingin ini!" ucap Hanif sambil memainkan adik kecilnya, membuat sang adik berdiri tegak dan akhirnya Emeli hanya bisa pasrah menuruti keinginan suaminya.
Suara leguhan-leguhan keluar dari mulut keduanya dan saling bersahut-sahutan mengiringi adegan ranjang mereka.
"Ternyata sifat asisten itu bisa benar-benar ngikutin bosnya ya? Kalau begini Hanif tak beda jauh dari aku." ucap Papi Jo sambil terkekeh.
Papi Jo sampai melupakan tujuan awal dirinya ingin memanggil Hanif. Kini papi Jo lah yang sedang merasa pusing atas bawah karena tak bisa bermesraan dengan sang istri. Siapa lagi kalau bukan ulah Clare anaknya.
"Clare, kasihan mami kalau kamu tidur di sini. Nanti yang ada perut mami ke tendang sama kamu. Ayolah harus kasihan sama ade bayi. Malam ini kamu tidur sama suster aja!" ujar Papi Jo yang mencoba nego dengan sang anak.
"Ya udah gini aja pi, gimana kalau papi sama kak Cairo tidur bersama. Aku tidur sama mami dan kak Clara. Gantian lah pi, masa papi maunya berduaan terus sama mami." sahut Clare.
__ADS_1
Papi Jo mencoba menarik nafasnya panjang, memang paling sulit menjinakkan anaknya yang satu ini. Ada aja jawabannya.
"Sabar Jo! Lo harus sabar kalau urusan sama anak lo yang satu ini! Lo pasti bisa!" ujar papi Jo yang mencoba menguatkan hatinya.
"Papi itu sama mami suami istri sayang, jadi tidurnya harus bersama. Lagi pula, papi kan suami dan ayah siaga. Kalau mami malam-malam ingin sesuatu gimana? Kan kasihan ade bayinya." ujar Papi Jo mencoba alasan kedua. Berharap sang anak mengerti.
"Tapi kan aku anaknya, boleh donk kalau aku ingin bersama. Lagi pula aku juga ingin menjadi kakak yang siaga. Kalau mami dan adik bayi minta sesuatu, aku kan bisa kasih tau papi." sahut Clare yang tak mau kalah.
Berkali-kali papi Jo menelan saliva nya, dia mencoba berpikir alasan apa lagi yang harus dia pakai agar Clare mau mengerti. Masa harus mengendap-endap diam-diam untuk tidur sama istrinya.
"Ya udah deh Clare mengalah sama papi. Clare tidur sama suster dan kak Clara aja." sahut Clare yang tiba-tiba mengerti, berubah pikiran.
"Serius kamu? Ga bohong?" ujar papi Jo. Sampai-sampai dia tak percaya dengan perkataan anaknya yang tiba-tiba menyetujui keinginannya. Tentu saja hal itu membuat papi Jo bersorak gembira dalam hati.
"Mau ga? Jangan sampe Clare berubah pikiran." ancam Clare.
"Mau donk sayang, makasih anak papi yang cantik. Muach...muach... Kamu memang sangat pengertian." ujar papi Jo.
Clare selalu membuat sang papi tak berkutik. Dan membutuhkan kesabaran extra untuk sang anak mengerti.
Setelah puas mengobrol, Clare memilih untuk keluar dari kamar dan hanya menyisakan Celine dan papi Jo.
__ADS_1
"Dari tadi kek kaya gini. Kadang aku bingung Clare itu nurun sama siapa sih? Clara dulu gitu juga sih, tapi ga begitu banget." ujar papi Jo yang merasa bingung.
Clara, Clare, dan Cairo terlihat sangat bahagia, menikmati liburan mereka. Bukan itu saja Combreng dan Mila, Hanif dan Emeli, dan juga Papi Jo bersama sang istri terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka.